Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Midnight Show..


Malam semakin larut, mungkin juga saat ini telah lewat dini hari. angin yang berhembus sedikit kencang membuat udara terasa semakin dingin. di atas sana langit hitam nampak kosong membentang tanpa taburan bintang dan rembulan yang menghiasi, pertanda ada awan mendung menutupinya.


Tanah berumput yang berada di tepian hutan itu masih sedikit lembab dan basah oleh sisa hujan gerimis yang turun siang tadi. menurut perhitungan waktu, sekarang ini telah masuk akhir bulan ke empat pertanda musim hujan sudah berada diakhir masanya. meski begitu kadang hujan kecil masih juga terjadi. mungkin ini adalah pertanda pergantian waktu ke musim kemarau.


Sebuah perapian kecil yang dikelilingi batu sebagai pembatasnya itu sudah hampir padam nyala apinya. asap sisa pembakaran terasa menebarkan aroma daging hangus saat terhembus angin. terlihat sisa tulang- belulang dari seekor burung yang menghitam terbakar dalam bara perapian. anehnya diatas bara itu seperti sengaja ditumpuki beberapa macam dedaunan segar yang agak basah hingga asapnya menjadi lebih banyak dan berbau rada menyengat.


Gemerisik suara jangkrik dan binatang malam seolah menjadi pengantar tidur bagi seorang pemuda berbaju gelap yang mulai terlelap sambil duduk pejamkan matanya dengan bersandar punggung pada sebatang pohon besar yang letaknya berada dekat perapian. meskipun cahaya nyala api bisa menarik binatang buas untuk mendatangi tapi dengan kepandaiannya yang tinggi dia tidak merasa khawatir.


Malahan pemuda bertampang dingin itu merasa kalau kawanan nyamuklah yang lebih mengganggunya. karenanya dia sengaja membiarkan bara api unggun tetap menyala ditambah beberapa jenis dedaunan hijau di atasnya hingga bau asap yang ditimbulkan dapat mengusir nyamuk.


Dari kejauhan terdengar suara lolongan kawanan serigala liar yang mungkin sedang berkeliaran mencari mangsa. walaupun kedua matanya terpejam dengan nafas yang teratur namun dengan ketajaman telinga dan indera perasa pemuda ini masih dapat mengetahui semua yang terjadi di sekitar tempatnya tidur. rahasia 'Ramuan Peningkat Tenaga Dalam dan Panca Indera' yang pernah dia pelajari dapat membuatnya jauh lebih peka dibanding para pesilat umumnya.


Suara lolongan serigala liar yang tadinya terdengar semakin jelas mendekati tempat si pemuda berada, kini tiba- tiba saja lenyap. biarpun demikian pemuda pucat bertampang dingin ini tahu kalau bahaya baru yang lebih mengancam nyawanya telah muncul. ''Aaihs., kenapa selalu saja ada yang datang di saat diriku butuh istirahat..''


Sambil menggumam tidak jelas tangan kirinya meraih sebatang tongkat besi yang gagangnya dibungkus selembar kain hitam. dengan satu kali sentakan tubuhnya sudah melesat terbang ke udara dan lenyap di atas rimbunnya dedaunan pohon besar tanpa ada sedikitpun suara. ilmu meringankan tubuh 'Bayang- Bayang Hantu' yang di ajarkan oleh si 'Burung Hantu Bungkuk Pencabut Nyawa' memang bukan kepandaian kelas rendahan.


Perlu waktu yang agak lama bagi pemuda yang bernama Pranacitra ini untuk dapat mengetahui siapa orangnya yang telah berani menyatroni tempatnya tidur. ''Orang- orang yang datang ini selain memiliki kemampuan ilmu kanuragan tinggi juga cukup punya otak. mereka lebih memilih bergerak perlahan dan menunggu dari pada langsung menyerang sasarannya..''


''Eehm., jika aku tidak salah menebak, mereka akan mulai bergerak mengepung dari empat penjuru lantas satu atau dua orang keluar lebih dulu untuk memeriksa keadaan. hebat juga pimpinan mereka hingga bisa mengatur barisan anak buahnya, sementara dia sendiri hanya memberi perintah dari kejauhan. jika ada sesuatu yang terjadi diluar perkiraannya, orang ini bisa kabur duluan..''batin Pranacitra yang nangkring diatas dahan pohon.


Seperti perkiraannya, dua orang lelaki muncul dari balik semak pepohonan. perlahan mereka mengitari sekitar perapian yang tinggal arang bara dan kepulan asapnya. satu isyarat tangan dari orang bertubuh pendek memberi tanda jika keadaan aman. belasan orang bermunculan dari balik pepohonan dan sebentar saja sudah bergerak menyebar. tanpa diperintah semuanya sama mencabut senjata berupa golok dan pedang dari pinggangnya.


Terakhir terlihat dua orang perempuan tua dan muda berkelebat datang. dari gerakannya yang enteng nyaris tanpa suara menandakan ilmu meringankan tubuhnya cukup tinggi. beberapa orang diantara gerombolan itu hampir bersamaan menyalakan obor hingga suasana dalam kegelapan menjadi sedikit lebih terang. dari warna pakaiannya yang sama berwarna kemerahan jelas mereka semua berasal dari suatu kelompok tertentu.


Kedua perempuan yang datang terakhir sama berpakaian warna merah kehitaman. seorang nenek lima puluh lima tahunan mengenakan jubah panjang dengan rambut yang sebagian sudah memutih, satunya lagi masih gadis remaja berambut hitam tebal tapi dipotong agak pendek. bibirnya yang mungil kemerahan nampak mencibir.


Bagian lengan baju merahnya di potong sebatas bahu hingga memperlihatkan kulit lengan tangannya yang putih. meskipun tingkah gayanya mirip kaum lelaki muda namun tetap tidak menutupi raut wajahnya yang cantik manis. saat pertama kali melihat gayanya, Pranacitra jadi teringat dengan salah satu teman wanitanya yang bernama Rinai.


''Lapor ketua., dari penelusuran disekitar daerah ini, kami tidak menemukan adanya jejak kaki manusia yang tertinggal. tapi jika melihat dari bara perapian yang masih menyala dapat dipastikan siapapun orangnya, dia belum lama tinggalkan tempat ini. apakah perlu kita untuk mencari lebih jauh lagi.?'' ucap seorang lelaki empat puluh tahunan bertubuh tinggi besar dan cuping hidungnya sebelah kiri diberi lubang tindikan sebuah cincin perak.


Perempuan tua yang dipanggil sebagai ketua itu merenung sebentar lantas gelengkan kepalanya. ''Keadaan ini kurasakan rada aneh. orang yang sanggup keluar dari kepungan kita tanpa meninggalkan jejak apapun menandakan kalau dia membekal ilmu kesaktian tinggi. si bangsat penipu yang menjadi buruan kita tidak punya kepandaian sehebat ini..''


''Guru., jika mendengar penuturanmu, dapat aku simpulkan kalau manusia yang membuat perapian dan membakar daging di sini adalah orang lain. jika demikian dari jejak yang kita temui sebelumnya yang mengarah ke hutan ini bisa jadi bukanlah milik bajingan itu. itu juga berarti kalau kita semuanya telah salah mengikuti jejak orang.!" omel gadis berbaju merah tanpa lengan yang rupanya adalah murid dari si nenek berjubah merah sambil bertolak pinggang.


"Uuhgh., ugh., salahku juga karena terlalu percaya kepadanya hingga membuat susah kalian semua. sebagai pimpinan dari kelompok sekaligus guru, aku meminta maaf pada kalian.." ujarnya sembari terbatuk- batuk. mendengar itu Surti Cenil dan para bawahan gurunya menjadi tertegun karena tidak menyangka kalau si nenek sampai mau merendahkan diri untuk mengucapkan permintaan maaf.


"Gu., guru., kenapa kau malah bicara seperti itu. aku cuma kesal saja tapi tidak sedikitpun pernah menyalahkanmu.." seru sang murid gugup sembari memegangi tangan gurunya. "Benar ketua., semua ini adalah salah dari lelaki keparat yang sudah tega mengkhianati kepercayaanmu.." ujar si tinggi besar bertindik emas di hidung.


"Jika tidak ada ketua yang telah menolong dan menampung kami selama ini, mungkin banyak diantara kita yang sudah tewas di tangan para prajurit kerajaan. kita semua bersumpah untuk selalu patuh dibawah pimpinanmu." timpal para bawahan lainnya yang sama mengangguk sependapat. si nenek hanya terdiam mendengar kesetiaan anak buahnya.


"Ketua., harap kau berikan perintah untuk melakukan pengejaran. jika memang si keparat itu belum kabur terlalu jauh seperti perkiraanmu, kita pasti dapat menemukan sekaligus mencincang tubuhnya.!" seru si hidung tindik yang disambut pekikan serentak semua rekannya. tapi belum sempat si nenek menjawab, dari balik kegelapan hutan terdengar suara tertawa bergelak.


''Haa., ha., kalian para cecunguk tolol dari gerombolan 'Kuda Angin' pimpinan si nenek jelek Nyi Jaran Mirah tidak perlu bersusah payah untuk mencariku lagi, karena sekarang aku sudah berada di hadapan kalian.!'' satu seruan mengejek terdengar ditengah gelak tawa itu. bersamaan berkelebat muncul empat sosok tubuh.


Jika tiga orang pendatang lainnya tidak dapat mereka ketahui siapa adanya, maka satu orang lelaki yang sama berpakaian ringkas merah kehitaman dan masih muda jelas dikenal oleh anak buah di nenek berjubah merah. ''Keparat bernama Cagak Randu, sungguh besar nyalimu hingga berani muncul di depan kami.!'' bentak si hidung bertindik gusar. bersama dengan semua kawannya hampir saja mereka menyerbu jika pimpinan yang bernama Nyi Jaran Mirah tidak cepat menahannya.


Meskipun merasa heran dan geram tapi mereka tidak berani membantah. lebih terkejut lagi saat melihat raut wajah Nyi Jaran Mirah yang berubah tegang. tanpa sadar Surti Cenil juga hampir semua kawannya menoleh ke depan. baru mereka ingat selain lelaki muda bernama Cagak Randu masih ada tiga orang lagi yang datang bersamanya.


Jika dua orang yang berdiri agak dibelakang tidak dapat dilihat jelas karena sama memakai mantel jubah dan penutup kepala hitam, maka orang yang berada paling depan lebih mudah di terangkan keadaannya. dia adalah seorang lelaki tua berumur enam puluhan tahunan dengan wajah bengis kehitaman, memakai jubah warna gelap dan gombrong yang sudah usang, robek- robek serta berhias tambalan.


Di bagian pinggang lelaki tua yang dari dadanannya mirip gembel ini melilit sebuah cambuk yang terbuat dari otot kerbau dan dikepang. pada salah satu ujung cambuk itu di ganduli dua buah besi runcing kemerahan yang sedikit melengkung. jika diperhatikan bentuknya mirip sengat seekor kelabang.


''Harap maaf jika aku salah menduga. tapi dari ciri tubuh serta senjata ikat pinggang cambuk yang konon bernama ' Pecut Kelabang Ulet' itu, kau sangat mungkin adalah bekas ketua perkumpulan pengemis 'Kelabang Ireng' yang pernah berkuasa di daerah Punggingan dan digelari sebagai si 'Pengemis Muka Hitam.!''


''Akibat perkumpulan silat yang baru beberapa bulan kau dirikan itu hancur, bahkan sampai seorang wakil ketua perkumpulanmu si 'Pengemis Gigi Gompal' bersama puluhan anak buahnya tewas oleh sesuatu yang tidak jelas wujud atau pelakunya, kau mendadak lenyap entah kemana..''


''Tapi sekarang., tiba- tiba saja kau muncul kembali di tepian hutan rimba yang gelap sunyi ini bersama dengan bocah keparat yang sedang kami buru. apa yang membuatmu keluar dari tempat persembunyianmu juga ada hubungan apa dirimu dengan pemuda setan pengkhianat itu.?'' tegur Nyi Jaran Mirah jarinya sambil menunjuk Cagak Randu, membuat lelaki muda itu tanpa sadar menjadi ngeri dan menyurut mundur.


''Haa., ha., tidak disangka setelah cukup lama menyepi masih ada yang dapat mengenaliku bahkan mengingat kejadian masa silam. Nyi Jaran Mirah, anak muda ini sudah beberapa bulan menjadi murid sekaligus pengikutku. jadi urusan dirinya tentu menjadi urusanku juga.!'' gertak orang tua bermuka hitam berminyak itu. jika Nyi Jaran Mirah terperanjat mendengar bekas anak buahnya itu sudah menjadi murid Pengemis Muka Hitam, tidak demikian dengan Pranacitra yang mengamati dari atas lebatnya dahan pohon.


''Aah., aku tidak pernah mengira kalau kejadian masa lalu di daerah Punggingan yang melibatkan diriku, Kelabang Ireng dan mendiang Ki Ludiro si 'Jari Cepat' dari perkumpulan 'Maling Kilat' dapat berlanjut kembali. sepertinya aku akan mendapatkan tontonan bagus di tengah malam ini..'' batinnya menyeringai dingin. jika di jaman sekarang mungkin tontonan seru tengah malam seperti ini bisa disebut sebagai acara., Midnight Show.!


 


Maaf kalau ada pemilihan kata yang janggal, aneh atau salah tempat🙏., Jangan lupa menuliskan komentar jika suka. Trims👏.