
Melihat kelakuan si pemuda pincang yang masih berdiri diam di tepi balai bambu tempat Gendol terbaring itu membuat Srianah dan Rinai rada keheranan. keduanya sempat saling pandang tapi tidak berani bertanya seolah mereka tahu kalau saat ini Pranacitra pasti sedang berpikir suatu masalah penting yang berkaitan dengan Gendol.
Pewaris ilmu dari lima orang dedengkot dunia persilatan golongan hitam itu terus melihat tubuh tinggi besar yang terbaring dengan banyak bekas luka akibat pukulan, tikaman juga sabetan senjata tajam. entah kenapa saat melihat keadaan pemuda lima belas tahunan yang sepintas bentuk badannya terlihat melebihi orang umur dua puluhan tahun itu membuat Pranacitra teringat dengan tubuhnya sendiri yang juga dipenuhi bekas luka.
''Bentuk tubuh bocah ini yang sangat besar dan tinggi jelas tidak sesuai dengan umurnya. aku menduga tenaga kasar yang dia miliki paling sedikit sama kuat dengan gabungan tenaga tiga orang bocah lelaki seusianya. jika ada seorang tokoh silat yang punya ilmu kesaktian bersifat keras dan kasar ingin mencari murid, bocah ini bisa jadi pilihan. meskipun lamban berpikir tapi dia unggul dalam kekuatan, setia dan pemberani..''
Sepasang mata Pranacitra berkilat tajam. satu seringai aneh tersungging di bibirnya. dia seperti baru saja menemukan sebuah harta karun. ''Kalau anak ini di poles sedikit saja, dia bisa berubah menjadi sebuah benteng karang kokoh sekaligus tukang jagal yang menakutkan. tapi kalau aku lakukan sepertinya terlalu kejam. lagi pula., dia orangnya Srianah..''
''Ehem baiklah bocah besar yang tolol., selain karena kau sangat setia pada majikanmu hingga membuatku kagum, dirimu terhitung juga beruntung telah bertemu danganku. lagian dari pada ilmu yang mengandalkan kekerasan dan kekuatan tubuh itu hampir tidak pernah terpakai, lebih baik aku ajarkan saja padamu..'' gumam Pranacitra.
Sambil berpikir demikian telapak tangan kanannya diletakkan diatas dada Gendol yang besar dan kekar berotot. selapis cahaya dan kabut kebiruan yang keluar dari sana perlahan menyusup ke dalam tubuh tinggi besar ini. Gendol seperti mengerang keras dan sedikit terjingkat ke atas. tenaga kesaktian yang berhawa sejuk terasa menyelimuti dirinya. luka- luka di sekujur tubuh Gendol terlihat semakin pulih dan menutup.
Walaupun sudah pernah melihat Pranacitra melakukan penyembuhan luka dalam seperti itu sebelumnya, namun baik Srianah juga Rinai tetap saja merasa terpukau. sedangkan mbah Tumi yang berdiri paling dekat dengan pembaringan hampir saja di buat pingsan saking terperanjat saat mengetahui semua kejadian itu.
Selang waktu sepeminum teh kemudian Gendol mendadak membuka kedua matanya dan menggerung keras seperti binatang buas. tubuh tinggi besar kekar juga gemuk ini seketika terbangun. meskipun tahu kalau ilmu penyembuhan luka yang dimiliki Pranacitra sangat hebat tapi mereka tetap tidak mengira mampu membuat Gendol sembuh begitu cepat.
''Mbaa., mbak Srianah. Aaa., aku., aku merasa lapar sekali. kuingin makan yang banyak. tapi kurasa tiga atau empat cobek nasi dengan lauk ikan goreng besar atau satu ekor ayam bakar sudah cukup..'' itulah ucapan pertama yang keluar dari mulut Gendol. mendengarnya Srianah jadi bingung apakah harus marah ataukah tertawa.
''Hari ini kau boleh makan sepuasmu. tetapi mulai besok pagi dirimu mesti ikut denganku ke hutan belakang gubuk.!'' suara teguran itu membuat Gendol palingkan kepalanya. dia seolah baru sadar kalau ada dua orang asing di dalam gubuk itu. ''Sii., sia., siapa kalian berdua ini. ken., kenapa juga aku mesti ikut denganmu.?'' tanyanya curiga lalu melihat Srianah seperti minta penjelasan karena yang terakhir kali dia ingatnya adalah saat terjadi pertarungan sengit di pelataran luar gubuk.
''Kau makan saja lalu mandi dan beristirahat. mereka berdua adalah teman baikku. pemuda itulah yang telah datang menyelamatkan kita dari serbuan orang- orang jahat tadi pagi. mbah Tumi., tolong kau potong dua ekor itik dan ayam yang berada di kandang belakang rumah sekalian memasaknya. sementara kita sarapan dengan itik goreng, biarkan Gendol makan ayam bakar sepuasnya, karena besok dia butuh tenaga yang sangat besar..''
Setelah mbah Tumi pergi untuk mengerjakan semuanya, Srianah cepat menghampiri Pranacitra dan berbisik, ''Kau benar- benar tertarik pada bocah besar ini. asalkan kau tahu saja., otaknya sangat lamban berpikir..'' Pranacitra merangkul bahu gadis itu. ''Dari pada berpikir masalah otak si Gendol, lebih baik kau ajak Rinai mandi. 'Awakmu mambu kringet, kecut nemen lho Sri'. (Badanmu bau keringat. asem sekali lho Sri).." bisiknya mengejek.
Gadis itu cuma nyengir. tangannya mencolek kebawah ketiak kanannya yang terasa basah lalu diusapkan ke depan hidung Pranacitra. "Nyoh., sampeyan rasakke dewe mambu kecute.' (Nih., kamu rasakan sendiri bau asemnya).." kata Srianah tertawa licik sebelum berbalik lari meraih tangan Rinai.
"Mari Rinai, kita mandi barengan di sungai belakang. airnya jernih dan segar lho.." ajaknya. sebentar saja kedua gadis muda itu sudah menghilang dari sana meninggalkan Pranacitra yang menyumpah serapah, sementara Gendol cuma menatapnya dengan pandangan bodoh.
Sepuluh hari kemudian.,
Mentari pagi baru saja terbit menerangi permukaan bumi. kegiatan Srianah dengan berjualan jamunya juga terus berjalan setelah dua hari sempat berhenti akibat serangan kaum begundal jahat. bahkan sekarang dia mendapatkan bantuan tenaga dari Rinai untuk menggantikan Gendol.
Jika Srianah atau Rinai bertanya tentang apa yang mereka berdua lakukan di balik hutan sana, Gendol selalu menggeleng keras dan tutup mulutnya rapat- rapat sambil menunjuk Pranacitra. si pincang inipun sama saja. dia tidak bicara apapun saat kedua gadis itu mendesaknya bicara.
''Kalian tunggu saja., waktu dua minggu akan segera lewat. Gendol memang agak lambat dalam berpikir tapi rupanya dia tidak sedungu yang kita sangka. meskipun aku harus lebih dulu menyalurkan hawa kesaktian untuk bisa membuka inti dasar tenaga murni di dalam tubuhnya namun bocah ini mampu untuk mengolahnya..''
''Lagi pula., ilmu silat kasaran yang aku ajarkan kepadanya hanya mengandalkan kekuatan tanpa banyak gerak tipu atau kembangan yang rumit. terus terang saja ilmu yang kudapat dari mendiang si 'Iblis Naga Rembulan' ini hanya cocok untuk orang- orang kasar yang tahunya cuma mengumbar tenaga..''
''Bahkan seingatku., sejak keluar dari goa tempatku di gembleng kelima orang tua itu, belum pernah sekalipun aku menggunakan ilmu yang menggabungkan gerakan- gerakan menangkap, mencengkeram, meremas, mengunci, meninju, mengepruk sampai membanting dan meremukkan tubuh lawan ini..'' hanya itu saja yang keluar dari mulut Pranacitra.
Hari itu Gendol dan Pranacitra kembali dari dalam hutan lebih cepat dibanding biasanya. baik Srianah, Rinai maupun mbah Tumi sama saling pandang keheranan melihat sepasang tangan Gendol yang kekar nampak membawa dua buah benda besar dan sangat berat.
Benda itu adalah dua buah batu padas sebesar kepala kerbau yang masing- masing beratnya mungkin lebih dari dua ratusan kati. tapi bagi Gendol, kedua batu padas ini seolah cuma mainan anak kecil yang tidak berarti. kekuatan otot dari bocah besar itu mengalami peningkatan yang menakjubkan.
''Haa., ha., mbak Srianah, mbak Rinai dan mbah Tumi, sekarang akan aku perlihatkan hasil latihan kerasku selama dua minggu ini bersama yang mulia Tuan Guru Besar.!'' serunya sambil tertawa bodoh. kedua gadis itu menoleh pada Pranacitra yang berjalan terseok di belakang Gendol.
Dalam hati keduanya sama mengumpat, ''Tuan guru besar yang mulia., apakah kau tidak merasa kalau sebutan bodoh itu terlalu menggelikan buat orang aneh, pincang dan gila sepertimu.?'' yang dicibir seolah tidak perduli. bahkan yang lebih menjengkelkan hati, dilihat dari raut wajahnya dia malah seperti merasa senang.
Sebuah batu besar telah diletakkan di atas tanah. satu lagi yang masih terpanggul di pundak kanan Gendol malah terlempar ke udara hanya dengan sekali sentakan tangan saja. batu itu besar dan berat tapi dengan kedua lengan besarnya anak buah Srianah ini dengan sangat mudah dapat menangkap, memutar- mutar dan mencengkeramnya di depan dada.
Gendol menggembor keras. teriakannya meraung bagaikan suara seekor naga buas mengamuk. berikutnya terjadilah hal yang luar biasa. diiringi bunyi letusan batu padas yang besarnya melebihi kepala kerbau itupun hancur terpecah menjadi beberapa kepingan.!
Apa yang dilakukan Gendol tidak berhenti di situ saja. dengan beberapa kali gerakan meninju dan mengepruk, batu padas kedua yang berada dibawah kakinya dia buat hancur berkeping- keping. Srianah dan yang lain sama tercengang kaget bercampur kagum. meskipun kedua gadis itu juga mampu untuk melakukannya, tapi bagaimanapun juga cuma dalam dua mingguan berlatih dapat mencapai hasil seperti itu tentulah sangat luar biasa.
Srianah mendekat kesamping Pranacitra dan di susul oleh Rinai. ''Ilmu apa yang telah kau ajarkan pada si bodoh ini.?'' tanya gadis itu penasaran. si pincang terkekeh dingin lantas menjawab. ''Hanya sebuah ilmu kasar yang bernama 'Gerakan Delapan Lengan Naga Besar..''
*****
Silahkan tulis komentar Anda. Terima kasih.