
Penjaga berjubah dan memakai penutup kepala hitam itu sempat terdiam sejenak sebelum menyambung bicara, ''Satu lagi Tuan Sesepuh., orang tinggi besar berbaju putih dan brewokan itu memanggul sebuah senjata tombak bermata golok kepala harimau di atas bahunya yang kekar..''
Dari dalam dua rongga mata gelap 'Sesepuh Bungkuk Mata Buta' seperti muncul kilatan cahaya menggidikkan yang membuat penjaga di depannya tanpa sadar tersurut mundur dan membungkuk lebih dalam. beberapa saat kemudian dengan gemetaran barulah dia berani mengangkat wajahnya, tapi orang tua buta itu sudah menghilang dari hadapannya.
Tidak mudah untuk bergerak cepat melalui lorong- lorong remang dan hanya diterangi beberapa cahaya obor batu yang tertancap di dinding lorong. namun bagi Sesepuh Bungkuk Mata Buta, semua itu tidak ada artinya. dengan berkelebatan bagaikan seekor kelelawar orang tua ini melesat cepat seakan tanpa halangan.
Beberapa penjaga yang berdiri di sudut lorong atau di depan ruangan- ruangan berpintu besi juga dapat dia lalui tanpa perlu menghentikan gerakan tubuhnya. bahkan ada sepasukan penjaga baru yang kebetulan sedang melintas untuk menggantikan para rekannya dapat dilewati orang tua bungkuk itu dengan melayang di atas kepala belasan orang ini. padahal jarak antara kepala meraka dengan atas langit- langit lorong goa itu ada yang cuma tiga jengkal saja.!
Semua ini hanya membuktikan kalau bukan ilmu meringankan tubuh Sesepuh Bungkuk Mata Buta saja yang luar biasa, kawan karib 'Sesepuh Dewa Kikir' itu pasti juga menguasai sejenis ajian 'Menyusutkan Tulang Tubuh' tingkat tinggi. jika ada orang lain yang melihat pastilah mereka tidak akan percaya kalau dia seorang tua yang sudah buta.!
Lebih tiga puluh waktu tarikan nafas orang tua ini melayang menembusi lorong goa hingga akhirnya dia sampai di suatu ruangan yang cukup luas. empat orang penjaga berjubah seragam hitam langsung datang menyambutnya. tanpa perduli orang tua buta langsung bergegas ke sudut ruangan sebelah kiri. di sana terdapat sebuah pintu besi yang terlihat lebih besar dan berukiran lambang partai 'Gapura Iblis'.
Dengan hanya kibaskan tangan kanannya yang mengeluarkan segulung angin tenaga lembut namun penuh tekanan, pintu besi yang besar dan berat itu mampu didorongnya hingga terbuka. ruangan itu luasnya kira- kira empat tombak keliling dan gelap tanpa ada cahaya apapun. orang buta memang tidak membutuhkan penerangan, karena bagi mereka selama masih bernafas cahaya akan selalu ada didalam hati dan pikirannya.
Pintu besi seperti sengaja dibiarkan terbuka hingga cahaya obor dari luar ruangan dapat sedikit masuk ke dalam ruangan gelap itu. jika tidak melihat sendiri orang tidak akan pernah menyangka kalau ruangan pribadi milik salah satu petinggi partai persilatan aliran hitam terkuat itu hanya berisi sebuah meja kayu tua dengan dua buah kursi. selain itu cuma terdapat sebuah rak kayu jati tempat menyimpan perabot sejenis cangkir, kendi air minum juga sebuah tungku batu tua untuk memasak yang ditempatkan di ujung ruang.
Meskipun buta tapi orang tua bungkuk itu punya indera perasa yang sangat peka. dia tahu kalau ada seseorang yang berada didalam sana bahkan kini sedang menjura hormat padanya. ''Kelakuanmu mulai kelewat batas. kenapa kau sampai berani masuk ke pusat markas rahasia tanpa kuperintah. siapa orang yang telah mengijinkanmu melewati jalan rahasia. jawab sekarang.!'' damprat Sesepuh Bungkuk Mata Buta mendengus geram.
''Mohon ampunmu tuan Sesepuh Bungkuk Buta. hamba tahu telah berbuat kesalahan dan siap di hukum. tapi ini adalah suatu masalah penting yang hamba pikir mesti dilaporkan padamu. hamba datang lewat jalan rahasia sebelah timur yang saat itu dijaga oleh sobat 'Lintang Mendem' si 'Bintang Culas Pemabuk..''
''Terus terang saja., demi untuk dapat masuk kemari hamba mesti menyuapnya lebih dulu dengan dua buah guci berisi arak dari negeri Tiongkok berusia lebih seratus tahun yang bukan saja langka juga sangat mahal. tentu saja hamba juga tetap harus meminum obat penghilang kesadaran sesuai dengan peraturan partai agar semua rahasia tempat ini terjaga..''
''Setelah itu hamba tidak dapat merasakan apapun. tahu- tahu saat tersadar saya sudah berada dalam ruangan rahasia tempat para anggota yang bertugas di dunia luar menunggu perintah atau melaporkan hasil kerjanya. beberapa orang yang aku kenal sempat bertanya padaku apa isi buntelan ini tapi tidak kuperdulikan..'' terang orang tinggi besar itu sambil turunkan buntelan kulit hitam ke lantai ruangan.
''Kau terlalu bertele- tele. sekarang katakan apa isi buntelan yang kau bawa itu. bau busuk ini membuat ruangan pribadiku menjadi tidak karuan.!'' damprat Sesepuh Bungkuk Mata Buta. sekali tangannya melambai, sebuah kendi dari batu hitam yang berada di atas tungku bergerak melayang dan jatuh tepat di atas meja kayu hingga orang tinggi besar itu terkesima melihatnya.
Lelaki yang memang si 'Pendekar Harimau Putih' itu cepat membuka isi buntelan. bau anyir darah busuk seketika terpancar keluar dari sebutir batok kepala manusia yang sudah mulai membusuk dan berulat. ''Ini adalah batok kepala dari 'Nyai Dupa Tumbal' yang sengaja hamba penggal.!''
Pendekar Harimau Putih masih ingin melanjutkan ucapannya tapi dengusan keras yang dibarengi kibasan tangan kanan si tua buta keburu melabraknya. jarak antara keduanya terpisah lima langkah dan terhalang meja kursi kayu. tidak ada juga sambaran angin keras yang menghantam namun hebatnya tenggorokan 'Pendekar Harimau Putih' seperti tercekik tangan besi raksasa yang tidak terlihat.
Sesepuh Bungkuk Buta perlahan gerakkan pergelangan tangan tangannya mengarah keatas. tubuh besar anak buahnya ikut terangkat naik hingga melayang hampir setombak tingginya di udara. kedua tangan orang ini berusaha melepaskan lehernya yang dicekik tangan tanpa wujud.
Sepasang kakinya menendang dan meronta sementara kedua matanya mendelik dengan wajah pucat pasi kehabisan nafas. mungkin dia bakal mati dalam beberapa kejapan mata. saat kesadarannya mulai habis dan nyawa hampir terbang dari raganya, tubuh tinggi besar itu terhempas jatuh kebawah. Pendekar Harimau Putih terbatuk- batuk menghirup udara. wajah pucat tubuhnya lemas mandi keringat, tapi dia tahu nyawanya telah selamat.
''Katakan semua alasanmu hingga berani melakukannya. jika sampai ada yang tidak masuk akal, kematianmu akan kubuat sangat mengenaskan.!'' geram orang tua bungkuk berjubah hitam itu lantas duduk di atas kursi kayu sambil meneguk minuman dalam kendi yang berada diatas meja.
''Uugh., hugh., baa., baik tuu., tuan se., sepuh..'' dengan terbatuk bawahannya mulai bercerita. ''Pada saat itu hamba yang hendak menuju lereng gunung Ciremai tanpa sengaja melihat Nyai Dupa Tumbal berlarian menuruni gunung seorang diri. seketika saya merasa kalau dia sedang butuh bantuan karena tidak kulihat empat rekannya berada di sana..''
''Di saat aku hendak menemuinya. langkah kaki nenek tua ini berubah menjadi lebih perlahan bahkan berjalan dengan santainya seolah tidak memiliki beban apapun. di dekat tempat itu ada sebuah sungai kecil. terlihat olehku sesosok tubuh berjubah dan berpenutup kepala hitam. pakaian ini., sangat mirip dengan yang dikenakan para penjaga di tempat ini..'' ucap Pendekar Harimau Putih perlahan seakan hendak berhenti bicara.
''Maksudmu ada orang partai yang berada di sana selain kau dan kelima orang itu. apa kau juga tahu bagaimana keadaan empat pesilat lainnya yang ditugaskan menghancurkan padepokan 'Lutung Ciremai.?'' tanya si tua buta hentikan minumnya. ''Eehm., hamba tidak berani memastikan semuanya. tapi yang paling menarik adalah sepenggal kalimat yang sempat terdengar olehku saat keduanya berbicara..''
''Karena jarak yang cukup jauh saya tidak bisa mendengar keseluruhan percakapan mereka. tapi masih ada yang sempat tertangkap di telingaku. bunyi kalimat itu adalah., 'Mereka semua sudah mampus. awalnya aku sengaja yang membuka serangan. di saat yang lain sudah turun tangan dan darah lawan telah tertumpah, racun pemberian tuan sesepuh diam- diam kusebar. setelah segalanya terjadi sesuai rencana dirikupun kabur..''
''Orang berjubah hitam yang hanya terlihat punggungnya itu tertawa bergelak. meskipun aku berada lebih empat puluh langkah darinya tapi gema suara orang ini sampai membuat dadaku seolah dihantam palu besi berulang kali. sebelum pergi dia sempat bicara pada Nyai Dupa Tumbal dan ucapan orang inilah yang sangat mengejutkanku..''
''Setan., cepat katakan apa yang kau dengar.!'' bentak sesepuh bungkuk gebrak mejanya. sekilas sebuah seringai licik tersungging di bibir bawahannya. ''Baik tuan sesepuh, maaf jika nanti kau menjadi tidak berkenan. orang itu berkata 'Bagus., dengan demikian orang- orang bawahan dari mereka sudah semakin berkurang. jika semuanya lancar, jabatanmu dalam Gapura Iblis akan kami tingkatkan.!''
Hening sunyi dalam ruangan gelap itu. Pendekar Harimau Putih masih berlutut di lantai. tangan kanannya menggenggam erat tombak golok kepala harimaunya tanpa berani bergerak sedikitpun, karena meskipun terlihat tenang namun dari tubuh orang tua renta dan bungkuk buta yang sedang santai meminum wedang temulawak kunyit itu telah terpancar suatu hawa membunuh yang sangat mengerikan.!
*****
Maaf lambat up date. kami yg ada di rumah sedang sakit. mungkin minggu depan PTK, dan13 Pb baru up lagi. Trims 🙏.