
Seketika semua orang yang berada disana terperanjat kaget mendengar ucapan si pemuda pincang yang memang Pranacitra adanya. terutama sekali dua kakak beradik Gading Arwana dan Gading Mawarimut. tanpa kuasa mereka berdua menoleh pada ibunya yang pada saat itu baru saja bangkit berdiri.
Tapi apa yang baru saja dia dengar dari pemuda pincang didepannya membuatnya tidak kuasa menahan luapan perasaan sedih, dendam dan terhina yang sudah sangat lama terpendam dalam hati perempuan setengah tua itu, sehingga tanpa dapat ditahan lagi tubuhnya terhuyung jatuh kembali ke tanah. raut wajah wanita gemuk pimpinan padepokan silat 'Gading Emas' ini seakan bertambah tua dalam sekejap saja.
''Kau tentunya merasa keheranan bagaimana diriku bisa tahu masalah lama ini bukan.?'' Nyai Gading Wikuni hanya terdiam menunduk. ''Baiklah jika kau diam kuanggap saja dirimu tidak ingin mengetahuinya. jadi akupun tidak perlu repot untuk memberitahumu..''
''Lagi pula., urusanku juga masih banyak. akan kubawa gadis sombong pimpinan 'Lima Elang Api' itu. chuih., kenapa diriku selalu saja dibuat kerepotan oleh kaum wanita..'' omel Pranacitra kesal. sambil meludah dia menghampiri tubuh Jingga Rani yang mengeliat. sepertinya gadis itu mulai tersadar dari pingsannya.
''Tunggu sebentar anak muda.!'' mendadak Nyai Gading Wikuni membentak keras hingga pemuda itu berhenti. ''Aku ingin kau jawab sejujurnya, apakah benar lelaki yang menjadi ketua perguruan silat 'Naga Biru' dari gunung Semeru itu telah mati ditanganmu.?''
''Kalau itu memang kenyataannya lalu kenapa, memangnya kau mau menuntut balas padaku sekarang.?'' sindir Pranacitra balik bertanya. pemuda pincang ini sedikit tersentak saat merasakan adanya gelombang hawa nafsu membunuh yang sangat mengerikan terpancar dari belakang tubuhnya.
''Hek., hee., he., sang penguasa langit bumi akhirnya memberikan hukuman kepada lelaki keparat yang tidak punya perasaan itu. bagus., bagus sekali..'' mendadak Nyai Gading Wikuni bangkit berdiri sambil tertawa bergelak. kedua tangannya terkepal mengacung keatas langit. meskipun jelas sedang gembira namun air matanya mengalir deras bagaikan aliran sungai.
Entah ada berapa banyak perasaan kebencian, sedih, senang dan juga dendam amarah yang terkandung didalam suara gelak tawa itu. hanya dalam waktu sebentar saja raut wajah perempuan berjuluk si 'Gading Gajah Sakti' ini seperti sudah bertambah tua sepuluh tahun.
''Anak muda yang menyandang gelar si 'Muka Pucat DIngin'., aku ucapkan terima kasih karena secara tidak langsung kau sudah membalaskan rasa sakit hatiku yang sudah sekian lama tidak pernah sanggup aku lakukan kerena orang itu terlalu tinggi kesaktianmya. tapi biarpun begitu., dia tetaplah ayah dari kedua anakku. jadi meskipun aku sadar bukan tandinganmu namun kewajiban tetap harus kulakukan..''
Pranacitra berhenti dan perlahan memutar tubuhnya. pandangan matanya yang dingin menyorot menggidikkan hati. tiga jari tangan kirinya teracung. ''Aku mengerti., kuberi waktu tiga jurus saja padamu. kalah menang, hidup atau matimu tergantung dalam tiga jurus itu.!''
''Semuanya jangan ada yang ikut campur. siapapun yang berani melanggarnya, aku sendiri yang akan menghukumnya.!'' damprat Nyai Gading Wikuni gebrakkan tongkat gadingnya, saat melihat beberapa orang murid dan kedua anaknya bergerak hendak ikut membantunya. meskipun merasa tidak puas terpaksa mereka hanya bisa menurut mundur.
''Terima kasih atas waktu tiga jurusnya. jika kau sudah siap sekarang juga aku mulai.!'' gertak Nyai Gading Wikuni. jubah kuningnya perlahan terkembang seakan diselimuti angin tenaga kesaktian yang bergulung. bersamaan itu tongkat gading gajah purba ditangannya dua kali menghentak ke tanah.
'Whuuukk., whuuukk.!'
Ledakan keras terdengar seakan bumi tertimpa guguran gunung meletus. dua jalur besar retakan tanah yang diselimuti tenaga kesaktian tinggi melabrak Pranacitra. inilah serangan pertama Nyai Gading Wikuni yang bernama 'Dua Tapak Gajah Purba.!'
Meskipun dihati agak terkejut tapi pewaris ilmu kesaktian lima dedengkot persilatan aliran hitam itu tidak menjadi gugup. dengan tenang dia salurkan tenaga kesaktian kedalam tongkat besi hitamnya. mata kepala tengkorak menyala semerah darah cahaya hitam pekat semakin menyelimuti tongkat itu.
Saat dua retakan tanah yang mampu membuat sebongkah batu karang hancur terbelah itu tinggal satu tombak saja darinya, Pranacitra babatkan tongkat besi hitamnya ke bumi. selarik cahaya hitam berkelebat bagai perisai yang menghantam serangan lawan. dua kekuatan hebat bertemu. bumi bergoncang keras. tanah bebatuan semburat menutupi pandangan. benturan tenaga sakti ini bahkan mampu membuat aliran sungai Canggu bergulungan dan terhempas balik.
''Ughh., hugh., aakh., Kuakui kehebatanmu pincang sialan..'' geram Nyai Gading Wikuni terbatuk- batuk. jurus tongkat lawannya bukan saja mampu menahan serangannya tapi malah dapat menghantam balik dirinya. ''Ingat aku belum kalah., karena masih ada dua jurus lagi. terimalah ilmu 'Amukan Gajah Melibas Gunung Semeru' dan ajian 'Gajah Sakti Lapuk Naga.!'
Sembari membentak keras tubuh Nyai Gading Wikuni melesat kedepan. tongkat gading gajah purbanya diputar satu lingkaran lantas menyapu kemuka. satu gelombang angin punting beliung dengan bayangan seekor gajah raksasa yang seketika muncul didepan perempuan tua itu seakan berderap maju hendak melabrak gunung karang.
Hanya berseling dua tarikan nafas saja tangan kanan Nyai Gading Wikuni yang membentuk telapak terbuka juga turut membesar berasap kehitaman lantas menghantam. kekuatan sehebat tindihan seekor gajah raksasa seketika terasa berat menekan udara. semua orang yang terlambat menjauh langsung turut terjungkal bergulingan. jeritan ngeri ketakutan terdengar bersautan.
Dulunya kedua ilmu kesaktian ini punya daya hancur sangat besar itu dipersiapkan ketua perguruan silat Gading Emas sebagai bekal menuntut balas atas penghinaan Ki Galing Brajapaksi terhadap dirinya. maka tidak dapat diragukan lagi kehebatan daya hancurnya.
Pranacitra yang diserang dua ilmu kesaktian sekaligus mengkelam wajahnya. tongkat berpindah ke tangan kiri. tangan kanannya yang terkepal erat berselimut cahaya hitam emas. sekali dia menghantam pukulan sakti 'Naga Penghancur Rembulan' melabrak ganas bagai mengguncang seantero bumi. dikejap lain tongkatnya juga terangkat lalu menusuk berputaran seperti membentuk dua mata bor bercahaya hitam panas pekat yang menggerus dinding baja. jurus 'Tongkat Kembar Cahaya Kegelapan.!'
Dentuman dahsyat terjadi. tenaga ilmu kesaktian yang saling hantam sampai membuat warung makan di tepian sungai itu roboh dan tersapu lenyap. pemilik warung yang berdiri dikejauhan terjengkang pingsan, entah karena ketakutan atau tidak sanggup membayangkan kerugian yang dialaminya.
Saat semuanya berakhir terlihat Pranacitra berdiri dengan tubuh gemetaran dengan nafas tersengal. tempatnya berpijak sudah terseret hampir tiga tombak dari awal dia berdiri. kedua kakinya melesak kedalam tanah hingga ke betis. pakaian hitamnya terkoyak dari sudut bibirnya yang pucat menetes darah segar.
Sementara itu disudut yang berlawanan Nyai Gading Wikuni juga masih sempat berdiri tegak sebelum akhirnya meraung muntah darah lalu jatuh terkapar, senjata pusaka tongkat gading gajah purbanya berderak patah lalu hancur remuk tidak lagi terbentuk.
Meskipun semuanya sudah berlalu beberapa saat yang lalu tapi tidak seorangpun disana yang berani bergerak. pepohonan yang bertumbangan, tanah berbatu yang terbongkar dan segala disekitar yang tersapu akibar beradunya ilmu kesaktian masih terlalu menyeramkan bagi siapapun yang melihatnya.