Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Gadis Berwajah Tengkorak. (bagian akhir)


Dua orang muda- mudi yang sama berpakaian warna gelap itu sudah bersiap saling hantam dengan ilmu kedigdayaan masing- masing. wanita yang dijuluki sebagai 'Gadis Berwajah Tengkorak' seolah benar berubah menjadi seorang iblis betina yang keluar dari dalam liang neraka.


Kobaran api panas yang keluar dari sepuluh batok tengkorak di kedua tangannya seketika membuat daerah sekeliling tempatnya berpijak diselimuti hawa sangat berpijak panas. tanah bebatuan mengepulkan asap sebelum retak dan pecah meletus dibakar api yang berkobaran.


Terpisah hampir dua puluh tombak di depan perempuan berkulit muka tembus pandang itu justru terlihat pemandangan yang bertolak belakang. gumpalan kabut putih pekat sangat dingin menusuk tulang disertai beribu- ribu butiran salju menyeruak muncul dari tubuh seorang pemuda.


Sepasang kepalan tangannya hingga pangkal lengan telah berubah menjadi balok es yang berkilauan tertimpa cahaya mentari. suhu udara sekitarnya mendadak berubah menjadi begitu dingin. tanah pekarangan tempat kakinya berpijak turut diselimuti lapisan salju yang terus menyebar.


Saat gumpalan kabut sangat dingin bertemu gelombang hawa panas, terdengar suara mendesis keras dan beberapa kali letusan dari dua tenaga kesaktian yang saling beradu. semua orang merasakan aliran darah mereka menjadi kacau akibat hawa udara yang terus berubah panas dan dingin berulangkali.


Meskipun 'Nyai Dupa Tumbal dan 'Sepasang Pengemis Bangkai' maupun suami istri ketua perguruan silat 'Lutung Ciremai' si 'Raja Ratu Lutung Sakti' adalah para tokoh silat papan atas, namun mereka juga tidak luput dari serangan gelombang hawa panas dan dingin itu. apalagi mereka berempat masih belum pulih dari luka dalamnya.


Yang paling merasakan dampaknya pastilah para murid padepokan Lutung Ciremai yang tinggal belasan orang saja. dalam keadaan sudah kepayahan mereka hanya dapat terkapar lemas tanpa daya. tubuh mereka sekejap pucat menggigil namun dilain waktu memerah bermandi keringat.


Biarpun merasa tidak tega melihat keadaan para muridnya tapi dua ketua padepokan Lutung Ciremai tidak mampu berbuat apapun untuk menolong. pusaran hawa yang sangat berlainan ini terus saling bentrok seolah ingin menunjukkan siapa yang paling kuat. daun- daun rontok, batang pohon jatuh berpatahan. sebagian menyusut beku banyak pula yang hangus terbakar.


''Sialan., sungguh edan. sampai kapan kedua orang itu terus mengadu kekuatan tenaga kesaktian. aku sudah hampir tidak dapat menahan gelombang panas dingin keparat ini.!'' rutuk Nyai Dupa Tumbal sambil mundur menjauh dan terus kerahkan tenaga dalamnya untuk membendung gelombang udara yang mengamuk.


''Padahal mereka berdua belum benar- benar saling menyerang dengan inti kesaktiannya. kita bertiga yang sudah mundur sejauh ini masih saja merasakan dampaknya..'' geram Pengemis Bangkai yang bertubuh tinggi. sementara rekannya hanya bisa mendengus dengan tubuh gemetaran dan raut muka semakin pucat.


Disaat itulah terdengar bentakan keras dari tengah kalangan pertarungan yang dibarengi terlontarnya dua ilmu kesaktian dari tangan kedua pihak. kobaran bara api merah yang menyambar ke depan seketika disambut dengan cahaya putih berkilauan seumpama batangan balok es yang diiringi hembusan badai salju menyapu bumi.


Ajian 'Sepuluh Jerangkong Kobong' milik si 'Gadis Berwajah Tengkorak' tidak dapat dicegah lagi bertemu dengan ilmu 'Sepasang Nisan Membeku' yang dilepaskan 'Setan Pincang Penyendiri'. lereng barat gunung Ciremai seketika bergoncang keras seakan dilanda gempa. ledakan panjang beruntun terdengar berulang kali.


'Whuuoosss., whuuooosss.!'


'Blaaaamm., blaang., blaaarr.!'


Asap merah panas berselingan kabut putih yang dingin membekukan tulang itu bukan saja menutupi pandangan dan menghempas apapun yang berada disekitarnya, tapi juga membumbung tinggi ke udara. serombongan burung yang baru keluar sarang hendak mencari makan dan kebetulan terbang lewat diatasnya langsung berjatuhan. puluhan ekor burung itu sebagian terpanggang sedangkan lainnya justru mati dalam keadaan membeku.


Pusaran hawa dingin dan panas, merah membara bergantian putih berkilauan itu terus saja mengamuk. semua orang cepat menjauh. mayat- mayat bermentalan hancur nyaris tidak berbentuk. meskipun semuanya terlihat sangat kabur tapi bagi empat pesilat berilmu tinggi yang ada disana masih sempat melihat dua bayangan hitam yang terus saling hantam dengan ganasnya ditengah amukan gulungan hawa sakti.


Walaupun sejak awal pertarungan sampai sekarang waktu yang kedua orang itu lewati tidak lebih dari dua puluhan tarikan nafas, namun gerakan jurus maut yang mereka lepaskan sudah hampir lewat tiga puluh jurus. semua orang terperangah. mereka merasakan ketegangan dan kengerian yang seolah tanpa henti.


Pada puncak ketegangan yang terjadi disana, mendadak terdengar benturan yang lebih keras lagi dan diikuti terpisahnya dua sosok tubuh. tidak seorangpun tahu apa yang telah terjadi sebenarnya. saat ini mereka lebih memilih untuk menjauh dan selamatkan diri masing- masing. pusaran gelombang yang padat pekat dan menindas masih terus berkecamuk ditengah pelataran itu hingga segalanya tetap tidak terlihat oleh mata.


''Awas., cepat menyingkir.!'' seru salah satu murid padepokan Lutung Ciremai saat melihat dua buah rumah kayu di belakang mereka sama mengeluarkan suara berderak keras. semua orang berhamburan menjauh dari bangunan kayu tempat tinggal para murid itu yang hancur roboh.


Setengah waktu peminum teh kemudian segalanya mulai mereda. meskipun mata semua orang dapat melihat yang terjadi di tengah pelataran tetapi tidak ada seorangpun yang berani untuk bersuara apalagi bergerak. pemandangan disana sungguh mengerikan.


Terlihat ditengah pelataran itu satu lubang besar dan dalam. anehnya tanah disana meskipun jelas hangus menghitam tapi udara yang membumbung naik terasa dingin dan berembun beku seperti butiran salju. dua orang yang terpisah belasan tombak itu sesaat masih berdiri tundukkan kepala. rambut panjang mereka sama kusut tidak teratur.


Tangan si pemuda pincang yang bernama Pranacitra menggenggam erat tongkat besi hitam kepala tengkorak untuk menahan tubuhnya. dari lubang hidung dan mulutnya keluar asap panas kemerahan. nafasnya berat dan agak tersengal. darah encer menetes dari sela bibirnya yang pucat. meski mampu bertahan tapi luka dalamnya lumayan berat.


Perlahan dia mengangkat kepalanya. didepan sana terlihat si 'Gadis Berwajah Tengkorak' juga masih tegak berdiri. jika si pincang masih belum mampu bergerak, sebaliknya lawan malah sudah berjalan perlahan, maju mendekatinya. Sepasang Pengemis Bangkai dan Nyai Dupa Tumbal yang melihat kejadian itu sama menyeringai buas. sebaliknya Raja Ratu Lutung Sakti menjadi khawatir dengan keadaan Pranacitra.


''Pendekar Pincang Tanpa Perasaan' rupanya hari ini memang sudah ditakdirkan sebagai hari kematianmu.!'' ejek Pengemis Bangkai yang bertubuh pendek. ''Peringkat pertama para pendatang baru terkuat dunia persilatan ternyata hanya isapan jempol saja. Haa., ha.!'' sambung rekannya tertawa tergelak.


''Hanya kematian bagi siapapun yang berani menghina partai 'Gapura Iblis'. sobatku Gadis Berwajah Tengkorak., cepat habisi si pincang keparat itu.!'' seru Nyai Dupa Tumbal turut menggertak. mendengar makian lawan Raja Ratu Lutung Sakti menjadi gusar. tanpa bicara apapun mereka langsung menyerbu ketiga tokoh silat jahat itu sambil lepaskan pukulan sakti.


Diserang secara mendadak begitu rupa membuat ketiga pesilat dari Gapura Iblis itu kelabakan dan geram. dengan menyumpah serapah mereka berusaha menghindar dan balas menghantam. keadaan semakin tidak menguntungkan bagi mereka karena dua orang murid utama turut pula membantu gurunya hingga pertarungan sengit kembali terjadi.


Rupanya luka dalam ketiga orang ini lebih parah dari perkiraan, terbukti gerakan mereka terlihat agak kaku dan menimbulkan celah. sebaliknya luka ketua padepokan Lutung Ciremai tidak separah yang dialami ketiga orang lawannya, sehingga dilihat dari gebrakan awal saja mereka sudah mampu mendesak lawan.


Di tengah gelanggang Pranacitra menatap dingin si Gadis Berwajah Tengkorak yang terus berjalan pelan mendekatinya. kobaran api walaupun sudah meredup tapi masih menyelimuti sebagian tangannya yang terlilit cambuk tulang berikut sepuluh tengkoraknya. meskipun ancaman maut kian menghampiri tapi murid lima orang pentolan aliran hitam itu tetap diam tanpa bergerak sedikitpun.


Diantara mereka terpisah oleh sebuah lubang hitam besar seluas lebih sepuluh tombak keliling. Pranacitra memang tidak perlu untuk bergerak menghindar karena saat tinggal tiga langkah dari tepi lubang perempuan bertubuh indah dengan suara sangat merdu itu tiba- tiba hentikan langkahnya.


Wajahnya yang terus menunduk perlahan terangkat. kulit tipis yang hampir tembus pandang itu terlihat berkilauan seperti kaca. asap tipis putih yang sangat dingin mulai keluar dari mulut, hidung dan ubun- ubun kepalanya. tubuh wanita itu menggigil. berawal dari ujung kaki muncul butiran salju yang terus naik ke lutut, paha berlanjut ke pinggang hingga pertengahan antara perut dan dadanya yang montok.


Dengan keluarkan suara jeritan yang sangat memedihkan hati, tubuh indah wanita itupun tumbang ketanah. dari sebagian tubuhnya yang berselimut salju dingin perlahan terus mengeras serupa balok es, hingga akhirnya kedua telapak kakinya mulai terpecah menjadi gumpalan potongan daging beku.!


*****


😅😅 He., he., untuk kesekian kalinya dapat peringatan dari NT karena telat update. akibatnya level author dari level xxxx, diturunkan ke level 7.👎😁😁. aku terus chat adik. "Hei, levelmu mudun gara" telat update terus.!'' dia bilang, ''Gak urusan., gak perduli., timbang mikir novel mending nyambut gawe ae oleh duwit.!'' 🤗🤭.