
Jarak lima tombak di hadapan Empat Petani Cangkul Maut, berdiri terbungkuk seorang nenek tua yang mengenakan sehelai jubah putih panjang dan berkerudung tutup kepala kain putih mirip sesosok pocong. selapis kabut tipis seakan menyelimuti tubuh renta si nenek hingga keadaannya menjadi makin menyeramkan laksana hantu gentayangan, apalagi saat itu langit dan suasana pagi di hutan ini masih terlihat gelap.
''Hik., hi., hi., 'Empat Petani Cangkul Maut.' mau apa kalian jauh- jauh datang dari bukit Tangkeban yang ada di wilayah kaki gunung Selamet ke tempat ini.?'' tegur nenek tua yang disebut sebagai 'Nyai Pocong Kabut' dengan suara mengikik seram macam kuntilanak.
''Apa perdulimu nenek tua., lagi pula kau sendiri ada urusan apa sampai muncul di sini.?'' Ki Lor Wisesa balik bertanya. diantara empat orang itu dialah yang paling tidak sabaran. apalagi mendadak saja nenek itu sudah membokong mereka dengan cundrik dan jarum beracun dari balik kabut. jika saja Ki Julingan tidak menahannya pasti dia sudah melabrak si nenek.
Dalam dunia persilatan golongan hitam, nenek tua yang di sebut sebagai Nyai Pocong Kabut ini dikenal sebagai seorang pembunuh upahan yang licik dan keji. kabarnya meskipun jurus silatnya tidak seberapa hebat tapi ilmu meringankan tubuhnya sangat tinggi. selain itu dia juga mampu menciptakan lapisan kabut tebal dan dingin yang dapat menutupi pandangan mata lawan. di saat sasarannya sudah terjebak dalam kabut buatannya, Nyai Pocong Kabut dapat segera menghabisi lawan dengan serangan senjata rahasia beracunnya.
Nenek tua ini berkomat- kamit mulut peotnya sambil terus kibas- kibaskan kedua lengan jubahnya yang panjang dan gombrong. bersamaan tubuhnya yang tinggi kurus tapi rada bungkuk terlihat bergerak melayang mengelilingi keempat lawannya. kabut yang keluar dari tubuh Nyai Pocong Kabut terasa semakin tebal dan dingin menusuk tulang.
Ki Kartopati sebagai pimpinan dari Empat Petani Cangkul Maut dan yang paling punya banyak pengalaman segera merasa adanya bahaya mengancam. sambil membentak orang ini mendahului menyerbu Nyai Pocong Kabut yang di ikuti oleh ketiga kawannya.!
Seakan sudah bersepakat empat orang petani ini langsung berkelebat menyerbu. tapi di tengah jalan tubuh mereka berpencar lalu berbalik arah menyerang dari empat penjuru angin.
Empat senjata cangkul baja bergerak cepat membacok, dua menyasar bagian atas tubuh lawan. dua lainnya mengincar pinggang ke bawah. setiap bacokan senjata cangkul baja menimbulkan sambaran angin keras dan tajam berhawa hitam. kabut tebal yang menyelimuti kalangan sampai tersibak buyar.
'Whuuuk., Wuuut.,
'Bheeet., Sheeet.!'
Nyai Pocong Kabut rada terkesiap juga, wajah keriput di balik penutup kerudung putih semakin memucat. dengan andalkan ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi nenek tua itu berkelebatan menghindari serangan empat cangkul lawan sambil sesekali balas menyerang dengan lepaskan tendangan kaki, pukulan telapak disertai lemparan jarum beracunnya.
Tapi semua itu seakan tidak ada artinya di hadapan Empat Petani Cangkul Maut. para pentolan perkumpulan Bumi Hijau itu terus mendesak Nyai Pocong Kabut. berkali- kali lemparan jarum dan cundrik terbangnya di buat mental, sementara sebaliknya senjata cangkul baja lawan malah nyaris berhasil membacok tubuh ringkihnya. masih untung si nenek masih mampu berkelit meskipun dalam keadaan sudah terjepit.
Biarpun pertarungan itu baru berlangsung belasan jurus saja tapi keadaan Nyai Pocong Kabut sudah diambang kekalahan. jubah putihnya robek- robek di beberapa bagian. dari mulut peotnya keluar ucapan sumpah serapah dan makian kotor. wajah tuanya semskin memucat ketakutan sepertinya nenek ini sudah berniat untuk kabur.
''Haa., ha., Nyai Pocong Kabut., jangan harap kau bisa lari dari tempat ini.!''
Bersama dengan kedua kawannya mereka terus mengurung Nyai Pocong Kabut yang terlihat sudah kembang kempis keadaannya. di luar dugaan sebelum lima jurus berikutnya habis sesosok tubuh sudah mengejang dan langsung terkulai lemas. itu adalah tubuh Ki Julingan.!
Dalam keadaan masih menyerang lawan tiga orang lainnya langsung terperangah kaget, belum jelas apa yang terjadi berturut- turut Ki Lor Wasesa dan Ki Ronggo Jangkung juga terjungkal roboh. pimpinan dari Empat Petani Cangkul Maut, Ki Kartopati masih sanggup mengirimkan tiga buah bacokan cangkul bajanya yang mampu melukai paha kiri Nyai Pocong Kabut sebelum akhirnya terkapar menyusul ketiga saudara angkatnya. biarpun lemas tanpa tenaga tapi keempat orang setengah umur itu masih sadar. dalam hati mereka merutuk kelicikan lawan sekaligus kebodohannya sendiri.
Nyai Pocong Kabut masih berdiri terbungkuk, mengatur pernafasannya yang memburu. beberapa saat kemudian dia mendongak sambil tertawa mengekeh. ''Hee., he., hampir saja nyawa tuaku amblas ditangan kalian. tapi selama ini memang tidak ada yang dapat lolos dari ilmu 'Kabut Pocong Putih Pelumpuh Raga' milikku..''
Mendengar ucapan Nyai Pocong Kabut barulah Empat Petani Cangkul Maut sadar dengan apa yang terjadi. meskipun dari awal sudah sempat curiga dengan kemunculan kabut tebal yang aneh, tapi sungguh tidak mereka sangka kalau kabut itu mengandung racun pelemas tenaga. padahal saat pertama kali tahu mereka juga sudah memeriksa pernafasan juga baunya dan tidak dirasakan ada sedikitpun kelainan.
''Hik., hi., hi., kalian berempat tentu merasa kebingungan., dengarkan para petani tolol. kabut yang kutebar pertama kali memang tidak beracun karena itu cuma sebagai pengalih perhatian saja. tapi sambil terus bertarung aku mulai menebar kabut yang sudah kububuhi racun pelemah tenaga. racun itu memang bekerja agak lambat dan tidak berbau..'' tutur Nyai Pocong Kabut sambil beberapa kali memutar kedua telapak tangannya. secara hebat sebagian kabut tebal yang menyelimuti tempat itu seperti terhisap masuk ke dalam lengan jubahnya yang longgar gombrong.
''Tapi jika orang yang menghirupnya banyak mengeluarkan tenaga dalam, racun ini akan lebih cepat bekerja melumpuhkan syaraf dan jalan darah di tubuh lawan. untuk itu diriku biasanya sengaja berpura- pura terdesak agar musuhku lebih bernafsu mengeluarkan tenaganya. tapi kali ini aku benar- benar kalian buat terpepet. nyaris saja aku mati., dasar petani keparat. sekarang waktunya kalian berempat mampus, dengan demikian berkurang lagi seorang pesaing dalam perebutan batu sakti Nirmala Biru.!'' damprat Nyai Pocong Kabut sambil siapkan senjata cundrik dan jarum beracun di tangannya.
''Jaha., jaha., nam. nenek tua., kep., kepa., rat. kami bersum., pah akan men., cekik., mu. biar., pun sudah men., jadi setan.!'' maki Ki Kartopati gusar. di bandingkan ketiga kawannya orang ini yang ilmunya paling tinggi, maka tidak heran kalau dia masih dapat bicara meskipun terbata dan sedikit bisa menggerakkan tubuhnya. Nyai Pocong Kabut terkekeh, kakinya menyepak lantas menginjak dada Ki Kartopati. orang ini pasti mati dengan tulang dada remuk jika saja Nyai Pocong Kabut tidak mendadak hentikan gerakannya.
Si nenek cepat menoleh ke satu arah, dari balik kabut yang masih tersisa nampak muncul seorang pemuda kurus berbaju gelap yang sudah lusuh dan membekal sebatang tongkat kayu hitam untuk membantu langkah kakinya yang pincang. pemuda ini berjalan dengan cara yang lucu seperti seekor cacing. kaki kanan melangkah yang kiri terseret menyusul. rambutnya yang gondrong dan terikat secarik kain batik lurik menutupi sebagian wajahnya.
Pemuda menguap malas, 'Pagi hari baru berganti, juga masih gelap dan berkabut. tapi sudah ada beberapa manusia keblinger yang membuat keributan hanya karena berebut sebuah batu., sungguh menggelikan..''
Ki Kartopati dengan susah payah memutar kepalanya, dia langsung terperanjat. Nyai Pocong Kabut mencorong kedua matanya. jika tadinya dia merasa marah dengan kehadiran pemuda pincang yang aneh itu karena merasa terganggu. kini rasa geramnya malah bercampur keheranan.
Pemuda kurus pucat yang umurnya mungkin baru tujuh belas tahun itu berhenti hanya lima langkah darinya. jika tangan kanannya menggenggam tongkat kayu, maka di tangan kirinya menimang sebuah batu berwarna kebiruan.
Dengan seenaknya batu bulat sebesar telur ayam itu di lempar- lemparkan diatas telapak tangannya. seakan tidak perduli kalau batu itulah yang sedang menjadi rebutan kaum persilatan.