
Robohnya Gendol dengan menanggung luka parah akibat tikaman pedang kedua orang berbaju perak membuat Srianah menjerit penuh kesedihan bercampur marah. dengan kerahkan hampir seluruh tenaga dalamnya dia menghentakkan telapak tangannya yang di lambari ilmu 'Sepasang Sinar Lingkaran Dewa.!'
Terjadi dua kali letusan beruntun saat dua buah cahaya merah kehitaman berbentuk kerucut mirip pahat yang sedang beradu kekuatan dengan ilmu kesaktian gadis itu terpental dan pecah di udara. orang tinggi besar berjubah coklat yang menjadi lawan Srianah tersentak kaget.
Dia sungguh tidak pernah mengira kalau ilmu kesaktiannya yang dinamai ajian 'Pahat Karang Dedemit' itu dapat di hancurkan lawannya. di pihak lain Srianah menggunakan tenaga tolakan dari benturan tenaga dalam itu untuk menambah laju lontaran tubuhnya ke belakang. dalam keadaan terpental dia masih sanggup memutar tubuh dan berjumpalitan di udara sebelum balik menggempur.
Tanpa perduli rongga dadanya yang sakit, gadis itu berniat menghantam kedua orang berbaju perak yang telah membuat Gendol terluka parah. karena bagaimanapun juga pemuda itu telah berani berkorban untuknya. ''Matilah kalian, dasar manusia laknat.!'' rutuk Srianah gusar berlinangan air mata.
Seiring gerakan tubuhnya sepasang telapak tangan Srianah juga turut berputaran cepat membentuk lingkaran- lingkaran kecil hingga puluhan banyaknya. saat dia menghantam ke bawah berpuluh cahaya tajam keperakan yang berubah menyerupai daun itu turut berhamburan bagai hujan menyiram bumi.
Semenjak di lepas gurunya si 'Gembel Sakti Mata Putih' baru pertama kali inilah Srianah menggunakan jurus yang dinamai 'Daun Kahyangan Berguguran'. meskipun kekuatan jurus ini masih dibawah ilmu 'Sepasang Sinar Lingkaran Dewa' namun tetap tidak dapat dipandang remeh.
Sasaran utama jurus ini memang kedua lelaki berbaju perak. namun beberapa orang pengepung yang berada di sekitar mereka juga tidak luput dari sapuan jurus itu. saat puluhan cahaya keperakan berbentuk daun itu menyambar, tiga orang seketika terjungkal mandi darah. tubuh mereka roboh dengan beberapa luka seakan di tusuk benda tajam.
Salah satu dari kedua orang berbaju perak pegangi bahu kanannya yang mengucurkan darah segar setelah terkena cahaya pukulan sakti Srianah hingga pedangnya hampir saja terlepas. meskipun lukanya berada di bahu tapi rasa panas dan sakitnya sampai menjalar ke pergelangan tangan juga rongga dadanya.
Rekannya yang bertubuh lebih tinggi sudah keburu menghindar dengan berguling ke samping kiri. meskipun baju peraknya menjadi kotor berlepotan tanah tapi selembar nyawanya selamat. tanpa sadar semua orang berseru kaget lantas sama semburat menjauh dengan perasaan ngeri.
Biarpun mendapatkan kesempatan untuk terus menyerang namun Srianah lebih memilih untuk meraih tubuh Gendol yang berlumuran darah. ''Gen., Gendol., Gendol., kau jangan mati. kumohon bertahanlah.!'' ucap Srianah menangis gugup sambil memeluk pemuda bertubuh besar ini tanpa perduli baju kutang putihnya menjadi semakin kotor terkena darah bawahannya yang setia itu.
Dari pemeriksaan sekilas mata, Srianah merasa lega karena meskipun luka yang dialami Gendol cukup parah tapi denyut nafas dari pemuda bertubuh besar itu tetap terasa pertanda Gendol masih hidup. bahkan kedua matanya yang besar masih bisa mengerjap setengah terbuka.
Seulas senyuman bodoh sempat tersungging di bibirnya yang tebal, seakan dia merasa lega melihat majikannya dapat selamat sekaligus juga ingin menunjukkan kalau dia bukanlah pemuda penakut. Srianah merasakan hatinya seperti teriris. dalam hatinya dia bersumpah selama dia hidup tidak akan pernah lagi membiarkan orangnya di sakiti siapapun.
Desiran angin tajam disertai makian kotor yang datang dari belakang tubuhnya membuat Srianah tersadar kalau dia masih dalam ancaman maut. tanpa banyak pikir gadis inipun membalikkan tubuhnya sambil memutar kedua tangannya membentuk lingkaran- lingkaran kecil bersinar keperakan. sekali sepasang telapak tangannya mengibas ke depan berpuluh cahaya perak mirip daun daun rontok tertiup angin turut menyambar. jurus 'Daun Kahyangan Berguguran' kembali dia gunakan.
'Whuuuss., wheeess.!'
'Sraaatt., traaaang., triiing.!'
Suara dentang senjata pedang si baju perak bersautan terdengar saat dia menangkis serbuan sinar daun perak Srianah. jangan dikata yang terlihat cuma dedaunan rontok tembus pandang, kekuatannya tidak jauh beda dengan lempengan besi. meski sangat kerepotan tapi dia mampu bertahan sekaligus menyelamatkan nyawa rekannya yang terluka.
Belum lagi Srianah berdiri tegak, orang tinggi jangkung sudah membentak keras. tubuhnya berkelebat maju sambil hantamkan kedua tangannya ke muka. sepasang cahaya merah kehitaman berbentuk kerucut menyambar. ajian 'Pahat Karang Dedemit' kembali mengancam nyawa gadis itu.
Srianah menjerit tertahan. tidak ada waktu untuk melontarkan ilmu kesaktian guna menahan pukulan maut lawan. tubuhnya merunduk dan berguling serata tanah hingga serangan maut itu lewat di atas tubuh gadis itu dan menghantam pagar pekarangan samping rumahnya hingga hancur.
Tetapi ancaman kematian belum berakhir karena kedua orang berbaju perak kembali menyerbu. dua pedang menikam perut juga hendak memotong leher Srianah. dengan sisa tenaga tangan kirinya meraih mayat salah satu pengeroyoknya untuk di jadikan tameng pelindung tubuh. darah muncrat membasahi tanah bersama potongan tubuh dan kepala mayat yang terpotong pedang. tubuh gadis itu sudah basah kuyup oleh keringat dan darah para lawannya.
Seumur hidup baru kali ini Srianah tidak dapat menggunakan kebiasaannya untuk sekali menyerang lawan dengan cepat dan kuat lantas kabur menghilang. selain jumlah musuh terlalu banyak, akhir- akhir ini dia juga jarang berlatih memperdalam ilmu silatnya hingga sekarang gadis itu terdesak hebat.
Melihat lawan sudah mulai kehabisan tenaga, sisa pengeroyok kembali terbangkit nafsu membunuhnya. dengan raungan penuh dendam akibat kematian kawan- kawannya mereka berebut untuk menjagal tubuh gadis manis itu. Srianah jelas tidak mau pasrah. tangan kanannya meraih golok lawan yang tergeletak mati di samping kanannya untuk dia gunakan menangkis serangan lawan.
Dalam keadaan masih berada di atas tanah seperti itu jelas sangat tidak menguntungkan baginya. dia cuma bisa berguling, menangkis sambil sekali menendang selakangan lawan yang paling dekat dengannya. daya keuletan bertahan hidup gadis ini memang cukup mencengangkan.
Yang terkena tendangan meraung kesakitan. tapi tiga golok dan dua bilah pedang sudah kembali memburu. Srianah terpaksa gunakan punggungnya sebagai tumpuan berputar. seiring putaran tubuhnya yang secepat gasing golok ditangannya turut menyapu kaki para pengepungannya. hasilnya dua betis tersambar bersama tiga pergelangan kaki terbacok nyaris putus.
Gerakan golok itu di akhiri dengan sapuan cepat untuk menangkis tikaman pedang si baju perak bertubuh pendek yang mengamuk karena bahunya sempat terluka. pedang tertahan namun goloknya turut terpental. dari sisi kiri pedang kawannya telah keburu lolos dan hendak menghunjam jantung Srianah.!
Tidak ada lagi senjata untuk melindungi diri. juga tenaga untuk melawan. sebilah pedang menusuk deras disusul dua golok membacok tanpa ampun. ''Mampus kau gadis keparat.!'' umpat si tinggi baju perak bengis. serangan pedangnya datang lebih dulu. hampir bersamaan dari satu arah melesat setitik cahaya berkilauan secepat petir menyambar. darah langsung tersembur dari tengkuk belakang leher si tinggi berhidung bengkok.
Suara ledakan beruntun sekeras halilintar yang disertai sambaran cahaya hitam merah berhawa panas yang menyusul belakangan membuat tubuh para pengurung gadis itu sama roboh terjungkal dengan luka hangus. Srianah tidak tahu apa yang terjadi. dia hanya dapat berguling sebisanya untuk menghindari tubuh si hidung bengkok yang tersungkur roboh di sampingnya.
Sepasang mata si tinggi berhidung bengkok melotot. ujung pedangnya hanya seruas jari dari samping kiri Srianah. orang ini masih sempat keluarkan suara menggerung serak dan berkelojotan sebelum tubuhnya bergetar keras lantas diam untuk selamanya.
Sinar mentari pagi yang hangat dari ufuk timur menyapu kegelapan di awal hari. mayat- mayat bergelimpangan di sertai bau anyir darah di atas pelataran yang ditimpali suara rintihan kesakitan dari mereka yang terluka membuat suasana pagi hari itu terasa menyeramkan hati.
Cahaya matahari yang baru muncul tepat menyoroti mulut luka berdarah di belakang tengkuk si hidung bengkok berbaju perak. di dalam kelelahannya Srianah malah tertawa lepas saat melihat ada gagang sebilah pisau dapur yang menancap di sana, karena dia tahu betul siapa pemiliknya.
*****
Silahkan tulis komentar Anda🙏 .Terima kasih.