Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Crazy And Idiot.


Tidak banyak lagi kata yang terucap di antara kedua pesilat tua muda itu. Pranacitra kembali menjura hormat. mungkin selain pada para gurunya dia hanya sekali ini menghormat setulus hati pada seseorang. Ki Tanjung Semboro seperti merenung. ''Banyak yang bilang bocah pincang ini kejam tiada ampun. dalam setiap tindakannya dia seakan tidak sudi memandang aturan..''


''Tapi sekarang yang aku lihat agak berbeda, meskipun caranya menghabisi lawan sangat dingin tanpa perasaan, namun entah kenapa aku justru merasakan hati pemuda ini tidak sejahat yang orang bilang..'' batin Ki Tanjung yang dalam rimba persilatan di gelari sebagai 'Pendekar Golok Emas Berlengan Tunggal' itu.


''Saya masih ada sedikit urusan yang mesti di selesaikan dengan beberapa orang yang hadir dalam pertemuan besar ini. tadi aku lihat sepertinya ada diantara mereka yang sudah tidak sabaran. jadi kuharap Ki Tanjung Semboro sudi menjaga gadis ini. biarpun dia agak sembrono, galak, binal dan makannya banyak, tapi murid sahabatmu itu lumayan baik hati juga..'' ucap Pranacitra memecah lamunan Ki Tanjung.


Sementara Puji Seruni yang masih bersemedi hampir saja menjadi gila mendengar dia di bilang sebagai gadis galak, rakus, binal dan sembrono oleh si pincang. ''Huhm., kurang ajar banget orang ini. kenapa juga aku bisa tahan berteman dengan setan picang seperti dia..'' sungut Puji Seruni dalam hati.


Orang tua itu kibaskan golok pusakanya sekali putaran hingga tercipta selapis kilauan cahaya keemasan yang kemudian lenyap seiring dengan tersarungnya kembali golok itu ke balik pungggung Ki Tanjung Semboro. ''Kau., mau membuat suatu penyelesaian di sini sekarang juga.?''


Yang di tanya menjura hormat sekali lagi sebelum tubuhnya melompat naik ke atas panggung. saat berdiri di sana si pincang ini cuma diam menunduk sambil pejamkan mata. rambut hitam yang gondrong masih terikat secarik kain batik lurik pemberian Srianah. suasana mendung semakin terasa mencekam saat angin dingin yang entah datang dari mana tiba- tiba saja muncul seiring dengan suara siulan yang berirama menyedihkan hati.


Jika di perkirakan orang persilatan yang hadir dalam pertemuan besar para pendekar di gunung Semeru saat ini berjumlah lebih seribuan orang. mereka datang dari berbagai golongan, tingkatan ilmu kesaktian dan tujuan yang berbeda.


Tapi dari sekian banyak tokoh silat yang hadir itu, tidak satupun yang bersuara saat alunan siulan sedih yang membawa kepedihan hati itu terdengar. padahal tidak ada seorangpun yang paham siulan lagu yang sedang di lantunkan pemuda pincang di atas panggung ini berkisah tentang apa. mungkin soal patah hati, kesepian atau malah kematian.


Pranacitra perlahan mengangkat kepalanya. angin yang berhembus menyibak helaian rambut yang menutupi wajahnya yang tampan namun rada pucat seperti orang lemah dan penyakitan. jarinya perlahan memutar ukiran kepala tengkorak yang berada di ujung tongkat besinya. dia baru berhenti bergerak saat ukiran wajah tengkoraknya menghadap ke depan.


Semua yang hadir terutama yang berada di depan panggung dapat melihat ada kilatan cahaya merah kehitaman yang menggidikkan muncul dari kedua rongga mata tengkorak itu. entah kenapa dalam hati mereka seperti telah dirasuki hawa yang menyeramkan.


''Sudah hampir setengah tahun lamanya aku berkelana di dunia persilatan. kalau di hitung entah berapa kali diriku berjudi dengan maut, berapa banyak pula yang tewas di tanganku. tapi asal kalian para pendekar yang terhormat tahu, mereka semua yang terbunuh olehku adalah memang orang yang layak untuk mati.!''


''Akan kupersingkat semuanya., meskipun aku mengenal lima orang tua yang terperangkap dalam 'Lembah Seribu Racun' itu juga mendapat sedikit warisan jurus ilmu silat dan kesaktian dari mereka berlima, tapi diantara kami tidak pernah ada ikatan resmi antara guru dan murid. semuanya., cuma sebuah timbal balik. mereka menyelamatkan nyawaku, kemudian aku menjalankan permintaan mereka..'' ucap pemuda itu sambil sekejap melihat ke atas langit.


Meskipun mendung gelap menyelimuti tapi dia tahu saat ini hari sudah beranjak siang. ''Lima orang tokoh silat itu kabarnya adalah para dedengkot persilatan aliran hitam yang sangat ternama pada masa lalu. sayangnya mereka juga punya banyak sekali musuh..''


''Entah sudah berapa puluhan atau bahkan mungkin ratusan kali aku., si pincang yang rendah ini terpaksa harus bertarung untuk mempertahankan selembar nyawaku hanya atas dasar dendam permusuhan lama yang sering tidak pernah aku ketahui antara para pendekar dengan kelima orang tua yang sudah mati itu..''


''Eehm., walaupun sangat menjengkelkan tapi kurasa itu suatu hal yang wajar jika seorang murid harus sedikit menanggung hutang gurunya. meskipun sebenarnya tidak ada ikatan resmi guru dan murid diantara kami. aku berani bersumpah semua yang kukatakan adalah suatu kebenaran.!'' tegas pemuda itu sambil memandang seluruh yang hadir di bawah panggung dengan kedua matanya yang dingin dan tajam menusuk.


''Mulanya aku ikut datang kemari hanya untuk mengantarkan seorang kenalan yang ingin menuntut balas atas kematian guru dan tunangannya yang terbunuh secara keji oleh ketua perguruan silat Naga Biru beserta beberapa orang muridnya..''


''Maaf jika aku yang rendah ini bicara lancang, tapi sempat kudengar juga kalau salah satu masalah yang akan di bicarakan dalam pertemuan besar kaum persilatan di gunung Semeru ini adalah., bagaimana cara terbaik untuk dapat menghabisiku..''


Sampai di sini suasana menjadi semakin tegang. Pranacitra menyeringai sinis saat melihat ada banyak orang mulai bergerak merangsek maju ke bagian depan. sekali pandang dia paham tingkat kemampuan orang - orang itu cukup tinggi, bahkan beberapa ada yang hampir tidak terukur. dalam hatinya dia justru tertawa dingin.


''Hee., he., menarik juga. kira- kira satu lawan berapa orang yah., sepuluh, sebelas orang, dua belas, dua puluhan atau., lebih tiga puluhan orang pesilat.?'' batinnya terkekeh. sementara di luarnya Pranacitra tetap terlihat tenang dan dingin tanpa perasaan.


''Kenapa dia berbicara seperti itu, apa bocah ini tidak sadar kalau ucapannya malah bisa memancing amarah kaum persilatan yang pernah bersengketa dengan kelima gurunya. Aah., jangan- jangan dia., dia memang sengaja melakukannya. boo., bocah pincang ini mau menantang semua musuhnya sekaligus di atas panggung.!'' batin Ki Tanjung Semboro terjingkat kaget.


''Kalau benar demikian, bocah pincang ini memang sudah edan. mungkin juga otaknya cuma tinggal separoh dan terbalik letaknya. atau malah bisa jadi sudah berpindah tempat ke pantatnya. dasar pemuda goblok., biarpun dirimu berilmu sangat tinggi dan tidak takut pada kematian, setidaknya berpikirlah yang jernih sebelum membuat keputusan.!'' geram orang tua berlengan buntung itu.


Entah kenapa dia menjadi begitu khawatir dengan keselamatan pemuda berkaki cacat ini. padahal baru saat ini mereka bertemu. selain itu sebelumnya dia juga memendam dendam kesumat pada salah satu guru si pincang itu yang pernah meracuni telapak tangan kirinya hingga menyebar sampai ke lengan. andaikata tidak mendapat pertolongan dari 'Nenek Tabib Selaksa Racun' mungkin dia sudah tewas sejak lama.


Ki Tanjung Semboro masih ingat betul betapa ganasnya racun itu. bahkan saat dia nekat membuntungi lengannya sendiri, racun jahat itu tetap saja menyebar hingga hampir mencapai jantung. sewaktu merasa ajalnya akan tiba, mendadak muncul seorang nenek tua sakti yang hanya dalam waktu singkat mampu menghentikan penyebaran racun di dalam tubuhnya.


'Pendekar Golok Emas Berlengan Tunggal' ini tidak sempat lagi berpikir jauh karena bersamaan sudah melesat berturut- turut belasan orang tokoh persilatan ke atas panggung. dari gerakannya yang cepat, ringan dan mantap dapat di pastikan jika ilmu silat yang mereka miliki lumayan tinggi. hati pesilat golok ternama dari daerah Blambangan itu seakan di tindih sekarung besi panas saat melihat siapa saja pesilat hebat yang muncul di atas panggung.


Dari semua pesilat itu setidaknya ada empat atau lima orang pesilat yang dia kenal punya kesaktian hebat. ''Hantu Gunung Kawi, 'Sepasang Jerangkong Ireng, 'Anggrek Geni, serta., 'Ular Sakti Berpedang Iblis.!'' desis Ki Tanjung Semboro kaget. ''Kenapa pemuda pembunuh bayaran itu kembali lagi ke mari. ataukah., karena dia ingin menggunakan kesempatan ini untuk dapat membunuh salah satu saingannya dalam jajaran teratas para pesilat muda pendatang baru.?''


Dengan muka tegang dan hati berselimut kengerian Ki Tanjung Semboro menghitung jumlah para pendekar yang sudah berdiri mengurung si pemuda pincang. wajah tuanya semakin memucat setelah selesai menghitung berapa orang yang bakal menjadi lawan Pranacitra.


''Duu., dua pu., puluh em., empat. ada dua puluh empat orang. ini tidak masuk akal, satu melawan dua puluh empat orang pesilat yang sudah punya nama di rimba persilatan. sialan., sayangnya aku tidak bisa ikut campur masalah balas dendam orang lain. dasar pemuda bodoh, rupanya kau bukan saja gila tapi juga sangat dungu..'' keluh Ki Tanjung Semboro sampai gemetaran. dalam bahasa sekarang mungkin tindakan si pincang itu bisa di sebut sebagai The Crazy And Idiot.!


*****


Asalamualaikum. salam sehat dan sejahtera selalu.


Silahkan tulis komentar, kritik dan saran. like👍vote atau favorit jika anda suka. terimakasih pada para reader pembaca yang membantu share novel PTK dan 13 Pbh. Wasalamualaikum.