Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Pulang.


Pagi itu udara cerah setelah beberapa hari di guyur hujan lebat. sinar mentari yang hangat dirasakan semua penduduk kadipaten Muntilan. hari ini tepat selasa kliwon. seperti sudah menjadi tradisi, setiap hari selasa kliwon pasar besar di pinggiran kadipaten Muntilan akan jauh lebih ramai. pasar Sewon yang berarti selasa kliwon menarik minat para pedagang dari luar daerah untuk datang mencari untung.


Demikian juga para pengunjungnya baik yang ingin membeli sesuatu atau cuma hendak melihat- lihat keramaian suasana pasar. dari orang- orang kaya hingga fakir miskin, kaum pengemis sampai tukang copet yang bersiap mengincar sasaran dan tentunya para prajurit kadipaten yang menjaga keamanan pasar juga ada di sana.


Seorang gadis remaja berbaju biru muda celana hitam dan menggembol buntelan kain di pundaknya terlihat duduk di bangku kayu salah satu warung makan yang berada di ujung jalan pasar. segelas wedang jahe gula aren berikut dua buah pisang rebus terhidang di atas mejanya.


Warung makan itu tidaklah begitu besar, mejanya cuma ada tiga. setiap meja terdapat dua bangku kayu yang saling berhadapan dan bisa di duduki oleh dua orang setiap bangkunya. wedang jahe gula aren itu sudah terminum separuh. dari pengunjung warung itu sudah mengisi separuh meja yang tersedia, hanya dia seorang saja yang perempuan sedang lainnya laki- laki. hampir semuanya melirik atau tersenyum kagum melihat gadis yang umurnya mungkin baru enam atau tujuh belas tahunan itu.


Gadis muda ini kalau dilihat sebenarnya tidaklah terlalu cantik, tapi ada suatu sisi yang menarik hati bagi lawan jenis. seperti suatu keanggunan yang alami dan polos. tidak ada perhiasan apapun yang ada di wajah manisnya. bahkan bedak gincu atau wewangian yang biasa di sukai para gadis mudapun juga tidak di pakainya.


Satu pisang rebus sudah berpindah ke dalam perutnya. dia tersenyum riang melihat keramaian pasar Sewon. gadis itu paham betul seluk beluk pasar ini. dari siapa saja pedagangnya dan barang apa yang di jual, sampai dimana tempat orang- orang biasa berdagang barang gelap yang terlarang. siapa pedagang yang suka berselingkuh juga yang jujur atau bermain curang dalam berdagang dia tahu semuanya. karena baginya datang ke pasar ini seperti pulang ke rumah sendiri.


Hampir empat tahun silam gadis bernama Srianah itu masih seorang copet cilik yang tiap hari bergentayangan mencari mangsa. mungkin dia akan terus seperti itu sampai sekarang jika saja tidak bertemu dengan seorang pemuda gelandangan yang penyakitan.


Kalau ingat masa itu Srianah sering kali tersenyum sendiri. senyuman riang yang bercampur kepedihan hati. bersama dengan pemuda yang bernama Pranacitra itu dia sempat mengembara bersama melewati banyak petualangan. meskipun kaki kirinya pincang dan tubuhnya lemah pemuda itu seakan tidak pernah mengenal kata takut atau menyerah.


Srianah menghela nafas sedih, dia tidak tahu sekarang Pranacitra ada di mana. apakah sudah menjadi orang hebat atau telah mempunyai satu keluarga yang bahagia lalu melupakannya.? apapun itu Srianah cuma berharap agar di manapun Pranacitra berada dia selalu dalam keadaan baik dan selamat.


Teringat kenangan masa lalu membuat gadis itu merasakan suatu kegetiran di hatinya. bahkan wedang jahe gula aren dan pisang rebusnya seperti ikut terasa pahit di lidahnya. setelah membayar makanan dan memakai kembali capingnya Srianah pergi meninggalkan warung makan itu.


Sepanjang perjalanan melewati keramaian pasar Sewon, Srianah merasa ada yang mengikutinya. sedikit melirik dia sudah paham kalau para penguntit itu bukan lain adalah beberapa orang lelaki pengunjung warung makan tadi. dari awal Srianah sudah sadar gelagat niat buruk mereka padanya. pandangan mata mereka mesum.


Meskipun belum lama Srianah keluar dari tempatnya berguru tapi berkat kecerdikan dan pengalamannya selama mengembara di rimba persilatan, dia sudah mampu mengira baik buruknya niat seseorang dari tingkah dan pandangan mata orang itu.


Srianah sendiri heran karena dia tidak pernah merasa kalau dirinya cantik. bahkan hampir tidak pernah pula berdandan seperti kebanyakan gadis remaja seusianya. tapi anehnya selama dia berkelana ada saja kaum lelaki mesum yang membuat masalah dengannya.


Meskipun punya bekal ilmu silat yang tinggi, tapi dia enggan mendapat masalah. baginya lebih baik menyingkir dari pada harus main kekerasan hingga membuang waktu dan tenaganya. dengan berjalan menerobos keramaian orang melewati banyak lorong di pasar Srianah dapat keluar dari sana. gadis itu tertegun sesaat karena baru sadar kalau di sini adalah tempat pertama kali dia dan Pranacitra bertarung melawan 'Lima Begundal Brewok'.


Dia menarik nafas sebal karena tahu para penguntit itu sudah muncul di belakangnya. ''Kadang semakin kita menjauhi masalah, makin sering pula kesulitan menghampiri..'' gumamnya sambil balikkan tubuhnya.


''Kalian kesasar jalan atau memang sengaja mengikutiku.?''


Empat orang lelaki yang umurnya masih muda itu memang para pengunjung warung makan tadi. dari pakaiannya yang sama kelabu berlengan pendek dapat di duga kalau mereka berasal dari satu perkumpulan.


''Haa., ha., nona jangan berprasangka buruk., kami berempat cuma ingin berkenalan dan menjalin persahabatan saja..''


''Daerah pasar dan sebagian besar wilayah kadipaten Muntilan ini adalah daerah kekuasaan kami dari perkumpulan silat 'Musang Kelabu'. pastinya nona yang manis ini sudah pernah mendengarnya bukan.?'' jawab orang yang berdiri paling depan dan berparas lumayan tampan di bandingkan tiga orang lainnya. Srianah seakan merenung lalu angkat bahunya. ''Musang Kelabu., sayang aku belum pernah dengar nama itu. maaf juga., tapi aku bukan seorang nona manis dan tidak punya niatan untuk berkenalan..'' setelah menjura hormat gadis itu balikkan tubuhnya dan melangkah pergi begitu saja.


Karuan saja keempat orang pemuda yang mengaku sebagai anggota perkumpulan silat Musang Kelabu itu tertegun sesaat lamanya. saat mereka tersadar gadis itu sudah berlalu puluhan langkah jauhnya. dengan dengusan mengumpat mereka berkelebat menyusul.


Dari gerakannya dapat di lihat kalau mereka cuma punya ilmu kelas rendah. setelah agak memaksakan diri berlari mereka baru dapat menyusulnya sekaligus langsung bergerak menghadang. Srianah menghela nafas seperti menyesali sesuatu sambil geleng- geleng kepala. ''Sepertinya., kalian memang suka mempersulit orang lain. baiklah apa boleh buat, aku sudah berusaha menghindar tapi kalian yang memaksaku..''


Mulutnya belum selesai bicara tapi tubuhnya yang ramping sudah melesat kemuka. jarak di antara mereka terpaut hampir tiga tombak. tapi dengan sekali menjejakkan kakinya gadis itu sudah berada di depan keempat orang pengepungnya yang terperangah kaget. ilmu meringankan tubuh Srianah memang sangat tinggi. jurus 'Sembilan Daun Melayang' membuat tubuhnya bagai seringan daun kering yang tertiup angin.


Jika ada masalah datang Srianah pasti memilih lari menghindar sejauh mungkin. tapi sebaliknya., saat dia memutuskan untuk bertarung, Srianah tidak mau kepalang tanggung. dalam sekali serangan dia akan gunakan jurus yang sangat kuat untuk merobohkan lawannya. bahkan kalau perlu lawan bakal di buatnya cacat atau tidak mampu bangun beberapa hari lamanya.


Semua itu sudah menjadi kebiasaannya sejak menjadi tukang copet cilik di pasar. serang mendadak, robohkan secepatnya lalu menghilang sejauh- jauhnya. kalau dalam bahasa jaman sekarang mungkin di sebut sebagai 'Tindakan yang efectif dan efisien.!'


Selintas pandang, orang hanya dapat melihat Srianah menjatuhkan empat lawannya dengan satu kali gebrakan saja. tapi kalau ada orang lain yang punya pandangan tajam, dia pasti dapat melihat setidaknya enam atau tujuh pukulan dan tendangan yang telah di lepaskan gadis itu.


Gerakan jurusnya terlihat sederhana, tapi karena di lakukan sangat cepat dan mendadak dengan sasaran yang paling lemah, empat pengurungnyapun tersungkur roboh tanpa sempat membalas barang setengah juruspun. Srianah tidak perduli jika di bilang menang secara licik karena menyerang tanpa peringatan. ''Bukan aku yang cari gara- gara duluan., jika kalian anggap diriku pengecut karena menyerang tanpa peringatan., Chuih., Persetan.!'' ejek Srianah sambil meludah lantas berkelebat pergi.


Srianah berdiri termangu di depan sebuah pondokan bambu tanpa penghuni yang dudah reot dan hampir roboh. di dalam sana banyak kenangan pahit dan manis yang tertinggal. hanya sebentar saja gadis itu berdiri di sana, kakinya melangkah cepat ke belakang pondok.


Tidak jauh dari belakang gubuk bambu itu ada sebuah hutan kecil. di balik sebuah batu besar dan rimbunan semak belukar terdapat satu gundukan tanah bertanda nisan batu. tidak ada tulisan apapun yang menerangkan siapa orang yang di makamkan di kuburan itu. tapi Srianah tahu di sinilah Ki Suta gurunya terbaring selamanya.


Gadis itu berlutut untuk berdoa. setelah selesai barulah Srianah merasa ada yang janggal. ''Makam ini cukup tersembunyi, juga sudah lama tidak kukunjungi. tapi kenapa keadaannya cukup terawat seperti baru saja di bersihkan..''


Srianah tertegun., hatinya terasa bergejolak. ''Selain diriku cuma dia yang tahu makam ini. yang telah membersihkan makam ini pastilah dia..'' serunya tertahan. dia berdiri memandang sekeliling. Srianah menoleh ke satu arah saat mendengar ada suara langkah kaki mendatangi.


''Pranacitra., apa kau yang datang.?'' jeritnya penuh harap. tapi Srianah seketika kecewa melihat orang yang datang bukan seperti harapannya. malahan dia semakin kesal karena tahu kalau masalah di tepian pasar Sewon tadi pagi rupanya masih berlanjut.


Yang mendatangi di tempat itu bukan cuma empat orang tadi yang muka serta tangan kakinya bengkak dan patah hingga sampai harus di tandu, tapi ada lebih dari dua puluhan orang berpakaian kelabu lengan pendek dengan wajah penuh amarah yang turut hadir di sana. seorang lelaki setengah tua lima puluhan tahun bertubuh kurus dengan muka tirus dan bermata tajam yang licik berjalan paling depan. sebuah jubah kelabu yang longgar menutupi tubuhnya.


Para pendatang itu berhenti hanya beberapa langkah dari depan Srianah. sebagian dari mereka bergerak mengurung si gadis. dari balik capingnya murid 'Gembel Sakti Mata Putih' ini melirik ke sekelilingnya. tidak ada jalan mundur baginya. ''Sialan., bagaimana caranya orang- orang ini sampai dapat menemukanku.?'' batinnya heran bercampur kesal.


''Heeh gadis muda., kau tentunya heran kenapa kami dapat menemukan dirimu.?'' bertanya orang tua yang menjadi pemimpin gerombolan itu seakan tahu yang sedang di pikirkan Srianah.


''Huhm., tidak ada satupun manusia yang sanggup bersembunyi dari kejaran kami. karena perkumpulan silat 'Musang Kelabu' memang ahlinya mencari jejak para buronan. Haa., ha.!''


*****


Pengumuman.,


Asalamualaikum, salam sehat sejahtera selalu. mohon maaf untuk waktu 1minggu ke depan novel silat Pendekar Tanpa Kawan tidak dapat up date, karena suatu hal yang di luar dugaan dan kesibukan kerja. (yang baca novel 13 Pembunuh mungkin sudah tahu sebabnya πŸ˜“πŸ˜…)


Terima kasih atas semua dukungan, kritik, saran. like juga vote (bahkan ada yang kasih koin tipπŸ€—πŸ‘) pada novel PTK ini, hingga bisa sampai episode ke 100.πŸ™ Matur Suwun.


Tentunya banyak sekali kekurangan di novel PTK ini dan juga 13 Pbh. akan coba terus kami perbaiki. (tapi maaf., soal up date yang teratur tiap hari kayaknya masih sulit πŸ€”.,)


Oh iya., beberapa reader pernah tanya apakah Pranacitra (mc Ptk) dan Roro (mc 13 Pbh) ada hubungan perguruan.? jawabnya (menurut adik yg punya novel sih.,) Iya Benar.! guru Roro si 'Nenek Tabib Selaksa Racun dan guru Pranacitra si 'Nenek Tabib Bertongkat Maut ada hubungan saudara.(mboh adik kakak opo piye., aku ora paham.😜) cuma kedua orang ahli racun bersaudara ini tidak pernah akur. mungkin nanti ada ceritanya sendiri. (tapi semoga gak ono., ben cepet mari ceritane.πŸ‘Œ)


Sekali lagi terima kasih. silahkan komentar, kritik, saran. juga like πŸ‘ vote dan favorit πŸ‘jika anda berkenan. Wasalamualaikum.πŸ™