Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Orang yang menjual kawan sendiri. (bag2)


Kedua orang yang mengenakan jubah mantel dan berpenutup kepala hitam itu meskipun kalah jumlah dengan hampir dua puluhan orang anggota gerombolan 'Kuda Angin' yang sedang sibuk mengeroyoknya, namun mereka justru terlihat berada di atas angin dan sedang mendesak lawannya.


Dengan mengandalkan jurus pedang yang hebat kedua orang ini bukan saja mampu menghindari kurungan senjata lawan tapi juga sanggup menghabisi tiga orang anggota Kuda Angin dalam sekali gebrakan saja. melihat kejadian itu si hidung tindik yang mempunyai ilmu silat sedikit lebih kuat dibandingkan rekannya yang lain menjadi gusar.


Dengan didahului suara meraung buas dia kirimkan sebuah bacokan di susul dua buah tikaman pedang untuk menghadang serangan salah satu dari kedua orang bermantel hitam bertubuh jangkung yang hendak memotong leher kawannya. biarpun dia berhasil namun pedangnya nyaris terlepas akibat berbenturan dengan senjata lawan.


Sebagai bekas anggota pasukan kerajaan penjaga perbatasan, si hidung tindik tentunya memiliki dasar ilmu kanuragan yang lumayan dapat diandalkan. belum lagi selama lebih setengah tahun belakangan dia beserta puluhan kawannya telah mendapatkan bimbingan dari Nyi Jaran Mirah hingga membuat kemampuan mereka meningkat. tapi di hadapan dua orang bermantel hitam yang entah berasal dari mana, semuanya itu seakan tidak berguna.


Otak lelaki tinggi besar ini cepat membuat keputusan. dengan pengalamannya dia merasa bertarung keroyokan dalam satu titik yang rapat malah membuat mereka kurang leluasa menggerakkan senjatanya karena takut akan melukai rekan sendiri. belum lagi kedua lawannya juga mempunyai kerjasama yang sangat bagus dalam menyerang dan bertahan.


Karenanya dia memilih untuk memecah anggota Kuda Angin menjadi dua kelompok. si hidung tindik beserta enam orang rekannya mengepung si jangkung sedang sisanya yang lebih banyak jumlahnya menyerbu si mantel hitam bertubuh pendek kekar. meski dengan siasat memecah ini membuat mereka mampu bertahan hingga beberapa jurus ke depan tapi sayangnya tidaklah berlangsung lama.


''Hanya gerombolan buronan kelas rendah sudah berani berlagak didepan kami. pergi saja kalian semua ke neraka.!'' bentak si jangkung. gema suaranya belum lenyap tapi pedangnya yang lentur bergerak membabat dan menikam. liukan tubuhnya sangat luwes mengikuti sambaran pedangnya. suara mencicit nyaring terdengar saat mata pedang berkelebatan membelah udara malam.


Hampir bersamaan rekannya si pendek kekar juga turut membentak. dengan gerakan jurus pedang yang sama keduanya menjebol kurungan senjata sekaligus dengan buasnya membantai para anggota Kuda Angin. belasan titik cahaya kehitaman yang tajam menyambar bagai curahan hujan. jika di lihat sekilas mata, jurus pedang dan gerakan tubuh kedua orang itu mirip dengan kelelawar yang sedang terbang memburu mangsa.


'Wheeett., bheett., beett.!'


'Shraaatt., traaaang., traaaang.!'


''Aaahk., aakh.!''


Dalam dua gebrakan jurus berikutnya lima orang tewas terjungkal bersimbah darah. bahkan salah satunya sampai hampir putus terbelah dari bahu kiri sampai ke tengah perut. ''Kurang ajar., pembunuh biadab. bayar kembali nyawa saudara- saudara kami.!'' teriak si hidung tindik kalap. pedangnya yang berukuran besar dan lebar membuat gerakan membacok tiga kali ke arah kepala lantas berputar cepat menikam dada.


Di bakar hawa dendam amarah orang ini lepaskan jurus 'Kuda Liar Merambah Bukit'. padahal dia belum menguasai betul jurus pedang ini. biarpun sempat terperanjat tapi si jangkung berjubah mantel hitam masih dapat membendung gempuran pedang lawan yang berat dan cukup punya kekuatan penghancur, hingga jubah mantelnya masih sempat robek di bagian tengah dada.


Walaupun hanya sekilas tapi mata tajam si hidung tindik tetap dapat melihat sebuah gambar rajahan di dada lawannya. ''Setan alas., rupanya kalian berdua berasal dari perkumpulan pembunuh bayaran 'Serikat Kalong Hitam.!'' seru si hidung tindik dengan muka berubah hebat. tanpa bersepakat semua rekannya yang mendengar turut bergerak mundur.


Kejadian ini turut membuat Nyi Jaran Murah terperanjat. saat itu dia baru saja berhasil lolos dari bahaya maut setelah bersusah payah menyelamatkan nyawa Surti Cenil muridnya yang sedang terancam oleh pukulan sakti 'Kelabang Pedut Biru' yang dilepaskan Cagak Randu dan juga Pengemis Muka Hitam.


Biarpun dapat menyelamatkan muridnya tapi nenek ini juga harus terluka luar dalam akibat serangan cambuk 'Cemeti Kelabang Ulet' dari si Pengemis Muka Hitam. perlu melewati hampir sepuluh jurus baginya untuk dapat melepaskan diri dari sabetan senjata lawan yang mengurung tubuhnya.


''Uugh., hugh., tii., tidak kuu., kusang., ka para pejab., bat munafik di puu., sat keraja., an begitu mem., mandang tinggi Kuda Angin yang aku pim., pin. saa., sampai men., nyewa Serikat Kalong Hitam hanya un., tuk melen., nyapkan kaa., kami.!'' geram Nyi Jaran Mirah terbatuk- batuk sambil pegangi dadanya yang sesak.


Dalam kegelapan malam matanya yang mulai menua masih dapat melihat gambar rajahan seekor kelelawar hitam yang sedang terbang sambil kakinya mencengkeram sebilah pedang dari balik jubah mantel si jangkung di bagian dadanya yang tersibak robek. itulah lambang dari perkumpulan 'Serikat Kalong Hitam.'


Keadaan Nyi Jaran Mirah jelas cukup parah. jubah merah gelapnya robek- robek terkena cabikan cambuk lawan. dengan adanya Pengemis Muka Hitam saja dia sudah cukup kesulitan, apalagi muncul dua orang dari Serikat Kalong Hitam membuat segalanya menjadi sangat sulit. keinginan mereka untuk membekuk Cagak Randu bukan saja gagal, bahkan mungkin dia dan pengikutnya yang bakalan celaka.


Dibantu muridnya dia berusaha berdiri tapi kembali jatuh terduduk lalu muntah seteguk darah. Surti Cenil yang mengkhawatirkan keadaan gurunya menjerit tertahan. dia cepat berdiri menghadang sambil melintangkan pedangnya saat melihat Cagak Randu dan gurunya bergerak maju.


''Jangan berani mendekat. berhenti kalian.!'' bentak Surti Cenil. meskipun sadar bukan tandingan lawan tapi gadis berpakaian merah tanpa lengan ini sama sekali tidak terlihat takut. satu seringai mesum tersungging di bibir Cagak Randu. ''Hee., he., Nimas Surti Cenil., jika dirimu sedang marah sekalipun, kau tetap saja terlihat cantik dan malah makin menggairahkan..''


''Jangan bertindak apapun, turuti saja kataku. kau mesti selamatkan dirimu, nanti aku akan menyusul..'' bisik Nyi Jaran Mirah. Surti Cenil masih hendak membantah tapi sekali mencengkeram tubuhnya sudah dilemparkan jauh lima tombak ke belakang. gadis itu punya ilmu ringan tubuh yang lumayan bagus hingga dapat menjejakkan kakinya dengan mantap.


''Kalian semua mundur saja. tolong lindungi dan selamatkan muridku.!'' perintah Nyi Jaran Mirah. sekali berkelebat dia sudah menerjang ke depan. dengan beruntun nenek ini lepaskan serangan tiga jurus pedang untuk membunuh Cagak Randu sekalian lontarkan ajian 'Jaran Gluduk Ketaton' ke arah Pengemis Muka Hitam.


Sadar dengan keadaan mereka yang sangat berbahaya membuat nenek ini nekat menelan obat yang mampu membangkitkan inti tenaga dalamnya hingga naik beberapa tingkat untuk sementara waktu tapi punya dampak buruk bagi tubuh. maka tidak mengherankan kalau gempurannya begitu mengejutkan.


''Nenek tua keparat., kau memang harus modar malam ini.!'' damprat Pengemis Muka Hitam. walaupun gusar dan terperanjat tapi gembel ini tidak dapat lagi menghindar untuk beradu kekuatan secara langsung apalagi dia dan Cagak Randu sudah cukup dekat dengan lawan. pukulan 'Kelabang Pedut Biru' seketika balas menghantam disusul sabetan beruntun dari cemeti kelabang ulet.


Cagak Randu juga tidak menyangka bakalan diserang sehebat ini. meskipun juga turut lepaskan pukulan Kelabang Pedut Biru dan balik memutar pedangnya untuk melindungi dirinya tapi tetap saja dia harus menerima dua sabetan serta satu tikaman ke lengan kanan hingga pedangnya terlepas dan patah. bersamaan dengan sebuah tendangan yang menghajar perutnya hingga pemuda ini terkapar muntah darah, tubuh Nyi Jaran Mirah juga terjungkal roboh setelah beradu pukulan sakti dengan Pengemis Muka Hitam.


Walaupun sebenarnya Nyi Jaran Mirah sanggup membuat bekas ketua perkumpulan pengemis 'Kelabang Ireng' yang jadi lawannya tersurut mundur beberapa langkah dan luka dalam tetapi serangan jurus cambuk dari pengemis jahat ini tidak cuma mampu dua kali dia hindari. tiga serangan berikutnya telak mencabik dada, perut juga paha kirinya. luka cambuknya nampak menghitam pertanda keracunan.


''Guruuu.!'' teriak Surti Cenil panik. dia nekat menyerbu ke depan tapi belasan rekannya malah menahannya. ''Nimas Surti Cenil., cepat kau lari. kami semua akan menahan mereka..'' ujar salah satu rekannya. tapi gadis itu mana mau menuruti. ''Kalian jangan coba menghalangi aku. guruku dalam bahaya.!''


''Gadis bodoh., tidak ada waktu lagi untuk berdebat. cepat selamatkan dirimu.!'' damprat si hidung tindik. baru kali ini dia bicara keras pada gadis itu. dua orang kawannya cepat menyeret tubuh Surti Cenil ke belakang. dia masih berusaha berontak namun sebuah totokan di punggung membuat tubuhnya lemas meski masih tersadar.


Tetapi niat mereka tidak dapat lagi terwujud karena dua bayangan hitam sudah keburu berkelebat cepat bagai kelelawar terbang. pedang anggota Serikat Kalong Hitam yang panjang dan lentur itu membabat dengan ganasnya. empat orang menjerit ngeri mandi darah. dua orang kehilangan kepala, satu robek terburai isi perutnya seorang lagi walau masih hidup tapi tangan kirinya buntung sebatas bahu.


Biarpun merasakan kengerian sekaligus sedih atas kematian rekan- rekannya tapi para anggota Kuda Angin tidak dapat berpikir jauh karena pembantaian masih terus berlanjut. setiap pedang lawan berkelebat menusuk dan membabat seolah selalu di susul dengan jeritan kesakitan, semburan darah dan tumbangnya tubuh ke tanah.


Biarpun sudah berusaha balas menyerang dengan segala kemampuan tapi ilmu kedua lawannya jauh berada diatas mereka. dalam waktu kurang dari sepuluh jurus saja dari hampir dua puluhan orang anggota Kuda Angin kini tinggal delapan orang saja yang masih hidup, itupun hampir semuanya terluka.


Dalam hidupnya baru kali ini Nyi Jaran Mirah merasakan keputusasaan. melihat orangnya terbantai satu- persatu di depan matanya tanpa dia sanggup mencegah, sungguh suatu siksaan batin yang sangat menyakitkan. saat mendongak nampak Cagak Randu dengan pandangan bengis menghampirinya. dengan tangan kiri dia mengambil pedang dari salah satu mayat anggota Jaran Angin.


''Nyi Jaran Mirah keparat. luka parah di tangan kananku ini mesti ditebus dengan nyawamu. tapi sebelumnya., aku akan menyiksamu dan memaksa dirimu untuk melihat bagaimana aku meniduri murid kesayanganmu yang cantik itu..'' geram lelaki itu mengusap tangan kanannya yang berlumuran darah.


''Pee. , pemuda ber., hati setan ter., ku., kutuk., jang., jangan berani berbuat aap., apapun pa., pada muu., muridku.!'' maki Nyi Jaran Mirah terbata. ''Tua bangka bedebah. beraninya kau mengutukku.!'' semprot Cagak Randu marah. tanpa belas kasihan kaki tangan pemuda ini menghajar tubuh Nyi Jaran Mirah hingga patah tulang dan berlumuran darah, hingga satu tebasan pedang akan menamatkan jiwanya.


Kilatan pedang berkelebat cepat dari atas kepala hendak memenggal leher. Nyi Jaran Mirah pasrah pejamkan matanya. darah tersembur mengucur dari samping kiri leher. tubuh itu membalik sambil pegangi luka yang tertembus benda tajam. setiap kali hendak berkata atau berteriak yang keluar hanyalah semburan darah dan suara 'grookk., grookk' yang kasar.


Tubuh Cagak Randu tumbang berkelojotan. kedua matanya yang mendelik masih dapat melihat lelehan darah segar membasahi tanah di sekitar lehernya yang terasa sangat perih. sebelum ajal menjemput telinganya juga sempat mendengar sebuah ledakan sekeras halilintar menyambar yang disusul dengan cabikan lima larikan cahaya merah hitam berbentuk cakar burung buas.


Anehnya sesaat malam itu seakan berubah jauh lebih gelap dari sebelumnya. Cagak Randu tidak pernah tahu siapa yang telah membunuhnya dan bagaimana dia mati. tapi sebelum nyawanya terbang ke neraka, dia sempat melihat tubuh kedua orang anggota Serikat Kalong Hitam itu terkapar hangus bersimbah darah.


 


Silahkan tuliskan komentar jika Anda suka👌🙏👍.