
Dua orang wakil ketua perguruan silat 'Pedang Samudra' itu tidak sempat lagi berpikir lama, karena ancaman maut sudah tiba didepan mata. pedang pusaka bersinar kebiruan yang dinamai 'Pedang Ombak Biru' itu serentak membabat dan menusuk beberapa kali untuk menahan tikaman pedang 'Iblis Hitam' lawan yang menghunjam deras tanpa ampun.
Sebagai pesilat yang terhitung kawakan dan kenyang pengalaman, gerakan jurus mereka berdua memang tidak sembarangan. pedang menangkis dan balas menikam dari dua penjuru. sekali serang enam sinar pedang tajam kebiruan berhamburan ke udara. inilah jurus 'Taburan Pedang Dewa Samudra Biru.!'
'Whuuuut., sheeet., shriiing.!'
'Trraaaangg., traaaang., craaang.!'
Bentrokan senjata pusaka terjadi. ''Aaakh., setan alas.!'' maki Warmandaka menjerit ngeri. ''Ular Sakti keparat.!'' rutuk Muladewa panik. meskipun mereka sudah pernah mendengar tentang pembunuh bayaran yang gemar memotong kepala sasarannya ini, tapi sungguh keduanya tidak menyangka jika sampai sehebat ini. gulungan bayangan sinar hitam berbentuk ular sendok yang menebar bau sebusuk mayat seolah hendak menelan mereka berdua.
Biarpun demikian kedua orang tua ini jelas tidak mau kalah dengan pesilat muda yang cuma pendatang baru. dengan sabetan jurus pedang aliran perguruannya, mereka berusaha meruntuhkan kurungan bayangan kobra hitam raksasa yang seolah hendak menelan mereka. sekejap saja pertarungan tiga pesilat berilmu tinggi sudah terjadi disana.
Di jurusan lainnya yang agak terpisah dari tempat pertarungan itu, terlihat suami istri 'Sepasang Pendekar Berbaju Kuning' yang sedang berusaha memulihkan diri. meskipun sang suami masih dapat mempertahankan kesadarannya dan perlahan terus meningkat kekuatannya, tapi istrinya masih saja tidak sadarkan diri.
Dalam hatinya lelaki ini mulai panik juga keheranan karena tingkat ilmu kesaktian mereka berdua hampir seimbang. tapi kenapa belakangan ini istrinya sepertinya mudah lelah, hingga dia merasa ragu untuk bangkit berdiri lalu membunuh si pincang yang terlihat sudah tidak berdaya bersandar dibawah pohon.
Orang ini melihatnya sebagai sebuah kesempatan baik untuk menghabisi si pincang. apalagi keadaan istrinya yang pingsan nyaris membeku kedinginan juga akibat dari ilmu kesaktian pemuda itu. tapi baru beberapa langkah beranjak dan kerahkan ilmu kesaktian 'Jari Pedang Jiwa Dewa- Dewi' sudut matanya melihat suatu keanehan.
Tubuh si pincang yang bermandikan darah mendadak terangkat beberapa jengkal diatas tanah dalam keadaan bersila dan diselimuti kabut sinar kebiruan yang menebar hawa dingin sejuk. hebatnya meskipun dari jarak yang agak jauh, dia masih dapat melihat luka- luka di tubuh pemuda itu perlahan berhenti mengalirkan darah lalu menutup. raut wajahnya juga lebih segar seolah dia baru saja keluar dari jurang kematian.
''Gila., apa yang sebenarnya terjadi dengan pemuda pincang ini, cahaya biru apa yang sedang menyelubunginya. dengan luka dalam dan luar separah itu sudah jelas dirinya tidak mungkin terhindar dari maut, tapi kenapa sekarang dia sepertinya semakin pulih dari lukanya. sialan., apa yang mesti kulakukan sekarang.?'' batin orang ini ragu. cahaya pedang tajam kekuningan diujung jemarinya perlahan meredup.
Disaat lelaki ini masih tertegun, dari tempat pertarungan terdengar bentrokan senjata dan pukulan sakti. dua pedang biru patah dan terlepas. tiga sosok tubuh terpental ke lain penjuru. darah menyembur dari mulut mereka. wakil ketua Pedang Samudra menggembor murka. empat telapak tangan menghantam kedepan. gelombang angin biru laksana gulungan ombak lautan menghempas ganas. jurus pukulan 'Tapak Gelombang Pedang Menyapu Lautan.!'
Si baju putih mendengus sinis, setelah sempat terbatuk seteguk darah, tanpa perduli luka sabetan pedang yang merobek dada kiri dan bahunya orang ini langsung berkelebat. tangan kirinya yang berselimut kabut dan sinar putih menghantam ke muka. segulung cahaya panas berbentuk kepala ular kobra putih melabrak diiringi suara mendesis keras. inilah pukulan 'Kobra Penggerogot Mayat.!'
'Whuuuuss, Shaaaass., shessss.!'
'Blaaasss., blaaaaamm.!'
Ledakan keras terdengar mengguncang pedataran utara lereng Merapi. dua wakil ketua Warmandaka dan Muladewa berteriak parau setinggi langit. tubuh mereka yang terkoyak hangus mencelat hingga tiga tombak. meskipun terluka sangat parah tapi mereka masih mampu bertahan hidup karena ketInggian ilmu tenaga saktinya. baru saja keduanya berusaha bangun hendak kabur, sekelebat cahaya hitam sudah menyambar.
''Aakh sia., sialan., bed., debah. kenapa aku mesti ditugaskan si nomor satu untuk mel., melin., dungi kes., sela., matan orang yang menjadi sai., sai., ngan., ku. bertaruh nyawa untuk setan pincang sia., lan itu benar- be., nar menye., bal., kan..'' rutuk Ular Sakti Berpedang Iblis geram. caping bambunya tanggal entah kemana hingga wajahnya yang cukup gagah tampan itu terlihat.
Dari awal dia sebenarnya sudah melihat seluruh kejadian yang berlangsung di pedataran itu. disatu sisi dia mesti melakukan tugasnya untuk melindungi si pincang. tapi di lain pikirannya pemuda ini sebenarnya merasa enggan, bahkan dia sempat berharap supaya pemuda bergelar 'Pendekar Pincang Tanpa Perasaan' itu mati terbunuh. diluar dugaannya kekuatan ilmu si pincang sangat menakutkan. dikeroyok belasan pesilat hebat dia bukan saja mampu bertahan hidup, bahkan dengan sadis balas menghabisi lawannya. satu pertarungan nekat yang si Ular Sakti sendiri merasa tidak akan sanggup untuk melakukannya.
Namun saat dia melihat si pincang dengan tegar menerima siksaan keji dari dua orang wakil ketua perguruan yang mengaku berasal dari aliran putih, si Ular Sakti tidak dapat lagi berdiam diri dan masa bodoh. membunuh bukanlah soal baginya, tapi tindakan pengecut kedua orang tua itu benar- benar membuatnya muak.
Batok kepala si 'Gembel Gila Dari Utara' yang sempat dia penggal saat tiba dikaki gunung Merapi sengaja dilemparkan untuk menahan dua sambaran pedang biru kedua orang tua yang hendak menghabisi si pincang. biarpun hanya beberapa kejap saja tertahan, tapi sudah cukup waktu bagi Ular Sakti Berpedang Iblis untuk melabrak sasarannya.
Masih dalam keadaan terduduk sepasang mata ularnya yang tajam menatap si lelaki berbaju kuning. ujung pedang Iblis Hitam menuding. ''Kau., jangan coba untuk berbuat yang aneh- aneh. pergilah dengan istrimu yang genit dan sedang hamil muda itu. kau suami macam apa hingga masih kelayapan diluaran dan bukannya merawat calon anakmu. dasar pria goblok.!''
''Jika sampai aku mendengar kalian berani menyebarkan semua peristiwa yang terjadi dilereng Merapi ini pada orang lain, kau berikut seluruh keluargamu akan kuhabisi. paham.!'' bebtak pemuda itu angker. jelas saja lelaki itu terkejut. ''Is., istriku hamil, ta., tapi bagaimana ka., kau bisa tahu.?''
''Huhm., dasar cerewet. aku sudah tiba disini sejak tengah malam. hee., he., terus terang saja aku sempat mengintip istrimu yang mual- mual saat dia hendak buang air kecil. kuakui pantat besarnya bahenol juga. meskipun baru dugaan, tapi bisa jadi memang dia sedang mengandung. kecuali., kau ini lelaki mandul..'' sindir si Ular Sakti mengejek.
Lelaki itu menggerendeng marah, tapi kalau dipikirkan keadaan istrinya belakangan ini memang seperti wanita yang sedang hamil. seulas senyuman tersungging dibibirnya. hampir lima belas tahun menikah mereka belum juga dikaruniai anak. dengan cepat dia membopong tubuh istrinya. setelah melihat sekejap si Ular Sakti dan si pincang orang inipun berkelebat tinggalkan tempat itu.
Matahari sudah naik setengah hari. pemuda itu mengeluh keras sebelum tubuhnya jatuh tertelungkup. untuk bicara sekeras tadi dia mesti menguras sisa tenaganya. kini pemuda ini tidak sanggup lagi bertahan. tiba- tiba saja ada sekelebat pikiran muncul di ingatannya.
''Sebenarnya ada berapa orang yang sudah mati terbunuh, kenapa aku merasakan kalau masih ada yang terlewatkan.?'' batinnya miringkan kepalanya. pandangannya mulai kabur saat telinganya mendengar bunyi dentang lonceng yang memekakkan gendang telinga. gelak tawa keras mengiringi kemunculan dua sosok tubuh dari dalam permukaan tanah yang terbongkar.!
Kini disana sudah berdiri dua orang kakek nenek bertubuh aneh. si nenek tinggi kurus dengan tangan membekal sebatang tongkat besi panjang yang ujungnya diganduli sebuah lonceng besi merah kehitaman sebesar kepalan tangan. sedang si kakek malah bertubuh gemuk pendek yang tingginya cuma sepinggang, berkepala botak. di atas bahunya memanggul sebuah lonceng sebesar kepala kerbau. ''Sepasang Iblis Lonceng Maut'. sial., sudah ku., kuduga ada yang ter., lupa..'' batin ular sakti sebelum wajahnya jatuh terpuruk tidak sadarkan diri.
*****
Asalamualaikum., Salam sehat dan sejahtera selalu bagi kita semua.🙏
Mohon sertakan komentar, kritik saran, like👍 vote atau favorit👌 jika anda suka.
Jika berkenan tolong anda share juga novel ini ke teman" yang lainnya. Terima Kasih👏. Wasalamualaikum.