Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Kuah sayur, jamur dan telur.


Puji Seruni terlihat keluar dari sebuah kolam kecil yang berada agak jauh dari belakang goa tempat tinggal gurunya. kolam itu merupakan pemandian berair panas. dengan selembar kain dia mengeringkan tubuhnya yang putih mulus dan rambutnya yang hitam ikal yang panjangnya melebihi bahu. cahaya mentari pagi yang baru muncul nampak menyinari tubuh indah gadis ini yang putih mengkilap.


Setelah mengganti baju putihnya yang kotor dan robek dengan sebuah pakaian baru yang menyerupai jubah putih, gadis cantik itupun berkelebat kembali ke goa. baru saja sampai di mulut goa perutnya seketika merasa lapar, saat hidungnya mencium bau masakan yang sangat lezat. tanpa berucap apapun dia langsung masuk ke dalam goa.


''Sejak kapan kau mulai memasak, apa yang sedang kau masak, kira- kira sudah matang atau belum. hhmm., baunya sungguh nikmat.!'' ucap Puji Seruni sambil duduk berjongkok di depan perapian kecil. entah sejak kapan kedua tangannya sudah memegang mangkuk periuk dari tanah liat. Pranacitra yang berada di sisi seberang perapian itu menatap si gadis dengan pandangan penuh rasa heran, sebal, bercampur geli.


''Sekali berucap beberapa pertanyaan terlontar dari bibirmu, belum sempat aku menjawabnya tapi kau sudah duduk dengan sebuah wadah makanan. asal kau tahu saja, hari ini tidak ada nasi. aku hanya memasak sayuran, jamur kuah saja. tidak ada yang lainnya..'' meski pemuda itu sudah menegur, tapi gadis di depannya seperti tidak perduli.


''Sebelumnya aku kira dirimu adalah seorang gadis muda yang anggun dan cukup pandai mengendalikan diri. tapi saat berhadapan dengan makanan enak seperti sekarang, kau mendadak seperti berubah menjadi orang lain saja..'' sindir Pranacitra geleng- geleng kepala.


Tapi ucapan pemuda pincang itu seakan cuma angin lalu di telinga si gadis. kedua matanya terus melihat kuali berisi kuah sayuran dan potongan jamur. kalau lebih di perhatikan dalam kuah itu juga terdapat campuran beberapa butir telur ayam hutan. saat sendok kayu di tangan pemuda itu mengaduk masakannya. seketika aroma sedap semakin mengepul.


''Itu., itu sekarang masakanmu sudah matang bukan., berikan aku potongan telurnya yang banyak juga sayur dan jamurnya. kurasa tubuhku masih butuh makanan yang enak dan banyak agar semakin cepat pulih dari luka dalam..'' ujar gadis itu seraya menyodorkan mangkuk periuknya ke pemuda di depannya.


''Heeii., kau sebenarnya telah sembuh dari luka dalammu sejak tiga hari lalu. jadi jangan gunakan alasan menggelikan seperti itu lagi. dasar gadis manja., seenaknya saja meminta di layani. kalau kau makan banyak yah., ambil saja sendiri sesukamu.!'' ucap Pranacitra kesal setengah mendamprat.


''Ben., benarkah itu., baiklah akan aku ambil sekarang juga, kurasa masakanmu memang sudah matang..'' dengan kecepatan yang amat menakjubkan gadis ini merebut sendok besar dari tangan si pincang. sekali bergerak kuah sayuran jamur berikut telur ayamnya sudah berpindah ke dalam periuknya sampai penuh, bahkan nyaris tumpah.


Kalau ada seorang tuan rumah mengucapkan kalimat, ''Silahkan ambil makanan sepuasnya..'' pada seorang teman atau tamunya. mereka umumnya akan mencoba menolak sekedar basa- basi untuk menjaga kesopanan dan rasa malu, meski pada akhirnya mereka tetap akan memakan suguhan dari tuan rumah.


Sayangnya gadis murid mendiang Nyi Pariseta ini bukanlah golongan orang yang umum. dia pantang berbasa- basi soal makanan, apalagi yang terasa sedap. maka kejadian di goa yang sebelumnya juga terulang lagi ditempat ini. jika dulu kuah daging, kini setengah periuk besar kuah sayur jamur dan telur ayam hutan dalam sekejap sudah berpindah ke dalam perut Puji Seruni.


Tanpa ragu dia malah sempat bersendawa keras seiring rasa kenyang diperutnya. melihat semua itu Pranacitra sudah merasa separuh kenyang. ''Setidaknya sekarang aku tahu kalau kau sudah benar- benar pulih dari luka dalam di tubuhmu..'' dengus si pincang sambil mulai menyuap kuah sayurnya.


Puji Seruni berdiri mengernyit alis, tingkahnya rada gelisah pegangi perutnya. raut mukanya terlihat sedikit pucat, sehingga Pranacitra menjadi agak khawatir juga. ''Apa yang terjadi padamu, jangan pernah bilang kalau lukamu kambuh kembali. aku tidak akan percaya..''


Seorang pemuda pincang terlihat berjalan terseok menyusuri jalanan setapak yang berada di tepian sebuah sungai. agak jauh di belakang pemuda itu juga nampak seorang gadis cantik berpakaian jubah putih. sebuah buntelan kain yang juga berwarna putih terikat di belakang punggungnya.


Sebenarnya gadis cantik berambut hitam ikal itu dapat dengan mudah mendahului pemuda pincang yang berada tiga empat tombak dari depannya. tapi dia enggan melakukan hal ini karena merasa cara melangkah si pincang itu cukup menarik untuk di amati. meskipun dalam hidupnya dia juga pernah beberapa kali melihat ada orang yang cacat kakinya berjalan, tapi tidak ada yang seperti pemuda itu.


Pertama kali kaki kanannya melangkah maju ke depan. berikutnya kaki kirinya terseret pelan mengikuti. yang kanan menapak setindak, kaki kirinya yang cacat terseok menyusul. bergerak perlahan tapi sangat pasti. seakan merayap seperti seekor cacing tanah, namun terasa ada pancaran tenaga yang hebat di sebaliknya.


Sebatang tongkat besi hitam yang ujung gagangnya terbungkus selembar kain hitam tergenggam di tangannya yang pucat namun kokoh. tongkat besi itu bukan hanya alat untuk membantunya berjalan, tapi juga sebagai senjata pembunuh yang mematikan. kini jalan setapak di tepi sungai yang mereka lewati sudah mengarah ke pinggiran sebuah hutan.


''Sebenarnya kau hendak kemana sih., sudah lebih seminggu berlalu sejak kita tinggalkan bukit di wilayah gunung Semeru, tapi kau tidak juga mengatakan kemana tujuanmu..'' gerutu gadis berjubah putih yang memang Puji Seruni itu. jika demikian si pincang berpakaian gelap yang berjalan di depannya pastilah Pranacitra.


''Memangnya siapa yang memintamu untuk mengikutiku. aku sudah katakan sebaiknya kau perdalam dulu ilmu silatmu, baru kembali turun gunung. lagi pula., tidak ada kewajibanku untuk mengatakan kemana tujuanku padamu..'' jawab Pranacitra. sebelumnya dia tidak bakal mau bicara banyak hanya untuk menjawab sebuah pertanyaan. tetapi sejak bertemu dengan beberapa gadis dan orang persilatan aliran putih, dia mulai mau sedikit membuka diri.


''Sudahlah., jangan mengguruiku terus. lagi pula aku sudah menitipkan goa kediaman guruku pada kelima murid perguruan silat 'Naga Biru'. yang jelas sekarang ini kita berdua seperjalanan. setidaknya katakan kemana tujuanmu.!'' Puji Seruni mendadak terdiam hentikan langkahnya saat melihat pemuda di depannya berdiri diam melihat ke satu arah.


Gadis cantik itu turut memandang ke sana. di kejauhan terlihat ada kepulan debu dari kaki- kaki puluhan ekor kuda yang bergerak sangat cepat mendekati tempat mereka berdiri. tanpa bersepakat kedua muda- mudi itupun melompat naik ke cabang atas sebuah pohon tinggi. hanya dalam waktu singkat belasan penunggang kuda itu sudah lewat di bawah mereka. meskipun tidak mengenali siapa gerombolan itu, tapi Puji Seruni yakin kalau mereka bukanlah manusia baik- baik.


Semua itu dapat dia buktikan dengan adanya beberapa orang wanita yang terkulai lemas dan terikat di atas punggung kuda. sebenarnya saat itu juga Puji Seruni hendak mencegat dan melabrak gerombolan ini. namun Pranacitra memberinya isyarat untuk menahan diri.


''Jangan sembarangan mencampuri sesuatu yang bukan urusanmu, nanti kau bisa celaka..'' ujarnya sambil melompat turun. ''Kau gila yah., dasar tidak punya perasaan. para wanita itu pastilah korban penculikan, bagaimanapun juga diriku mesti berusaha menyelamatkan mereka.!'' bentak gadis itu gusar. tanpa bicara lagi dia sudah bergerak menyusul gerombolan berkuda itu.


Prancitra mendengus sinis melihat bayangan tubuh Puji Seruni yang menghilang cepat di kejauhan. ''Begini juga baik., setidaknya kau tidak lagi terus mengikutiku..'' gumam pemuda pincang itu sambil kembali melangkah terseok melanjutkan untuk perjalanannya.


Namun baru beberapa langkah saja dia sudah berhenti dan menghela nafas, ''Sejak awal aku bertemu dengan gadis itu di pemakaman kampung, diriku sudah merasa akan banyak menemui masalah jika bersamanya..'' keluh pemuda itu. sekali tubuhnya berkelebat diapun balik menyusul Puji Seruni.