Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Hadir di pemakaman. (bag1)


Pranacitra jatuh tertelungkup. sekujur tubuhnya terasa lemas dan mati rasa. bahkan dia sendiri seakan sudah hampir tidak dapat lagi merasakan keberadaannya sendiri. kedua kelopak matanya terasa berat juga kesadaran mulai hilang. tarikan nafasnya yang terputus- putus semakin melemah hingga akhirnya tubuh si pincang mengejang sebelum diam tidak bergerak.


Angin yang bertiup lewat tengah hari ini membawa hawa panas dan gulungan debu pasir. jalanan setapak di tepian hutan itu sudah tidak lagi berbentuk. sisa bara api di sertai bau hangus terbakar masih terlihat di beberapa tempat. segalanya porak- poranda hanya karena sebuah pertarungan yang sangat singkat.


'Kutu Bangkotan' dan pasangannya si 'Benalu Tua' masih berdiri diam menatap tubuh si pincang yang tertelungkup di atas tanah. sekali melihat orang sudah bisa mengetahui kalau tidak ada lagi hawa kehidupan di dalam diri pemuda berpakaian gelap itu. jika dulunya orang ini selalu ditakuti kaum persilatan, kini dia tidak lebih dari seonggok sampah yang hendak dimasukkan ke lubang pembuangan.


''Huhm., aku masih merasa sayang dengan bocah lelaki ini. biarpun kakinya cacat namun dia punya bakat yang sangat langka di dunia persilatan..'' ujar si Kutu Bangkotan sambil mendengus kesal. ''Kalau saja kita berdua tidak punya ikatan perjanjian dengan orang tua itu, aku juga tidak akan tega membunuh bocah ini..'' sungut si Benalu Tua seraya meraup lima potong makanan sebesar kepalan tangan dari dalam kantong baju merah mudanya.


Hanya perlu melemparkan potongan camilan makanan itu ke dalam mulutnya. tanpa harus mengunyah langsung amblas ke dalam perut besar si Benalu. jika dia sedang merasa kecewa, sedih atau marah, nafsu makan si nenek bertubuh gemuk dan tinggi ini biasanya menjadi berlipat lebih besar.


Kakek kecil kurus dan rada bungkuk itu cuma mendesah geleng kepala. dia sudah paham betul kelakuan pasangannya itu sejak mereka berdua masih bocah kecil. tidak terlihat kapan orang tua ini menggerakkan kaki, tahu- tahu saja tubuhnya sudah dua kali melayang cepat berpindah di sekeliling tempat. bayangannya baru berhenti saat berdiri di samping sebuah tonjolan batu besar yang berada agak ke dalam hutan.


''Kurasa ini tempat yang cocok untuk menjadi kuburan bocah pincang itu..'' sambil bicara sebelah tangannya membuat gerakan seperti sedang menggaruk, mencakup, mengangkat lantas terakhir melempar. terdengar suara retakan dan gemuruh keras. secara hebat tanah di dekat batu besar itu terangkat naik lalu terlempar hingga lima langkah.


Sebuah lubang sebesar kerbau telah terwujud di sana. sekali lagi dia bergerak, tubuhnya yang kecil sudah kembali ke sisi Benalu Tua. ''Kita kuburkan saja dia secepatnya. diriku selalu merasa tidak enak hati setiap kali mendapatkan perintah untuk mengerjakan sesuatu yang sebenarnya tidak kusukai..'' gerutunya sembari meludah.


Si Benalu dan si Kutu sekilas saling lirik. dengan sedikit membungkuk secara tidak kentara mata tua mereka selintas sempat melihat ke arah tertentu. dengan perasaan enggan dan murung si Benalu membopong tubuh Pranacitra. kedua dedengkot rimba persilatan yang ilmu kesaktiannya sangat sulit dijajaki itu berjalan perlahan menuju lubang besar yang baru dibuat si Kutu.


Sejenak mereka menghela nafas sedih seakan prihatin dan menyesali sesuatu. perlahan tubuh pemuda murid lima pentolan persilatan aliran hitam itu diturunkan ke liang tanah yang dijadikan sebagai kuburannya. ''Bagaimana dengan tongkat besi itu.?'' tanya si nenek. suaranya terdengar agak tersengal menahan kesedihan hatinya


Kutu Bangkotan yang berada di dalam lubang kuburan mengambil tongkat besi hitam kepala tengkorak yang masih ada dalam genggaman si pincang. ''Heihh., barang ini akan kami bawa. lagi pula dirimu tidak akan memerlukannya..'' saat tangannya meraih gagang tongkat dia agak tersentak karena merasakan ada hawa panas dan tajam yang menyerangnya. meski sempat kesulitan tapi akhirnya hawa panas itu dapat diredamnya.


Setelah keluar dari lubang itu si Kutu kembali membuat gerakan tangan seperti mengeruk, mencakup. gundukan tanah bekas galian yang berada beberapa langkah darinya terangkat naik lalu mulai menimbun lubang. cukup dua kali dia melakukannya, makam itupun sudah tertutup dengan tanah.


''Ini untuk pertama kalinya kami berdua sudi membuat kuburan bagi lawan yang sudah terbunuh. semuanya demi menghormatimu..'' ucap si Kutu usap wajah keriputnya. ''Aku juga tidak pernah merasakan kesedihan seperti ini sebelumnya, meski sudah ratusan korban yang pernah kucabut nyawanya..'' sambung si Benalu dengan mata sembab. tiga potongan ubi bakar simpanannya yang terakhir sudah amblas ke perut.


Entah sengaja atau tidak kedua orang tua ini kembali melirik ke satu arah. meskipun cuma sekilas, sempat terlihat senyuman mengejek di bibir mereka yang peot. setelah berdiam beberapa lama akhirnya seseorang muncul juga. Sepasang Kutu dan Benalu tidak dapat menutupi rasa terkejutnya melihat siapa adanya orang ini.


Seorang lelaki tampan berjubah putih bersih dengan tubuh tinggi tegap. kulit tubuhnya terutama bagian tangan dan jemarinya yang sangat bersih dan halus seperti perempuan tapi tidak terlihat lembek. malahan kokoh serta terasa menyimpan kekuatan dahsyat. meskipun sudah hampir berusia lima puluh tahun namun keadaannya masih terlihat muda seakan baru berumur tiga puluh lima tahunan.


Orang ini meskipun punya pembawaan yang tenang tapi tersirat hawa kekejaman dan gelap dari dalam tubuhnya. yang paling menarik sekaligus menyeramkan adalah pandangan mata orang ini sangat aneh. dari kedua matanya orang tidak dapat mengetahui apakah dia sedang senang, sedih ataukah marah.


Sorot mata itu walaupun tajam menusuk jiwa tapi juga seperti kosong tanpa perasaan apapun, seolah mata orang yang telah lama mati. jarak orang ini berada pada awalnya dengan tempat si Kutu dan Benalu berdiri terpaut lebih seratus langkah namun dalam sekejap saja dia bisa sampai di tempat kedua orang tua itu berada.


Lelaki ini berhenti bergerak tepat saat berada lima langkah dari Kutu Bangkotan dan Benalu Tua. tubuhnya sedikit membungkuk hormat dengan sikap yang kaku. ''Maaf jika diriku sudah merepotkan kedua sesepuh hanya untuk menyelesaikan masalah kecil ini. tapi., orang- orang kita sepertinya rada kesulitan dalam menanganinya. sekali lagi saya mohon maaf..''


Saat dia bicara meskipun tenang dan santun namun tetap terasa adanya hawa membunuh yang menggidikkan hati di setiap ucapannya. 'Sepasang Kutu dan Benalu' balas menjura hormat. ''Itu semua sudah menjadi tugas dan kewajiban kami berdua sebagai anggota partai 'Gapura Iblis..''


''Kami hanya menjalankan perintah sesuai dengan perjanjian dengan orang tua yang pernah menyelamatkan kami berdua di masa lalu. jadi yang mulia ketua partai tidak perlu merasa kurang enak hati..'' sambung Benalu Tua. nenek ini terlihat kesal dan gelisah karena sudah tidak dapat lagi menemukan camilan dari kantong bajunya.


Jika ada orang persilatan yang kebetulan mendengar ucapan pasangan si Kutu Benalu, mereka pasti tidak percaya atau bisa jadi malah mati saking terperanjat. karena lelaki tampan berjubah putih namun dingin dan angkuh itu bukan lain adalah sang ketua partai persilatan aliran hitam terkuat Gapura Iblis yang selama ini keberadaannya sangat misterius.!