Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Cerita tentang Kutu dan Benalu.


Kalau di lihat dari cara kedua orang tua renta yang punya bentuk tubuh bertolak belakang antara satu dengan yang lain itu berkelebat orang akan sangat terkejut karena gerakan mereka berdua yang sepintas nampak biasa dan lamban rupanya justru teramat cepat seakan lintasan kilat menyambar, pertanda mereka adalah sepasang tokoh silat kawakan yang punya tingkatan ilmu kesakitan sulit diukur.


Bahkan jika pesilat sekelas Pranacitra yang di tempatkan sebagai pendekar muda terkuat rimba persilatan saat ini saja sampai tidak mampu menyadari kehadiran kedua orang kakek nenek itu, maka dapat dibayangkan bagaimana tingkatan ilmu kesaktian dari sepasang orang tua ini.


Lebih seratusan langkah Pranacitra berjalan barulah dia menyadari sesuatu hingga tanpa terasa hentikan langkahnya. raut wajah si pemuda yang pucat terlihat menegang. urat- urat kehijauan sampai bermunculan di atas sepasang tangannya yang menggenggam gagang tongkat besi hitam kepala tengkorak.


''Sungguh dunia ini begitu luas dan penuh dengan orang- orang sakti mandraguna. jadi harap dimaafkan jika aku yang rendah sampai tidak mengetahui akan kehadiran kalian..'' ujar Pranacitra seraya membalikkan tumbuhnya ke belakang dan langsung menjura hormat.


Murid lima orang pesilat kawalan aliran hitam dari 'Lembah Seribu Racun' itu sebenarnya tidak mengetahui betul dengan siapa saat ini dia sedang berhadapan. meskipun demikian Pranacitra lebih memilih langsung bersikap hormat pada si pendatang karena dia paham tidak banyak orang persilatan yang sanggup menyembunyikan hawa pembunuh dalam tubuhnya hingga cukup lama baru dapat dia sadari.


Jika orang ini mau bertindak kejam dengan menyerangnya tanpa ampun secara gelap, sangat mungkin si pincang sudah terkapar menjadi mayat karena dia tidak sempat menyadari kehadiran lawan. meski bukan perkara gampang untuk bisa meningkatkan tenaga hawa membunuh bagi seorang pesilat agar dapat lebih mudah menekan musuh, tapi lebih sulit lagi menyembunyikan hawa tenaga pembunuh hingga tidak disadari lawannya.


Bagi orang yang mampu melakukannya, maka dia sudah dapat digolongkan sebagai pesilat nomor wahid serta jarang ada tandingannya. Pranacitra merasa hatinya gelisah dan ngeri. padahal selama dia malang- melintang dan mengobrak- abrik rimba persilatan di delapan penjuru angin, belum pernah si pincang ini merasakan tekanan pada jiwanya seberat sekarang. perlahan kepalanya terangkat. kini dia dapat melihat siapa orang di depannya.


Agak sulit untuk menggambarkan manusia satu ini. dia seorang perempuan tua bermuka keriput namun penuh bedak gincu penghias wajah. meskipun jelas sangat berumur tapi tubuhnya sangat besar dengan tinggi lebih satu tombak. rambutnya hitam bercampur uban digelung belakang kepala dengan tusuk kundai dari tulang. nenek besar itu memakai sebuah jubah berwarna merah muda berhias sulaman bunga warna- warni yang nampak mencolok mata.


Yang satunya lebih mudah untuk diterangkan karena dia hanyalah seorang lelaki tua renta penuh keriput dan berkulit kehitaman. tubuh kakek tua ini sangat kecil dan pendek cuma sepinggang si nenek besar. rambutnya sudah jarang serta rada bungkuk. dia memakai baju dari kain batik yang sudah lusuh, robek- robek dan bercelana pendek selutut warna hitam yang juga sudah usang.


Melihat perbedaan bentuk tubuh yang sangat besar diantara keduanya mungkin orang akan merasa kalau itu sesuatu yang menggelikan hingga dapat mengundang tawa. walaupun demikian keadaannya Pranacitra tidak dapat tertawa bahkan menyunggingkan sedikit senyum menyeringaipun juga tidak berani. karena saat melihat keadaan kedua orang tua didepannya itu, Pranacitra merasa sedang berhadapan dengan malaikat maut.!


Jangankan dirinya, bahkan si 'Setan Kuburan' gurunya yang punya kesaktian paling tinggi dibanding empat orang guru lainnya juga akan berpikir beberapa kali jika hendak mencari perkara dengan kedua orang ini. dulu Setan Kuburan dan lainnya pernah berkata padanya, ''Kami tidak tahu apakah sekarang ini mereka masih hidup atau sudah mati. tapi kalau suatu ketika nanti dirimu ketiban nasib sial karena bertemu dengan kedua orang tua itu, lebih baik kau kabur saja secepatnya.!''


Jika lima orang dedengkot golongan hitam yang ditakuti orang persilatan saja sampai berpesan seperti itu kepadanya, dapat dibayangkan setinggi apa kesakitan dari sepasang orang tua bertubuh aneh ini. untuk pertama kalinya si pincang Pranacitra yang tidak takut apapun bahkan andai langit runtuh sekalipun, merasakan merinding dan ngeri.


Entah berapa puluh tahun silam di suatu kampung yang terpencil dan hanya ditinggali dua puluhan orang saja hiduplah satu keluarga kecil yang terdiri dari sepasang suami istri dan seorang anak lelakinya yang masih berumur tujuh, delapan tahunan. meskipun penduduk disana miskin namun kehidupan mereka sangat tentram dan saling menolong.


Hingga suatu ketika kehidupan mereka yang tenang terusik oleh kedatangan satu gerombolan rampok yang sedang kabur dari kejaran pasukan kerajaan. kampung yang terpencil dan sangat jauh dari keramaian itu cukup menarik bagi para perampok untuk dijadikan tempat persembunyian sekaligus sarang mereka yang baru.


Singkatnya merekapun menguasai kampung, menjadikan semua wanita sebagai budak pemuas nafsu dan membunuh para lelaki yang berani melawan. seorang anak lelaki dengan menggandeng satu orang bocah perempuan teman sepermainannya berusaha untuk kabur dari kampung itu, sayangnya usaha keduanya tidak berhasil.


Keduanya adalah sisa dari kalangan bocah di kampung itu karena anak- anak yang lainnya sudah keburu mati terbunuh. keduanya lalu dijadikan budak suruhan yang kerjanya melayani semua kebutuhan para begal rampok itu, mulai memasak, menyiapkan makan minum, mencuci baju dan segala pekerjaan berat seperti mengumpulkan kayu bakar. jika tidak mau menuruti mereka berdua pasti mendapatkan siksaan.


Bocah laki- laki yang umurnya baru tujuh delapan tahunan itu bukan lain anak dari keluarga kecil yang sudah kehilangan kedua orang tuanya. sedangkan anak perempuan itu adalah teman sepermainannya sekaligus putri kepala kampung mereka dan juga telah yatim piatu akibat terbunuh oleh keganasan para perampok yang merebut desanya.


Anak lelaki itu sangat perduli dengan teman perempuan sepermainannya. setiap kali ada pekerjaan berat, selalu saja anak lelaki ini yang mengambil alih. pendek kata dia sangat melindungi teman perempuannya yang bertubuh lemah. bahkan jika mendapatkan makanan selalu saja diberikan pada bocah perempuan itu lebih dulu baru jika ada sisa dia akan ganti memakannya.


Itu semua dia lakukan karena keluarganya dulu pernah berhutang budi pada kepala kampung. suatu ketika sang ibu pernah mengalami sakit parah saat mengandungnya, kepala kampung dengan menerobos hutan selama berhari- hari berhasil sampai juga ke kota kadipaten untuk dapat membeli obat. dengan obat itu penyakit ibunya dapat disembuhkan dan diapun terlahir selamat meskipun bentuk tubuhnya cukup kecil.


Suatu ketika gerombolan rampok itu pulang dari menjarah sasaran. seperti biasa mereka berpesta sampai mabuk. kesempatan ini tidak di sia- siakan oleh kedua bocah lelaki dan perempuan itu untuk kabur dari sana tepat tengah malam. dengan menerobos hutan belantara mereka berdua berhasil juga melarikan diri.


Pernah karena tidak tahan dengan rasa lapar kedua bocah itu sampai nekat mencuri makanan di sebuah pasar karena tidak ada seorangpun yang perduli dan menolong mereka. akibatnya merekapun mendapat makian juga pukulan dari si pedagang kikir. tapi dengan menggunakan tubuh kurusnya si bocah lelaki terus berusaha menjadi tameng pelindung bagi temannya.


Bocah perempuan itupun menangis, dia merasa kesal dan benci dengan dirinya sendiri karena selalu tidak mampu menahan rasa lapar hingga membuat kawannya harus bersusah payah mencarikannya makanan. bocah lelaki kurus yang penuh luka lebam itu hanya tersenyum dan balik menghiburnya.


Dari balik bajunya dia mengeluarkan tiga buah pisang rebus yang berhasil dicurinya. dua diberikan pada rekannya satu lagi untuknya sendiri. saat itu hujan turun dengan lebatnya. senja juga sudah mulai berganti malam. namun kedua bocah itu hanya bisa saling merapatkan diri di salah satu sudut pasar yang sepi dan kotor.


Kejadian ini lantas menarik perhatian seorang pengemis tua yang juga sedang meringkuk kedinginan sambil terbatuk- batuk di sudut seberang berhadapan dengan kedua bocah itu. tahu- tahu saja dia sudah berdiri di depan mereka. tanpa bicara apapun sepasang tangan kurusnya mencengkeram kedua bocah itu tanpa mereka sanggup berontak. sekali bergerak tubuh pengemis tua itupun lenyap dari sana bagaikan bayangan setan.


Pengemis tua ini akhirnya sampai pada sebuah mulut goa batu yang gelap dan dingin. sambil tertawa mengekeh seram kedua bocah itu dilemparkannya kedalam goa batu. ''Hee., he., kalian berdua mesti menahan penderitaan di dalam sana. tapi jika berhasil bertahan hidup, beberapa tahun kemudian kalian akan menjadi manusia kuat yang tidak tertandingi. orang- orang yang menindas kalian selama ini akan menangis terkencing sampai mampus.!''


Kedua bocah itu ingin keluar dari goa tapi namun satu kekuatan aneh seperti muncul menghalangi di mulut goa itu hingga mereka terpental. goa itu meskipun dari luar nampak gelap tapi dalamnya cukup terang karena terdapat batuan yang menyala di atap goa. setelah menelusuri goa itu sampailah mereka di ujungnya.


Di sana selain terdapat bermacam jenis jamur yang jumlahnya ribuan, di bagian dinding goa juga ada banyak tulisan dan gambar dua orang yang sedang bertarung. satu tergambar bertubuh besar seorang lagi lebih kecil. tapi yang paling menarik perhatian sekaligus membuat mereka merasa takut adalah gambar dua buah gapura besar dengan latar belakang bulan purnama berlepotan darah.


Beberapa tahun kemudian tersiar suatu kabar aneh sekaligus menyeramkan. segerombolan perampok yang lama berdiam dalam sebuah perkampungan terpencil dan selalu lolos dari kejaran para prajurit kerajaan tiba- tiba tewas mengenaskan. tubuh mereka hangus terbakar tapi kepala mereka tetap utuh. herannya raut muka para begal jahat itu seperti sedang tersenyum dan tertawa gembira.


Berturut- turut muncul kejadian- kejadian aneh yang luar biasa di dunia persilatan. dua perguruan silat besar dari aliran putih, empat perkumpulan persilatan terkenal golongan hitam musnah tanpa sisa. si pembunuh melakukan sesuatu cara yang tidak masuk akal dalam menghabisi sasaran. pertama mereka berkirim surat rahasia yang isinya meminta sang ketua untuk bunuh diri saat itu juga.


Tentu saja hal itu jadi tertawaan karena dianggap gila. tapi malam harinya separuh penghuni perguruan itu diketahui tewas dengan wajah tersenyum tanpa bisa diketahui siapa pembunuhnya. kejadian ini tentu membuat panik siapapun. beberapa orang berusaha keluar dari lingkungan perguruan itu tapi baru beberapa langkah keluar gerbang mereka sudah terjungkal roboh. mati dengan tubuh bengkak menghitam namun dari raut mukanya justru terlihat gembira.


Ada juga seorang pesilat tangguh yang berhasil kabur hingga beberapa hari kemudian dia kedapatan mati dengan tubuh terpotong- potong diatas ranjang seorang perempuan penghibur. anehnya raut wajahnya malah nampak bahagia seakan tidak merasakan sedikitpun kesakitan.


Sebuah cerita lucu tapi menyeramkan lainnya juga pernah terdengar. seorang ketua perguruan aliran hitam yang berusaha melarikan diri dari pembunuhan itu bersama beberapa anak buahnya yang tersisa berniat buang hajat ditepi sungai. karena sudah begitu lama belum kembali bawahannyapun mencarinya. saat itu terlihat pimpinannya sedang berjongkok di tepian sungai sambil tersenyum senang.


Namun yang membuat anak buahnya kabur ketakutan adalah tubuh sang ketua sudah dikerubuti ratusan ulat belatung berbau busuk. pendek kata tidak ada seorangpun yang berhasil selamat dari pembunuhan dan belakangan di ketahui telah dilakukan oleh dua orang lelaki perempuan bertubuh kecil dan besar yang raut mukanya terlihat seperti orang tua.


''Kau tahu mahkluk hidup apa di dunia ini yang paling menjengkelkan.? itu adalah Kutu dan Benalu.! karena dia bisa hidup di tubuh siapapun. menggigit dan menghisap darah mahkluk atau tumbuhan yang menjadi sasarannya..'' ucap si nenek tua berbadan besar itu pada suatu ketika saat mereka hendak membantai habis sasarannya.


''Aku adalah si Kutu sedang dia si Benalu..'' sambung lelaki tua berbadan kecil sambil menunjuk si nenek yang bertubuh tinggi besar. konon kabarnya selama ini tidak ada satupun yang sanggup lolos dari kematian saat mereka sudah menetapkan sasaran yang di incarnya.


Kabar yang tersiar mereka berdua akan sanggup melakukan perbuatan apapun dari yang terendah bahkan paling hina dan tidak pernah terpikirkan oleh siapapun demi dapat membunuh sasarannya. menipu, meracuni, menyihir sampai akhirnya di bunuh secara keji dengan meninggalkan senyum tawa di wajah lawan.


Karena tidak ada satupun yang tahu nama mereka, dunia persilatan memberi sebutan si 'Kutu Bangkotan' dan si 'Benalu Tua' kepada kedua kakek nenek itu. jika 'Sepasang Kutu dan Benalu' sudah berada di depan matanya, si pincang menjadi ragu apakah dia masih bisa melihat hari esok.


*****


Silahkan tulis komentar Anda yah., 🪲🍃 Trims. 😊🙏