Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Memenggal tanpa dibayar.


Salju telah mencair meninggalkan tanah basah bercampur genangan darah dari mayat- mayat bergelimpangan yang mulai kaku. biarpun sudah tiba pagi hari dan cahaya mentari cerah menerangi bumi, namun susana pedataran itu terasa sunyi mencekam. hembusan angin dingin di lereng gunung Merapi semakin membuat jiwa membeku.


Sesosok pemuda berbaju hitam yang nampak pucat dan kelelahan itu masih tergeletak lemas diatas hamparan tanah berpasir yang lembab dan dingin. dia tidak tahu berapa banyak musuh yang tewas, juga siapa saja lawannya yang masih bertahan hidup. meskipun masih sadar tapi seluruh tenaganya telah terkuras habis.


Entah sudah berapa lama Pranacitra terkapar tanpa daya seperti itu. dia tidak mampu untuk bangkit meskipun telinganya mendengar ada langkah kaki manusia yang bergerak perlahan mendekatinya. sepasang matanya sedikit buram memandang dua sosok tubuh yang kini berdiri diatasnya membelakangi cahaya matahari sambil menenteng pedang.


Sebuah tendangan yang menghajar rusuk kirinya membuat Pranacitra terpelanting jatuh bergulingan. tongkat besinya sudah terlepas entah kemana. seteguk darah termuntah dari mulutnya. biarpun terasa sangat menyakitkan tapi si pincang tidak keluarkan sedikitpun kata erangan. kedua orang itu semakin beringas. kehormatan sebagai tokoh persilatan aliran putih seakan sudah mereka lupakan.


Jika tadinya wakil ketua perguruan Pedang Samura' yang bernama Muladewa menendang iga kiri si pincang, kini giliran wakil ketua Warmandaka yang menginjak perut pemuda itu lantas menendangnya hingga tubuhnya membentur sebatang pohon besar. terdengar bunyi berderak lirih. entah suara dari dahan pohon atau malah tulang sendi yang patah.


Kini si pincang hanya bisa terpuruk bersandar punggung di batang pohon yang sudah rontok semua daunnya, menyisakan dahan ranting gundul. dengan keluarkan suara bentakan dan makian bengis kedua orang tua itu mulai menghujani Pranacitra dengan pukulan dan tendangan. mereka seakan sengaja menyiksa pemuda itu dengan hanya memakai sedikit tenaga saja dalam setiap pukulannya. dalam waktu singkat tubuhnya sudah berlumuran darah.


''Hee., he., saudaraku wakil ketua Marmandaka, jika semuanya ini selesai dan dunia persilatan mendengar kalau 'Iblis Pincang Kesepian' ini mati ditangan kita, nama besar perguruan Pedang Samudra akan semakin menjulang di dalam dunia persilatan menyingkirkan semua perguruan silat aliran putih yang lainnya..''


''Kau benar saudaraku Muladewa., aku sudah bisa membayangkan betapa senang dan bangganya ketua perguruan jika dia tahu tugas yang diberikannya pada kita berdua bisa terlaksana dengan mudah. meskipun kuakui ilmu kesaktian si 'Siulan Kematian' keparat ini sangat luar biasa..'' orang tua bernama Warmandaka ini bergidik ngeri mengingat kembali kedahsyatan ilmu kesaktian badai salju maut yang dimiliki lawannya.


Hampir saja mereka mampus dihantam ilmu kesaktian bernama 'Salju Neraka Membekukan Dunia' itu. sungguh beruntung keduanya sudah merasakan suatu firasat buruk yang mungkin terjadi hingga memilih berdiri agak jauh dan bergerak paling belakangan sehingga masih sempat menghindar. selain itu, dasar tenaga kesaktian mereka yang bersifat dingin juga membuat mereka mampu bertahan hidup meskipun harus terluka parah.


''Hhm., kepala pemuda pincang keparat ini berharga sangat tinggi. aku berpikir untuk membawa batok kepalanya saat kembali ke tempat kita lalu kita awetkan dan dijadikan pajangan agar semua orang dapat melihat bukti keberhasilan kita.!'' gumam wakil ketua Warmandaka dengan senyuman keji.


Kedua orang tua berjubah biru muda yang sudah compang- camping dan bernoda muntahan darah itu saling lirik sekejap, dengan menyeringai buas pedang kebiruan di tangan mereka mulai terayun menyayat dan menikam kulit daging di tubuh pemuda itu. darah seketika mengucur dari luka- lukanya.


Walaupun ini adalah suatu cara penyiksaan yang sangat kejam dan menyakitkan, tapi tidak sedikitpun terdengar suara keluhan kesakitan yang keluar dari mulut si pincang. malahan suatu pandangan mata dingin tanpa perasaan disertai senyuman menghina tersungging dari bibirnya yang berlepotan darah. semua itu membuat dua bersaudara Warmandaka dan Muladewa semakin beringas juga penasaran, seolah mereka berdua telah diremehkan oleh pemuda yang sudah diambang ajalnya.


''Setan alas., pincang keparat. apa yang kau lihat, ajal sudah didepan mata masih saja bersikap angkuh. meratap, memohon dan menjeritlah agar kami mau mempercepat kematianmu. jika tidak., siksaan ini akan terus berlanjut sampai kau mampus kehabisan darah.!''


Pemuda itu pejamkan kedua matanya. bibirnya bergerak- gerak seakan hendak mengucapkan sesuatu. kedua orang tua itu saling pandang dan mengekeh karena mengira kalau pemuda ini mau menuruti ancaman mereka. tapi serentak keduanya tertegun saat mendengar suara siulan bernada sedih menyayat jiwa terlantun dari bibir si pincang ini.


Selama ini tidak ada seorangpun yang tahu lagu apa yang dinyanyikan dalam siulan bernada sedih dan memilukan hati itu. apakah kesedihan tentang perpisahan sepasang kekasih ataukah pertanda tentang datangnya suatu kematian. yang jelas., siapapun akan tergetar perasaannya jika mendengar suara siulan itu.


Sempat termenung beberapa lama, akhirnya dua wakil ketua perguruan Pedang Samudra itupun tersadar. dengan meraung buas untuk menutupi rasa kesal dan malu mereka kembali menyiksa si pincang. kali ini keduanya berniat menghabisi Pranacitra dengan memotong- motong setiap anggota tubuhnya.!


''Bocah cacat sialan., kau akan mampus tanpa bentuk.!'' rutuk Muladewa ayunkan pedangnya menyasar pangkal lengan kiri. rekannya tidak mau ketinggalan, pedang berkelebat hendak membabat lengan kanan. mereka seolah sepakat membuntungi kedua tangan pemuda itu lebih dulu. Pranacitra hanya dapat pasrah dan terus bersiul lagu memedihkan hati. anehnya., dalam setiap diambang kematian dia selalu saja teringat pada Srianah.


Dua pedang membabat secepat sambaran petir membentuk kilatan bayangan sinar biru. cairan darah beku dan isi otak yang sudah membusuk langsung terpencar keluar dari sebutir batok kepala manusia yang entah datang darimana, hingga semakin mengotori jubah biru kedua orang tua itu yang sudah robek- robek.


Sumpah serapah dan makian kotor tersembur dari mulut Warmandaka dan Muladewa, saat sadar pedang mereka membabat batok kepala manusia yang sudah membusuk sehingga gagal membuntungi kedua lengan si pincang. ''Jahanam dari mana yang berani ikut campur masalah dengan kami para wakil ketua perguruan silat Pedang Samudra.!''


''Selama ini aku tidak pernah perduli dengan semua sasaranku apakah mereka berasal dari aliran hitam atau putih. jika ada yang sanggup membayarku mahal, siapapun sasarannya pasti kuhabisi. tapi untuk kaum pengecut dan munafik seperti kalian berdua, akan kubuat suatu pengecualian. hari ini aku bersedia memenggal kepala tanpa dibayar., mampuslah kalian.!''


Kedua orang tua itu terperanjat kaget, serentak mereka menoleh ke satu arah. dari sana terlihat satu sosok bayangan putih berkelebat cepat dengan gerakan meliuk- liuk seperti ular berbisa. sebuah pedang pendek yang memancarkan cahaya hitam pekat dan menebar bau sebusuk bangkai tergenggam ditangan kanannya.


Sekali menutul tubuh orang berbaju putih dan bercaping bambu ini sudah mencelat tinggi dua tombak ke udara. dari atas sana pedang hitamnya yang mengidikkan hati langsung menikam deras. bayangan seekor ular kobra hitam raksasa mengiringi serangannya.


Tidak ada kembangan yang indah di pandang mata dalam gerakan jurus pedang orang ini. karena yang terlihat hanyalah suatu amukan hawa membunuh yang kejam tanpa ampun, hingga membuat Warmandaka dan Muladewa seketika teringat seseorang. ''Aah bangsat jahanam., kau si 'Ular Sakti Berpedang Iblis.!''


*****


Nb., Cerita Pendekar Tanpa Kawan di bab ini menyesuaikan dengan cerita yang ada di novel 13 Pembunuh. (bab, Si Pincang yang aneh, dan bab, Respati berkisah )๐Ÿ™๐Ÿ˜Štrims.