
Suasana sunyi mendadak terasa di pelataran perguruan Lutung Ciremai itu. bukan saja mencekam jiwa namun juga memedihkan hati siapapun yang berada disana. bahkan hembusan angin pagi seolah turut berhenti bertiup hingga tidak ada sedikitpun suara yang terdengar ditelinga.
Seluruh kejadian yang mereka lihat dan alami sejak dari tengah malam sampai awal pagi hari ini selain terasa terlalu cepat dan beruntun juga sangat mengerikan. hingga pada puncaknya terjadilah pertarungan yang paling menegangkan diantara dua orang muda- mudi berkepandaian sangat tinggi.
Tubuh si 'Gadis Berwajah Tengkorak' semakin bergetaran seiring dengan kabut putih pekat disertai butiran salju sangat dingin yang terus bergerak perlahan merambat naik hingga nyaris menyelimuti sekujur tubuhnya. bahkan permukaan tanah tempat dia terbaring turut pula diselimuti lapisan salju.
Wanita muda yang punya bentuk tubuh indah ramping dan memiliki suara sangat merdu itu sadar ajalnya sudah menjelang tiba. dari kedua pelupuk matanya menetes cairan bening yang langsung membeku. wanita dingin berkulit muka tembus pandang itu menangis.
Disaat sekarat menyambut kematiannya wanita itu teringat semua masa lalunya. tanpa melihat raut wajahnya yang menyeramkan dan jika hanya dilihat dari bentuk tubuh luarnya saja, orang lain mungkin tidak akan pernah percaya kalau umurnya sudah lebih dari empat puluh tahunan.
Memiliki bentuk tubuh indah bersuara merdu dengan kulit bersih dan wajah yang sangat cantik memukau hati para lelaki, mungkin adalah dambaan bagi kebanyakan kaum perempuan. banyak wanita yang berlomba- lomba dengan segala cara untuk dapat meraihnya. entah itu untuk sekedar meraih ketenaran atau menggaet hati pasangannya.
Namun sayangnya ada beberapa orang yang justru harus mengalami penderitaan akibat memiliki kecantikan luar biasa yang menjadi dambaan bagi kaum wanita. salah satunya adalah perempuan muda yang sebagian tubuhnya kini sudah mulai membeku terlapisi butiran salju.
Hampir tiga puluh tahun silam di daerah Sumedang ada sebuah keluarga kaya yang sangat terpandang. kabarnya leluhur dari keluarga ini masih ada hubungan darah dengan prabu Siliwangi penguasa kerajaan Pajajaran. selain punya banyak hewan ternak serta tanah persawahan luas, Ki Karta Mandara nama kepala keluarga kaya itu juga mempunyai hubungan baik dengan kalangan pejabat kerajaan.
Namun yang paling menarik dari keluarga ini adalah putri semata wayang dari 'Ki Karta Mandara' dan 'Nyi Marlini' istrinya. anak perempuan sepuluh tahunan yang bernama 'Cahya Intan Maharani' itu mempunyai wajah yang amat cantik. seiring dengan bertambah dewasa gadis itu juga menjadi semakin menawan hingga digandrungi semua lelaki.
Jangankan kaum muda dari kalangan atas, para lelaki kaya yang sudah beristri sekalipun juga turut berlomba untuk mendapatkannya. Ki Karta Mandara dan istrinya meskipun bukan manusia kikir yang enggan bersedekah pada kaum miskin dan sering membantu sesama, tapi juga rada serakah dalam urusan mencari harta duniawi. mereka yang sadar dengan daya tarik sang putri itupun berupaya untuk memanfaatkannya hingga bisa mendapatkan keuntungan.
Mereka berdua bilang kalau sang anak hanya mau menerima pinangan dari orang yang mampu memberikan mahar paling tinggi dan istimewa. sejak saat itulah maka banyak lelaki yang bersaing untuk memberikan segala harta dan barang pusaka langka demi menarik perhatian dari Cahya Intan Maharani.
Banyak pemuda tampan dari kalangan atas yang sampai rela mengabaikan kekasih atau tunangannya hanya demi sebuah persaingan mendapatkan si cantik. para juragan kaya juga pembesar kerajaan turut serta ambil bagian, tidak perduli lagi dengan anak istrinya atau selir- selir muda yang mereka simpan.
Semua orang itu tidak pernah mengetahui kalau sebenarnya gadis bernama Cahya Intan Maharani itu sama sekali tidak mengetahui semua keinginan dari orang tuanya. dia cuma seorang gadis cantik yang berpikiran polos, pendiam juga tidak mengenal tipu muslihat dihati manusia. dalam kesehariannya hanya ditemani seorang emban tua dan gadis pelayan yang sekaligus menjadi sahabatnya.
Pelayan bernama Sartikem itu dulunya adalah seorang anak gembel yatim piatu yang dipungut oleh juragan Karta Mandara untuk menjadi pelayan anaknya. dari gembel miskin dan menderita menjadi seorang pelayan yang hidup dikeluarga terpandang tentu menjadi kebahagiaan bagi seorang Sartikem. dengan rajin dan setia diapun bekerja keras melayani putri majikannya yang sudah menganggapnya sebagai keluarga sendiri.
Saat mengetahui niat dari kedua majikannya yang ingin menggunakan sang putri untuk meraih keuntungan, Sartikem diam- diam memberitahukan semuanya pada para istri dan kekasih para pemuda yang jelas dibakar cemburu dengan Cahya Intan Maharani. gadis pelayan itu juga mengatakan kalau putri majikannya menggunakan pelet pengasih dari dukun jahat demi memikat para lelaki.
Sialnya meskipun mereka sudah mengatakan semua tipuan juragan Karta pada lelaki pasangannya tapi hati kaum pria itu sudah sangat terpikat dengan gadis itu. bukan saja mengabaikan bahkan beberapa diantaranya mengancam untuk menceraikan sang istri yang mereka anggap memfitnah gadis cantik incarannya.
Hal ini membuat para wanita itu semakin yakin dengan ilmu pelet jahat yang dipakai oleh Cahya Intan Maharani. sampai akhirnya mereka sepakat bersekongkol untuk membuat pembalasan setimpal pada si gadis yang sebenarnya tidak tahu apapun. ucapan dan tulisan kadang lebih tajam lebih dari sebilah pisau. tersebarlah berita kalau Cahya Intan Maharani selain memakai ilmu sesat untuk kecantikannya, juga orang tuanya memiliki mahluk siluman untuk pesugihan.
Meskipun sudah berusaha menyangkalnya tapi berita yang tersebar sudah begitu kuat. para saingan dagang Ki Karta Mandara yang merasa mendapat angin ikut pula memanasi. Sartikem bahkan berani bersaksi kalau pernah melihat anak majikannya menyimpan mantra gaib dan tumbal untuk merawat kecantikannya yang disimpan dibawah ranjang tempat tidurnya.
Jelas saja gadis itu menyangkal. celakanya saat semua orang memeriksanya bukti berupa buntelan kain berisi tulisan aneh dan potongan tulang binatang itu berada disana hingga gadis lugu itupun terpojok tanpa bisa membela diri. amukan orang tidak dapat lagi ditahan kala ditemukan juga tulang kepala kerbau dan pedupaan didalam kamar juragan itu. dengan beringas mereka membunuh keluarga juragan Karta Mandara lantas menjarah seluruh hartanya.
Nasib paling tragis di alami oleh sang putri. tanpa dapat melawan dia harus menerima penderitaan yang tidak terbayangkan, secara bergiliran para lelaki menodainya. semua wanita yang memendam iri hati turut pula menistanya. segalanya berubah teramat menyakitkan bagi gadis pingitan itu.
Mulanya banyak yang ingin dia dibunuh saat itu juga, tapi ada seorang perempuan yang kenal dengan seorang tokoh silat jahat ahli racun sekaligus sihir hebat yang dikenal dengan panggilan 'Nyai Bawang'. dengan bayaran sangat mahal nenek ahli sihir itu tidak saja membuat tubuhnya lumpuh dan berbau busuk, wajah cantik Cahya Intan Maharani juga dibuat serupa jerangkong karena sangat tipis hampir tembus pandang. dengan demikian dia akan mengalami penghinaan dan dijauhi semua orang untuk seumur hidupnya.
Beberapa orang yang merasa kasihan secara diam- diam membawanya keluar kampung. didekat sebuah hutan mereka membuatkan gubuk kecil tempat berteduh dan makanan sekedarnya. dalam penderitaan yang panjang beberapa kali gadis malang itu berniat untuk mengakhiri hidupnya, tapi bayangan dendam kesumat membuat dia terus bertahan.
Suatu ketika ada seorang nenek tua yang kebetulan lewat didepan gubuk tempatnya tinggal. sepertinya nenek berjubah hitam dengan sebuah tongkat besi hitam berukiran kepala tengkorak ditangannya itu tertarik dengan bau busuk yang terpancar dari sana karena aroma itu berasal dari ramuan racun dan sihir yang sangat kuat.
''Aah., gadis bermuka buruk dan bau busuk ini sangat menarik juga. kebetulan aku baru saja membuat ramuan gaib. akan kujadikan dirimu sebagai tempat percobaan ilmu racun dan pengobatanku. kalau kau berhasil sembuh itu keberuntunganmu, tapi jika malah mampus., anggap saja sebagai jalanmu terlepas dari penderitaan. Hek., he..''
Dengan seringai tawa keji nenek itupun mulai menjejali mulut si gadis dengan bermacam obat dan menotok banyak sekali jalan darah ditubuhnya. singkatnya setelah melewati serangkaian percobaan maut dan penderitaan panjang akhirnya Cahya Intan Maharani mulai dapat menggerakkan anggota badannya.
Bau busuk ditubuhnya sudah berkurang juga mulai dapat kembali berbicara. meskipun demikian nenek tua itu tetap kecewa dan marah karena tidak mampu memulihkan wajah tengkorak si gadis. baginya ini adalah sebuah tantangan sekaligus penghinaan atas kehebatan ilmu pengobatannya yang terkenal di rimba persilatan.
Dengan terbata- bata dan berlutut, Cahya Intan Maharani mengucapkan terima kasih atas semua pertolongan dari si nenek tabib. orang tua itu enggan untuk menjawab saat gadis itu bertanya siapa dia adanya. biarpun begitu dalam hatinya yakin kalau si nenek adalah seorang yang sangat sakti dan berniat untuk menjadi muridnya. tapi sayang., nenek itu langsung menolak keinginannya. karena baginya., gadis itu tidak lebih dari sekedar bahan percobaan untuk menjajal ilmu racun juga pengobatannya.!