
Di atas sana langit terlihat agak mendung namun udara justru terasa panas. dua hari belakangan cahaya matahari hanya muncul sebagian karena tertutup awan. biarpun begitu hujan juga tidak turun ke bumi. mungkin ini adalah pertanda kalau musim penghujan telah sampai di penghujung waktunya.
Sebuah jalan setapak berbatu yang sepi dan membelah kelebatan hutan rimba. lebarnya mungkin hanya serentangan tangan saja. jika di lihat dari banyaknya rerumputan dan semak ilalang yang tumbuh liar di sekitarnya, menandakan jalanan kecil ini sangat jarang di lewati orang.
Burung- burung pipit yang sedang hinggap beristirahat di atas dahan pepohonan sama berhamburan terbang menjauh sembari keluarkan suara mencicit yang riuh. kejap berikutnya juga terdengar teriakan berseling makian kotor dari balik hutan yang berada di kaki sebuah bukit kecil ini.
Enam orang yang muncul dari kejauhan itu nampak berlarian dengan raut wajah panik, takut bercampur kemarahan. jika diamati dari pakaian mereka yang sama berwarna kuning dengan celana merah, dapat di simpulkan kalau enam orang itu berasal dari satu kelompok. meskipun keadaan semuanya nampak lusuh, kelelahan dan putus asa tapi seperti tidak ada jalan lain bagi mereka kecuali terus berlari sejauh mungkin agar bisa menyelamatkan selembar nyawa mereka.
''Haa., ha., menyerahlah saja kalian semua dasar para cecunguk tolol, dari pada harus kehilangan nyawa hanya karena membela si tua bangka majikanmu yang sudah mampus itu. setidaknya., kalian berenam dapat mati cepat dengan raga tetap utuh.!'' terdengar seruan bercampur tawa mengejek dari belakang keenam orang itu.
Tetapi bukannya berhenti, enam orang yang terdiri dari lima orang lelaki dan seorang gadis muda malah semakin mempercepat larinya. ''Huhm., untuk apa berbicara pada orang- orang bodoh yang tidak tahu diri inj. sebaiknya mereka semua mampus.!'' dengus yang lainya. dari belakang sana terdengar suara mendesing tajam disertai beberapa titik kilatan cahaya tajam yang melesat cepat.
'Siiiing., sriiiing., sheeett.!'
''Awas., cepat menyingkir.!''
''Uuagh., Aaaakh.!''
Jeritan parau terdengar keras disusul dengan tersungkurnya dua di antara enam orang yang berlari paling belakang. biarpun mereka berdua sempat berbalik badan sambil mencabut pedangnya untuk menangkis serangan itu tapi tetap saja terlambat. dari tiga senjata terbang yang mengancam, tiga berhasil di sapu mental sedang dua lainnya lolos.
Sebenarnya kalau di lihat dari kecepatan mereka memutar tubuh, mencabut senjata dari balik punggung, juga gerakan putaran pedangnya untuk menangkis serangan gelap, dapat dipastikan ilmu silat mereka cukup bagus. namun lima anak panah yang menyambar tubuh mereka bergerak lebih cepat.
Saat di lihat nampak bagian bahu kanan serta pinggang keduanya tertancap dua buah anak panah berwarna hitam pekat. setelah sempat menggerung keras dan berkelojotan sebentar, tubuh merekapun diam tidak bergerak lagi. mati dengan sepasang mata melotot penuh kegusaran dan dendam amarah. biarpun cuma mampu menahan sebentar saja tetapi sudah cukup memberi waktu bagi rekannya yang lain untuk dapat kabur menjauh.
Walaupun anak panah itu cukup pendek dan luka yang diakibatkan tidak begitu dalam tapi dalam sekejap saja sudah sanggup membuat sekeliling kulit daging dari kedua korbannya menghitam bahkan sampai merusak jantung mereka. ini pertanda racun yang terkandung dalam mata panah pendek itu sangat ganas.
Gadis muda yang umurnya mungkin tujuh belas tahunan dan berpakaian seperti anak dari keluarga kaya itu menjerit sedih melihat kematian kedua orang itu. dia berusaha berbalik dan berontak dari rangkulan seorang lelaki setengah umur yang sepertinya menjadi pimpinan. dari sikapnya mungkin gadis yang berparas cukup manis itu punya hubungan sangat dekat dengan mereka.
''Lepaskan aku paman., kenapa kita mesti lari dari para bajingan biadab yang telah berani membunuh saudara- saudara kita.!'' teriak gadis itu kalap. ''Sudah cukup Winuyem. kita mesti kabur secepatnya, jangan membuat pengorbanan Bandaru, Pungkasan serta semua saudara seperguruan menjadi sia- sia.!'' bentak lelaki setengah umur itu sambil menyeret si gadis di cengkeramannya.
''Diriku bukan pengecut. aku akan beradu jiwa dengan para bedebah itu.!'' gadis bernama Winuyem ini sentakkan tangan lelaki yang disebutnya paman itu. tapi baru saja dia hendak berkelebat maju sambil mencabut pedang dari punggungnya, dua buah totokan di punggung telah membuatnya terkulai lemas.
''Kalau mau kabur tinggalkan dulu nyawa kalian di sini.!'' satu suara bengis terdengar bersamaan dengan melesatnya delapan buah anak panah hitam yang menyambar cepat dari balik rimbunnya pepohonan. pedang yang tergenggam di tangan kanan lelaki itu di putar membentuk lingkaran perisai lantas menikam dan membabat. sementara tangan kirinya lepaskan satu pukulan bertenaga dalam tinggi yang membawa gulungan angin kuat untuk memperlambat laju anak panah.
'Sheeett., sheeett., sriiiing.!'
'Whuuuss., traaaaang., traaaang.!'
Ilmu pedang lelaki lima puluh tahunan itu cukup hebat juga hingga sanggup membuat terpental sekaligus menghindari delapan anak panah hitam yang mengancamnya meski harus mengerahkan banyak tenaga dalamnya, bahkan terpaksa berjumpalitan di udara. tapi baru saja kakinya menjejak tanah belasan anak panah hitam kembali datang menghujani dirinya.!
Sialnya kini panah- panah itu bukan saja datang dari belakang melainkan juga kiri kanan dan atas tubuhnya. entah sejak kapan dari balik rimbunnya pepohonan dan semak belukar lebat sudah bermunculan beberapa orang dengan pakaian ringkas warna hitam. sebuah busur dan kotak besi kecil nampak terpasang di tangan kiri mereka. ujung- ujung mata anak panah terlihat yang siap terlontar nampak di lubang- lubang kotak busur itu.
Ujung mata anak panah yang hitam dan pendek itu berlainan dengan mata panah umumnya karena terlihat berulir seperti mata sebuah bor. biarpun semua itu membuatnya teringat pada sesuatu hingga berubah pucat air mukanya tapi dia tidak dapat lagi berpikir panjang karena mesti melindungi tubuhnya dari belasan anak panah yang sudah berada di depan matanya.
Lelaki itu meraung keras. dengan sekuat dan secepat yang dia mampu berusaha untuk menghindar sekaligus menyapu balik panah yang menghujaninya. empat anak panah dapat di hindari. lima tertangkis pedang, dua hanya menggores kulit leher kiri dan lengan kanan sedang tiga lainnya menembus kedua paha dan bahu atas sebelah kiri.
Walaupun sebenarnya lukanya tidak bagitu dalam tapi keganasan racun panah itulah yang membuat orang ini jatuh terjungkal. ''Sii., sialan. ruu., rupa., nya kaa., kalian dari per., perkum., pu., lan 'Panah Pemburu Jantung.!'' geram lelaki ini. dengan seluruh tenaganya dia berusaha mencabut anak panah yang menancap di bahu karena itulah yang paling dekat dengan jantungnya.
Darah kehitaman menyembur saat mata anak panah berulir itu tercabut keluar. dengan menahan rasa sakit yang teramat pedih berikutnya dia berusaha menarik dua panah yang menancap di kedua pahanya. tapi hanya sebelah kiri saja yang mampu di cabutnya karena orang ini keburu kehabisan tenaga. masih untung dia punya tingkat tenaga sakti yang lumayan tinggi hingga masih dapat membendung racun panah tapi diapun tahu jika umurnya yang tersisa paling banter cuma sepeminum teh saja.
Sebelum hilang kesadaran lelaki itu masih sempat mendengar bunyi ledakan beruntun yang dibarengi dengan munculnya kilatan cahaya hitam mirip halilintar menyambar. belasan bayangan cahaya telapak tangan merah berbau anyir darah yang menyusul hanya berselisih sekejapan mata saja.
Jeritan kematian yang terdengar bersautan itu di barengi dengan tumpahan darah dan tulang daging dari puluhan tubuh manusia berbaju hitam yang hangus terpental hancur berjatuhan dari balik pepohonan. walaupun masih ada sisa belasan anak panah hitam berulir lagi yang datang menyambar, namun dengan sebatang tongkat besi hitam di tangan kirinya, orang yang baru datang ini mampu merontokkan habis seluruh anak panah itu bagai menggebut kawanan lalat.
Terakhir terasa empat buah totokan keras menghajar punggung dan dadanya. kesadarannya yang sudah menghilang sempat pulih sekejapan saja akibat dua butiran obat yang di paksa untuk masuk ke dalam tenggorokannya. panas dan pahit., itulah rasa obat terakhir yang dapat dia nikmati.
Silahkan tulis komentar Anda yah👌., Trims🙏.