Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Orang berkepribadian ganda.


Darah dan luka yang menghiasi kulit gadis cilik itu masih terus bertambah, sura ratapan minta ampun, tangis dan rintihan kesakitan yang keluar dari bibir kecil si bocah seakan hanya menambah nafsu gila lelaki setengah tua yang bernama Ki Suta, cambuk yang dia gunakan terbuat dari anyaman urat kerbau yang liat dan kuat, bisa di bayangkan rasanya jika benda itu mendera kulit menusia. jangankan masih bocah, orang dewasa yang kuat sekalipun pasti merasa kesalitan.


''Ampuun guru., sudaah hentikan., tolong kasihanilah aku., sakiit., aakh.!'' suara rintihan seorang gadis muda terdengar semakin melemah mungkin sebentar lagi dia bakal pingsan atau malah mati.


''Jangan banyak omong., suara rengekanmu membuat kepalaku semakin pusing. nih rasakan lagi.!'' dengus Ki Suta seakan kalap. matanya memerah nafasnya juga makin memburu. mungkin dia sudah lama tidak dapat melampiaskan hasrat kejinya hingga sekarang dia menjadi tidak terkendali. yang ada dalam pikirannya cuma menyiksa gadis kecil itu. seakan semakin bocah itu merintih semakin senang hatinya.


Keadaan kejiwaan seseorang tidak dapat dipastikan. seringkali kita mendengar ada sosok yang sehari- harinya terlihat santun, sabar dan pendiam, tiba- tiba saja mampu menghabisi nyawa orang lain hanya karena sebab yang sepele. ada juga cerita orang tua yang tega membunuh darah dagingnya sendiri atau malah sebaliknya, sang anak yang tadinya penurut mendadak menjadi liar hingga menganiaya orang tuanya sendiri cuma karena tidak dituruti kemauannya. semua itu kembali pada hati dan keimanan seseorang. saling terbuka dan mengerti perasaan orang lain akan membuat hidup lebih mudah dijalani.


Ada sebagian orang yang bilang., Hidup itu sebenarnya sangat mudah, hanya manusia saja yang membuatnya menjadi sulit.


Ada juga yang berucap., Hidup ini susah, maka janganlah di buat tambah susah.


Itu semua cuma ungkapan sebagian orang, benar atau salah, semuanya tergantung pada pandangan masing- masing orang.


Bocah itu sudah tersungkur roboh kelantai gubuk. jalur- jalur merah berdarah menghiasi hampir sekujur tubuhnya yang tanpa pentup. bocah itu sempat mengerang, menggeliat lemah dilantai tanah lalu diam. melihat si bocah tak berkutik Ki Suta bukannya iba, tapi malah semakin meluap keberingasannya.


''Bocah cengeng bedebah., anak sundal, jangan pura- pura mati, bangun sekarang., ayoh bangun kataku.!'' bentaknya bengis. tanpa rasa kasihan sedikitpun dia kembali ayunkan cambuk di tangannya menghajar tubuh bugil si bocah copet yang sudah tidak berdaya. otak orang ini benar- benar gila.!


Cambuk berkelebat menyambar, suaranya menyentak keras seakan mengoyak jiwa. ujung cambuk menghajar kulit tubuh bagian dada hingga mengoyak kulit. Ki Suta terkejut saat merasakan ada yang menarik keras ujung cambuknya. sampai tubuhnya ikut pula tertarik ke depan. tingkat kesadaran otak orang ini cuma separuh. belum tahu betul apa yang terjadi, dua buah sabetan pisau sudah membabat kedua lengannya.


Ki Suta meraung kesakitan, cambuk di tangan kanannya terlepas. bersamaan itu sebuah kepalan tangan kurus menghantam keras dagunya, disusul satu tendangan ke arah perut membuatnya terjungkal roboh menimpa meja kayu reot hingga hancur.


Dengan menggunakan potongan kayu bekas kaki meja reot yang sudah hancur itu, dihantamnya tubuh Ki Suta hingga berkali- kali. orang setengah tua itu berteriak kesakitan, raut wajahnya yang tadinya buas dan kejam kini berubah penuh rasa sesal dan ketakutan. meskipun jelas air matanya mengalir tapi dia seakan pasrah digebuki. dari mulutnya cuma terdengar suara, ''Maafkan gurumu ini., aku bersalah., aku menyesal., aku pantas mati., pantas mati..''


''Kau memang pantas mampus lelaki bejat jahanam..!'' suara bentakan penuh kebencian mengiringi berkelebatnya sebilah pisau dapur yang menghunjam tenggorokan Ki Suta.


''Jangan., jangan lakukan itu., kumohon hentikan.!'' jerit si bocah copet sambil kedua tangannya merangkul pinggang si pemuda bertubuh ceking. teriakan Ki Suta dan suara batang kayu yang menghajar tubuh gurunya membuat gadis kecil itu tersadar bangkit, lalu sekuat tenaga berusaha menahan amukan pemuda kurus yang bukan lain Pranacitra adanya.


Sebenarnya pemuda dari gunung Bisma ini sudah berjalan cukup jauh meninggalkan gubuk Ki Suta, sampai dia teringat akan pisau dapur pemberian gurunya Ki Rangga Wesi Bledek yang tertinggal di sana. biarpun cuma sebilah pisau sederhana, tapi sangat berarti dan penuh kenangan bagi dirinya. maka bergegas pemuda ini kembali putar arah.


Sesampainya disana, alangkah terkejutnya dia saat mendengar sura jeritan dan rintihan kesakitan yangbdi selingi bentakan juga suara cambuk mendera tubuh. tanpa perduli apapun Pranacitra langsung masuk ke dalam. dia hampir tidak dapat mempercayai apa yang ada didepan matanya. meskipun tidak yakin siapa gadis kecil yang telanjang itu, tapi siksaan yang dialaminya benar- benar kelewat kejam.


Dengan amarah meluap dan rasa jijik yang menggumpal, Pranacitra langsung berusaha menyelamatkan gadis kecil itu, sekaligus membunuh KI Suta. disambarnya pisau dapurnya yang masih tergeletak di atas balai bambu. tubuh dan tangannya bergerak menghadang cambuk Ki Suta.


Ki Suta yang sedang diselimuti amarah seakan tidak menyadari kehadiran orang lain. dalam otak dan matanya hanya ada sosok bocah perempuan bugil yang harus dia siksa untuk memuaskan hasrat gilanya.!


''Dia guruku., beliau orang yang sangat baik, jangan pernah menyakitinya.!''


Pranacitra tertegun. ''Kau bilang dia gurumu., orang baik katamu., orang yang sudah menyiksamu sekejam itu masih kau bilang orang baik., apakah kau sudah gila.?'' geram Pranacitra marah. sekali pukul dia buat orang tua itu tersungkur pingsan di pelukan si gadis.


''Tunggu dulu., kau bilang orang ini jahat ini gurumu, setahuku muridnya bernama si Coreng., Aah jangan- jangan, kau., kau., adalah..'' Pranacitra ternganga tanpa sanggup meneruskan ucapannya.


Di depannya gadis kecil itu beringsut bangun mengambil pakaiannya lalu menutupi tubuhnya sekedarnya. rasa perih di kulitnya membuatnya merintih mengernyitkan alis.


''Akulah si Coreng., copet cilik yang kau kenal di pasar. aku seorang perempuan, beliau ini Ki Suta guru sekaligus penolongku..'' tutur si bocah copet. dari cerita gadis kecil itulah baru Pranacitra mengetahui keadaan yang sebenarnya.


Kira- kira setahun yang lalu gubuk Ki Suta kedatangan seorang lelaki tua yang sedang terluka parah dan keracunan. sepertinya Ki Suta mengenali orang ini sebagai manusia jahat. tapi sebagai seorang tabib yang welas asih dia tidak dapat membiarkan seseorang yang membutuhkan pertolongan mati begitu saja di depannya, apalagi orang yang sekarat ini sudah memohon- mohon padanya.


Dengan ilmu pengobatannya yang hebat Ki Suta mampu menyembuhkan sebagian luka luar dalam orang tua itu. sedangkan racun ganas yang mengeram di tubuhnya hanya sanggup dia punahkan separuhnya. dari penuturannya orang tua bernama Resi Bajul Getih itu sedang berusaha kabur dari seorang musuhnya. karena kalah ilmu dan terluka parah, dia terus melarikan diri sampai tanpa sadar melewati sebuah tempat yang bernama Lembah Seribu Racun. disanalah dia mengalami keracunan. anehnya saat ditanya dimana letak Lembah itu, Resi Bajul Getih menjawab tidak tahu persis, bahkan saat berusaha mengingatnya dia seakan berubah seperti orang sinting dan linglung.


Konon kabarnya tempat itu sebut sebagai Lembah Seribu Racun karena udara dan semua benda yang ada di lembah itu mengandung racun ganas. jangankan untuk masuk, sekedar lewat di sekitarnya saja sudah bisa menyebabkan kematian. maka tidak heran jika lembah itu di sebut sebagai tempat terlarang bagi orang persilatan.


''Sebagai ungkapan terima kasih Resi Bajul Getih memberi Ki Suta selembar kulit menjangan berisi tulisan dan gambar yang menerangkan sebuah ilmu pengobatan tingkat tinggi yang aneh..''


''Resi Bajul Getih sudah berusaha untuk mempelajari ilmu pengobatan yang kabarnya dapat meningkatkan tenaga dalam dan ketajaman panca indera berkali lipat lebih tinggi itu, tapi selalu gagal. akhirnya lembaran itu diberikan pada Ki Suta. setelah itu diapun pergi..'' ujar gadis itu meneruskan kisahnya. Pranacitra hanya diam dalam hatinya dia tersentak saat mendengar nama Lembah Seribu Racun disebutkan. ''Bukankah itu nama lembah yang sama dengan yang tertulis di dalam peta rahasia milik Ki Rangga.?'' batinnya tegang.


''Kenapa kau hanya diam.?'' tanya gadis itu heran. ''Eeh tidak apa., teruskan saja ceritamu..'' pinta si pemuda mencoba untuk mengalihkan perhatian.


''Karena tertarik Ki Suta berusaha untuk mempelajari ilmu pengobatan itu. pikirnya jika dia berhasil meningkatkan kesaktian dan panca inderanya, maka akan semakin mudah baginya untuk memberikan pengobatan pada mereka yang membutuhkan., sebuah niat yang mulia. tapi sayang kadang niat baik tidak selamanya berbuah baik juga..''


''Apa yang terjadi selanjutnya.?''


''Guru memang bisa meningkatkan tenaga dalam dan hawa kesaktiannya. terbukti beliau mampu menahan sebaran racun dingin yang menyerangmu. tapi panca inderanya tidak mengalami peningkatan sedikitpun..''


''Akhirnya guru mencoba lagi, tapi sayang tanpa sengaja beliau melakukan suatu kesalahan yang mengakibatkan jiwanya menjadi liar, otaknya juga kurang waras. sejak saat itu dia sering menyiksaku, tapi setelah puas beliau selalu menangis menyesali perbuatannya. dia sudah berusaha untuk mengendalikan diri, tapi selalu saja tidak mampu..''


''Jadi singkatnya dia harus melampiaskan semua hawa jahat yang berkobar di jiwanya dengan menyiksamu.?'' Pranacitra coba menebak. ''Benar., beliau yang kukenal welas asih sesaat seperti menjadi orang lain yang kejam dan buas.!'' jawab si bocah memeluk erat gurunya.