
Saat tersadar Pranacitra sudah dalam keadaan duduk bersila. segulung tenaga sakti berhawa dingin dan panas silih benganti merasuki dirinya. terasa ada sepasang telapak tangan kurus sedang menekan punggungnya. dari sinilah hawa kesaktian panas dan dingin itu berasal.meskipun tidak dapat melihat, tapi pemuda ini tahu kalau itu adalah sepasang tangan dari si 'Setan Kuburan'.
Entah sejak kapan dia bersila seperti ini, tanpa terasa air matanya mengalir saat melihat sosok tubuh renta yang duduk bersandar di dinding goa itu sudah diam dan kaku. dari kelima gurunya, si 'Nenek Tabib Bertongkat Maut' menjadi orang ke empat yang menyusul ketiga rekannya yang lebih dulu mati.
Tenaga kesaktian yang terus mengalir terasa makin melemah, jika Setan Kuburan menjadi sososok tua renta yang lemah tanpa tenaga, sebaliknya dalam diri Pranacitra sudah bertambah tenaga kesaktian yang seolah mampu menghancur leburkan sebuah gunung yang tinggi menjulang.
''Terus saja mengatur hawa kesaktian yang kuberikan padamu. dengan sisa kekuatanku akan aku coba untuk meleburkan batu sakti Nirmala Biru ke dalam tubuhmu agar kau bisa mempunyai kesaktian untuk menangkal racun. namun sebelumnya aku akan mengatakan sesuatu tentang ruangan terlarang yang telah kuperlihatkan padamu..''
Nafas si Setan Kuburan terdengar tersengal. meskipun ingin mengatakan agar gurunya yang tersisa ini untuk segera beristirahat agar dapat memulihkan dirinya, tapi Pranacitra paham itu hanya akan sia- sia. kelima orang tua itu seakan sudah memilih waktu bagi dirinya sendiri untuk mengakhiri hidup.
''Dengar bocah pincang., ruangan itu sudah ada sejak kami berhasil masuk ke dalam 'Lembah Seribu Racun' ini. seperti yang sempat kau lihat, ruangan rahasia yang dingin itu penuh dengan gumpalan emas permata yang tidak terhitung jumlahnya. selain itu di dindingnya juga terpahat banyak tulisan petunjuk ilmu silat dan kesaktian tingkat tinggi.!''
''Lantas kenapa kami melarangmu untuk mendekati ruangan itu. tentunya kau pernah merasakan suatu keinginan kuat untuk masuk kesana setiap kali berada di dekat ruangan terlarang yang gelap dan sangat dingin itu. asal kau tahu saja dua orang tokoh silat yang dulu berhasil keluar dari lembah ini tewas mengenaskan karena mereka mengambil emas dan mempelajari ilmu kesaktian yang berada di dalam ruangan itu..'' tutur Setan Kuburan dengan suara yang semakin lemah.
''Kami berlima secara berurutan terperangkap ke dalam lembah celaka ini akibat tipu daya dari kaum pengecut licik yang mempunyai dendam kesumat namun takut dengan kekuatan kami. meski demikian kita berlima yakin kalau tidak ada satupun dari mereka punya hubungan dengan ruangan terlarang yang berada di dalam goa ini. bahkan aku yakin kalau para manusia bedebah itu tidak ada yang tahu rahasia sebenarnya dari lembah ini.!''
''Pendek kata., para jahanam rendahan itu tidak ada hubungannya dengan pemilik atau orang yang membuat ruangan gelap berisi emas dan panduan ilmu kesaktian yang terdapat di sini. apa tujuan si pemilik ruangan gelap itu yang sebenarnya hingga sudah berpuluh- puluh tahun sanggup memancing ratusan pendekar untuk beradu nyawa demi masuk ke dalam Lembah Seribu Racun., tidak satu orangpun yang tahu. yang jelas siapapun orang ini, dia pasti punya latar belakang yang mengerikan.!''
''Satu pesan kami., setelah berhasil keluar dari lembah terkutuk ini kau jangan pernah kembali lagi kemari, kecuali semua orang licik munafik yang berkedok jadi kaum ksatria itu sudah kau habisi semuanya. soal rahasia ruangan gelap itu., sebaiknya kau lupakan saja untuk menyelidikinya karena hanya akan membawa kesialan bagimu..''
Pranacitra hanya dapat mendengarkan semua yang di pesankan si Setan Kuburan tanpa dapat menjawab ataupun berpaling. dia mesti memusatkan semua perhatiannya untuk menyatukan aliran tenaga sakti pemberian orang tua itu. karena sekali saja salah jalan, aliran tenaga sakti itu bisa berubah kacau dan berbalik menghantam dirinya.!
''Dengan kekuatanku yang terakhir, akan aku leburkan batu sakti Nirmala Biru agar dapat menyatu ke dalam tubuhmu. sialan., di saat seperti ini diriku malah ingin tertawa karena teringat sesuatu yang pernah di ucapkan si tua muka pucat 'Pengemis Tapak Darah. Haa., ha..''
''Pusatkan lagi perhatianmu untuk menerima inti tenaga kesaktian batu Nirmala Biru.!'' begitu selesai berucap, terasa telapak tangan kanan si Setan Kuburan kembali menghantam punggung si pemuda. kali ini terasa jauh lebih keras dan menyakitkan. gulungan hawa dingin dan panas yang merasuki dirinya beberapa tingkat lebih kuat dari sebelumnya hingga membuatnya teringat saat di siksa oleh racun dingin pembeku darah dan jantung milik 'Setan Arit Rombeng' saat berada di gunung Bisma.
''Hee., he., mereka bilang kalau kita semua sudah melakukan sebuah keputusan yang sangat bodoh karena mengangkat seorang murid yang pincang, tolol, lemah, gila dan tidak punya otak. tapi anehnya sampai matipun kami semua tidak pernah menyesalinya..''
Itulah ucapan terakhir yang sempat terdengar dari si Setan Kuburan gurunya yang terakhir itu mati setelah menguras seluruh hawa saktinya untuk di wariskan kepada si pemuda yang hanya bisa menangis di depan lima kuburan yang berada dalam goa itu.
Selama ini mereka tidak pernah menyebutkan kata murid. yang terucap hanya makian bocah pincang tolol, pincang sialan, anak penyakitan, goblok, dungu, bocah edan dan sejenisnya. sekarang baru dia paham kalau semua itu adalah ungkapan pengakuan dan harapan seorang guru kepada muridnya.
Malam semakin gelap dan larut, udara yang berbalut sisa hujan deras membuat udara terasa bertambah dingin. Pranacitra masih terbaring diatas balai bambu yang berada di teras rumah gubuk Ki Mada. ''Jika aku pikirkan kembali yang di katakan Setan Kuburan, sepertinya ada orang lain yang mengendalikan para manusia licik itu hingga membuat ke lima guruku terjerumus ke Lembah Seribu Racun..''
''Pemilik ruang gelap berisi harta di dalam goa itu bukanlah orang yang mengatur semuanya. jadi., siapakan pihak yang mengepalai para bangsat yang telah menjeremuskan ke lima orang tua itu. jelaslah dia bukan orang sembarangan..''
''Anehnya kenapa aku merasa kalau jawaban dari semua rahasia ini ada di dalam ruangan gelap itu. sayangnya., mereka melarangku untuk kembali ke sana.'' batin Pranacitra bimbang. pikirannya yang melayang ke masa lalu seketika terhenti, karena dia merasakan kehadiran beberapa orang yang berada di balik kegelapan.
Meskipun tubuh mereka tidak terlihat, tapi hawa membunuh yang terpancar dari beberapa orang diantara para pendatang ini ada yang cukup kuat pertanda dia punya ilmu kesaktian yang bisa di andalkan. Prancitra perlahan mengeliat bangun, dalam hati dia mengeluh karena merasa waktu tidurnya bakalan terganggu.
Dari balik pepohonan yang berada di luar pekarangan gubuk muncul beberapa nyala api obor. selanjutnya tidak kurang dari sepuluh orang lelaki bersenjata tajam melangkah mendekati gubuk. yang menjadi perhatian Pranacitra bukanlah seorang pria tinggi besar berkumis tebal yang menjadi pemimpin. tapi seorang wanita separuh baya yang berdiri di belakang lelaki tinggi besar setengah umur itu.
Wanita itu memakai sebuah baju kebaya dan berkerudung warna merah. sejak datang dia selalu menundukkan kepalanya, seakan takut wajahnya di lihat orang. tidak nampak senjata atau sejenisnya di tubuh wanita berkebaya merah itu. tapi seketika Pranacitra tertegun saat melihat disetiap jemari kanan kiri perempuan itu melingkar sebentuk cincin besi yang juga berwarna merah dan berukiran wajah setan. ''Sepuluh Cincin Pembunuh.!'' desis si pemuda mengenali siapa adanya wanita ini.
*****
Asalamualaikum., Maaf🙏 jika bab ini sangat pendek. authornya bilang dia capek karena lembur kerja, jadi gak sempat bikin yang lebih baik. 😓. Terima kasih atas segala kritik, saran dan dukungannya. Wasalam.