Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Penghinaan.


Walaupun jarak antara sumber serangan maut itu dengan tempat Sepasang Pengemis Bangkai berada masih terpaut lebih belasan tombak jauhnya namun kekuatan jurus itu memang tidak kepalang tanggung. sepuluh larikan sinar merah kehitaman berbentuk cakar yang terus menerobos udara gelap seakan cabikan burung Iblis yang keluar dari liang neraka.


Sambaran hawa panas dan tajam menyayat tubuh membuat hampir semua orang yang berada disana tanpa sadar sama keluarkan suara jeritan tertahan dan bergerak menjauh, utamanya Sepasang Pengemis Bangkai yang menjadi sasaran utama dari ilmu pukulan sakti itu.


Dengan keluarkan seruan gusar dan makian kotor keduanya serempak berpencar salto kiri- kanan sambil sebelah tangannya yang menggenggam periuk besi memukul kemuka. dua larikan cahaya hitam redup berbau busuk yang dibarengi melesatnya puluhan kepingan uang tembaga seketika berhamburan bagai hujan mencoba menahan cabikan maut yang mengancam mereka.


Hebatnya uang tembaga itu turut berubah menghitam saat berada di udara. jelas kepingan uang receh yang menjadi senjata rahasia kedua pengemis jahat ini sudah diselimuti hawa beracun dari aji kesaktian yang mereka lepaskan. suara berdesingan nyaring mengiringi jurus serangan mereka.


'Sshiiiiinngg., shiiing., sheeeeett.!'


'Whuuuusss., claaaang., plaaang.!'


''Aaaakh., bangsat anjing.!'' rutuk Sepasang Pengemis Bangkai gemetaran menahan rasa sakit dan amarah. sungguh mereka tidak mengira, meski sudah berusaha menghindar bahkan balas menghantam namun tetap saja angin serangan lawan yang menggidikkan itu masih menyambar dibawah pinggang juga paha mereka.


Dengan kerahkan tenaga dalam yang tetap memancarkan hawa hitam, luka ditubuh keduanyapun tertutupi seakan belum pernah cedera. hanya saja bekas cabikan menghitam masih terlihat dibalik pakaian gombrong mereka yang terkoyak hangus. kejadian itu jelas menggagalkan keduanya yang berniat menghabisi si 'Raja dan Ratu Lutung Sakti' hingga nyawa kedua ketua Lutung Ciremai itu selamat.


'Taapp., sreeek., traak., sreeek.!'


'Teeeps., sraaak., treep., sraak.!'


Langkah kaki pelan yang diiringi bunyi benda berat dan tajam menyaruk tanah itu terdengar aneh ditelinga siapapun. apalagi saat suara siulan berirama menyedihkan hati itu kembali berkumandang mengalun. jangankan para anggota padepokan Lutung Ciremai, lima orang penyerbu yang jelas berhati kejam itupun tanpa terasa menjadi turut dilanda kesedihan hati yang tidak berujung pangkal.


Tanpa terasa mata semua orang menatap ke asal suara itu. Raja Ratu Lutung Sakti mesti memaksakan diri memiringkan tubuhnya yang masih terbaring ditanah ke kiri agar bisa melihat siapa yang datang. seiring dengan lenyapnya suara siulan yang memedihkan jiwa itu, orang yang ditunggupun muncul disana.


Dia masih sangat muda, mungkin umurnya baru dua puluhan tahun. berbaju hitam dari kain tebal. karena kepalanya agak menunduk sebagian wajahnya jadi tertutupi rambut hitamnya yang gondrong dan terikat secarik kain batik lurik. kedua tangannya yang pucat berotot kehijauan menggenggam sebuah tongkat besi hitam yang gagangnya dibuntal secarik kain yang juga berwarna hitam. kabut dingin dan kegelapan yang menyelimuti pelataran perlahan mulai memudar.


Pancaran cahaya mentari pagi yang muncul dari balik punggung gunung menembusi celah dedaunan pohon yang tumbuh di tepi pekarangan padepokan itu, seakan bergerak merayap diatas permukaan tanah dari ujung timur kearah barat menyapu kabut tipis yang masih tersisa.


Seiring dengan sinar mentari pagi hari yang nampak menyoroti tubuh pemuda itu dari ujung kaki hingga naik ke atas kepalanya, orang inipun perlahan mengangkat wajahnya. kini terlihat seraut muka gagah namun dingin dan sedikit pucat. sekilas orang akan merasa kalau pemuda ini lebih mirip dengan seorang gelandang melarat dan kesepian.


Tetapi anehnya tidak ada satupun diantara kelima orang tokoh silat golongan hitam yang tadinya berlaku garang dan kejam itu berani berbuat sembarangan. bahkan termasuk juga Sepasang Pengemis Bangkai yang hampir celaka tersambar ilmu kedigjayaan lawan. padahal di lain waktu mereka tentu bakalan mengumbar amukan pada orang yang berani mencampuri urusannya.


''Kabarnya dia masih sangat muda, caranya berjalan terseok pincang, merayap perlahan seperti seekor cacing karena kaki kirinya cacat. berbaju dan bertongkat hitam serta gemar bersiul lagu yang menyedihkan hati..'' ucap Nyai 'Dupa Tumbal' berbisik kepada pemuda sombong yang berada disebelahnya.


''Begitu juga berita yang pernah kudengar Nyai Dupa Tumbal. tapi ada urusan apa bangsat pincang itu muncul kemari.?'' gumam si 'Tampan Suling Emas Pencabut Sukma' balik bertanya. saat bicara suara kedua pesilat tua muda itu seperti gemetaran. diam- diam mereka siapkan ilmu kesaktiannya masing- masing.


''Pemuda pincang sialan., apakah kau sadar jika pandangan mata juga cara bicaramu yang sombong itu merupakan suatu penghinaan besar bagi partai 'Gapura Iblis.!'' gertak Nyai Dupa Tumbal geram. kuali tembaga berisi arang pedupaan di tangannya terlihat memerah dan kepulkan asap panas pertanda nenek tua ini sedang bersiap gunakan ilmu kesaktiannya.


''Chuih., apa kau kira aku tidak tahu kalau dirimu bukan lain adalah si bajingan keparat yang di tempatkan pada peringkat teratas dari jajaran sepuluh pendekar muda terkuat dunia persilatan saat ini. meskipun begitu., jangan pernah berpikir diriku takut menghadapimu.!'' si Tampan Suling Emas Pencabut Sukma ikut menghardik. ujung suling emas ditangan kirinya sudah berada diujung bibir siap lantunkan tiupan mautnya.


Pemuda pincang itu perlahan menoleh. sorot matanya yang sedingin mayat itu membuat hati siapapun merasa gelisah dan merinding. biarpun kelima orang itu sudah terbiasa berlaku kejam namun baru kali ini mereka bertemu orang yang punya pandangan mata begitu aneh seakan kosong tanpa suatu perasaan apapun, namun justru membawa hawa kematian yang sangat menyeramkan.


Bahkan wanita bertubuh indah tapi bermuka seram yang dijuluki si 'Gadis Berwajah Tengkorak' juga nampak terkesiap. untuk pertama kalinya perempuan yang sedari awal datang hampir tidak pernah bergerak itu turunkan buntelan hitam sebesar kepala kerbau yang terpangul di punggungnya dan menggenggam tali rantainya dengan erat.


Buntelan kulit yang terlihat berat tapi tidak diketahui isinya itu bergetaran dan terpancar hawa kehitaman. semua itu tidak terlepas dari perhatian si pemuda pincang. perempuan itu sesaat bentrok pandangan dengan sorot mata si pincang. entah kenapa tanpa sadar keduanya sama tertegun sebelum akhirnya pemuda itu alihkan pandangannya.


''Kalau aku memang menjadi yang teratas, memangnya kau mau apa. jika kau hendak mencoba merebut kedudukanku sebaiknya pikir dulu seberapa banyak nyawa yang kau punya. Ooh., jika melihat dari lagak sombong dan senjata suling rongsokan ditanganmu itu, kau pastilah orang tolol yang belakangan mengaku sebagai si 'Tampan Suling Emas Pencabut Sukma..''


''Hampir setahun silam aku pernah bertemu dengan orang congkak, dungu dan edan sepertimu. dia bukan lain adalah salah satu pentolan dari 'Kelompok 13 Pembunuh' yang bernama Kamajaya dan di juluki sebagai 'Pendekar Romantis Pencabut Nyawa'. chiaah., gelaran gila. tapi tidak kusangka., sekarang malah ada orang tidak tahu diri yang punya tampang pas- pasan namun mengaku berparas tampan. Haa., ha.!'' gelak tawa si pincang memecah kesunyian pagi.


''Aku tidak perduli jika sekarang dirimu juga dimasukkan kedalam jajaran sepuluh pesilat muda pendatang baru yang terbaik saat ini. karena bagiku., kau cuma badut tolol dan tidak layak untuk diperhitungkan.!'' dampratnya bengis. seumur hidup belum pernah si Tampan Suling Emas Pencabut Sukma menerima penghinaan sebesar ini. mukanya berubah merah padam menahan marah dan rasa malu.


Namun belum sempat dia berbuat sesuatu untuk membalas penghinaan itu, lawannya sudah keburu bergerak menyerang. tongkat besi hitam yang tertancap ditanah terangkat lalu menusuk langsung kemuka. telapak tangan kiri berputar cepat setengah lingkaran sebatas pinggang lantas memukul.


Dua larikan sinar hitam kemerahan dengan tebaran hawa panas menggebrak si Tampan Suling Emas Pencabut Sukma. dilain kejap belasan bayangan telapak tangan merah bara api yang menebar bau anyir darah turut berhamburan mengancam nyawa Sepasang Pengemis Bangkai juga Nyai Dupa Tumbal.


''Awas., cepat menyingkir.!'' seru Nyai Dupa Tumbal memberi peringatan. ''Jurus 'Tongkat Kembar Cahaya Kegelapan.!'' teriak Sepasang Pengemis Bangkai saat mengenali jurus serangan lawan. tapi mereka sendiri juga mesti lebih dulu selamatkan dirinya dari serangan pukulan sakti 'Tapak Darah Meminta Sedekah.!'


Jika ketiga orang tua itu memilih mencelat menghindar sambil balas hantamkan aji kesaktiannya, tidak demikian dengan yang dilakukan si Tampan Suling Emas Pencabut Sukma. selain merasa sangat terhina dia juga sudah lama penasaran dengan tingkat ketinggian ilmu si pincang yang kabarnya menyandang bermacam julukan sangar itu.


''Iblis Pincang Kesepian., si 'Siulan Kematian' atau siapapun julukanmu. hari ini aku akan merebut kedudukan sebagai yang terkuat di antara para pesilat muda pendatang baru. mampuslah kau sekarang juga dasar pincang keparat.!'' bentak pemuda jahat yang gemar menodai kaum wanita itu penuh kebencian.


Didahului suara tiupan suling emasnya yang mengalun tinggi rendah tidak menentu hingga membuat pekak gendang telinga dan jantung kacau, tiga larik sinar kuning melesat dan meliuk cepat bagai ular. dengan ilmu 'Tiga Nada Ular Emas Setan' pemuda culas ini berniat mengadu kekuatan secara langsung.!


Cahaya mentari telah semburat di cakrawala timur. kehangatan sinarnya menerangi tanah pelataran padepokan Lutung Ciremai. ledakan beruntun dan mayat- mayat yang terkapar mandi darah seketika tersapu bermentalan hancur saat beberapa aji kesaktian tingkat tinggi itu bertemu.


*****


Mohon tuliskan komentar anda๐Ÿ™, komentar apa saja boleh. (menghujat juga ora opo" kok)๐Ÿคญ๐Ÿฅฑ๐Ÿ˜Š Terima kasih๐Ÿ‘Œ๐Ÿ‘.