Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Jebakan.


Hari mulai beranjak senja, 'Tebing Kematian' sudah bertambah lagi dengan dua sosok mayat. kabut beraroma busuk kembali turun dari atas tebing yang tinggi. terus menyebar ke bawah dan meluas hingga ke dalam hutan seiring dengan hembusan angin yang bertiup.


Klowor Gombor alias si 'Gila Tangan Kudis' masih mengumbar tawanya beberapa saat lamanya. anggota nomor sebelas dari kelompok pembunuh bayaran 13 Pembunuh itu seakan tidak terlalu terpengaruh dengan hawa busuk beracun yang ada di sana. dengan sikap cengar- cengir dan sesekali usap hidungnya yang kotor beringus dia berjalan seenaknya melewati mayat- mayat busuk dan onggokan tulang belulang yang bertebaran di sana.


''Hoii., aku tahu kalian sudah banyak yang tiba di Tebing Kematian ini, tapi kenapa masih saja bersembunyi di dalam hutan itu seperti seekor kecoak.?'' teriak Klowor Gombor bertolak pinggang dengan mata besar jelalatan. wajahnya yang terlihat tolol mendadak berubah sangat menyeramkan.


Mendengar itu Pranacitra yang masih mendekam dari balik pepohonan terkesiap kaget. dia sungguh tidak menduga kalau orang bernama Klowor Gombor itu dapat mengetahui ada orang yang bersembunyi di balik gelapnya hutan. dari sini dapat di lihat kalau ketinggian ilmu kesakrian dari si Gila Tangan Kudis memang bukanlah sekedar omong kosong.


Saat dia masih ragu untuk memutuskan apakah harus tetap di sini atau keluar, dari satu arah melesat Lima sosok bayangan hitam yang langsung menyerang Klowor Gombor dengan babatan serta tikaman pedang di tangan mereka.


Lima orang ini sepertinya berasal dari suatu kelompok yang sama karena selain mamakai pakaian dan kedok hitam penutup wajah yang serupa, gerakan ilmu pedang kelimanya juga mirip. ganas, cepat juga keji seperti gerakan seekor kelelawar.


''Hak., ha., rupanya 'Serikat Kalong Hitam' juga tidak mau ketinggalan ikut perebutan batu sakti Nirmala Biru hingga menyuruh 'Lima Kelelawar Malam' datang kemari.!'' seru Klowor Gombor sambil berkelebatan menghindari serangan lima pedang lawannya.


''Klowor Gombor., kedua kelompok kita sudah lama saling berseteru. selain untuk merebut batu sakti, kami juga ingin membalas dendam atas perbuatan kalian pada perkumpulan kami beberapa tahun silam..''


''Meskipun saat ini 'Serikat Kalong Hitam' belum sanggup menghancurkan kelompok 13 Pembunuh, tapi untuk menghabisi nyawa busukmu sangatlah mudah., mampuslah kau orang gila keparat.!'' umpat para anggota Serikat Kalong Hitam sambil kembali mendesak Klowor Gombor dengan ilmu pedangnya yang ganas.


Dalam dunia persilatan waktu itu banyak pendekar ataupun perkumpulan silat yang bekerja sebagai pembunuh bayaran. kebanyakan mereka bergerak secara sangat rahasia karena selain khawatir dikenali oleh lawan juga tetap bisa menjaga keselamatan sendiri. tapi di lain pihak ada juga yang berani bertindak terang- terangan tanpa ada rasa takut. diantaranya adalah dua kelompok terkuat yang bernama Serikat Kalong Hitam dan 13 Pembunuh.


Seakan sudah menjadi rahasia umum, kedua perkumpulan pembunuh bayaran ini sudah sejak lama terlibat persaingan yang berujung saling bunuh antara anggota mereka. seperti yang terjadi saat ini di Lembah Kematian.


Di kepung lima pedang lawan yang bergerak bagaikan sambaran sayap kelelawar itu tidak membuat si Gila Tangan Kudis terdesak. orang gila ini sangat percaya diri dengan kemampuannya. sepasang tinjunya bergerak sangat cepat mengepruk, menghantam dan mencengkeram. berbeda dengan saat dia menghadapi 'Sepasang Parang Merah Kepulauan Timur' sekarang orang ini benar- benar menunjukkan kalau kedua lengannya yang di penuhi bisul kudis beracun itu kebal senjata dan sekeras batu karang.!


Walaupun berkali- kali pedang dari utusan Serikat Kalong Hitam yang dikenali sebagai 'Lima Kelelawar Malam' itu berhasil menikam juga membabat Klowor Gombor, tapi hanya dengan mengandalkan sepasang lengan kudisnya semua serangan lawan bisa di buat mental. jalannya pertarungan berlangsung sangat cepat. Lima Kelelawar Malam sama mengandalkan ilmu meringankan tubuh dan kecepatan bergerak, dengan jurus pedang yang aneh berusaha terus mengurung.


Sebaliknya Klowor Gombor meskipun sedikit kalah dalam soal kecepatan tapi dia unggul dalam kekuatan tenaga dalam.


Lima Kelelawar Malam Bersuit nyaring, sekali genjot tubuh mereka mencelat hingga lebih tiga tombak ke udara. sekali bersalto sambil memutar pedang di tangan masing- masing lalu menghunjam deras seiring tubuh mereka yang meluruk kebawah.


Hebatnya setiap pedang yang ada di tangan mereka sama berubah menjadi hitam legam dengan ukuran dua kali lebih besar seperti sayap kelelawar raksasa yang menebar hawa sepanas bara api.!


''Terima kematianmu Klowor Gombor.!''


''Hari ini 13 Pembunuh bakal kehilangan satu lagi anggotanya yang gila. Ha., ha.!''


Klowor Gombor rada terperangah juga, tapi orang ini cuma mendengus dan meludah. sepasang lengannya yang penuh bisul kudis terkepal hingga terdengar berkerotokan. ''Keparat., jangan pernah bermimpi untuk menyamakan kehebatan 13 Pembunuh dengan Serikat Kalong Hitam. kalian semua hanyalah sekumpulan sampah busuk., Modar semua.!'' bentak Klowor Gombor murka seraya hantamkan kedua kepalan tangannya ke udara. gulungan pusaran angin sekeras bongkahan batu karang yang di barengi kilatan cahaya merah menggebrak.


Yang menghantam cuma dua buah lengan penuh bisul kudis, tapi tenaga yang keluar seakan ada sepuluh pasang lengan besar yang menghantam. inilah ilmu 'Sepuluh Lengan Kudis Batu Berhala.!'


Selama malang melintang dalam kancah persaingan rimba persilatan, Klowor Gombor jarang sekali mengeluarkan ilmu pukulan ini, dia lebih suka membunuh lawannya dengan bisul kudis beracunnya. tapi selain marah besar karena lawan berani memandang remeh kelompoknya dia juga merasa jurus pedang lawan sangat berbahaya.


Di pihak lain Lima Kelelawar Malam beebalik tersentak kaget. pukulan lawan yang ganas menderu serasa berpuluh palu raksasa yang menghantam. tanpa ampun lagi lima pedang hitam dan tenaga pukulan sakti bercahaya merah bertemu di udara.!


'Whuuut., whuuut., Bheeet.!'


'Traaang., Craaang., Braaak.!'


Lima sosok tubuh berbaju dan berkedok kain hitam tertahan di udara hingga beberapa kejap mata. saling bacok tikam dan pukul hantam terjadi berulang kali, cahaya merah bercampur hitam saling menyambar hingga pusaran anginnya membuat tulang belulang dan onggokan mayat busuk berhamburan hancur semburat bersama batuan debu yang menutupi pandangan. sampai akhirnya terdengar jeritan tertahan dan terpisahnya tubuh mereka.


Pranacitra tidak tahu siapa yang bakal kalah dalam pertarungan itu, karena kebetulan sudut matanya sempat melihat ada sesosok bayangan manusia sedang berkelebat diantara pepohonan dan langsung menuju ke salah satu sudut tebing batu karang yang sesekali terus mengeluarkan kabut busuk beracun. pemuda pincang inipun diam- diam turut bergerak mengikuti orang itu.


Dengan sesekali menghisap hawa sakti batu Nirmala Biru yang keluar dari dalam kantung kalungnya agar dapat menahan bau busuk beracun yang berasal dari balik tebing batu, Pranacitra terus bersaha menjaga jaraknya dengan orang di depannya. jika dilihat dari tubuhnya yang langsing dan bau harum tipis yang tercium sepertinya dia adalah seorang wanita yang mungkin masih cukup muda.


Dari gerakan yang cepat ringan dan tanpa suara, bisa di simpulkan kalau ilmu orang ini sangat tinggi. setelah berkelebat menelusuri dinding tebing yang menjulang tinggi dan hamparan rumput belukar kering membusuk, orang berjubah hitam dengan kedok kepala kain putih ini berhenti di depan puluhan tonjolan dan cerukan batu karang.


Tempat itu sangat sunyi dan seram, bahkan Pranacitra baru menyadari kalau dirinya sudah berada cukup jauh dari tempat awal dia datang, meskipun daerah itu juga masih berada di seputaran Tebing Kematian.


Pranacitra terkejut melihat orang berjubah hitam yang kemungkinan perempuan itu mendadak lenyap dari pandangan matanya.


Setelah berpikir sebentar pemuda ini keluar dari tempatnya mendekam, berjalan terseok menuju tonjolan bebatuan tinggi yang ada di depannya. setelah memeriksa cukup lama baru di sadarinya kalau diantara tonjolan dan cerukan batu karang tinggi di bawah tebing itu terdapat sebuah lubang sempit mirip mulut sebuah goa batu.!


Pranacitra kembali menyedot hawa sakti dari kantung batu Nirmala Biru yang disamarkan sebagai kalung. kali ini dia menghisap jauh lebih dalam hingga tiga kali lalu melakukan sesuatu sebelum mulai melangkah masuk melalui celah batu yang sempit dan gelap itu. si pincang ini mesti miringkan tubuhnya dan sedikit merunduk agar dapat bergerak masuk ke dalam karena selain sempit atap celah goa juga rendah. untungnya setelah puluhan langkah celah batu semakin melebar. hingga setelah melewati tiga buah kelokan dan dia sampai di sebuah ruangan goa batu yang cukup luas dan terang.


Pemuda ini terkesiap kaget melihat orang berjubah hitam yang diikutinya sudah berdiri beberapa langkah di depannya. sebatang obor batu di tangan kiri manusia berkedok putih menerangi ruang goa batu. dia makin terkejut saat orang ini bicara ''Hhmh bagus., akhirnya kau sampai juga. tidak percuma aku berusaha memancingmu kenari., sekarang cepat serahkan batu sakti Nirmala Biru yang ada padamu, setelah itu kau boleh pergi dengan selamat. tapi jika berani melawan, goa batu ini akan menjadi kuburanmu.!'' ancam orang itu bengis. di dengar dari suaranya orang ini pastilah seorang perempuan. Pranacitra seketika sadar kalau dia sudah terjebak.!