Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Nenek Iblis Berkaki Ganco.


Sesaat pemuda pincang yang memang Pranacitra itu seperti enggan untuk ikut campur. dalam hatinya masih tersisa rasa sebal pada sikap pimpinan 'Lima Elang Api' itu yang sombong. tapi saat melihat gadis cantik bernama Jingga Rani itu sudah semakin terancam nyawanya, dia menjadi tidak tega juga bersikap masa bodoh.


Meskipun masih dengan setengah hati tapi dia sudah bergerak kedepan. tongkat besi hitam kepala tengkorak turut menusuk cepat seiring kelebatan tubuhnya, sementara kepalan tangan kirinya turut menghantam. jurus 'Tongkat Maut Pemecah Rembulan' dipakainya untuk menahan sambaran dua ganco dikaki si nenek yang hendak mengoyak perut si gadis. disusul pukulan 'Naga Penghancur Rembulan' yang membuat nenek itu terpaksa melompat mundur sejauh mungkin.


'Whuuutt., Whuuuss.!'


'Plaaaang., Blaaamm!'


Nenek tua berjubah merah dan berkaki kanan buntung itu berteriak kaget sekaligus gusar. tendangan senjata kaki ganconya bukan saja tertahan bahkan tubuhnya sampai pula ikut berputar terhuyung. belum lagi dia bersiap sebuah gelombang ilmu pukulan sakti sudah datang melabraknya.


Serangkum hawa panas dan sekeras baja yang disertai sambaran cahaya kuning hitam berbentuk kepala naga menggebrak. meskipun belum pernah berhadapan langsung, namun nenek itu tahu kehebatan ilmu kesaktian yang sedang mengancamnya. sekali kaki kirinya menjejak tanah, tubuhnya yang tinggi kurus sudah berada tiga tombak kebelakang. ilmu pukulan lawan lewat menghantam sebuah pohon besar serta bongkahan batu yang berjajar hingga berderak tumbang hangus dan hancur berantakan.


Jingga Rani ikut terseret mundur tubuhnya beberapa langkah akibat bentrokan dari dua kekuatan itu. dengan nafas terengah dia menoleh kesatu arah. seketika dirinya merasa terkejut sekaligus senang melihat siapa orang yang telah muncul menolongnya. ''Ka., kau., ruu., rupanya kau yang datang menolong kami..'' ucapnya gugup terbata tanpa mampu menyembunyikan rasa senang dihatinya.


Tapi disisi lain dia berubah menjadi khawatir pada nasib pemuda ini, karena penyebab dia dan keempat sudaranya sampai bertarung sengit dengan nenek jahat yang sebelah kakinya di tancapi dua buah ganco besi merah itu justru disebabkan mereka berniat melindunginya dari si nenek yang sepertinya bermaksud mencari perkara dengan si pincang.


Baru sepenanak nasi waktu terlewati saat 'Lima Elang Api' meninggalkan pedataran berpasir yang berada dipuncak gunung Bromo, mereka mendadak dihadang oleh seorang nenek tua yang buntung sebelah kakinya dan disambung dengan dua buah ganco merah. meskipun tidak dapat mengenali siapa nenek itu tapi dari kemunculannya yang tanpa suara sedikitpun menandakan ilmu kesaktiannya sangatlah tinggi.


''Aku tahu kalau kalian berlima inilah yang disebut sebagai Lima Elang Api. diriku juga tahu kalau hari ini kalian mengadakan janji pertarungan dengan seorang pemuda pincang yang kabarnya sekarang menjadi yang terkuat diantara para pendekar angkatan muda dalam rimba persilatan..''


''Hek., hee., he., kalau melihat tampang kusut kalian berlima, aku bisa pastikan kalau kalian semua telah dipecundangi lawan. sekarang katakan padaku dimana pemuda yang punya julukan 'Setan Pincang Penyendiri' itu. jangan khawatir., hari ini aku akan berbuat kebaikan. begitu bertemu bocah pincang sialan itu, dendam kekalahan kalian akan aku balaskan. anggap saja., sekarang dia sudah terbujur kaku menjadi mayat.!'' ujar si nenek dengan tertawa mengekeh.


Apa yang terucap dari mulut nenek berkaki buntung sebelah itu membuat Lima Elang Api terperanjat. meskipun mereka masih merasa geram karena kalah bertarung dengan pemuda yang punya banyak gelaran seram itu, tapi dalam hati mereka juga terselip perasaan kagum dan hutang budi. apalagi ucapan nenek itu juga bernada mengejek, jelas kelima muda mudi itu menjadi terhina.


Bukannya menuruti tawaran nenek itu, Lima Elang Api malah mendengus gusar dan berlalu pergi meninggalkan tempat itu. meskipun tidak mengerti dengan yang sebenarnya terjadi tapi jelas si nenek tidak mau tinggal diam dan memaksa mereka agar mengatakan keberadaan si pincang.


Gadis cantik itu menjadi tidak enak hati karena Pranacitra bukan saja mengacuhkan dirinya. jangankan melihat atau membalas teguran, bahkan meliriknyapun juga tidak. kedua mata pemuda pucat ini yang cuma memandang dingin nenek tua berkaki buntung sebelah itu.


Meskipun kesal sapaannya tidak digubris si pincang, tapi anehnya dia tidak mampu mengumbar kemarahan. rasa cemas akan keselamatan pemuda itu malah sempat membuatnya terlupa akan kesedihan akibat kematian dan luka parah yang dialami empat saudaranya.


Sebaliknya nenek tua buntung kaki bermuka bengis itu juga memelototi si pincang dengan sorot mata penuh kegusaran. tapi perlahan tatapan matanya yang penuh kekejaman perlahan berubah menjadi sedikit ragu dan terkesiap. ''Bocah keparat., dari tongkat hitam jelek dan perawakanmu yang kurus pucat mirip orang mau mampus, kau ini pastilah yang disebut sebagai 'Gelandangan Hantu' atau si 'Setan Pincang Penyendiri.?''


Pranacitra sesaat masih menatap dingin nenek tua dihadapannya, lalu ujung tongkatnya menunjuk dua ganco besi merah yang tertancap dipergelangan kaki kanan si nenek. ''Kalau melihat dua ganco jelek karatan yang menancap dikaki kananmu yang buntung itu, pastilah dirimu adalah si 'Nenek Iblis Berkaki Ganco'. tidak disangka umurmu panjang juga nenek tua. kalau si 'Pengemis Tapak Darah' berada disini, dia pasti dengan senang hati mau membuntungi sebelah kakimu yang satunya lagi..''


Perempuan tua renta bermuka bengis itu seakan baru dilempari seonggok sampah busuk, hingga wajahnya yang sudah sedari awal seram semakin berubah mengerikan. dengan meraung buas. orang yang memang adalah salah satu momok paling menakutkan dari golongan hitam yang berjuluk si 'Nenek Iblis Berkaki Ganco' itu berkelebat ke depan dengan gerakan berputaran seperti gasing.


Jubah merahnya turut menggebut timbulkan pusaran angin panas yang melabrak di udara. sementara kaki ganconya lepaskan tiga buah tendangan beruntun. enam larik cahaya merah berbentuk ganco melengkung yang disertai kepulan asap panas kehitaman menyambar menggidikkan hati.


''Jurus 'Kaki Ganco Iblis Menabur Dendam.!'' seru Pranacitra dengan muka berubah hebat. tanpa buang waktu pemuda itu mencelat mundur berjumpalitan ke udara sambil lepaskan dua ilmu kesaktian sekaligus. 'Tapak Darah Meminta Sedekah' yang disusul dengan jurus 'Tongkat Kembar Cahaya Kegelapan.!'


Meskipun baru pertama kali ini bertemu, tapi dari cerita yang pernah didengarnya dari si 'Pengemis Tapak Darah' saat mereka masih bersama dalam goa rahasia di Lembah Seribu Racun, pada masa lalu salah satu guru yang paling keras dalam melatihnya itu pernah bertarung sangat sengit sampai hampir mati dengan seorang nenek tua yang kakinya buntung sebelah kanan.


Lima tahun sebelumnya nenek tua itu adalah seorang tokoh silat yang mengepalai tiga kelompok begal rampok yang ditakuti didaerah barat dan utara, sekaligus ketua dari sebuah gerombolan bajak laut 'Serigala Setan' yang biasa malang melintang di timur laut pesisir pulau besar tanah Banjar.


Dalam bentrokan pertama yang dikarenakan perebutan sebuah peta harta karun, Pengemis Tapak Darah berhasil membuat hancur kaki kanan lawan sekaligus juga menghancurkan kapal besar milik gerombolan bajak laut yang dipimpin si nenek hingga tenggelam di lautan.


Tidak disangka lima tahun kemudian si nenek yang disangkanya sudah mati tenggelam di lautan bersama gerombolan bajak lautnya itu muncul kembali. dengan berbekal ilmu baru dan dua senjata ganco yang menancap dikaki kanannya dia berniat untuk menuntut balas. sebelumnya nenek jahat itu sengaja membuat keonaran dengan melibas hancur empat perguruan silat dan membunuh belasan tokoh silat baik dari aliran putih maupun hitam. karena kekejamannya itulah dia diberikan sebutan 'Nenek Iblis Berkaki Ganco.!'


Akhirnya dua musuh lama itupun bertemu juga. dalam pertarungan maut yang memakan waktu lebih seharian itu si Pengemis Tapak Darah dibuat terluka bahkan nyaris tewas, meskipun dia juga mampu memaksa lawannya kabur dengan membawa luka yang sangat parah.