Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Muka dua.


Orang tinggi besar berbaju putih dengan sedikit brewok di dagunya itu mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat. tangannya yang kekar memutar sebuah tombak bermata golok kepala harimau yang baru saja membabat putus leher 'Nyai Dupa Tumbal'. dengan santai dia memasukkan kepala nenek itu ke dalam sebuah kantong hitam.


Kalau dilihat dari ciri dan tongkrongannya, hampir semua orang persilatan dapat mengira siapa lelaki tinggi besar setengah umur itu. dia bukan lain adalah si 'Pendekar Harimau Putih'. salah satu pesilat aliran lurus namun sebenarnya menjadi mata- mata dari partai terkuat golongan hitam 'Gapura Iblis'. adalah suatu keanehan jika sekarang orang ini malah menghabisi kawannya sendiri.


Pendekar Harimau Putih baru saja hendak berlalu dari sana saat telinganya yang tajam mendengar ada suara langkah kaki manusia datang mendekat. matanya melirik sekejap ke arah lereng gunung. dari sela pepohonan lebat muncul seorang pemuda berpakaian gelap dengan sebatang tongkat besi hitam ditangan kirinya.


Dengan langkah kaki yang terseok pincang dia berjalan mendekat lalu berhenti sepuluh langkah darinya. ''Apa tidak terlalu kasar caramu membunuh nenek itu. bagaimanapun juga dia masih satu perkumpulan denganmu. terus terang aku penasaran, apa alasanmu hingga memilih menghabisinya.?'' tanya si pemuda yang memang Pranacitra itu.


''Jangan sok berhati lembut. memangnya selama ini siapa orang persilatan yang tidak pernah mendengar caramu dalam membantai lawan- lawanmu. jika dibuat perbandingan perbuatanku ini masih sedikit berperasaan. paling tidak. dia langsung mati tanpa harus tersiksa..'' sangkal Pendekar Harimau Putih.


Pranacitra hanya diam mengangkat bahunya sambil geleng- geleng kepala. ''Aku merasa kalau orang atasan sedang menyelidiki sesuatu yang berkaitan dengan hilangnya para anggota partai Gapura Iblis. diriku mesti membuat persiapan. dengan sedikit tipuan kepala Nyai Dupa Tumbal dapat kujadikan tameng dan alasan untuk menghindari kecurigaan mereka..''


''Kalau boleh aku sarankan., sebaiknya mulai sekarang kau mesti lebih berhati- hati. akan lebih baik lagi jika sementara ini dirimu menghilang dari dunia persilatan. menurut perhitunganku kejadian hancurnya perguruan 'Pasir Selatan' berikut tambang emas berlian yang menjadi salah satu sumber dana bagi partai Gapura Iblis telah sampai di telinga para pimpinannya.!''


''Belum lagi empat orang korbanmu di gunung Ciremai ini adalah merupakan para pesilat andalan dari Gapura Iblis, terutama si 'Gadis Berwajah Tengkorak'. walaupun aku tidak sempat melihat langsung pertarungan kalian berdua karena selain datang agak terlambat juga harus menjaga jarak dengan mereka berlima, tapi kuyakin., perempuan itu bukan lawan yang enteng bagimu..'' ujar Pendekar Harimau Putih.


Mendengar nama Gadis Berwajah Tengkorak disebutkan membuat hati Pranacitra seperti teriris. seraut wajah cantik jelita dengan suara merdu sebening tetesan embun pagi yang mengundang perasaan sayang dan kasihan kembali terbayang di matanya. dia sendiri tidak tahu kenapa, tapi rasa penyesalan yang mendalam seketika timbul dalam jiwanya.


''Terima kasih atas peringatanmu. aku tidak akan sembarangan bertindak karena kusadar Gapura Iblis adalah kekuatan terbesar dari aliran hitam. tapi sebaliknya., kaupun juga mesti lebih berhati- hati. tidak gampang bertahan hidup dengan dua muka seperti yang kau lakukan sekarang. ada baiknya kalau kita tidak usah bertemu dulu untuk sementara waktu..'' ujar Pranacitra sebelum balikkan tubuhnya dan menghilang dari sana.


''Jika tidak ada masalah yang sangat penting jangan sekali- kali berusaha menemuiku. meskipun warung penginapan 'Lawang Wangi' milik 'Nyi Rondo Kuning' adalah tempat persembunyian yang aman tetapi aku tidak mau terlalu sering melibatkan mereka dalam pertikaianku dengan Gapura Iblis..''


Sayup masih terdengar ucapan Pranacitra dari kejauhan. Pendekar Harimau Putih cuma mengikuti langkah kaki si pincang dengan pandangan matanya. setelah yakin tidak ada seorangpun berada di sana, orang tinggi besar inipun juga berkelebat pergi tinggalkan tempat itu.


-------


Ruangan goa batu yang tadinya remang gelap itu seketika menjadi lebih terang saat seorang tua bungkuk berjubah hitam menyalakan api obor batu yang tertancap ditengah ruang goa. kini terlihat kalau ternyata ukuran goa batu pualam itu cukup luas dan tinggi. disalah satu sudut ruangan goa itu terdapat tiga undakan batu yang membuat lantainya bertambah tinggi.


Segulung angin mendadak berhembus keras dari salah satu sudut ruangan goa dibarengi dengan munculnya sesosok bayangan putih. tahu- tahu seorang tua renta berambut botak dengan pakaian putih rombeng dengan membawa sebuah buku catatan tebal yang terbuat dari lembaran kulit binatang sudah muncul di samping orang tua bungkuk.


Alis si jubah hitam sedikit mengernyit karena mendengar mulut orang tua disampingnya sudah meracau dan mencaci- maki penuh kegusaran. meskipun sudah mengetahui sifat orang tua yang bertubuh lebih kecil darinya itu tapi baru sekarang inilah orang bergelar si 'Dewa Kikir' itu mengomel seperti orang gila.


''Sobatku sesepuh Dewa Kikir., memangnya kejadian apa yang telah membuatmu sampai meradang seperti ini. sekalipun pendapatan dan modal Gapura Iblis dalam beberapa bulan terakhir kurang bagus, rasanya juga tidak perlu dirimu gila bukan.?'' tegur si bungkuk jubah hitam sedikit angkat kepalanya. kini terlihatlah kedua mata orang tua itu hanya tinggal rongga gelap atau buta.


''Hhuhm., bangsat anjing. setan keparat. sialan., kuharap semua bedebah yang diluar sana mampus.!'' geram orang tua botak yang dipanggil sebagai si Dewa Kikir dengan muka merah padam. ''Bagaimana diriku bisa tenang sobatku sesepuh 'Utusan Bungkuk Buta'. baru saja aku mendapatkan kabar kalau bukit tambang emas dan batu mulia yang dijaga oleh perguruan silat 'Pasir Selatan' sudah dihancurkan orang.!''


''Bukan itu saja, sepasang cecunguk yang menjadi ketuanya sekaligus kaki tangan kita berikut puluhan orang muridnya turut binasa. semuanya tewas tanpa ada yang tahu siapa pembunuhnya. yang paling menjengkelkan., seluruh harta hasil tambang dan upeti untuk Gapura Iblis turut pula lenyap. Jahanam edan.!'' maki Dewa Kikir sambil berteriak gusar.


Orang tua bungkuk yang dipanggil sebagai sesepuh Utusan Bungkuk Buta itu langsung berubah air mukanya. ''Kurang ajar., belum pernah ada pihak manapun yang berani mencari masalah dengan partai Gapura Iblis. aku akan segera mengirimkan orang untuk menyelidiki masalah ini..''


''Apakah semua orang- orang kita yang berada di luaran sudah berubah semakin lamban dan tidak berguna. tiga orang suruhanku yang bertugas untuk turut menghabisi si pemuda pincang pewaris lima tua bangka keparat yang terkurung dalam 'Lembah Seribu Racun' bersama belasan tokoh silat lainnya saat pertarungan besar di lereng utara gunung Merapi juga menemui kegagalan..'' rutuk Utusan Bungkuk Buta kesal.


Ganti sesepuh Dewa Kikir yang terkejut. ''Ini rada tidak masuk akal. biarpun bocah pincang itu dianggap sebagai yang terkuat dari para pesilat muda pendatang baru tapi tetap saja dia hanya seorang diri. Aah tunggu dulu., apakah tidak mungkin ada pihak lain yang secara diam- diam telah membantunya.?'' gumam orang tua botak itu ajukan pendapat.


Orang tua bungkuk bermata buta itu tertegun mendengar ucapan rekannya. dalam hati dia membatin, ''Semua yang dikatakan sesepuh Dewa Kikir cukup beralasan juga. tapi jika memang ada pihak lain yang terlibat masalah ini, lantas siapa yang sudah begitu bosan hidup hingga berani menentang kami.?''


Satu ingatan terlintas di kepala orang tua buta. ''Sobatku Dewa Kikir., jika diurutkan sejak awal, segala masalah yang dimulai dengan menghilangnya para pemegang bendera hitam perlindungan partai juga lenyapnya anggota kita hingga yang terbaru masalah pertambangan emas, mungkinkah jika semua ini berkaitan dengan si bajingan pincang itu.?''


Dewa Kikir menatap tajam orang tua buta disampingnya. meskipun dia mengakui kalau kemungkinan seperti itu bisa terjadi namun rasanya sangat sulit dipercaya. belum sempat sesepuh Dewa Kikir sekaligus salah satu petinggi partai Gapura Iblis itu menjawab pertanyaan rekannya dari balik kegelapan lantai didepan mereka yang lebih tinggi muncul sesosok bayangan putih.


Orang ini seolah muncul begitu saja ditempat itu dan berdiri membelakangi kedua sesepuh tua itu sambil memandangi lukisan lambang partai Gapura Iblis yang ada di dinding goa batu pualam. saat melihat kemunculan si jubah putih dua orang tua itu segera menjura sembari berucap. ''Salam hormat Yang Mulia Ketua.!''