Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Para pengungsi. (bag 1)


Saat itu adalah masa akhir dari kerajaan Majapahit. sebuah kerajaan besar di pulau Jawa besar yang wilayah kekuasaannya pernah sampai ke tanah semenanjung Melayu itu kini sudah diambang keruntuhan. perebutan kekuasaan yang terjadi diantara para pejabat juga keluarga keraton, ditambah dengan pemberontakan kerajaan lain yang ingin melepaskan diri dari wilayah Majapahit membuat suasana menjadi semakin kacau.


Jika para pembesar kerajaan yang mestinya bekerja untuk kesejahteraan rakyatnya sudah melupakan kewajiban dan lebih memilih berebut pengaruh kekuasaan, maka rakyat juga yang akan menjadi korbannya.


Pagi hari menjelang siang., serombongan penduduk desa terlihat tergesa- gesa keluar dari sebuah kampung yang berada di kaki gunung Welirang. banyak yang berjalan kaki tapi ada pula yang memakai gerobak pedati atau kuda keledai. jika di lihat dari keadaan mereka yang membawa perbekalan dan juga bermacam perabotan rumah, sepertinya para penduduk desa ini sedang bergegas untuk mengungsi meninggalkan desa mereka.


''Maaf Ki Lurah., kira- kira berapa lama kita semua akan pergi dari desa Panduren ini, dan apakah tempat yang akan kita tuju ini cukup aman untuk kita tinggali.?''


Orang yang di panggil sebagai Ki Lurah adalah seorang lelaki tua berumur lebih enam puluh tahun, berperawakan sedang dan berblangkon batik merah dengan janggut pendek yang sudah memutih. orang ini berjalan bersama dengan istri dan anak perempuan semata wayangnya. di bantu lima orang Jogo boyo desa termasuk orang yang bertanya tadi, kepala desa Panduren bernama Ki Lurah Tanuradi itu ikut sibuk mengatur para penduduk desa yang terlihat sedang dilanda kecemasan.


''Hhm., Aku juga tidak tahu Supala, semua kekacauan yang terjadi ini bukan kita saja yang mengalaminya, kau juga pastinya tahu sejak dua bulan belakangan sudah tiga desa yang menjadi korban keganasan gerombolan begal rampok 'Taring Brongot.!''


''Sudah berkali- kali kita mengirim utusan untuk meminta bantuan keamanan dari para prajurit kerajaan, tapi kita cuma disuruh menunggu saja tanpa ada kejelasan., sebenarnya apa pekerjaan para pembesar keraton itu hingga lupa pada rakyat yang sedang dilanda malapetaka..'' sungut Supala.


''Huh., aku juga sudah muak dengan para pejabar tengik di kota raja itu., asal kau tahu saja saat diriku dan kakang Raga Banyak menghadap para pejabat itu, tidak ada setetespun air minum yang disuguhkan pada kami. pada akhirnya pejabat sialan itu hanya menyuruh wakilnya untuk meminta kami pulang setelah memberikan janji- janji kosong. keparat., kuharap para pembesar tengik itu mampus semuanya.!'' rutuk orang yang berada di samping kiri Supala dan berambut paling gondrong, namanya Kuda Rampe.


''Sudahlah jangan mengeluh terus., apa yang kita alami juga sama dengan para utusan dari semua desa. saat ini kita tidak bisa mengharapkan bantuan dari Majapahit. kurasa masa kehancuran kerajaan itu sudah sangat dekat..'' ujar Ki Lurah Tanuradi sambil menoleh kearah putrinya yang berjalan memisahkan diri dari rombongan. istrinya sempat menegurnya tapi gadis lima belas tahunan yang cantik ini cuma tersenyum lambaikan tangannya. ''Aku cuma sebentar saja Ibu..'' serunya sambil berlari kecil ke arah seorang gelandangan yang berjalan terseok berlawanan arah sambil membawa sebatang tongkat kayu.


''Maaf., ini ada sedikit makanan untukmu..'' ucap gadis cantik bernama Sulindri itu sambil memberikan sebungkus makanan dari tumbukan ketela pohon yang dikukus. gelandangan itu agak tercengang. meskipun wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutupi caping pandan yang sudah butut, tapi Salindri tahu jika gelandangan itu sedang tersenyum senang. sebentar saja gadis anak kepala desa Panduren itu sudah kembali berada di atas gerobak pedati bersama Ibu dan kerabatnya. sekejab saja rombongan itu sudah semakin jauh meninggalkan desa.


''Meskipun aku senang dengan sifat putriku yang luhur budi, tapi aku juga rada khawatir kebaikannya akan dimanfaatkan orang lain yang punya niatan jahat..'' gumam Ki Lurah.


''Kalau ada yang berani berbuat seperti itu aku adalah orang pertama yang bakal menghadapinya.!'' tegas Supala dengan busungkan dadanya yang kekar. Ki Lurah Tanuradi cuma tersenyum gelengkan kepala. ''Anak muda memang berdarah panas..'' batin orang tua itu.


Saat tiba tengah hari rombongan penduduk desa Penduren itu berhenti untuk sekedar beristirahat. ''Perjalanan kita masih seharian, kita istirahat sebentar., kalau perkiraanku besok pagi kita sudah sampai di wilayah kadipaten Muntilan. mudah- mudahan kita semua aman sampai tiba.di sana..'' seru Ki Lurah Tanuradi sambil meneguk air kendi.


''Ki Lurah benar., saat ini kadipaten Muntilan adalah daerah yang paling aman. bahkan lebih tenang di bandingkan Wonokerto atau kadipaten lainnya di wilayah Majapahit. untungnya Gusti Adipati Pronoasih seorang pemimpin yang bijaksana hingga mau menerima pengungsi di wilayah kadipaten Muntilan..'' ujar seorang lelaki kekar setengah umur berbaju putih celana hitam dan membekal dua buah golok di pinggangnya. namanya Ki Raga Banyak pimpinan para Jogo boyo keamanan desa Panduren.


''Kau benar kakang., andai saja semua pembesar keraton memperhatkan nasib rakyat seperti beliau, tentunya negeri ini akan lebih aman sejahtera..'' sambung seorang gemuk yang berada di belakangnya. tanpa banyak omong dia mencomot dua potong jagung rebus, sekaligus melahapnya dengan rakus. namanya Kempal, salah satu jogoboyo yang paling doyan makan. seorang lagi anggota jogoboyo yang tubuhnya paling pendek bernama Tungilan langsung ngomel karena tidak kebagian jagung rebus. masih untung ada dua buah salak untuk dia nikmati. ''Bhueh., salak ini rasanya sepat, asem.!'' sungutnya meludah.


Ki Lurah, para jogoboyo dan penduduk desa hanya tertawa geli melihat kelakuan Kempal dan Tungilan. tapi tawa mereka seketika sirap saat terdengar suara gelak tawa lain yang keras menimpali.


Hampir bersamaan mereka menoleh ke asal suara. dari balik pepohonan dan belukar lebat di tepi jalan itu muncul puluhan orang bermuka bengis yang membekal senjata tajam. mereka muncul dari kiri kanan jalanan hingga membuat rombongan penduduk desa itu terkepung. meskipun ketegangan mulai naik tapi para jogo boyo dan para penduduk desa Panduren tetap berusaha tenang.


''Jadi benar kabar yang kami dapatkan, para penduduk desa Panduren berniat mengungsi ke wilayah Muntilan. boleh saja kalian pergi ke sana tapi serahkan dulu seluruh harta juga para gadisnya kepada kami.!'' bentak seorang lelaki tinggi kurus berjubah biru tua. tangan kanannya memutar- mutar sebatang golok panjang berwarna kebiruan. di akhir ucapannya golok panjang itu di acungkan lurus ke muka Ki Raga Banyak, itu pertanda ancaman sekaligus tantangan.


''Dari perangai dan penampilanmu yang membuatku mual., kau ini pastilah orang yang bernama Kedung Rambak. wakil ketua gerombolan begal rampok 'Taring Brongot.!'' geram Ki Raga Banyak maju ke depan. dia memberi isyarat agar para penduduk juga bersiap. anak- anak, wanita dan orang tua di kumpulkan di tengah. gerobak pedati juga kereta kuda dijadikan tempat perlindungan. sementara para lelaki langsung mencabut senjatanya masing- masing.