Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Hadir di pemakaman. (bag2)


Lelaki tinggi gagah berjubah putih yang punya paras tampan namun angkuh dan menyimpan hawa kekejaman itu mengalihkan pandangan matanya yang dingin ke gundukan tanah yang ada di depan matanya. dengan sunggingkan seringai mengejek kakinya melangkah santai mengelilingi gundukan makam baru itu sambil menggumamkan sesuatu yang tidak terdengar jelas.


'Sepasang Kutu dan Benalu' hanya diam saja seakan tidak perduli. meskipun begitu kedua tangan mereka yang terlipat di belakang punggung perlahan nampak terkepal. ''Dulu si 'Nenek Iblis Berkaki Ganco' pernah berkata padaku kalau pemuda pincang yang menjadi lawannya punya kemiripan dengan diriku..''


''Aku jadi penasaran seperti apa raut wajah pemuda yang menjadi murid lima tua bangka yang sudah modar di 'Lembah Seribu Racun' itu. sayang sekali dia sudah terpendam di dalam tanah. kalau menurut silsilah keluarga jika benar dia punya pertalian darah dengan salah satu dari tiga kembaranku yang sudah mati, maka bisa dibilang kalau anak ini masih terhitung keponakanku..''


''Aaish., paman jahat macam apa diriku ini sampai begitu teganya menginginkan nyawa keponakannya sendiri. padahal dimasa lalu aku juga telah sampai hati menghabisi riwayat ketiga saudara kembarku sendiri.!'' jerit lelaki itu mendongak ke langit sambil rentangkan kedua tangannya. dengan mata terpejam dan bibir gemetaran dia seakan dilanda suatu penyesalan besar.


Namun wajah penuh kesedihan itu perlahan kembali menjadi bengis bahkan terlihat jauh lebih beringas. sinar mata licik bercampur keji semakin terpancar dari sana. angin siang hari yang panas terik mendadak berubah dingin membekukan tulang. gelak tawa keras tersembur dari mulutnya. si Kutu dan Benalu menjadi terkesiap melihat kekejian orang ini. kelakuannya lebih mirip seorang 'Psikopat' gila yang haus akan darah.


''Haa., ha., keponakan, paman dan saudara sedarah. apalah arti semua omong kosong itu. karena bagiku di dunia ini selain kekuatan dan kekuasaan, yang lainnya sama sekali tidak berguna. semuanya tidak lebih dari onggokan sampah.!'' teriak lelaki yang bukan lain adalah ketua dari partai 'Gapura Iblis' sambil tertawa bergelak.


Setelah puas mengumbar tawa iblisnya yang menggoncangkan seantero hutan, mata sang ketua partai Gapura Iblis beralih pada tongkat besi hitam kepala tengkorak yang tertancap di tanah depan si Kutu Bangkotan. ''Tongkat itu pastinya senjata ponakan pincangku yang diwarisi dari 'Nenek Tabib Bertongkat Maut..'' ucapnya seakan tertarik.


''Ketua memang bermata tajam. tongkat inilah yang telah banyak membunuh para jago dunia persilatan termasuk juga anggota Gapura Iblis. meskipun bocah pincang itu adalah musuh tapi kami menghormatinya karena dia termasuk segelintir orang yang sanggup membuat kami berdua agak terkejut dengan kemampuannya..'' terang si Kutu Bangkotan.


''Sebagai penghormatan padanya aku berniat untuk menyimpan tongkat besi ini. apalagi sejujurnya., kami sempat merasa sayang saat tahu orang yang mesti kami habisi nyawanya adalah pemuda itu. andaikan tidak ada silang sengketa dengan partai Gapura Iblis, bisa jadi kami akan memberinya beberapa petunjuk barang satu atau dua jurus ilmu silat karena kulihat dia punya bakat yang langka..'' timpal si Benalu Tua dengan menghela nafas sedih.


Sepasang mata ketua Gapura Iblis sekilas menyiratkan cahaya tajam menggidikkan hati. hawa nafsu membunuh ikut terpancar dari dalam dirinya. kedua orang tua bertubuh aneh itu bukannya tidak menyadari gelagat namun mereka tetap tenang dan bersikap seolah tidak terjadi apapun.


''Kau bilang bocah itu punya bakat bagus. emangnya apalah gunanya jika dia memang ditakdirkan untuk mampus.!'' geram ketua Gapura Iblis. dia jelas merasa kurang senang dengan ucapan si Benalu Tua. kedua kakek nenek itu tidak mau berlama- lama dengan ketuanya. ''Tugas yang diperintahkan sudah kami laksanakan. sekarang juga aku si Kutu Bangkotan dan Benalu Tua mohon diri..'' dengan sedikit menjura keduanya balikkan tubuh hendak beranjak pergi.


Hal ini agak diluar dugaan sang ketua Gapura Iblis. meskipun dalam hatinya merasa gusar tapi di luarnya terlihat tenang. sebaliknya dari empat penjuru tiba- tiba melesat empat sosok bayangan hitam yang langsung melontarkan pukulan sakti berhawa panas dan sambaran cahaya merah lebar mirip sebilah golok.


Empat cahaya tajam itu berkelebat membelah agak miring dan bersilangan. belum sampai pada sasaran kekuatannya sudah mampu memecah bebatuan besar yang dilewatinya. ''Kalian dua tua bangka sudah berani bersikap tidak hormat pada yang mulia ketua partai Gapura Iblis. sungguh pantas untuk mati.!'' terdengar suara cacian mengiringi datangnya ancaman maut.


Empat kilauan cahaya merah lebar dan panas menyerupai golok bergerak menebas si Kutu dan Benalu. hanya setengah tombak lagi ilmu kesaktian itu memakan korbannya, mendadak kedua tubuh tua yang bertolak belakang ini lenyap dari sana. ledakan keras disertai terbongkarnya tanah di bekas pijakan si Kutu Benalu. debu pekat disertai semburan angin panas bergulungan menutupi pandangan. sebagian turut menghempas ke arah sang ketua Gapura Iblis.!


Orang ini sama sekali tidak bergerak. tanpa perlu berbuat apapun dari dalam dirinya seakan terpancar kekuatan dahsyat yang mampu menggebut balik hempasan angin panas hingga buyar tanpa sisa. empat sosok bayangan hitam yang baru datang menyerang sama menyumpah serapah. belum sempat bersiap, dari belakang tubuh mereka terasa sangat dingin sekaligus perih.


Tidak ada waktu untuk berbalik ataupun menghindar. bahkan mereka hanya sempat mengeluarkan suara keluhan tertahan sebelum tersungkur ambruk ke tanah. wajah keempat sosok berjubah hitam itu tertutup kain hitam di bagian atas hingga menyisakan dua lubang mata dan bagian mulut saja yang terbuka. meskipun terlihat aneh, namun dari bibir mereka seakan menyunggingkan suatu senyuman.


Ketua Gapura Iblis melirik mayat empat pengawalnya yang sudah tewas. belakang jubah hitam mereka sama terkoyak. di bagian punggung masing- masing terlihat berlubang kecil sebesar biji buah salak. gumpalan darah yang keluar nampak keras membeku dan keluar asap kemerahan berhawa dingin.


''Ilmu 'Darah Beku Dalam Senyuman' yang di kuasai oleh kedua tua bangka ini semakin mengerikan demikian juga ajian 'Bayangan Sukma Beralih' milik mereka juga bertambah hebat hingga sulit untuk dijajaki..'' batin ketua partai Gapura Iblis. walaupun merasa cukup terkesima dan gusar tapi di luarnya lelaki ini tetap tenang.


''Dari mana datangnya empat ekor lalat tolol ini. apakah ketua mengenal mereka.?'' tanpa berpaling si Kutu ajukan pertanyaan sekalian menyindir lelaki berjubah putih itu. ''Mereka semuanya adalah pengawalku yang menjaga keselamatan diriku secara rahasia..'' dengan santainya ketua Gapura Iblis berterus terang.


''Oohh., jadi kami telah melakukan kesalahan karena membunuh orangmu.?'' si Benalu Tua menyindir. ''Huhm., kalian berdua tidak perlu memikirkannya. kurasa mereka memang layak mati karena dengan ilmu yang hanya seujung kuku tapi sudah berani lancang menyerang dua orang sesepuh partai Gapura Iblis.!'' potong sang ketua mendengus.


Rupanya Kutu Bangkotan dan pasangannya si Benalu Tua adalah dua dari empat orang sesepuh partai Gapura Iblis selain sesepuh 'Bungkuk Mata Buta' serta sesepuh 'Dewa Kikir'. bedanya kedua kakek nenek bertubuh aneh itu lebih memilih menyepi dan tidak mau terlibat dalam urusan partai kecuali ada tugas berat yang sulit di selesaikan oleh anggota lainnya.


Ketiga orang itu sesaat hanya berdiam diri. meskipun jelas hubungan mereka adalah seorang atasan dan dua orang bawahannya tetapi seakan ada jarak diantara sang ketua dan Sepasang Kutu Benalu. ''Terima kasih atas pengertian ketua partai. kalau tidak ada masalah lain kami berdua mohon pamit untuk kembali ke pengasingan..''


''Tunggu sebentar dua sesepuh partai., aku ingin kalian mengatakan dimana letak 'Goa Keramat Cendawan Iblis'. bagaimanapun juga tempat itu adalah milik partai. jadi harap kalian berdua mengatakannya kepadaku sebagai pimpinan sekaligus pewaris tunggal partai Gapura Iblis.!'' potong sang ketua penuh nada tekanan yang mengancam.


Pasangan Kutu dan Benalu sekejap saling melirik. tanpa membalikkan badan mereka ganti menggertak. ''Meskipun kau sebagai ketua serta pewaris partai memang sebuah kenyataan tapi keberadaan 'Goa Keramat Cendawan Iblis' tidak boleh diketahui oleh siapapun.!''


Orang tua yang menolong kami dimasa lalu juga pernah berpesan kalau goa tempat kami berlatih dulu adalah miliknya sendiri, karena dia mendapatkannya langsung dari pendiri partai Gapura Iblis setelah ikut terlibat dalam perang besar- besaran antara partai kita melawan gabungan ratusan perguruan silat pada lebih seratus tahun lalu..'' tegas si Kutu Bangkotan.


''Lagi pula ketua., biarpun kami berdua pernah bersumpah pada orang tua itu untuk setia dan mengabdi pada partai Gapura Iblis tapi dia juga mengatakan bahwa kami boleh keluar dari partai jika ada pihak dalam partai ini yang berani mengancam atau menghina kami berdua. seingatku kau sudah pernah memintanya dan kami juga telah mengatakan jawaban yang sama kalau goa itu., bukanlah milikmu.!'' si Benalu Tua turut menimpali ucapan rekannya.


Perlahan keduanya membalikkan tubuhnya hingga berhadapan langsung dengan sang ketua partai Gapura Iblis. jarak antara mereka terpaut sepuluh langkah. tiga pasang mata saling bentrok pandangan penuh dengan hawa membunuh. gelombang arus tenaga kesaktian yang tersembur dari raga ketiga orang ini bertemu saling beradu kekuatan. tanah retak dan rengkah terbelah. bebatuan naik bergetaran di udara sebelum meledak terpecah menjadi kepingan- kepingan tajam yang menghantam delapan penjuru arah.


Hanya dengan pengerahan ilmu kesaktian tanpa harus bergerak dari tempatnya berdiri, namun tiga orang ini sudah sanggup membuat daerah seputaran mereka hancur berantakan. sungguh suatu bentrok kekuatan sakti yang sangat mengerikan dan hanya dapat dilakukan oleh para tokoh persilatan berilmu teramat tinggi.


''Haa., ha., dua sesepuh partai 'Sepasang Kutu dan Benalu' memang luar biasa. meskipun sudah sangat lama kalian berdua menyepi tapi kesaktiannya justru semakin luar biasa. aku sebagai ketua partai Gapura Iblis sangat bangga serta hormat dengan kalian. jadi., kuharap semua yang baru saja terjadi tidak sampai menjadi ganjalan hati bagi kedua sesepuh. aku yang muda ini setulusnya memohon maaf pada kedua sesepuh..'' ujar lelaki jubah putih itu sambil membungkuk dengan sikap sangat menghormat.


Sekilas seringai mencibir tersungging di bibir peot si Kutu dan Benalu. sementara di luarnya mereka malah balik menjura hormat lebih dalam. ''Harap ketua partai tidak melakukan sikap merendah begini, kami berdualah yang seharusnya memohon ampunan karena telah berbuat kurang sopan pada yang mulia ketua partai Gapura Iblis..''


''Benar ketua partai., seharusnya kami pantas untuk menerima hukuman. meskipun kita berdua tidak bisa memenuhi permintaanmu dan tetap memilih untuk terus mengasingkan diri, tapi kapanpun juga partai Gapura Iblis membutuhkannya kami siap melaksanakan tugas seberat apapun.!'' ucap si Kutu Benalu.


''Hehm., anggap saja masalah tadi tidak pernah terjadi. kurasa baik juga 'Goa Keramat Cendawan Iblis' berada dalam perlindungan kalian berdua. dengan akupun merasa tenang karena yakin tidak ada siapapun yang berani mengusiknya..'' Sepasang Kutu dan Benalu kembali menjura hormat.


''Kami dua orang tua berterima kasih atas pengertian dan kepercayaan ketua. siapapun yang berani mencari tahu tentang goa itu., kami akan memberikannya kematian yang sangat mengerikan pada mereka.!'' sumbar si Kutu Bangkotan. sengaja atau tidak mata tuanya menatap tajam ketuanya. ''Jika tidak ada perintah lainnya, kami berdua mohon diri ketua..'' sambung si Benalu Tua. setelah sekali lagi menghormat ketuanya, tanpa bicara apapun mereka balikkan tubuh lantas lenyap dari tempatnya berdiri.


Tanpa terasa tengah hari sudah terlewati. kini waktu senja menjelang tiba. cakrawala sore terlihat cerah. semilir angin yang berhembus merontokkan daun- daun terasa lebih sejuk. tetapi semua itu masih tidak dapat meredam api kemarahan di hati ketua Gapura Iblis. ''Kurang ajar., kedua sesepuh tua keparat itu masih saja keras kepala tidak mau memberi tahukan dimana tempat rahasia 'Goa Keramat Cendawan Iblis' kepadaku. dasar bangsat sialan., tua bangka jahanam.!'' rutuk ketua Gapura Iblis beringas. sepasang matanya terlihat memerah seolah kobaran bara api.


''Sayangnya aku masih membutuhkan tenaga mereka berdua demi tercapainya rencana besar Gapura Iblis untuk menguasai seluruh dunia persilatan dan semua wilayah kerajaan yang berdiri di delapan penjuru angin. Huhm., kurasa sedikit bersabar juga tidak masalah. apalagi., pemuda pincang itu juga sudah mampus terkubur..''


Lelaki itu menatap sinis gundukan tanah di sampingnya. ''Aash., mengapa takdir begitu kejam keponakanku sayang., karena dengan kematianmu yang mengenaskan membuat pamanmu ini jadi benar- benar sebatang kara. Ooh., sungguh malang nasibku yang tanpa saudara ini. Haa., ha.!'' gelak tawa keras ini terasa sangat aneh dengan ucapannya yang menyedihkan jiwa. gema tawa gila itu masih terdengar biarpun orangnya telah cukup lama menghilang dari tempatnya.


*****


Asalamualaikum wrb., Salam sehat sejahtera selalu buat kita semua. silahkan Anda tuliskan komentar, kritik saran, like👍, vote👌, atau Favorit jika suka. jika berkenan tolong Share novel ini ke teman" reader yang lainnya yah😊. Terima kasih., Wasalamualaikum🙏.