Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Kuburan Bersalju.


Selama berkecimpung di dalam dunia gelap rimba persilatan, baik Nyi Sugih Medit juga pasangannya Ki Ageng Kebacut Ngirit sudah seringkali menghadapi ancaman maut dari para pendekar berilmu tinggi yang sengaja ingin menghentikan sepak terjang mereka sebagai kaum pedagang licik yang hanya menginginkan keuntungan saja tanpa perduli dengan memakai cara apapun.


Meskipun demikian, hingga saat ini mereka bukan saja mampu bertahan hidup bahkan pengaruh dari 'Perserikatan Permata Hitam' yang mereka pimpin bertambah semakin luas dan kuat. malahan sempat terdengar ada beberapa perkumpulan pedagang yang pada awalnya berani bersaing dengan mereka mendadak saja tunduk tunduk tanpa syarat.


Tetapi justru baru kali inilah mereka bertemu dengan lawan yang tidak saja berilmu sangat tinggi namun juga begitu kejam dalam membunuh lawannya. hanya dalam waktu dua atau tiga gebrakan saja, dari dua puluh orang anak buahnya yang merupakan anggota dari partai 'Gapura Iblis' sekarang ini tinggal delapan orang saja.!


Pemuda aneh yang sempat membuat pikiran dari 'Sepasang Pedagang Pencabut Sukma' teringat pada salah satu momok menakutkan di rimba persilatan beberapa tahun silam itu seakan begitu menikmati setiap jeritan ngeri dan semburan darah dari tubuh anak buahnya yang terjungkal roboh meregang nyawa.


Saat hujan tikaman pedang anak buahnya dan senjata sempoa baja juga penggaris besi ditangan keduanya berebut untuk merajam tubuh lawan, pemuda ini bukannya berusaha untuk menghindar tapi malah maju dengan penuh nafsu membunuh. padahal dua orang pimpinan Permata Hitam itu juga lontarkan ilmu kesaktian 'Jari Pencabut Sukma' serta 'Tangan Pencabut Suma' untuk menamatkan nyawa si pemuda.


Sambaran cahaya- cahaya hitam dan kilatan hawa pedang yang menyambar ganas membuat ranting pohon berikut dedaunannya jatuh berguguran. pusaran angin panas melibas kelembapan permukaan tanah basah hingga menjadi kering seperti gurun. tanpa dapat ditahan lagi bentrokan ilmu kesaktian terjadi. dentingan senjata tajam yang beradu keras seakan memecahkan gendang telinga.


Entah suara siapa yang sedang menyumpah- serapah, meraung kesakitan juga berteriak ketakutan saat menjemput ajalnya. tidak seorangpun yang dapat mengetahui karena debu panas dan goncangan akibat beradunya ilmu kedigdayaan menutupi segalanya. tidak diketahui pula darah siapa yang tersembur di udara atau potongan tulang daging pesilat mana yang berserakan diatas tanah.


Bau anyir bercampur aroma daging hangus membuat suasana sekitar menjadi sangat menyeramkan hati. diantara pusaran debu panas yang mulai mereda, samar terlihat beberapa orang berdiri dengan sikap kaku. seiring dengan hilangnya hawa panas yang menutupi pandangan dua sosok tubuh diantaranya turut tumbang menyusul belasan orang kawannya yang lebih dulu tewas.


Kini tinggal enam sosok tubuh yang bertahan di sana. diantaranya hanya tiga orang saja yang masih mampu berdiri tegak. tiga lainnya berdiri sempoyongan bahkan ada juga yang harus berlutut tersangga pedangnya sambil mengerang kesakitan. pada akhirnya anak buah Gapura Iblis inipun juga tidak sanggup bertahan. setelah sempat semburkan darah dari mulutnya diapun roboh tersungkur.


Hanya lima orang saja yang bertahan hidup. pandangan mata empat orang itu sama melihat ke satu arah. sosok yang berdiri ditengah masih tundukkan kepalanya. sikapnya tidak berubah meskipun semua lawannya memandang dirinya dengan perasaan penuh ngeri seolah dia adalah Iblis buas yang baru keluar dari lubang neraka. tetap diam dan dingin tanpa tersirat suatu perasaan apapun.


''Sii., sia., siapa kau see., sebb., sebenar., nya.?'' dengan susah payah dan lebih dulu terbatuk darah Nyi Sugih Medit dapat juga membuka mulutnya untuk bertanya. ''Aa., apa kau tii., tidak tahu., kaa., kalau perbu., buatan., mu ini sama saa., saja mee., menen., tang., par., tai., gaa., gap., Gapura Iblis.?'' gertak Ki Ageng Kebacut Ngirit sembari pegangi dadanya yang terluka.


Walaupun dia dan pasangannya sanggup menahan jurus kesaktian yang dilepaskan lawan, tapi itu juga disebabkan mereka berdua secara licik tega menjadikan tubuh para anak buahnya sebagai perisai pelindung dari pukulan sakti pemuda itu hingga nyawa mereka masih selamat meskipun terluka cukup parah.


Sebagai jawabannya kedua orang saudagar licik itu hanya mendengarkan suara siulan lagu yang berirama menyayat perasaan. angin panas perlahan berubah menjadi sejuk dan semakin dingin. daun- daun berguguran bersamaan dengan munculnya gulungan kabut putih yang entah muncul dari mana. tubuh empat orang inipun menggigil saat melihat tatapan mata si pemuda yang aneh, kosong namun menyeramkan seolah sorot mata orang mati.


''Kaa., kau., kau., tii., tidak., mung., mung., kin., iit., itu kau.!" teriak Ki Ageng Kebacut Ngirit pucat pias. "Aaahh., bang., sat itu suu., sudah., mmaa., mampus. dii., dia tidak mungkin aad., ada di sini. bee bede., bedebah ini pas., tilah cuma sam., samaran see., seseor., rang yang., iing., ingin ter., kenal. kep., keparat itu sudah lama mati. diaa., dia sudah mati.!" jerit Nyi Sugih Medit seperti sedang kesurupan.


Ingin keduanya mundur sejauh mungkin atau berlari secepat yang mereka mampu tetapi anehnya kedua pasang kakinya seakan tidak sanggup bergerak. bukan hanya kaku tapi juga mulai mati rasa. saat mereka melihat kebawah, kedua kaki itu entah sejak kapan telah di selimuti butiran- butiran putih halus yang teramat dingin.!


Awalnya dari telapak kaki lantas perlahan naik ke lutut dan terus merambat naik hingga mencapai paha, pinggang, perut, dada, leher sampai ke wajah juga ujung rambut. meski tubuh Sepasang Pedagang Pencabut Sukma ini sudah kaku di luaran namun pada bagian dalamnya masih dapat merasakan apa yang terjadi. keduanya belum mati biarpun nyawa mereka hanya tinggal seujung jari.


Dua pasang mata yang mulai lamur itu masih sempat melihat pemuda yang berdiri lima langkah dari mereka menghentakkan tongkat besi hitamnya ke tanah. lembaran kain hitam yang membungkus gagang tongkat entah sejak kapan telah terbuka. jelas terlihat ada sebentuk tengkorak terbuat dari perak terukir disana. mata tengkorak yang bersinar merah darah seakan menandakan kematian bagi orang yang pernah melihatnya.


Saat tongkat besi hitam menghentak keras ke bawah. tanah dari ujung tongkat turut retak dan terbelah panjang hingga mencapai tempat kedua kaki lawannya berpijak. beribu- ribu butiran putih merambah kesekelilingnya membuat hawa udara dingin membeku. dua sosok tubuh kaku terkapar tumbang. secara aneh tanah dibawahnya rengkah dan terbelah membentuk lubang besar.


Nyi Sugih Medit dan Ki Ageng Kebacut Ngirit hanya bisa sekali saja berkedip mata karena tubuh mereka yang jatuh terperosok kedalam lubang juga telah tertimbun. tanah, pasir juga batuan kerikil yang menutup raganya terasa begitu dingin dan putih. cuma itulah perasaan terakhir yang mereka alami sebelum mati.


Pemuda itu menyeringai dingin. perlahan kakinya mulai berjalan. pertama kaki sebelah kanan maju selangkah lalu yang kiri terseret mengikutinya. cara berjalannya bukan saja sangat aneh, menggelikan, tapi juga membuat iba hati. terus berulang seperti itu seakan tidak pernah berubah sejak awal dia turun mengembara di dunia persilatan.


Sebuah gundukan tanah berselimut butiran putih yang sangat dingin. dibawah tanah itu terbujur mayat Sepasang Pedagang Pencabut Sukma. hati Pranacitra juga sudah lama menjadi dingin. sambil menghela nafas dia mendongak ke atas langit. untuk pertama kalinya si pincang dari gunung Bisma itu mengeluarkan ilmu kesaktian kedua warisan si 'Setan Kuburan' yang bernama 'Kuburan Bersalju.!'


Bicara tentang ilmu kesaktian ini, sebenarnya kekuatannya masih berada dibawah pukulan sakti 'Nisan Kuburan Membeku'. tapi justru cara melatih ilmu 'Kuburan Bersalju' setingkat lebih sulit dibandingkan ajian andalan Setan Kuburan itu. dikarenakan keterbatasan waktu maka gurunya yang paling menyeramkan ini hanya memberinya inti pelajarannya saja dan lebih menuntut Pranacitra untuk menguasai lebih dulu ilmu pukulan Nisan Kuburan Membeku.


"Akhirnya aku mampu juga menguasai ilmu kesaktian kedua yang sepertinya enggan kau ajarkan padaku. Eehm., kurasa hasilnya cukup indah dipandang mata.." gumam Pranacitra. perlahan pandangan matanya beralih ke gundukan 'Kuburan Bersalju' yang berada di depannya. dia menyeringai seperti seorang seniman gila yang sedang mengagumi hasil karyanya sendiri.


.....................


Authornya lagi sakit🤧😷. Silahkan tuliskan komentar Anda☺🙏. Terima kasih👌😊.