Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Seekor anjing mati.


Air hujan masih terus tercurah dari langit meskipun kini sudah mulai mereda. jalanan tanah di kadipaten Sumedang itu tergenang dan becek. bangunan rumah penginapan mewah yang ada di sana telah hancur roboh dengan bekas terbakar. dari sela reruntuhan bangunan dapat terlihat beberapa sosok mayat yang tertindih.


Walaupun hampir semua orang yang berada disekitar tempat itu ingin mengetahui lebih jauh dengan keadaan disana tapi tidak ada yang berani mendekat. bahkan satu sesosok mayat pemuda dengan kepala pecah serta tubuh terkoyak gosong dan terkapar ditengah jalan itu juga tidak ada seorangpun yang berniat untuk menyingkirkannya dari jalanan. semua hanya berani melihat dari kejauhan


Sampai hujan benar- benar berhenti barulah beberapa orang mulai berani keluar dari tempatnya masing- masing. tapi saat hendak mendekat mendadak berkelebat muncul beberapa sosok bayangan hitam. setelah melihat sekelilingnya dengan pandangan mengancam, satu orang diantara mereka cepat memerintahkan lima orang untuk bergerak membongkar reruntuhan bangunan. sementara dia dan lima orang lainnya tetap berdiri di depan penginapan yang ambruk.


Meskipun kepala dan wajah mereka tidak terlihat karena tertutup kain hitam tapi jelas sorot mata orang- orang ini memancarkan cahaya amarah dan kekejaman. si pemimpin yang bertubuh tinggi besar dan memakai jubah mantel hitam hentakkan kaki kanannya ke tanah basah hingga bergetar keras saat seorang anak buahnya menunjuk ke arah mayat yang terkapar di tengah jalan.


''Bangsat dari mana yang berani membunuh tuan muda Gandara.!'' teriaknya gusar. ''Kalian berdua cepat cari tahu apa yang telah terjadi. tanyakan pada semua orang disini. jika ada yang mencurigakan atau menentang, bunuh saja ditempatnya.!'' perintah si pemimpin. jika tiga orang bawahannya segera berkelebat mencari berita, dua orang sisanya dengan cekatan mengurusi mayat pemuda bernama Gandara itu.


Tidak berapa lama kemudian terdengar jeritan dan keluhan kesakitan dari beberapa tempat yang bercampur suara ancaman bengis. tiga orang itu kembali lagi dengan membawa seorang lelaki setengah umur berbaju gelap yang wajahnya sangat kotor dan agak babak belur. jika dilihat dari penampilannya orang ini pastilah seorang pengemis.


''Lapor pimpinan., kami sudah memeriksa banyak orang tapi tidak ada yang benar- benar mengetahui apa yang telah terjadi. lelaki gembel ini mengatakan kalau dia mengetahui sesuatu tapi minta imbalan. dengan memberi sedikit pelajaran kami membuat gembel tolol ini membuka mulutnya..'' ucap salah satu dari ketiga bawahan si mantel hitam seraya menghormat.


''Heii., cepat katakan semua yang kau tahu pada pimpinan kami.!'' bentaknya bengis. lelaki kumal setengah umur itu mengangkat wajahnya yang memar bekas pukulan lantas meludah. ''Chuih., aak,, aku., aku tidak akan bii., bicara apapun seb., sebelum kaa., kalian memberi iim., imbalan padaku.!'' jawabnya tergagap. ''Kurang ajar. rupanya kau memang bosan hidup.!'' damprat si bawahan geram. saat hendak layangkan tinju, pimpinannya sudah mencegah.


'Kukira sudah terlalu banyak untuk gembel miskin sepertimu..'' ujar si pemimpin sambil lemparkan tiga kepingan uang emas dari balik jubahnya. ''Sekarang kau katakan semuanya padaku.!'' lelaki gembel itu berambut gimbal itu berubah sikapnya seperti seekor anjing kelaparan yang bertemu tulang daging segar. ''Aaa., akan., akan kukatakan semuanya. Hee., he., ini sangat banyak. aku kaya. Eehm., maa., maaf tuan, aku cuma terlalu gembira..''


''Waktu itu aku sedang mengemis didepan rumah penginapan itu. di sana ada dua orang penjaga yang mengusir diriku. saat hendak pergi tiba- tiba ada lima orang yang datang dari luar hendak masuk ke dalam. Eeh., aku ingat, baju mereka sama dengan yang kalian pakai saat ini. bahkan dua diantaranya juga mengenakan jubah mantel hitam seperti tuan..''


Sang pemimpin dan anak buahnya seperti terperanjat. ''Cepat kau lanjutkan ceritamu.!'' gembel itu mengangguk. ''Baik tuan. setelah mereka masuk ke dalam rumah penginapan ini, terdengar suara keributan. meskipun tidak jelas penyebabnya tapi aku masih sempat mendengar ucapan 'Pimpinan pusat yang memerintahkan agar kau serahkan urusan di Sumedang ini juga harta upeti itu pada kami.!''


''Sementara dari dalam juga terdengar suara orang mencaci maki. 'Bangsat penjilat. kau jangan cuma bisa merebut hasil kerja orang lain. kau kira aku takut denganmu.!'' lelaki gembel itu sejenak hentikan ceritanya. sekilas terlihat ada satu seringai tipis tersungging di bibirnya. ''Seterusnya aku tidak tahu lagi karena mesti pergi sejauh mungkin dari tempat ini. orang- orang itu entah bagaimana sudah saling serang dengan sengitnya.!''


''Apa kau bilang. bagaimana mereka bisa bentrok., cepat jawab.!'' desak si pemimpin setengah mendamprat. ''Aa., aku sungguh tidak tahu tuan, saat itu hujan juga sudah turun dengan lebat tapi dari kejauhan sempat kulihat ada ledakan keras di lantai atas rumah penginapan ini, juga jeritan kesakitan yang terdengar diantara suara guyuran hujan..''


''Laa., lalu ada sosok tubuh yang terjatuh dari lantai atas. muu., mung., mungkin dia adalah mayat yang tergeletak dijalan tadi. Aah iya., hampir aku lupa. orang- orang yang datang tadi saat pergi juga seperti membawa sebuah peti. tapi soal benar atau tidaknya diriku juga tidak dapat memastikannya tuan..'' ucap lelaki gembel itu sambil terus menggenggam erat tiga keping uang emasnya seakan takut kalau hilang.


Seketika semuanya tersentak kaget setelah mendengar penuturan si gembel. tapi belum sempat mereka bertanya lebih jauh, lelaki gembel itu mendadak menjerit tertahan dengan mata mendelik. tubuh orang itu jatuh berkelojotan diatas tanah becek. dari dalam mulutnya tersembur busa bercampur darah. lidahnya terjulur keluar seperti seekor anjing sedang sekarat. setelah mengerang keras diapun diam tidak bergerak lagi.


''Kee., kenapa dengan gembel ini.?'' geram si pemimpin kaget. seorang anak buahnya dengan hati- hati memeriksa. orang ini seperti tertegun. ''Maaf pimpinan., gembel ini telah mati. dari keadaannya dia seperti mengidap suatu penyakit berat dan sedang kambuh. tapi juga ada bekas keracunan di dalam darah yang dia muntahkan.!''


''Peti berisi harta upeti yang dikumpulin tuan muda dari wilayah Sumedang dan sekitarnya tidak berhasil kami temukan. selanjutnya harap pimpinan memberikan kami petunjuk..'' sambung bawahannya yang lain menjura hormat. ''Setan alas., keparat sialan. bukan saja tuan muda Gandara dan pengawalnya tewas tapi peti berisi harta upeti juga turut lenyap.!'' si pemimpin meraung gusar. sekali tangannya menghantam, satu gelombang angin panas berseling cahaya hitam langsung melabrak reruntuhan bangunan rumah penginapan hingga tersibak semburat porak- poranda.!


''Kita mesti cepat melaporkan masalah ini pada para pimpinan partai 'Gapura Iblis'. sebenarnya siapa bangsat yang telah berani membuat masalah dengan tuan muda Gandara. jika kudengar dari penuturan gembel ini, sepertinya tuan muda Gandara mengenali orang yang merecoki dirinya. sial., hanya orang dalam saja yang tahu mengenai urusan tuan muda di wilayah Sumedang ini..'' geramnya menahan gusar.


Sekali raih, tiga kepingan uang emas yang masih dalam genggaman gembel itu sudah kembali ke tangannya. ''Orang mati tidak butuh harta melainkan kuburan. sayangnya kami tidak punya waktu untuk mengurusi mayatmu..'' setelah melihat sekelilingnya dia berkelebat pergi tinggalkan jalan diikuti para bawahannya yang membawa mayat Gandara.


Hanya berseling waktu lima tarikan nafas saja tiba- tiba mayat lelaki gembel itu terbangun. sesaat dia masih enak- enakan duduk diatas tanah becek sebelum akhirnya perlahan berdiri. setelah menyeringai sinis dan meludah, orang inipun berkelebat ke lain jurusan. dari gerakannya dapat dipastikan kalau ilmu ringan tubuhnya sangatlah tinggi.


Si lelaki gembel dalam sekejap saja sudah tiba di luar wilayah kadipaten Sumedang. orang ini sebelumnya sempat berputar arah dua tiga kali lantas berhenti di pinggir sebuah warung makan yang sudah tutup sedari pagi. dengan tangan kanan dia membuka dinding warung itu. dari dalamnya keluar sebuah peti dan sebatang tongkat besi hitam yang ujung gagangnya terbungkus kain.


Meski hujan lebat telah berhenti tapi udara dingin dan awan gelap tetap menggantung di langit. suasana pagi terasa sepi. dengan tangan kirinya dia mengusap wajah beberapa kali putaran. beberapa helai lapisan tips dan kotor rontok ke tanah. kini wajah itu berubah menjadi raut muka seorang pemuda tampan yang agak pucat dan dingin.


Dia memang Pranacitra adanya. awalnya saat hendak pergi matanya sempat melihat ada gerombolan berjubah hitam yang dari cirinya dapat dia kenali sebagai anggota Gapura Iblis. satu pikiran terlintas di kepalanya. saat berada dalam goa terlarang di 'Lembah Seribu Racun' meskipun belum berhasil sepenuhnya menguasai ilmu kesaktian yang terdapat di sana, tapi semua ilmu kepandaian yang dia miliki sebelumnya tetap mengalami banyak sekali peningkatan, termasuk juga ilmu yang bernama 'Penyamaran Bangkai Anjing.!'


Sebenarnya ini adalah ilmu ciptaan 'Nenek Tabib Bertongkat Maut' yang dianggap gagal. karena si nenek menganggap menyamar untuk menipu lawan itu sangat memalukan dia tidak pernah mau menggunakannya. ahli racun dan pengobatan itu lebih memilih untuk bertarung adu jiwa dibanding harus berlaku licik. padahal dengan menguasai ilmu ini dia bakal lebih mudah lolos dari kejaran musuh- musuhnya.


Orang yang mampu menguasai ilmu ini dia bukan saja dapat merubah wajahnya untuk beberapa waktu tapi juga menghentikan nafas, aliran darah dan hawa kehidupannya. pesilat kelas atas sekalipun jangan harap mampu membongkar penyamarannya. konon kabarnya, dulu si Nenek Tabib Bertongkat Maut awalnya cuma iseng membuat sebuah ramuan racun dengan menggunakan lebih dari seratus ekor anjing liar sebagai bahan percobaannya.


Caranya sangatlah kejam. pertama dia sengaja meracuni lima puluh ekor anjing itu sampai mati. separuhnya juga diberikan racun tapi dengan jenis yang berlainan. keesokan harinya seratus ekor anjing itu mati dengan mulut berbusa darah. bahkan si nenek sendiripun sampai tidak dapat membedakan anjing mana yang dia berikan racun pertama dan kedua karena keadaan bangkainya juga tidak berbeda.


Hebatnya setengah hari kemudian dari jumlah seratusnya, lima puluh ekor anjing itu diluar dugaan dapat bangkit dan hidup kembali. dengan dipadukan ilmu penyamaran, sihir dan pengobatannya yang langka, si nenek mampu mencintai sejenis kepandaian aneh yang dia namai ajian 'Penyamaran Bangkai Anjing' meskipun salah satu guru Pranacitra itu tidak pernah sudi menggunakannya.


Dulu saat pertama kali hendak menuju Lembah Seribu Racun, sempat pula 'Malaikat Copet' mengajarinya dasar ilmu penyamaran. jika dalam perjalanannya selama ini dua ilmu sejenis dari guru yang berbeda itu berhasil di padukan maka hasilnya pastilah tidak akan mengecewakan. terbukti orang- orang Gapura Iblis sampai tidak mampu mengungkapnya.


Dengan berpura- pura menyamar sebagai gembel setengah umur yang penyakitan lalu memberikan beberapa keterangan palsu, Pranacitra ingin menanamkan kecurigaan dan memecah belah anggota partai Gapura Iblis. sekalian juga meringankan beban kerja dari rekannya si 'Pendekar Harimau Putih'.


..............


Silahkan menuliskan komentar Anda. Terima Kasih🙏.