Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Mereka mulai bergerak.


Agak jauh dari wilayah kaki gunung Selamet yang ada di jawa bagian tengah ada sebuah bukit cukup tinggi yang bernama bukit Tangkeban. pada bagian kaki hingga lereng bukit itu terbentang hamparan persawahan dan ladang yang luas. hanya tersisa separuh dari bukit itu yang masih berupa hutan lebat.


Kalau kita naik ke atas bukit, disana terdapat sebuah perkampungan kecil yang terdiri dari belasan gubuk yang terbuat dari bilah papan kayu dan anyaman bambu. jika di lihat dari para penghuninya, mereka ini adalah kaum petani dan perambah hutan.


Semua ladang persawahan dan ternak yang berada di kaki hingga lereng bukit Tangkeban ini merekalah yang mengerjakannya. begitu juga ternak kerbau, sapi dan bermacam unggas juga mereka urusi.


Agak terpisah dari perkampungan petani yang berada di atas bukit itu, berdiri sebuah bangunan besar dari papan kayu jati yang nampak berwarna kehijauan. di sana terlihat beberapa orang lelaki kekar yang berdandan para petani dan perambah hutan sedang berjaga di luar pintu bangunan. mereka semua membekal sabit, kapak, parang dan juga cangkul sebagai senjatanya.


Pada bagian atas pintu rumah besar itu terdapat sebuah lukisan papan persegi bergambar seorang petani tua yang sedang duduk diatas batu sambil memegang sabit dan cangkul dengan latar belakang bukit persawahan yang hijau serta mentari pagi.


Meskipun hanya sebuah lukisan yang umum dan sederhana namun saat di pandang akan terasa sangat hidup. buat orang lain paling lukisan ini tidak ada artinya sama sekali. tapi lain lagi bagi orang rimba persilatan, mereka umumnya tahu arti dari lukisan kehijauan itu.


Di bagian dalam rumah besar itu tidak terdapat banyak ruangan. hanya tiga atau empat kamar tidur saja yang letaknya agak terpisah. selebihnya adalah sebuah ruangan luas yang mungkin di pakai sebagai tempat pertemuan. meskipun dinding ruangan besar itu juga dibuat dari papan kayu namun juga sudah diberi semacam cairan pewarna kehijauan seperti di bagian luar.


Beberapa orang terlihat berkumpul di tengah ruangan itu. sambil duduk bersila diatas tikar anyaman daun pandan. di depan mereka juga terhidang potongan singkong dan buah pisang berikut beberapa kendi air minum serta tuak.


Seorang yang umurnya paling tua berambut dan jenggot putih serta berpakaian hitam sedang terlihat membaca selembar surat dari daun lontar. meskipun sudah dua kali lelaki tujuh puluhan tahun itu membacanya tapi tetap saja dia merasa ragu hendak membuat keputusan.


''Tadi kalian bilang kalau pemuda pincang yang dulu pernah menyelamatkan kalian berempat adalah orang yang sama dengan pendekar muda pincang dari aliran hitam yang belakangan ini membuat gempar rimba persilatan..''


''Bahkan kalian juga berpendapat kalau orang yang telah menolong cucuku Galuh Intan Arum juga adalah pemuda yang sama., apakah kalian yakin semua itu benar.?''


Di hadapannya ada belasan orang yang juga berpakaian seperti seorang petani. empat diantaranya bertelanjang dada dengan tubuh yang masih terlihat tegap kekar meskipun mereka sudah berumur.


''Dari penyelidikan yang kita lakukan, kami yakin kalau semua itu benar adanya. pemuda pincang itu pastilah si pendekar muda yang menempati peringkat teratas dari jajaran para pesilat pendatang baru..''


''Benar apa yang di katakan kakang Kartopati. kami semuanya yakin tidak bakalan salah menduga..'' sambung orang yang bertubuh paling pendek dan bermata rada jereng bernama Ki Julingan. dua orang kawannya juga mengangguk membenarkan.


Orang tua di depan keempat petani itu termenung pejamkan matanya seperti sedang berpikir keras. ''Kalau demikian., kita sedang mengalami masalah besar. karena di satu sisi pemuda itu pernah menolong kita. tapi dia juga menjadi buruan hampir seluruh orang di dunia persilatan karena menjadi pewaris lima dedengkot aliran hitam..''


''Huhm sialan., meskipun selama ini perkumpulan 'Bumi Hijau' tidak pernah ikut campur masalah, tapi bukan golongan yang tidak tahu balas budi..''


''Baiklah., jika mereka meminta kita datang kesana., sesuai dengan undangan dari perguruan silat 'Naga Biru' kita akan penuhi undangan ini. panggil Mahesa Gelang dan Sembada kemari.!''


Semua orang rada terkesiap, kedua nama yang di sebutkan tadi merupakan pesilat angkatan muda yang paling menonjol di lingkungan mereka. tidak lama kemudian muncul dua orang lelaki muda yang gagah tapi terlihat berkulit kehitaman. seorang umurnya tiga puluhan bernama Sembada, yang lebih muda mungkin baru dua puluh lima tahunan, namanya Mahesa Gelang. keduanya menjura hormat lebih dulu di hadapan orang tua itu sebelum duduk bersila.


''Kami berdua datang menghadap untuk menanti petunjuk dan perintah dari ketua perkumpulan Bumi Hijau, Ki Tani Langit Jagad..'' ucap orang bernama Sembada. rupanya tempat di atas bukit Tangkeban ini adalah markas dari perkumpulan silat kaum petani yang bernama perkumpulan silat Bumi Hijau.!


Di dalam sebuah goa rahasia yang letaknya tersembunyi di balik guyuran air terjun, terdapat suatu lorong panjang, berliku dan punya banyak cabang. di dalam keremangan lorong goa yang hanya di terangi oleh cahaya obor yang menancap di dinding goa itu terlihat beberapa orang sedang bergerak cepat di antara lorong- lorong goa batu. tapi ada juga yang hanya diam berdiri dengan pandangan matanya yang tajam. sepertinya mereka adalah para penjaga goa rahasia ini.


Pada bagian dalam lorong goa yang berliku, terdapat satu ruangan yang di lapisi papan kayu jati sehingga mirip sebuah pondokan. seorang kakek tua berblangkon dan berpakaian hitam yang terbuat dari bahan kain mahal terlihat duduk berselonjor kaki di atas sebuah kursi goyang. dengan sangat santai mulut peotnya menyedot sebuah pipa cangklong baja berwarna hitam yang lapat- lapat menebarkan aroma kemenyan.


Kesepuluh jari orang tua ini mengenakan cincin- cincin emas berhias batu permata. lagaknya seperti seorang tuan tanah besar yang sedang menikmati kemewahan di hari tuanya. setelah menyedot beberapa kali pipa cangklongnya lelaki tua itu memutar kursi goyangnya. matanya yang cekung tajam menatap orang di depannya.


Seorang lelaki tiga puluh lima tahun nampak berdiri membungkuk di hadapan orang tua berblangkon hitam. di belakangnya juga terlihat dua orang lelaki. satu berbaju putih membekal dayung besi dan bercaping bambu, seorang lagi berjubah biru dengan beberapa jari tangannya buntung.


''Sudah dua minggu kau berada di tempat ini. bagaimana dengan lukamu.?'' tanya orang tua berblangkon hitam pada lelaki yang ada di depannya.


''Huhm., ucapan rasa terimamu kasih tidak ada gunanya bagiku. seumur hidup aku tidak mau melakukan sesuatu yang sia- sia..''


''Saya tahu tidak bakal dapat membalas budi pertolongan tuan, juga sobat pincang yang telah membantuku. jadi., harap ketua besar sudi memberiku perintah. sesulit apapun juga pasti akan kulakukan meskipun harus berkorban nyawa.!'' seru Suro Dares tegas.


''Haa., ha., bagus. tidak percuma bocah pincang sialan itu menyuruhmu kemari. aku akan memintamu untuk ikut datang ke pertemuan besar di gunung Semeru. dengar Suro Dares., tugasmu adalah membantu bocah itu untuk tetap bisa bertahan hidup. meskipun saat ini dia punya bekal ilmu yang sangat tinggi, tapi lawannya terlalu banyak.!''


''Aku tidak mau dia mati. bagaimanapun caranya dia mesti tetap hidup karena anak pincang itu adalah bahan taruhanku untuk menghadapi saingan lamaku si tua bangka 'Maling Nyawa'. jadi apapun taruhannya kau mesti memastikan dia tetap dapat keluar dari sana hidup- hidup..''


''Satu hal lagi., jangan sampai ada satu orangpun yang tahu kalau Maling Kilat ikut campur dalam masalah ini. tapi., aku tidak akan memaksamu untuk melakukannya. jika kau merasa takut dan memilih pergi dari sini aku juga tidak perduli, karena 'Maling Kilat' tidak butuh kaum pengecut.!''


''Meskipun aku Suro Dares memang bukan pendekar kelas atas, tapi diriku bukanlah golongan pengecut yang lupa budi dan lari dari tanggung jawab. mohon maafmu tapi ucapanmu membuatku marah. kalau kau mau silahkan ambil saja nyawaku sekarang juga.!'' bentak Suro Dares beringas.


Malaikat Copet dan kedua orang lainnya sampai terkesiap kaget. orang tua yang jadi sesepuhnya kaum pencoleng itu terkekeh lalu tertawa bergelak hingga menggoncang ruangan dalam goa.


''Haa , ha., ha., aku suka orang ini. baiklah Suro Dares., masih ada waktu beberapa hari lagi. sekarang juga aku tetapkan dirimu sebagai anggota resmi perkumpulan Maling Kilat. akan kuberikan juga sedikit bekal untukmu..''


Suro Dares langsung berlutut gembira. sebelumnya karena tidak punya tujuan lain dia ingin bergabung dengan perkumpulan ini, tapi sang ketua menolak. sekarang justru dia bukan saja di terima malah akan mendapat tambahan bekal ilmu silat dari ketuanya.!


Jauh sekali di laut selatan tanah Jawa terdapat sebuah pulau terpencil. hampir tidak ada seorangpun manusia yang tahu keberadaan pulau yang penuh di huni oleh bermacam binatang dan tumbuhan beracun ini. nama pulau itu adalah pulau 'Seribu Bisa.!'


Seorang lelaki tinggi besar berjubah kuning keemasan sedang duduk di atas kursi batu pualam putih. meskipun ada dua belas kursi batu serupa yang berada di sekeliling meja bundar besar yang juga terbuat dari batu pualam putih, tapi kursi yang di tempati oleh orang yang jubah kuningnya bersulaman seekor angsa emas itu nampak lebih megah dan tinggi.


Wajah orang tinggi besar berjubah kuning itu tidak terlihat karena tertutup sebuah topeng tengkorak menyeramkan yang terbuat dari bahan perak. di belakang orang ini terlihat berdiri seorang lelaki tua kurus bermuka pucat dan kejam. tangannya tinggal sebelah kiri. jemarinya buntung di sambung dengan pisau- pisau tajam melengkung dan bersinar kehijauan.


Orang tua kurus buntung ini keluarkan suara dengusan sebelum tubuhnya berkelebat cepat ke depan melewati meja besar pualam putih. cakar pisau hijaunya bergerak membabat mencengkeram dan mencabik dengan sangat ganas pada tubuh seorang pemuda yang berada di seberang meja bundar. cahaya hijau setajam cakar iblis menyambar.!


Pemuda itu hanya melihat sepintas saja, tangan kiri membentuk kepalan tinju yang memancarkan cahaya kuning. di tangan kananya entah sejak kapan tergenggam sebilah pedang pendek yang memancarkan cahaya hitam pekat dan hawa busuk yang menyengat.


Dengan pedangnya dia sambut cakar hijau di buntung. berulang kali kekebatan cahaya hijau dan hitam saling sambar dan bentrok di udara. di akhir jurus sebuah pukulan sakti yang memancarkan cahaya kuning panas berbentuk kepala ular kobra menghantam. dentuman keras menggoncang suasana malam, dua tubuh terpisah.


Si buntung jejakkan kakinya kembali di tempat asal dia berdiri. si pemuda lebih dulu bersalto sekali sebelum dapat berdiri tegak. baju putihnya terkoyak dirembesi darah segar. dari sudut bibirnya juga keluar tetesan darah.


Orang berjubah kuning melirik ke belakang, si buntung mengangguk kaku lalu terbatuk keluarkan dahak bercampur darah. ''Anak ini lumayan juga..'' ujarnya sambil meraba dadanya yang sesak. saat bicara suara dan raut mukanya tetap dingin dan bengis menyeramkan hati.


''Kau sudah tahu apa tugasmu kali ini.?'' bertanya si jubah kuning pada pemuda yang berdiri di seberang meja bundar. saat bicara suaranya terdengar menggaung seram seakan berasal dari dunia lain yang jauh.


Pemuda berbaju putih dengan ikat kepala dari kulit ular hitam itu cuma mengangguk tanpa bicara apapun. sekali tangannya bergerak pedang hitam berukiran wajah iblis sudah tersimpan kembali di belakang pinggangnya.


''Bagus., satu hal lagi pastikan tidak ada seorangpun yang tahu kalau kelompok '13 Pembunuh' ikut terlibat dalam masalah ini. akan sangat sempurna jika kau mampu bekerja tanpa terlihat oleh siapapun. kau paham 'Ular Sakti Berpedang Iblis.?''


Seperti sebelumnya, pemuda gagah yang berparas menarik ini hanya mengangguk. setelah menjura hormat dia balikkan tubuhnya dan lenyap dari pandangan.


*****


Asalamualaikum., Salam sehat sejahtera bagi kita semua. mohon tulis komentar, kritik saran juga like๐Ÿ‘ atau vote jika anda suka. Terima kasih pada para Reader yang telah mengikuti dan bantu Share novel Pendekar Tanpa Kawan dan 13 Pembunuh. ๐Ÿ‘๐Ÿ‘, juga yang telah kasih vote, koin dll., Maaf ๐Ÿ™selalu lambat Up date. Terimakasih. Wasalamualaikum.