
"Sebenarnya ...."
Dok! Dok! Terdengar suara ketukan pintu yang keras dari ponsel Biema.
"Aku sedang punya ...."
Dok! Dok! Gedoran pintu itu terdengar lagi. Seakan memaksa Paris menghentikan kalimatnya.
"Sepertinya ada orang yang mencarimu," ujar Paris memilih menghentikan kalimatnya. Fokusnya terpecah dengan adanya gedoran pada pintu. Disusul dengan suara Fikar yang setengah berteriak di sana.
"Biem, bangun!" teriak Fikar. Alis Paris menyatu mendengar itu.
"Fikar mencarimu," imbuh Paris.
"Ya." Biema menjawabnya dengan lesu. "Sebentar Paris," kata Biema. Mencegah Paris untuk melanjutkan ceritanya. "Jangan di tutup, kita akan bicara lagi setelah aku mengusir orang di balik pintu,” ujar Biema.
"Heem."
Dari sambungan ponsel yang tidak di matikan, Paris bisa mendengar Biema membuka pintu. "Ada apa?” Juga perbincangan antara Biema dan Fikar.
"Ada hal penting yang di kantor polisi. Mereka menemukan orang yang menyabotase mesin pembuat kain. Kita harus kesana secepatnya." Suara Fikar terdengar.
"Pagi ini?" tanya Biema keberatan. Walaupun dia mendengar bahwa ini adalah hal penting, tapi dia seakan enggan. Biema masih ingin bicara santai dengan istrinya.
"Ya," sahut Fikar yakin. Biema melirik ke arah ponselnya. "Apa polisi sudah menghubungimu?" tanya Fikar merasa Biema telah di beritahu soal ini. Dia ikut melirik ke arah handphone yang di pegang Biema.
"Tidak. Baik. Aku akan bersiap.” Terdengar suara pintu di tutup lagi. "Paris, kamu masih di sana?”
"Iya, Biem," sahut Paris berat.
"Maaf. Sekali lagi aku mengecewakanmu. Aku harus pergi."
"Aku tahu."
"Aku akan langsung meneleponmu saat selesai. Aku janji. Aku akan mendengarkan semua cerita mu." Biema menjadi tidak tenang.
"Iya. Selesaikan saja masalah kantor hingga tuntas. Aku bisa cerita saat kamu pulang."
"Aku tutup, ya. Aku sayang kamu Paris."
"Aku juga sayang kamu, Biem ...," sahut Paris lesu. Kalimat indah di penghujung perbincangan mereka membuat Paris makin ingin segera bertemu. Ujung matanya sudah berair. Namun punggung tangannya segera menyekanya.
Lagi. Kesempatan dirinya bicara pada Biema hilang seketika. Dia tahu situasi Biema tidak memungkinkan untuknya bercerita. Keadaan di sana genting juga. "Tidak apa-apa Paris. Kak Arga sudah sanggup menyelesaikannya. Semua akan kembali tenang. Doakan saja Biema bisa segera menyelesaikan masalahnya sendiri dengan cepat. Kamu tidak perlu bersedih. Tidak perlu." Paris menjejalkan kata-kata penyemangat untuk dirinya sendiri. Meskipun begitu, ujung matanya berair lagi.
Saat jam berjalan hingga terlihat matahari lebih hangat, Paris teringat soal sopir rumah mama Biema yang akan menjemputnya. Untuk menghindari kemunculan Sandra di apartemennya, Paris segera mengirim pesan untuk adik iparnya itu.
"Maaf, Sandra. Kamu enggak perlu jemput aku di apartemen. Aku berangkat di antar kak Arga. Kamu langsung saja berangkat ke sekolah."
Klik! Pesan terkirim.
Sinar matahari sudah mulai naik. Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas. Dering ponsel berbunyi berulang kali. Ada seseorang yang mencoba menghubungi Paris dengan menggebu-gebu. Gadis ini yang terlelap di atas sofa, menggeliat. Dia terbangun setelah dering ponsel yang ke sekian kalinya.
Tangannya bergerak meraih ponsel di atas meja. Namun tidak tergapai. Dengan terpaksa dia bangkit dari tidur dan mengambil ponsel itu dengan lemas. Menghentikan deringnya dengan menekan tombol menerima, tanpa tahu siapa yang meneleponnya.
"Halo."
"Pariiisss!! Berapa kali aku menelepon tapi kamu enggak menjawabnya?" Suara memekakkan telinga terdengar di sana. Sandra langsung menyembur Paris tanpa basa basi. Paris menjauhkan ponselnya dari telinga. Itu cukup berisik.
"Ada apa?" tanya Paris setelah suara itu tidak lagi bicara.
"Ada apa bagaimana, sih. Kenapa kamu terdengar tenang-tenang saja? Padahal di sekolah semua sudah heboh dengan berita tentang kamu." Sandra menggebu saat mengatakannya. Paris tahu ini pasti soal dia di keluarkan dari sekolah. "Apa benar kamu di keluarkan dari sekolah?"
"Ya," jawab Paris singkat.
"Kenapa kamu enggak bilang kalau sedang punya masalah?" sesal Sandra terdengar sedih sekaligus kecewa.
"Begitulah." Paris enggan menjawab.
"Jadi ... kamu tahu?" tanya Paris terkejut.
"Tentu saja. Bahkan semua anak-anak di sekolah. Semua tiba-tiba membicarakan soal status menikahmu."
Jadi mereka semua tahu tentang itu? Aku pikir mereka hanya tahu aku di keluarkan dari sekolah tanpa tahu penyebabnya. Biarkan saja. Toh aku memang sudah menikah.
"Darimana mereka tahu soal itu? Bukannya pesta pernikahan kalian tidak di umumkan ke publik?" tanya Sandra lagi.
"Aku tidak paham."
"Atau jangan-jangan Priski? Kamu di keluarkan dari sekolah karena cewek itu lagi?" Sandra heboh dan panik.
"Mungkin. Semua mungkin bisa terjadi." Paris membenahi letak duduknya.
"Kenapa mama dan papa enggak tahu soal ini?" tanya Sandra. Paris diam. Tidak menjawabnya. "Tunggu. Jangan bilang kalau Kak Biema juga enggak tahu soal ini?" terka Sandra terdengar kesal. Paris masih diam. "Parisss ...," tegur Sandra.
"Ya. Biema masih belum tahu."
"Apa? Kamu itu bagaimana, sih?!" Sandra sangat geregetan mendengarnya. "Gimana bisa kak Biema enggak tahu soal ini. Kamu kebangetan Paris."
"Aku enggak bisa cerita karena dia juga sedang dalam masalah, San." Paris membela diri.
"Masalah apa?" tanya Sandra yang jadi kebingungan. Dia lupa kalau kemarin Paris sempat mengatakannya.
"Kantor cabang perusahaannya mengalami masalah. Bukannya aku bilang ke kamu kalau Biema enggak bisa jemput karena ada masalah kemarin."
"Oh, itu. Aku pikir sudah selesai. Karena enggak ada kabar selanjutnya. Apakah masalahnya serius?"
"Ya. Sepertinya soal sabotase mesin pembuat kain. Aku kurang tahu dengan pasti. Pokoknya dia juga sedang mencoba mengatasi masalah. Jadi aku enggak mau beban dia bertambah." Sandra mengurangi bicaranya. "Apa keluarga kamu enggak tahu soal masalah ini?" selidik Paris.
"Enggak tahu. Aku enggak pernah ikut mengobrol soal pekerjaan. Jadi kakak juga sedang dalam musibah ...," ujar Sandra memelan.
"Ya. Menurutku lebih baik diam daripada dia juga memaksakan diri untuk terjun mengurusi masalah ku."
"Masalahmu kan juga penting Paris. Ini bukan hal sepele."
"Aku tahu. Aku sudah meminta bantuan kak Arga. Dia akan menyelesaikannya sebelum Biema pulang."
"Kak Biema enggak ada di apartemen?" tanya Sandra makin terkejut.
"Ya. Dia sedang mengurusi soal masalah di kantor cabang sampai menginap."
"Jadi kamu sendirian tadi malam?"
"Begitulah. Biema tidak bisa pulang tadi malam." Sandra termangu di sana. Dia tidak tahu kalau gadis ini sedang menahan diri untuk berbagi cerita karena takut orang lain khawatir. Namun jika begini, Sandra justru tambah khawatir. "San ... kamu masih di sana?"
"Ya, Paris. Sebentar lagi aku akan ke apartemen. Aku ingin melihat keadaanmu."
"Aku tidak apa-apa. Jangan cemas."
"Meskipun kamu bilang begitu, aku akan tetap kesana sepulang ujian."
"Baiklah. Aku tidak akan kemana-mana kok." Paris mengalah.
"Mau aku bawakan sesuatu nanti?"
"Apa?"
"Apa aja. Kali aja roti isi sosis dengan keju melimpah kesukaanmu. Atau puding cokelat. Atau brownies lumer yang lagi booming itu. Apapun," paksa Sandra.
"Bawakan semua yang kamu sebut tadi, juga buah-buahan."
"Serius?"
"Ya. Aku ingin hari tenang ku benar-benar bisa di manfaatkan."