Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Kalah



Sial. Seharusnya aku menyudahi perbincangan dengan mereka sejak tadi. Jadi kesempatan mereka bertemu tidak ada. Namun aneh. Kenapa pria itu terlihat dekat dengan kepala sekolah, ujar wakil kepala sekolah dalam hati dengan kesal. "Semoga saja keputusan yang akan di buatnya menguntungkanku."


Biema memberi kode kepada Fikar untuk berhenti bicarakan soal Priski. Fikar menganggukkan kepalanya mengerti. Biarpun Paris melihat kode itu, tapi dia tidak tahu maksud dari mereka berdua.


"Soal menikah di saat masih menjadi pelajar memang salah. Saya juga setuju dengan keputusan bapak wakil kepala sekolah." Dengan sopan dan ramah, kepala sekolah mulai membicarakan soal permasalahan ini.


Ini bukan pertama kali mereka berdua di nilai keliru menikah di saat salah satunya masih sekolah. Namun saat yang bicara adalah wakil kepala sekolah, itu terdengar menyebalkan. Berbeda dengan saat kepala sekolah yang bicara. Meskipun isinya sama, Paris langsung menunduk mendengar itu. Bahkan saat di tegur dengan halus seperti ini, Paris justru malu.


Berbeda dengan Biema yang duduk di sebelahnya. Pria itu tidak menunjukan raut wajah malu, menyesal atau tidak enak. Pria ini justru melihat ke arah kepala sekolah dengan wajah sangat tenang. Kemudian melirik sedikit ke arah Paris yang melihatnya sembunyi-sembunyi. Di luar dugaan, bibir Biema kemudian tersenyum manis padanya. Bola mata Paris mendelik sekilas. Terkejut dengan senyuman itu.


Kenapa bisa dia tersenyum manis di saat seperti ini? Bibir Paris berdecak sangat pelan. Bahkan semut yang lewat pun tidak bisa mendengarnya.


Lain lagi dengan Fikar. Bola mata bawahan Biema ini justru melihat dengan serius ke depan. Mendengarkan baik-baik apa yang di katakan pria paruh baya itu.


"... Namun jika kita bicara soal ujian, keputusan bapak wakil kepala sekolah saya pikir keliru." Meskipun menyalahkan, beliau mengatakannya dengan tutur kata lembut dan bagus. Namun bagi wakil kepala sekolah, itu bagaikan hinaan. Pria ini menaikkan alisnya mendengar pendapat kepala sekolah. Dia menahan diri untuk menata raut wajah kesalnya karena keputusannya di patahkan.


"Keliru? Apa yang keliru dari keputusan saya, Pak?" Tanpa basa-basi orang ini menanyakan langsung kekeliruannya. Semua orang di sana terlihat terkejut melihat respon wakil kepala sekolah. Kepala mereka menoleh dengan cepat ke arah pria paruh baya itu. "Peraturan lama sekolah menyatakan tidak menerima siswa didik yang sudah menikah. Itu berarti, murid ini juga begitu. Dia harus di keluarkan dari sekolah," tunjuknya ke arah Paris dengan tajam. "Siapapun yang melanggar, harus mau menerima konsekuensinya."


"Benar. Itu benar. Namun dalam kasus ini, kita juga akan mendapat teguran dari dinas pendidikan kalau kita mengeluarkan murid saat sedang menjalani ujian nasional." Kepala sekolah sangat bijak.


"Lalu? Apa kita harus tetap membiarkannya menjadi murid sekolah kita? Padahal murid ini sudah melanggar ketentuan sekolah." Wakil kepala sekolah sangat tidak setuju akan pendapat atasannya. "Apa kita patut memberi mereka hak istimewa hanya karena keluarga mereka? Ini tidak adil bagi semuanya, Pak. Kita jangan membeda-bedakan satu murid dengan murid yang lain. Bapak harus menjunjung tinggi keadilan di dalam sekolah ini," ujar wakil kepala sekolah menyerukan aspirasinya. Guru BP tidak bisa membela wakil kepala sekolah. karena ada orang yang punya jabatan lebih tinggi dari mereka berdua.


"Maafkan saya jika pendapat saya bertentangan dengan Anda. Masalahnya juga, tak ada satu pun peraturan atau pasal yang menyebut, jika sudah menikah tidak boleh mengikuti ujian nasional. Mereka akan menganggap sekolah ini yang jelas melakukan kesalahan. Kita nanti yang salah, Bapak," ujar kepala sekolah mengingatkan.


Paris kali ini mendengarkan dengan baik. Dia baru tahu bahwa tidak ada pasal dalam hukum untuk kasus seperti dirinya. Bukankah itu sedikit menguntungkannya? Paris tersenyum dalam hati. Merasa punya harapan.


Biema dan Fikar tidak mengeluarkan kata-kata apapun. Raut wajah mereka juga biasa. Tidak terkejut atau heran. Sepertinya mereka sudah tahu kemana arah pembicaraan kepala sekolah ini. Kemungkinan kemunculan kepala sekolah yang baru saja sembuh itu adalah upaya Biema dan Arga untuk membantu Paris keluar dari masalah dan bisa ikut ujian lagi.


"Jadi dia akan di biarkan tetap mengikuti ujian?" tanya wakil kepala sekolah menautkan kedua alisnya.


"Benar, Pak. Sekolah tidak berhak memutuskan soal itu. Nah, ini ada beberapa orang dari komisi perlindungan anak. Mereka akan ikut bicara soal ini." Bapak kepala sekolah menoleh kepada dua orang yang datang bersamanya. "Silakan. Kalian bisa ikut bicara." Kepala sekolah mempersilakan orang-orang itu untuk bicara.


"Sebelumnya perkenalkan kami dulu ..." Dua orang itu memperkenalkan diri bahwa mereka dari Komisi Perlindungan Anak. "Kami datang atas permintaan tuan Biema yang menyatakan pengaduan atas keputusan pihak sekolah yang langsung mengeluarkan Paris Hendarto dari ruang ujian."


Paris menoleh Biema cepat. Terperangah mendengarnya. Rupanya Biema sudah mempersiapkan segalanya. Meski terlihat tenang dan tidak tahu apa-apa, Biema punya senjata untuk menyelamatkannya. Bukan dengan langsung menggunakan kekuatan nama keluarganya, tapi melalui pengaduan sesuai prosedur. Meskipun di depan ada sedikit intimidasi menggunakan nama Priski sebagai senjata.


Keheranan dan keterkejutan Paris berlipat ganda. Dengan ini Paris yakin Biema datang bukan tanpa persiapan. Pria ini muncul dengan segudang informasi. Harapannya kian membesar.


Komisi Perlindungan Anak juga menegaskan, ujian nasional (UN) bukanlah pemberian sekolah kepada peserta didik, melainkan oleh negara kepada peserta didik. Oleh sebab itu, mereka mengecam keras jika ada peserta didik yang dilarang mengikuti UN hanya karena melanggar peraturan sekolah itu.


Mereka juga mendukung adanya sanksi terhadap siswa yang melanggar peraturan sekolah. Sebab hal itu merupakan tanggung jawab institusi pendidikan untuk menelurkan bibit anak bangsa yang memiliki moral serta pengetahuan.


"Terima kasih atas penjelasannya," ujar kepala sekolah setelah mereka usai menjabarkan. Wakil kepala sekolah tidak bisa berbicara banyak. Mau tidak mau dia harus mengikuti keputusan yang sepertinya bukan darinya, melainkan oleh kepala sekolah.


"Jika sudah memahami semua, saya akan mengambil keputusan untuk tetap memberikan kesempatan bagi siswa yang bernama ...." Kepala sekolah meminta bantuan untuk menyebutkan nama pada wakilnya. Namun wakil kepala lupa. Orang ini menyikut guru BP untuk menjawab.


Eee ...." Guru BP jadi ikut-ikutan tergagap dan lupa.


"Paris Hendarto, Pak," sahut Fikar membantu menjawab.


"Ya, benar. Paris Hendarto. Kamu di perbolehkan mengikuti ujian nasional lagi, tapi ..." Kegirangan Paris yang hendak meluap tertahan. "tapi ... bukan mengikuti ujian negara seperti teman-teman kamu sekarang. Kamu bisa mengikuti ujian lagi setelah ujian nasional sekarang usai. Itu sedikit berbeda dan lebih ketat daripada sekarang. Karena kemungkinan yang ikut ujian ini hanya kamu dengan satu pengawas ujian. Itu sedikit menakutkan karena kamu tidak bisa menyontek apapun," ujar kepala sekolah dengan nada humor. Paris tersenyum mendengarnya.


"Dia tidak masalah dengan itu. Yang terpenting adalah dia harus tetap mengikuti ujian. Apapun kendalanya," ujar Biema tegas. Kali ini dia ikut bicara. Karena masalah Paris sudah bisa di selesaikan. Keputusannya adalah gadis itu bisa kembali mengikuti ujian.