Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
[ Extra part ] Erangan tengah malam


Paris mengerang sakit. Walaupun perempuan ini tidak membangunkan dirinya, Biema yang tidur dengan lelap di samping, membuka mata tiba-tiba. Rupanya erangan istrinya membuatnya siaga. Tanpa di bangunkan pun Biema mampu membuka matanya lebar-lebar.


 


"Ada yang sakit, sayang?" tanya Biema khawatir. Tangannya menyentuh tubuh Paris dengan lembut. Namun yang di tanya tidak membuka mata. Hanya terdengar suara erangan sekali lagi. Paris seperti mengigau.


 


Meski begitu, Biema tidak kembali tidur karena takut istrinya mengerang kesakitan lagi. Ia berguling ke sisi lain, untuk mengambil ponsel yang di letakkan di atas nakas.


 


Perut Paris kini menginjak usia 13 minggu. Perut buncitnya mulai kelihatan walaupun masih kecil. Namun jika Paris memakai pakaian besar, perut itu akan terlihat rata.


 


Tangan Biema menepuk pinggang Paris yang miring ke arah lain pelan-pelan. Ia bermaksud menenangkan rasa gelisah dalam tidur istrinya.


 


***


 


Biema masih memejamkan mata. Ia masih duduk, setelah menenangkan Paris yang berulang kali mengerang kesakitan lirih.


 


"Hoek! Hoek!"


 


Suara mual itu mengagetkan Biema. Pria ini langsung membuka mata dan menoleh ke arah ranjang di sisinya. Ternyata Paris tidak ada di sana. Dia langsung menoleh ke asal suara.


 


"Hoek! Hoek!"


 


Lagi-lagi suara mual itu terdengar. Biema segera bangkit dari ranjang dan menuju ke kamar mandi. Pintu kamar mandi terbuka.


 


"Paris ..." Paris yang duduk di pinggiran bathup menoleh.


 


"Biem ...," rengek Paris. Biema segera mendekat dan memberikan tubuhnya untuk di peluk istrinya. Masih dengan duduk di pinggiran bathup, Paris memeluk tubuh Biema yang berdiri.


 


 


Mungkin memijat tengkuk leher saat muntah tidak ada efek khusus. Bahkan mungkin dilakukan tanpa indikasi medis yang jelas. Biema melakukan cara ini hanya ingin membuat nyaman istrinya.


 


Setelah muntah sudah sampai cairan menguning dan kental, muntah berhenti. Parsi mengambil napas panjang.


 


"Bisa jalan? Atau lebih baik aku gendong saja." Mendengar ide Biema barusan, Paris langsung menggeleng. Menolak mengikuti cara Biema. Padahal pria ini sudah membungkuk bersiap memapah tubuh istrinya.


 


"Bisa. Tunggu." Paris meminta waktu.


 


"Ayo duduk dulu." Biema membimbing Paris untuk duduk di pinggiran bathup sambil bersandar di dinding. Biema masih berdiri di sana. Memegangi tubuh Paris yang lemas.


 


Tangannya bergerak mengelus kepala belahan hatinya. Dia menatap Paris yang terlihat pucat.


 


"Jangan melihatku terus. Aku jelek," rajuk Paris.


 


"Memangnya dalam keadaan begini kamu masih perlu memakai make up?" tanya Biema membuat Paris menipiskan bibir. Dia malu. Dalam benaknya sekarang,  keadaanya pasti sangat kacau. Tidak keren lagi. Itu sedikit membuatnya insecure.


 


Biema merapikan rambut Paris. Wanita itu menatapnya dengan lemah.


 


"Aku ini sudah tidak lagi memikirkan soal cantik atau jelek, Paris. Aku hanya ingin membuat wanitaku nyaman. Tidak ada kamus soal fisik seperti itu. Aku ini cinta kamu apa adanya. Benar-benar apa adanya. Bukan hanya di bibir, tapi dari dalam hati." Kata Biema sambil mengusap wajah Paris.


 


Pelukan Paris kian erat.


 


"Aku suka pengakuan itu," kata Paris memejamkan mata. Bibirnya tersenyum. Meski pucat, ia tampak berbunga-bunga.