Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Makan malam


"Biema tidak akan tergantikan," sahut Paris posesif. Asha tersenyum.


"Tentu saja." Asha menepuk lengan adik iparnya pelan. Dia merasa geli dengan sikap posesif adik iparnya. Paris hanya melirik saja melihat Asha tergelak.


Arga muncul dari kamar perawatan. Bertepatan dengan datangnya Bik Sumi dan orang kepercayaan ayah dari arah luar. Bik Sumi muncul untuk menemani bunda. Sekedar menjadi teman bicara. Karena pekerjaan di rumah sudah selesai.


Orang kepercayaan keluarga Hendarto masuk terlebih dahulu setelah menyapa Arga dan yang lain.


"Bik Sumi sudah makan?" tanya Arga sebelum beliau masuk ke dalam kamar perawatan.


"Sudah, Tuan."


"Kita akan keluar. Jaga bunda, ya. Nanti kalau ada apa-apa bisa segera telepon," ujar Arga.


"Baik Tuan. Saya masuk ke dalam ya ...," pamit Bik Sumi. Arga mengangguk.



"Seingatku, kamu menolak makan karena kenyang, tapi lihatlah ... Kamu sangat lahap," ujar Arga sambil menunjuk ke Paris yang makan. Asha tergelak.


"Bukannya itu bagus?" kata Asha yang terbebas dari Arash karena bayi itu masih terlelap di atas stroller berwarna merah di sampingnya. Hingga dia bisa mengistirahatkan lengannya dari kewajiban menggendong bayi gembul itu.


Mereka bertiga mencari makan di cafe dekat jalan raya. Ruko yang di sulap jadi cafe. Tempat makan anak muda dengan dua lantai yang bertema industrial.


"Ya. Aku senang adikku makan dengan lahap. Itu berarti dia sehat." Arga menyentuh pucuk kepala Paris. Dari sini gadis ini jadi ingat Biema lagi. Kebiasaan pria itu yang sangat di sukainya.


Sepertinya aku memang sangat ingin bertemu dia. Tangannya merogoh saku jaket dan mengangkat ponselnya dari sana. Belum ada kabar dari Biema.


"Kamu ada masalah, Paris?" tanya Arga tidak bertele-tele. Dengan adanya kode dari Asha, dia langsung bisa mengambil kesimpulan seperti itu. Paris mendongak. Mengalihkan perhatian ke arah kakaknya. Lalu bola matanya bergeser ke arah Asha yang duduk di di depannya. Kepala perempuan itu bergerak menunjuk Arga. Bermaksud menyuruh Paris untuk cerita soal sekolahnya.


Kini bola matanya kembali menatap Arga yang sabar menunggu dirinya menjawab.


"Namanya orang hidup pasti punya masalah," sahut Paris. Lalu kembali menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


"Meskipun sedikit, kamu bisa cerita ke kakakmu ini," ujar Arga. Paris masih mengunyah makanan di dalam mulutnya.


"Masih ada Biema. Jadi aku enggak perlu cerita." Asha terkejut dengan jawaban gadis itu. Dia tidak mengira Pasti akan menjawab dengan ketus.


Mendengar jawaban ketus dari adiknya, Arga langsung menoleh pada Asha dengan cepat. Melebarkan matanya untuk bertanya dan meminta pertanggung jawaban darinya. Dia bertanya pada Paris hanya karena istrinya sedang memintanya. Namun ternyata respon Paris tidak bersahabat.


Asha mengangkat tangannya, meminta suaminya untuk tenang. Paris memang sedikit tidak terbuka pada kakaknya.


"Paris memang sedang mengalami masalah, sayang ...," ujar Asha sambil terus memberi kode pada Arga dengan gerakan bola matanya. Agar pria ini tetap mau ikut campur soal masalah yang sedang di alami Paris. Meskipun gadis ini dengan wajah jutek menyahuti pertanyaannya.


Arga memilih menyuapkan makanan ke dalam mulutnya sambil menunggu Asha


mengarahkan Paris untuk terbuka padanya. Arga mengangguk. Menandakan ia mendengarkan apa yang di katakan istrinya.


"Itu benar kan Paris?" tekan Asha. Dia ingin adik iparnya terbuka pada kakaknya. Paris mendongak. Kemudian hanya mengangkat bahunya. Asha menipiskan bibirnya.


"Dia memang tidak ingin cerita, tapi saat ini yang bisa di andalkan hanya kamu sebagai saudaranya." Asha mulai berinisiatif mengatakan sendiri permasalahan yang di hadapi Paris pada Arga. Kepala Arga menoleh pada Paris. Lalu ganti menoleh pada istrinya lagi.


"Masalah rumit?" tanya Arga jadi sangat penasaran lantaran kalimat Asha sangat serius.


"Ya," jawab Asha sambil mengangguk kecil. Paris menghempas napasnya dengan lumayan keras.


"Soal apa, Paris?” tanya Arga serius ke adiknya. "Jika memang ini sangat serius, kamu harus cerita." Paris menyeruput minuman dinginnya lalu menatap Arga yang sedang menatap lurus-lurus ke arahnya.


"Aku di keluarkan dari sekolah." Akhirnya Paris mengaku.


"Di keluarkan dari sekolah?" Arga tidak percaya. Bukannya kamu sedang ujian?" tanya Arga menggebu. Dia langsung berubah ekspresi saat mendengar itu.


"Aku memang sedang ujian. Sekolah memberitahu keputusan itu saat aku masih mengikuti ujian." Paris mengatakannya seakan mengejek sikap wakil kepala sekolah.


"Apa yang kamu lakukan sampai harus di keluarkan dari sekolah?" tanya Arga seakan menuduh Paris berbuat tidak benar. Asha mengelus pundak suaminya.


"Dia tidak seratus persen salah. Paris akan cerita lebih rinci" Baby Arash menggeliat di atas stroller. Asha mendekat untuk menenangkannya.


"Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya pasrah mengikuti ide bunda," jawab Paris.


"Maksud kamu?” Kedua alis Arga bertaut.


"Paris di drop out dari sekolah karena ketahuan sudah menikah." Asha yang menggendong Arash akhirnya memilih ikut membantu menjawab.


"Jadi ini soal dia menikah?” tanya Arga yang kini menoleh pada istrinya. Asha mengangguk membenarkan. Kini Arash sudah tenang. Lalu ia duduk lagi sambil menolehkan kepala ke arah Paris. Mengikuti suaminya yang terlebih dulu menoleh pada adiknya.


"Ya. Karena statusku itu, pihak sekolah tidak terima. Jadi mereka mengeluarkan ultimatum aku di keluarkan dari sekolah, meskipun aku sedang mengikuti ujian. Bukankah ini karena bunda?" Paris jelas-jelas menyalahkan bundanya. "Aku tentu enggak bisa bilang bahwa ini hanya salah bunda. Ini juga kesalahan Biema dan keluarganya. Namun sekarang bukan itu yang perlu di bahas bukan? Aku ingin kembali sekolah dan mengikuti ujian. Aku ingin lulus dengan membawa pulang ijazah."


"Biema sudah tahu soal ini?" tanya Arga mulai melunak. Ras terkejutnya mulai hilang.


"Belum. Dia sedang berada di daerah lain."


"Telpon saja dia. Beritahu soal masalah ini. Tanyakan apa yang bisa di dilakukannya."


"Tidak bisa. Biema juga sedang terguncang. Perusahaan cabang sedang ada masalah, jadi aku tidak mau membebaninya dengan masalah baru." Saat mengatakannya, Paris terdengar sedih. Asha menoleh pada Arga dan menggerakkan dagunya. Meminta Arga saja yang menyelesaikan semua.


"Bunda sudah tahu?" selidik Arga sembari melihat ke arah istrinya sekilas. Kepala Asha menggeleng pelan.


"Belum. Aku sengaja tidak cerita ke bunda. Karena bunda masih sedih soal ayah yang sakit," ujar Paris.


"Bagus. Jangan sampai bunda tahu soal ini. Biar kita saja yang tahu. Aku akan mencoba menyelesaikannya." Arga langsung mengambil keputusan.


"Tidak," tolak Paris cepat.


"Tidak? Kamu ingin membiarkannya?" tanya Arga terkejut. Ada nada tidak setuju di sana.