Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Lunglai



Tidak lama kemudian, mobil perusahaan muncul. Fikar membuka kaca mobil dan melongok keluar.


"Paris!" panggilnya. Paris dan Sandra menoleh.


"Fikar sudah datang. Kamu ikut?" tanya Paris.


"Tidak. Sopir rumah bentar lagi datang. Kamu bisa pulang duluan."


"Baiklah. Aku pulang dulu."


"Ya."


"Halo Sandra," sapa Fikar.


"Halo juga." Sandra mencoba menyelidiki isi mobil perusahaan. Matanya melebar dan kepalanya celingak-celinguk. Mencari sosok kakaknya di dalam mobil. Namun nihil. Di dalam mobil hanya ada Fikar seorang. Fikar sampai ikut menoleh ke belakang, ingin tahu apa yang di lihat adik atasannya ini. "Kak Biema kemana?" tanya Sandra ingin tahu. Paris yang baru saja masuk dan duduk di kursi belakang menoleh sebentar.


"Biema masih sibuk," jawab Fikar.


"Kalau kakak sibuk, kenapa kamu bisa datang ke sini?" Paris meletakkan tas ranselnya di samping.


"Karena ada perintah untuk jemput Paris. Jadi aku wajib datang." Fikar bisa menjawab. Pertanyaan mudah.


"Jadi kak Biema aja nih, yang sibuk ... Aneh. Kamu kan asistennya. Kenapa saat kak Biema sibuk, kamu justru bisa keluar?" Kejar Sandra lebih jauh. Manik matanya melebar, saat yakin ada sesuatu. Pertanyaan Sandra selanjutnya ini membuat Paris mendongak. Kemudian melihat lebih lama ke arah Sandra dan Fikar yang berdialog.


"A-aku hanya bawahan, San. Kamu tahu itu. Aku hanya pesuruh perusahaan. Jongos-nya kakakmu." Fikar langsung mempercepat tempo bicaranya setelah di bagian awal kalimat sempat tersendat. Sandra lumayan mengerti.


"Okeee ... Apa yang kamu katakan memang benar. Namun kamu tahu kan ada apa dengan mereka?" bisik Sandra sangat lirih di kalimat terakhir. Sandra memandang Fikar lurus-lurus. Memaksa pria itu mengaku. Fikar menggelengkan kepalanya.


"A-aku tidak tahu," jawab Fikar panik.


"Kalian masih lama ngobrolnya?" dengkus Paris berusaha menyindir mereka berdua. Saat Sandra menoleh, raut wajah Paris tidak bersahabat. Selain karena dia hanya bisa jadi pendengar, Paris tidak suka saat Sandra bisik-bisik. Dia yang sudah resah soal sikap Biema yang tiba-tiba menghilang, kini harus resah mendengar bisik-bisik mereka.


"Tidak." Sandra langsung menegakkan punggungnya. Bibirnya tersenyum. Fikar menghela napas lega. Merasa selamat dari todongan Sandra berkat Paris. "Aku sudah selesai. Silakan kalau kamu ingin pulang. Naaahh ... mobil rumah juga sudah datang," lanjut Sandra menunjuk mobil yang baru saja muncul.


"Kita pulang Fik," ajak Paris.


"Oke," jawab Fikar tegas. Dia ingin segera berlalu dari sana untuk bisa menghindari adik Biema.


"Dah. Aku pulang San," pamit Paris. "Salam buat mamamu dan keluarga."


"Oke. Kakak ipar," sahut Sandra seraya melambaikan tangan dengan manis. Membuat Paris mengernyitkan dahi dengan cepat. Matanya melihat Sandra heran. Ya. Sebutan kakak ipar memang tidak pernah meluncur dari bibir gadis ini. Karena Paris tidak suka mendengarnya. Namun kali ini dia membiarkannya.


"Langsung ke apartemen apa ke kantor dulu, nih?" tanya Paris setelah mobil menjauh dari area sekolah.


"Kantor?" tanya Fikar terdengar heran. Paris yang tadinya menunduk memainkan ponselnya, kini mendongak.


"Oh ...Tidak. Kita langsung menuju ke apartemen. Biema tidak berpesan apapun. Kamu mau ke kantor? Jika iya, aku akan mengantarmu."


"Enggak. Hanya saja ... " Paris mengerjapkan manik matanya sedikit kesulitan menjawab. Dia menyibukkan diri dengan memasukkan ponsel ke dalam saku seragamnya. Fikar yang duduk di depan menunggu jawaban Paris, dengan melihat lewat spion kecil di atasnya.


"Biema tidak menyuruhku mengajakmu ke kantor, tapi kalau kamu ada perlu, aku bisa mengantar." Fikar berbaik hati memberikan tawaran. Paris merasa tertolong dengan kalimat Fikar. Dia yang mendadak kesulitan menemukan lanjutan kalimatnya sendiri, lega.


"Tidak. Tidak. Aku tidak ada perlu." Paris langsung memutuskan untuk tidak melanjutkan perbincangan soal ini.


"Jadi kita langsung pulang?" tanya Fikar.


"Ya. Bukannya Biema tidak suka kalau aku berkeliaran sehabis pulang sekolah? Pasti kali ini juga dia memberi tahu kamu untuk selalu mewaspadaiku agar tidak kabur." Paris terdengar yakin sekali.


"Tidak. Biema tidak mengatakan apa-apa soal larangan. Dia justru bilang padaku, 'antarkan saja kemanapun dia mau'. Begitu." ." Deg! Entah kenapa informasi yang di bagikan Fikar terasa tidak nyaman di telinganya.  Hatinya juga ikut berdenyut sakit. Padahal itu suatu keberuntungan baginya untuk bisa berkeliaran sesuka hati tanpa di marahi oleh pria itu.


"Begitu, ya ...." Ada rasa kecewa yang terselip dalam nada bicara Paris.


"Memangnya kamu mau kemana?"


"Tidak. Aku tidak mau kemana-mana. Antar saja aku pulang ke apartemen." Suara Paris jadi turun tidak berdaya.


"Baiklah."


Fikar pun melajukan mobil menuju apartemen Biema. Hhh ... Paris menghela napas berat di belakang. Ada yang membebani pikirannya dengan hal yang menyesakkan. Paris mengeluarkan ponsel dari saku kemejanya. Menatap layar ponsel yang gelap karena tidak ada pemberitahuan apapun di sana. Lalu ia memasukkan lagi, ponsel ke saku. Melihat keluar jendela sambil menyandarkan kepala di kaca.


Fikar yang berada di depan rupanya memperhatikan gerak-gerik gadis yang berstatus istri atasannya itu. Fikar tahu dia resah.


"Apa kamu ingin ke rumah orangtuamu?" tawar Fikar.


Paris yang tadinya menyandarkan kepalanya pada kaca langsung bangkit dan menoleh ke depan. "Apa Biema menyuruhku ke rumah bunda?" tanya Paris bersemangat.


"Oh, bukan. Ini inisiatifku sendiri."


"O ... Aku pikir Biema yang menyuruhmu mengantarkanku kesana." Paris menurunkan bahunya lagi. Tadi bahu itu sempat lemas karena beban, kini mendadak tegak karena mendengar tawaran Fikar, yang di sangkanya perintah dari Biema. Namun bahu itu kembali lunglai saat tahu bahwa itu hanya inisiatif Fikar sendiri.


Tidak di sangka saat ini dia ingin ada perintah atau larangan dari pria itu. Paris menunggu. Ternyata tidak ada larangan atau nasehat apapun yang biasa di terapkan Biema padanya. Lagi-lagi Paris kecewa. Fikar yang membaca itu merasa bersalah. Dia yang sebetulnya ingin membuat Paris bersemangat, malah membuat gadis itu kecewa.


Paris melihat lagi keluar jendela. Kembali meletakkan kepala pada pinggiran kaca mobil. Menyaksikan berbagai macam kendaraan yang lalu lalang di jalan. Dia bukan fokus mengamati setiap kendaraan dan bangunan di sana. Gadis ini menatap jalanan dengan pandangan menerawang.


Aku tidak mau pulang ke apartemen, batinnya.


"Aku mau ke rumah orangtuaku," kata Paris saat melihat belokan menuju apartemennya. Rasanya dia tidak ingin pulang sekarang. Bukan muak dan malas seperti saat pertama kali menempati apartemen. Dia hanya merasa sia-sia pulang. Toh, di sana sepi. Kosong. Tidak berpenghuni. Dia merasa tidak suka sendirian sekarang.


Fikar yang mendengar itu lega. "Baik. Aku akan mengantarmu ke sana." Fikar segera melajukan mobilnya dengan cepat. Gagasannya di terima.