
"Hah? Kenapa jadi nyambung dengan orang itu?" Paris terkejut seraya menoleh ke belakang sekilas. Biema bercerita soal pagi tadi. Namun tidak hanya itu. Hidungnya juga berulang kali mengendus keharuman sabun mandi yang melekat di leher Paris. "Aku penasaran kapan balasan buat mereka akan datang. Bukannya mereka terlalu santai dan aman?" tutur Paris.
"Kamu menginginkan mereka menerima balasan?" tawar Biema.
"Apa yang akan kamu lakukan? Wajahmu terlihat serius dan horor. Kamu yang akan membalasnya?"
"Ya. Melakukan apa yang harus di lakukan."
"Menghajar mereka?" tebak Paris.
"Bukan. Ada hal lain yang mengerikan sekedar di hajar," sahut Biema di sela-sela endusan lembut di bahu milik Paris.
"Berhenti mengendusiku. Kamu sepeti ingin melahapku saja," sungut Paris. Biema tergelak.
"Aku memang ingin melahapmu karena kamu terlihat sangat lezat," ujar Biema sambil memperhatikan seluruh tubuh istrinya. Untung saja Paris memilih berganti pakaian di dalam kamar mandi. Jika tidak bisa saja handuknya melorot dan memberi akses mudah bagi Biema untuk melahapnya. "Segera bersiap. Kita akan cari gaun buatmu." Biema melepas pelukannya dan mengelus lembut kepala gadis ini.
"Aku bisa pakai baju pesta milikku." Paris berjalan mengikuti Biema dari belakang.
"Tidak. Kamu harus tampil bagus. Istriku haruslah menjadi yang terbaik di pesta."
"Kamu tidak ingin aku jelek?"
"Jangan salah." Paris berhenti karena melihat Biema membalikkan tubuhnya secara mendadak. Itu membuat kepalanya terantuk dada Biema. Paris meringis seraya mendongak. "Sakit?" tanya Biema seraya mengelus pelan kepala gadis ini. Paris menggeleng. "Istriku tidak pernah terlihat jelek dimata ku. Semua hal yang ada pada dirinya merupakan anugrah terindah untukku. Kamu sempurna untukku. Harus memakai baju bagus bukan berarti kamu sekarang jelek."
"Iya, Tuan. Saya mengerti," tutur Paris jenaka.
Ini merupakan hari pertama bagi Biema membawa Paris ke depan publik sebagai istrinya. Kecuali di depan orang-orang sekolah. Pria ini terpaksa mengumumkan kepemilikannya sebagai suami Paris di depan orang-orang sekolah gadis ini saat itu. Anggap saja itu tidak termasuk. Karena tidak sesuai ekspektasi. Dimana dia ingin publikasi Paris sebagai istrinya, di tempat yang pantas semacam sebuah pesta.
Biema yang sudah memakai setelan jas. Dia bersiap berangkat. Sekarang dia tinggal menunggu Paris selesai di dandani. Saat ini mereka sedang di dalam butik pilihan keluarganya. Paris keluar dari balik tirai fitting baju. Gadis itu keluar dengan memakai gaun pesta pilihan pertama. Bola mata Biema memicing.
"Aku tidak suka," ujar Biema.
"Tidak suka? Kenapa?" tanya Paris heran. "Menurutku ini sangat bagus."
"Kamu terlalu sekksi. Aku tidak setuju menunjukkan tubuhmu seperti itu di depan banyak orang," ujar Biema membuat kepalanya menunduk melihat kondisi tubuhnya. Aku sekksi? Benarkah? Paris tersenyum. Orang butik yang menungguinya juga tersenyum.
"Oke aku ganti." Paris setuju dan kembali masuk ke dalam tirai fitting room. Setelah menghabiskan waktu beberapa menit, gadis itu muncul lagi. "Bagaimana? Ini tidak terlalu terbuka bukan?" Paris menunjukkan gaunnya. Biema mengangguk.
"Memang tidak, tapi aku tidak suka."
"Lagi? Kenapa?" tanya Paris heran.
"Kamu tambah cantik memakai itu. Semua pria di pesta itu pasti akan terus saja memperhatikanmu." Alis Paris naik mendengar ucapan Biema.
"Oke. Aku memang cantik. Jadi aku sekaranb harus jelek," ujar Paris bukan sedang memuji dirinya, dia sedang menyindir Biema. Pria itu membiarkan Paris masuk lagi ke dalam tirai fitting room. Beberapa menit, Paris kembali dengan pakaian lain. Pilihan ketiga ini masih membuat pria ini memicingkan matanya. Bahkan kali ini lebih lama daripada tadi.
"Jangan bilang kamu tidak suka. Aku akan marah jika kamu mengatakan itu lagi. Aku sudah lelah," kata Paris sambil mengacungkan jarinya menunjuk ke arah Biema. Sebuah peringatan dari batas kesabaran yang sudah menipis.
"Ya."
"Ya?" tanya Paris sudah ingin marah karena sebentar lagi dia akan di tolak lagi.
Pesta sudah begitu ramai. Hingga saat pria ini datang bersama Paris, banyak mata memperhatikan mereka. Tidak biasanya pria pewaris perusahaan textil ini datang dengan seorang wanita. Bahkan mereka terlihat begitu mesra.
"Aku ... mendadak gugup," bisik Paris saat menyadari dirinya dan Biema jadi pusat perhatian.
"Kenapa?"
"Lihatlah. Mereka memandang ke arah kita dengan mata heran." Paris menunjuk ke depan mereka dengan dagunya. Banyak tamu pesta yang melihat ke arahnya. Biema tahu itu.
"Mereka hanya terkagum-kagum denganmu."
"Berhenti .Jangan membual," ujar Paris dengan menoleh ke samping. Bola matanya menatap tajam ke arah Biema yang menatapnya dengan bibir melukis senyum.
"Aku yakin pilihanku tidak salah dengan memilih mu. Tegakkan punggungmu. Lihatlah. Mereka itu memang sedang memandangimu."
"Justru itu yang buat aku gugup." Mereka masih bisik-bisik sambil sesekali tersenyum saat seseorang menyapa. "Bukannya tadi kamu bilang tidak suka bila banyak pria yang melihatku?"
"Ya memang. "
"Lalu sekarang? Kenapa justru bangga saat mereka melihat ke arah kita semua?" tegur Paris masih berbisik.
"Karena aku mengerti. Kamu yang pertama, jadi mereka terkejut."
"Bohong," sungut Paris.
"Wajar kamu tidak percaya." Biema tidak memaksakan diri untuk di percayai oleh istrinya.
"Kalian datang rupanya," sapa keluarga tuan rumah. "Jadi ini tunanganmu?"
"Istri," pungkas Biema.
"Istri? Sejak kapan kamu punya istri?" Mendengar kata istri, pria itu makin memperhatikan Paris. Ini membuat Paris kian gugup. Apalagi Biema melingkarkan lengan ke pinggang gadis ini. Manik mata Paris melebar karena itu.
"Sudah lama. Hanya belum publikasi saja," ujar Biema seraya tersenyum bangga.
"Oo ... Begitu. Tunggu ... Ini putri tuan Hendarto?" tanya pria itu mengenal siapa Paris ini.
"Ya. Putri cantik mereka." Biema mengucapkannya dengan mudah. Padahal hati Paris sudah jedag jedug mendengar kalimat pujian itu.
"Semua wanita yang pernah mengagumimu akan hancur hatinya jika melihat ini." Pria itu yakin akan perkataannya.
"Sebaiknya begitu, karena hatiku sudah ada pemiliknya," ujar Biema di sambut senyum oleh pria itu. Paris melayang. Setelah perbincangan yang lama akhirnya mereka hanya berdua saja. Paris meminta ijin ke toilet.
"Aku antar," kata Biema.
"Ih, enggak perlu. Tunjukkan saja tempatnya. Aku akan kesana sendiri." Biema menunjukkan jalan menuju toilet yang tidak begitu jauh dari aula tempat acara. Langkah Paris langsung menuju ke toilet agak cepa Sepertinya pendingin di area tempatnya berdiri terasa dingin. Hingga membuatnya ingin ke toilet segera.
Setelah menyelesaikan urusan uriner, Paris berkaca di depan cermin toilet. Saat itu seorang perempuan juga keluar dari bilik toilet. Mata Paris tidak berhenti menatap kaca saat tahu itu gadis pembuat masalah, Priski.