
Juna saat itu sedang melintas di depan sebuah mini market yang menjamur dengan sepeda motornya. Ada keinginan untuk berhenti di mini market itu untuk membeli minuman dingin.
"Apa yang kamu bilang?!" Terdengar suara seorang pria sangat keras. Juna yang menepikan motornya ke halaman parkir minimarket, terkejut saat menemukan seorang pria tengah di pukul dan di tendang oleh pria yang lain. Dari penampakan yang terlihat, jelas sekali dua orang itu sangat berbeda. Dari pakaian hingga tumpangannya.
Juna mendekat.
"Ada apa?" tanya Juna pada orang-orang yang entah kenapa tidak berusaha membantu. Mereka membiarkan bapak dengan kemeja kotak-kotak berwarna hijau itu di pukul oleh laki-laki berwajah kaku dan angkuh. Rupanya bapak dengan kemeja kotak-kotak itu hanya meminta pria angkuh itu untuk memindah mobilnya sebentar karena menghalangi sepeda motor bapak berwajah melas itu untuk keluar. Namun ternyata yang punya mobil justru marah tidak terima.
"Tunggu!" potong Juna membuat pria paruh baya itu menoleh padanya dengan wajah masam.
"Apa? Kenapa kamu menghentikanku?!" tanya pria dengan memakai seragam safari itu marah. Juna mendekat dan berdiri di sebelah pria pemilik sepeda motor itu.
"Maaf. Sebenarnya Bapak ini hanya minta Anda untuk memindah mobil. Karena jalan untuk motor Bapak ini jadi tertutupi oleh mobil Anda." Juna mengatakan itu dengan sangat sopan dan penuh kehati-hatian. Namun respon yang di terima olehnya justru cacian.
"Kamu ini! Jangan bertingkah di depan orang yang lebih tua. Saya ini orang tua. Jadi tidak perlu kamu ajari. Orang tua kamu itu enggak pernah kasih kamu ajaran untuk sopan pada orang tua, ya?!” Teriakan bapak dengan seragam safari ini makin meninggi. Hingga membuat orang-orang yang ada di sekitar, bergidik takut. Tidak ada yang berani membela.
Bapak dengan kemeja kotak itu juga menekuk tubuhnya karena takut.
"Maaf jika saya tidak sopan. Saya hanya ..."
"Kamu itu ..." Tangan bapak berseragam safari ini ringan juga. Karena dia juga melayangkan tangan untuk menampar Juna.
"Berhenti," ujar Biema seraya menangkap tangan milik pria tua itu. Juna menoleh. Dia heran dengan kemunculan Biema yang tiba-tiba.
"Hei!" teriak pria berseragam itu tidak terima. Namun saat melihat siap yang menghentikan gerakannya, pria itu terkejut. "Oh, kamu ..." Ternyata Biema sangat berjodoh. Orang ini mengenal Biema dengan baik.
"Kita selalu berjumpa dalam situasi seperti ini ya?" sapa Biema yang membuat papa Priski ini terdiam. Wajahnya pias. Tangannya segera berontak untuk lepas dari cekakan Biema. Juna melirik. Melihat keduanya bergantian. Dia heran kenapa mereka berdua saling mengenal.
"Bapak tidak apa-apa?" tanya Juna sopan. Bapak yang membawa bungkusan belanjaan itu mengangguk. Kemungkinan dia masih ketakutan karena sudah di pukul oleh pria di depan mereka. Tubuhnya saja sekarang masih gemetaran. Ada sedikit jejak merah karena kena pukulan.
Sementara itu dari dalam mini market, keluar seorang gadis dengan memakai seragam sekolah. Melihat ada keributan diluar, gadis itu segera berjalan cepat untuk mendekat.
"Ada apa, Pa?" tanya gadis itu yang membuat Biema melirik tajam. Dia Priski.
"Tidak ada apa-apa," sahut papa Priski ketus. Gadis itu heran. Ini membuatnya melihat ke arah orang-orang yang ada di sekitar papanya.
"Kalian ...," ujar Paris tertahan. Dia terkejut melihat Biema dan Juna yang ia tahu adalah orang yang di anggap kenal dengan Paris.
Jadi ini hubungannya ... Pria tidak tahu adab itu orang tua gadis cantik ini. Makanya Biema kenal. Juna mulai bisa menerka.
"Ayo. Kita pergi. Cepat," ajak papa Priski kasar. Priski segera mengikuti jejak papanya dan ikut masuk ke dalam mobil. Lalu menyalakan mesin dan segera menjauh dari halaman mini market.
"Aku tidak, tapi bapak ini sedikit merah di pipinya karena orang tadi," ujar Juna menjelaskan. Biema memiringkan kepala melihat ke arah jejak lebam yang tipis itu.
"Bapak mau saya antar ke rumah sakit?" tanya Biema peduli.
"T-tidak. Tidak perlu Tuan. Saya tidak apa-apa. Ini hanya tergores sedikit." Bapak ini merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, Pak. Biar om ini yang bayar," ujar Juna membujuk.
Om? Aku? Bocah iniiii .... Biema menggeram dalam hati. Bagi kebanyakan orang di panggil om mungkin terasa biasa saja, tapi saat Juna yang bicara ... panggilan itu terasa menjengkelkan.
"Tidak, Dik. Biar bapak pulang saja. Saya sudah lama berada di sini. Istri saya pasti bingung saya tidak pulang-pulang. Anak saya yang masih bayi pasti menunggu susu yang saya beli ini." Bapak itu menunjukkan bungkusan di tangannya.
"Oh, baiklah." Juna tidak memaksa bapak itu lagi.
"Terima kasih ya Dik. Tadi sudah membela saya. Terima kasih juga Mas, sudah menawari saya berobat. Terima kasih. Ternyata masih banyak orang baik meski bukan orang kecil seperti saya." Pria ini tahu Biema memakai jam tangan yang sepertinya bukan murahan. Biema dan Juna tersenyum. Lalu bapak itu pergi dengan motornya setelah berpamitan.
"Lalu kamu? Kenapa berkeliaran di sini?" tanya Biema. "Aku tahu rumah kamu bukan di sini. Fans sekarang adalah jam sekolah meskipun untuk kamu sekarang jam sekolah bebas karena hanya tunggu nilai." Di tanya seperti itu Juna tergelak. Biema mengerutkan keningnya.
"Walaupun aku bukan tinggal di daerah ini, bukan berarti aku tidak boleh berkeliaran di sini kan?" Juna malah bertanya. Biema diam. Dian tahu itu, tapi entah kenapa justru mengatakan hal tidak penting itu. "Aku tahu kak Biema, pasti ..."
"Panggil aku Biema."
"Hah?" Juna terkejut. Tiba-tiba pria ini mengatakan hal lain. Memotong kalimatnya yang belum selesai. "Bukannya kemarin menyuruhku memanggilmu seperti aku memanggil kak Arga?" Juna masih ingat itu. Dia masih belum hilang ingatan.
"Aku ralat."
"Oh. Oke." Juna tidak ambil pusing. Dia langsung mengiyakan. "Pasti kamu ingin tahu apa yang sedang aku lakukan ini berhubungan dengan Paris atau tidak." Juna menebak. Walaupun sebenernya bukan, tapi Biema jadi malu sendiri.
"Tidak sama sekali. Paris sudah bilang, kalian saudara."
"Oh, baguslah. Itu memang kenyataannya. Walaupun kamu melihat kita dekat, tapi jangan berpikir yang aneh-aneh. Selain karena kita adalah saudara, aku tahu selera gadis itu. Dia penyuka pria tampan dan gagah. Menurutku kamu seperti itu." Mendadak Biema merasa wajahnya hangat.
"Jangan banyak bicara. Berhentilah berkeliaran. Kakakmu pasti khawatir."
"Kakak? Kak Asha? Kalian bilang pada kak Asha kalau aku berada di sekitar sini?" Raut wajah Juna menegang. Kepalanya melihat ke sekitar dengan panik. Biema tersenyum licik. Dia menemukan kelemahan bocah ini.
Ternyata ini kenapa Paris segera menutup telepon saat Arga bertanya apakah benar Juna bekerja. Jadi soal pekerjaan ini memang rahasia.