
Sandra melihat sahabat yang juga merupakan kakak iparnya datang. Kakinya melangkah mendekat untuk menyambutnya.
"Pariss ..."
"Sandra ..."
Namun tiba-tiba Sandra memperlambat kakinya. Ada yang lain. Mereka berdua bergandengan tangan. Pemandangan yang sangat jarang, langka, daaaannnn ... tidak mungkin!
Biema harus pasrah saat Paris melepas tangannya. Pertemuan Paris dan Sandra memang salah satu prioritas. Mereka sudah menjadi sahabat sebelum dia mengenal Paris. Mereka pun berpelukan.
"Tidak menyangka," ujar Sandra saat mereka masih berpelukan.
"Tidak menyangka aku berpakaian cantik begini?" tanya Paris berkelakar.
"Bukan. Tidak menyangka kalau kamu akan bergandengan tangan dengan Kak Biema." Mendengar ini Paris segera menjauhkan tubuhnya dari Sandra.
"Oh, itu. Itu ceritanya panjang." Paris menggaruk tengkuknya. "Itu tidak seperti yang kamu pikirkan." Paris mengibaskan tangannya.
"Sepanjang apapun, itu sangat aneh buatku." Sandra tetap pada pendapatnya.
"Jangan mempengaruhi Paris dengan opini-opini yang meresahkan, Sandra," tegur Biema membuat Sandra melebarkan mata. Dia terkejut dirinya di protes oleh kakaknya. Padahal dulu, Biema selalu kasih nasehat Sandra untuk tidak bergaul dengan Paris yang bisa membawa dampak buruk. Sekarang ... justru dia yang di protes.
"Terima kasih sudah memprotesku, Kakak," ujar Sandra sambil mencebik. Membuat Biema tergelak. "Kenapa tergelak? Ini enggak lucu," sungut Sandra.
"Kamu jadi mirip sama Paris. Aku suka," ujar Biema sambil menyisakan senyum di bibirnya.
Mirip Paris? Suka? Whatt?!! Sandra melongo. Paris yang mendengar itu berdecak karena merasa wajahnya jadi panas. Tersipu. Bola mata gadis itu melihat Paris dengan curiga.
"Apa?" tanya Paris tanpa bersuara. Setelah melihat Paris, kini giliran bola mata Sandra melihat ke arah kakaknya.
Sandra belum sempat berkomentar, Biema sudah menarik tubuh Paris dengan lembut untuk mendekat padanya karena ada mama. Walaupun terkejut, Paris langsung memasang senyum saat suara mama Biema terdengar.
"Biema, kamu datang?"
"Iya, Ma."
"Aduh ... Paris begitu maniiiis. Mama jadi gemes melihatnya." Mama Biema menyentuh kedua bahu menantunya sambil berulang kali melihat keseluruhan penampilan Paris.
"Mama, berhenti melihat Paris begitu. Dia bisa tidak nyaman," protes Biema ingin menyudahi tingkah mamanya yang lucu. Paris sangat berterima kasih pada Biema karena berhasil menghentikan mamanya.
"Maaf, ya Paris. Mama suka lihatnya ... Apalagi putra mama ini juga kelihatan semakin tampan." Kali ini beliau melihat ke arah putranya sambil tersenyum. "Ayo, bawa Paris masuk ke dalam. Di dalam banyak saudara kita yang ingin lihat istrimu. Ayo, Sandra kamu ikut mama masuk." Mama menarik lengan putrinya yang sebenarnya mau meledeki kedua orang ini.
"Baiklah." Mama berjalan lebih dulu ke dalam. Lagi-lagi Paris merasa nervous berat. Biema melihat kegugupan itu.
"Tidak apa-apa Paris. Jangan tegang," pinta Biema lembut untuk menenangkan istrinya.
"Biar kamu bicara begitu, tetap saja aku gugup." Paris belum mau melangkah masuk.
"Pegang lenganku." Biema menyodorkan lengannya. Seperti tadi. Paris menerima sodoran lengan Biema tanpa banyak protes dan gerutuan. "Siap? Kita masuk bersama." Paris mengangguk setelah menghela napas. Kaki mereka pun mulai melangkah lebih masuk ke dalam.
Di dalam ada banyak saudara Biema yang tidak di kenal Paris. Karena saat pernikahan, mereka hanya mengundang saudara terdekat saja. Jadi saat ini mereka ingin melihat istri Biema secara langsung.
"Biem ...," bisik Paris seraya mengetatkan pegangannya pada lengan Biema.
"Bersikap tenang, Paris. Anggap mereka adalah lawan-lawanmu. Kamu saat ini sedang ingin menghajar mereka." Biema memberi saran dengan menggunakan sesuatu yang berhubungan erat dengan gadis ini.
"Ih, apa itu ... Bisa-bisa aku jadi preman nih," bisik Paris.
"Enggak apa-apa. Yang penting istriku nyaman," balas Biema juga berbisik.
"Egois nih ceritanya."
"Nah, ini dia pengantin barunyaaaa ...," ujar salah satu dari saudara Biema yang langsung membuat seisi ruangan menoleh pada mereka berdua. Fokus mereka pada Paris membuat gadis ini menelan ludah sejenak seraya tersenyum.
"Jangan tinggalkan aku," bisik Paris membuat Biema terpana mendengar kalimat itu, hingga dia memutuskan menemani Paris berkeliling untuk bersalaman dengan keluarga mamanya.
...----------------...
...----------------...
Sandra duduk di samping Paris yang rebahan di atas tempat tidurnya. Gadis itu sepertinya kelelahan. Dia sudah hampir dua jam lebih berbincang dan tanya jawab dengan seluruh anggota keluarga Biema.
"Aku lelah, aku lelah ...," desis Paris seraya menggerakkan tangannya mengusir rasa panas. Padahal ac kamar sudah di nyalakan.
"Tidak perlu bilang, aku tahu. Aku melihatnya. Kasihan sekali kamu." Sandra memberi minuman dingin yang di bawanya pada Paris.
"Keluargamu bertanya macam-macam padaku."
"Namun sepertinya kamu berhasil membuat mereka terkesan." Sandra mengacungkan jempol.
"Aku tidak tahu itu. Aku hanya berusaha menjawab semua pertanyaan."
"Bahkan saat kamu enggak bisa jawab juga, kamu masih mencoba menjawabnya dengan kata ... mungkin. Dan itu ampuh." Sandra tergelak.
"Itu juga terasa aneh." Paris ikut tergelak mengingat tadi.
"Kak Biema tidak berhenti tersenyum melihatmu mampu tampil dengan baik tadi. Matanya berbinar-binar." Sandra menggambarkan sosok Biema yang sepertinya terkagum-kagum melihat istri kecilnya mampu beradaptasi.
"San, Mela itu mantannya Biema yah?" tanya Paris membuat Sandra yang tersenyum menceritakan kakaknya, terhenyak.
"Kenapa tanya kak Mela?" Sandra merasa tidak nyaman.
"Karena ternyata Biema mau menikahiku karena dia sakit hati ajakan menikahnya di tolak Mela," ujar Paris. "Ternyata walaupun intinya sama-sama menikahiku karena terpaksa, kalau dengar dia menikahiku karena kecewa dengan perempuan lain, kenapa aku jadi agak kesal dan sebal ya?" Sandra menatap temannya dengan iba.
"Maaf, ya Paris ... Aku enggak tahu soal itu."
"Eh, kenapa kamu jadi minta maaf? Aku hanya bercerita. Curhat seperti biasanya. Kebetulan aja kali ini cowoknya kakak kamu."
"He-eh, aku tahu, tapi tetap aja enggak enak sama kamu."
"Ya deh, aku maafin."
"Kak Biema sendiri yang mengatakan itu?" Paris mengangguk mendengar pertanyaan Sandra. "Berarti kak Biema berusaha terbuka ke kamu."
"Memangnya dia orangnya tertutup?"
"Iya. Enggak terlalu sih ... Tapi dia bukan kayak kak Arga gitu."
"Masak sih? Enggak percaya deh. Tuh orang usilnya kebangetan. Bahkan seringkali sengaja meledekku habis-habisan. Kalau ngomong juga seringkali seenaknya ke aku." Paris antusias sekali membicarakan Biema sampai harus bangkit dari rebahannya yang enak.
"Eh, kakak begitu? Aku juga baru tahu kalau kak Biema itu iseng. Mungkin khusus ngisengin kamu kali ...," goda Sandra. Matanya berkerling ke arah Paris. Sementara Paris hanya menipiskan bibir di ledekin. "Sepertinya ... dia mulai beneran suka ke kamu."
"Biema?"
"Iyalah Paris. Kita kan lagi ngomongin kakakku."
"Oh, ya? Aku kurang paham." Dia memang sering bikin ge-er aku, ujar Paris dalam hati. "Oh, ya San. Aku ketemu kak Lei!" seru Paris senang.
"Kak Lei, mantan kamu?" Paris mengangguk.
"Dia sudah menjadi seorang pria. Makin cakep. Busyet dah. Aku sempat deg-degan lihat dia." Paris merebahkan tubuhnya lagi. Sandra melirik. Saat ini selain dia adalah sahabat Paris, dia juga adiknya Biema. Dimana si Biema itu kakaknya Sandra. Jadi saat mendengar Paris menceritakan seorang pria lain, Sandra agak tidak nyaman. Dia jelas tidak ingin kakaknya di duakan oleh Paris. Namun untuk protes, Sandra masih ingin menutup mulut.