Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Chat



Suara keyboard di ketik dengan lembut, tapi masih tegas, terdengar dari ruang kerja yang berada di lantai paling atas gedung perusahaan textil. Tangan satunya memainkan keyboard, sementara tangan yang lain bertumpu pada meja menopang dagu. Biema sedang melihat indeks penjualan bulan kemarin di layar monitor. Sesekali keningnya mengerut saat melihat ada sesuatu yang di rasa kurang tepat.


Pria ini memang tampak tekun melakukan pekerjaan. Namun, tidak ada satupun orang tahu bahwa hatinya sedang gonjang-ganjing. Gelisah dan resah merasakan sesuatu yang nikmat dan indah.


Kadang bola matanya menatap layar monitor, tapi tatap matanya menerawang. Dia sedang melamunkan sesuatu. Bibirnya tersenyum. Kemudian menggeleng. Berusaha kembali fokus pada pekerjaannya. Namun bayangan seseorang yang di ingatnya saat ini, kembali melintas. Biema tersenyum lagi.


Ini sudah ke berapa kalinya Biema oleng. Ingin fokus pada pekerjaan, tapi seseorang mengalihkan pikirannya. Kini bola matanya tertuju pada arloji favorit di pergelangan tangannya.


Ini baru sekitar jam 9 pagi. Dia mengantarkan Paris jam 6.30. Itu berarti jarak Biema tidak ketemu dengan gadis itu baru tiga jam lebih. Namun sekarang Biema sudah gelisah. Rasa ingin bertemu mulai terasa. Apalagi teringat lagi tentang semalam. Rasa rindu terus saja menggodanya untuk pulang.


Meskipun pagi ini ada sedikit yang merusak suasana romantis antara dia dan Paris. Namun itu tidak membuatnya urung mengingat momen bagus tadi malam.


"Ini jam istirahat Paris. Apakah aku bisa meneleponnya? Tidak, tidak. Aku tidak pernah meneleponnya. Mungkin dia akan terkejut dan sedikit bad mood. Apalagi dia memang marah karena jejak kemerahan itu. Atau ... aku bisa mengirimi dia pesan. Sedikit pesan singkat. Sekedar melihat bagaimana respon dia." Gagasan cemerlang di temukan olehnya.


Tangan Biema segera meraih ponsel di sebelah kanan meja. Ingin merealisasikan idenya. Lalu mengetikkan kata-kata pada bilah papan tuts dengan mode layar sentuh.


"Halo Paris. Kamu masih marah?" Ketik Biema. Kepalanya menggeleng.


"Tidak, tidak. Jika aku tanya begini, dia akan semakin marah. Karena sudah jelas pagi tadi dia marah." Biema menghapus kalimat barusan. Terdiam sambil mengerutkan kening karena berpikir. Mencari kata yang tepat untuk menyapa gadisnya yang sedang marah. Beberapa detik, dia menemukan ide. Tangannya mulai menyentuh bilah papan tuts lagi.


"Maaf, Paris aku tidak akan mengulanginya lagi. Kalau perlu, aku tidak akan mencium leher kamu lagi." Biema membaca lagi pesan itu di dalam hati. Keningnya mengerut.


"Tidak akan mencium leher-nya lagi? Itu tidak mungkin. Aku sudah sampai pada level itu dengan menahan diri sangat lama. Jika dia menyetujui pernyataanku ini, levelku akan kembali turun. Itu akan menyiksa. Akan sulit lagi untuk bisa naik ke level sekarang." Biema tidak mengirimkan pesan yang di tulis barusan dan menghapusnya. Rupanya dia perlu berpikir lagi.


"Ah, sudahlah. Jangan terlalu banyak berpikir. Aku akan kirim pesan sewajarnya saja." Biema pun mengetikkan sesuatu.


"Lagi ngapain?" Ketik Biema asal. Dia tidak terlalu berharap banyak pada pesan singkat dan tidak istimewa ini. Klik! Biema mengirim pesan itu. Meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Kemudian kembali meraih mouse komputer untuk melanjutkan pekerjaan.


Tring!


Ada pesan masuk. Biema melirik ke atas layar yang menyala. Ada notifikasi dari aplikasi chat di ponselnya. Itu dari Paris. Tidak perlu menunggu beberapa menit, bahkan beberapa jam lagi bagi Biema menunggu. Paris secepat kilat membalas pesan ala kadarnya itu.


Biema surprise dan meraih ponsel. Menghela napas sejenak karena yakin Paris membalasnya dengan jengkel. Lalu segera membaca pesan yang masuk melalui aplikasi chat, karena pesan hanya muncul sebagian saat terlihat di bilah layar notifikasi.


"Lagi mikirin kamu yang mesumin aku."


Bola mata Biema membeliak. Mengerjap beberapa kali. Kemudian membaca pesan itu lagi dengan teliti. Manik matanya mengerjap lagi. Rupanya dia tidak salah melihat. Itu benar. Tulisan pada chat yang di kirim Paris, benar adanya.


"Dia ... mikirin aku?" tanya Biema pada dirinya sendiri sekaligus melihat tidak percaya pada apa yang baru saja di bacanya. "Mesum?" Bibirnya menyeringai. "Apa dia sedang teringat saat aku mencium lehernya? Gadis itu ..." Jari Biema mulai mengetik pesan balasan untuk Paris dengan seringaian bahagia yang senantiasa terlukis di bibirnya.



Eh? Tunggu. Aku tadi kirim pesan apaan ya? Paris merasa ada yang salah. Dia segera buka ponsel. Melihat dengan cepat pesan yang dikirimnya tadi. Paris membaca ulang pesan yang di kirimnya.


"Lagi mikirin kamu yang mesumin aku."


Dengan panik yang tidak di buat-buat, Paris berniat segera menghapus pesan itu. Namun saat dia melihat dua centang biru di sebelah pesan yang ia kirim. Tangannya berhenti untuk menghapus. Itu tanda bahwa pesan yang ia kirim sudah di baca oleh si penerima. Sia-sia sudah jika dia memaksa menghapus pesan itu.


"Arggh ... Mampus, aku." Sandra melongo mendengar keluhan Paris.


Paris meringis sedih melihat itu. Lalu berdecih kesal sambil memukul udara. Tring! Ada balasan dari Biema. Paris mencoba melihat pesan itu dengan lambat-lambat. Matanya menyipit. Takut dengan isi pesan dari Biema.


"Mesum? ...."


Kata awal dari balasan Biema sudah begitu. Akhirnya Paris memberanikan diri untuk membaca keseluruhan pesan.


"Mesum? Kamu masih teringat sentuhan bibirku? Aku bisa melakukannya lagi dan lebih, jika kamu menginginkannya. Bahkan aku bisa melakukannya di tempat lain, selain leher. Agar kamu tidak kesusahan seperti itu."


Kedua tangan Paris mengusap-usap wajahnya dengan gemas. Menyayangkan keteledoran dari jari-jemarinya. Namun di balik tangannya yang terus saja menutupi wajahnya, ia menyembunyikan rona merah yang lewat saat selesai membaca pesan dari Biema. Menggigit bibir resah dengan tawaran sensual dari Biema.


Sialan pria ini. Dia semakin me-re-sah-kan.


"Ngapain? Kenapa? Ada apa?" Pertanyaan beruntun muncul dari bibir Sandra yang menikmati berbagai macam ekspresi barusan. "Kak Biema yang kirim pesan, kan?" tebak Sandra benar. Paris menipiskan bibir. Menggelengkan kepala menyembunyikan alasan dia gelisah.


"Enggak. Enggak kenapa-kenapa." Paris menyembunyikannya. Dia juga memilih tidak membalas pesan dari Biema. Dia mengabaikannya. Dia takut chat akan semakin panas dan gerah jika di lanjutkan. Lebih baik dia tidak membalas.


"Jadi gimana ini soal gosip kamu?"


"Aku bingung mau mulai darimana."


"Ya. Itu memang sedikit membingungkan. Karena masih abu-abu. Ini ulah Priski atau bukan," ujar Sandra paham. Sebenarnya Paris bukan bingung soal gosip. Dia bingung soal pesan Biema. "Namun kamu kan bilang kalau itu pasti Priski. Kamu pasti sempat mendengar sesuatu bukan?"


"Ya. Aku sempat mendengar percakapan anak-anak di toilet."


Tring!


Pesan baru muncul. Paris diam tidak membalas. Dia yakin itu Biema.


Tring!


Nada pesan terus berbunyi. Membuat Sandra terusik dan melihat Paris.


"Ada pesan di handphone kamu." Sandra memberitahu.


Paris mengangguk. "Aku tahu." Walaupun menjawab aku tahu, Paris tidak segera menyentuh ponselnya.


"Lihat dulu gih, itu siapa. Mungkin aja dari Kak Biema."


Memang itu dari Biema. Makanya aku sengaja enggak buka handphone.