Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Hati yang pasti



"Padahal kata cinta darimu saja aku belum pernah dengar sekalipun, tapi kamu sudah membuatku terpaksa mengatakannya lebih dulu. Aku ..." Paris sampai kehilangan kata-kata saking marahnya.


"Kamu .... " Paris menunjuk Biema dengan jengkel. "Arghh!" Airmatanya jatuh meleleh membasahi pipi. Punggung tangan Paris ingin menyeka airmata, seraya mencoba menahan tangisan agar tidak merebak hebat.


Namun sebelum punggung tangan itu berhasil menyentuh permukaan kulit, Biema sudah menyambar tangan itu terlebih dahulu. Menahannya di udara. Kemudian Mendekatkan wajahnya dan menyentuh bibir Paris dengan bibirnya.


Netra Paris membeliak. Terhenyak melihat apa yang di lakukan Biema padanya. Pria itu ******* bibirnya dengan lembut.


Tentu saja ini begitu tidak terduga. Paris memaku dirinya di tempat dia berdiri. Tetap membuka bola mata menyaksikan. Dia tidak bisa berkutik. Bukan karena tubuhnya terbelenggu oleh tubuh Biema. Namun itu karena ada sesuatu yang melarangnya bergerak. Yaitu perasaan cinta yang ada di dalam hatinya.


Paris membiarkannya.


"Aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu. Maaf, aku terlambat. Maaf, sudah membuatmu mengatakannya lebih dulu," ujar Biema lembut setelah melepaskan pagutan pada bibir gadis ini. Paris langsung menunduk. Merasakan debaran tak karuan di dadanya. Aku ... jatuh cinta. Dia terkejut sekaligus haru. "Angkat kepalamu," pinta Biema. Namun Paris masih menunduk.


"Sialan. Aku ini bodoh. Jika kamu tidak mengatakannya dengan jelas seperti ini, aku akan ragu," ujar Paris lirih. Gadis ini masih mau menangis. Bukan karena bersedih. Akan tetapi karena dia bahagia. "Aku ragu, apa kamu sedang ingin main-main denganku atau serius. Paham enggak, sih ... " Suara Paris semakin tenggelam. Biema kemudian mengganti ciuman itu dengan sebuah pelukan hangat untuk Paris.


"Itu tidak mungkin. Tidak mungkin aku tidak serius, Paris." Biema mengelus rambut Paris dengan lembut. Gadisnya terluka.


"Mungkin. Itu sangat mungkin, Biem. Kita bukan pasangan biasa. Kita bisa menikah bukan karena hati kita, tapi karena kita di jodohkan. Jadi aku takut. Aku tidak mau mengakui aku butuh kamu karena takut."


"Maafkan aku soal itu, Paris." Biema mempererat pelukannya. "Aku sendiri kacau saat menghindarimu. Aku gelisah, cemas. Aku ingin memelukmu, tapi aku harus menahannya sampai aku tahu kamu juga mencintaiku. Karena aku takut jika memaksakan inginku, kamu akan marah. Aku memang pengecut karena memilih menunggu daripada maju." Akhirnya gadis ini menangis lagi di pelukan Biema. "Sudah. Jangan menangis, Paris. Kamu boleh marah jika itu melegakan hatimu. Aku salah, sudah membuatmu terluka. Aku juga sangat ingin bertemu dan memandangmu, tapi jika aku lakukan itu, kamu akan tetap muak melihatku."


Dalam tangisnya, Paris tertegun. Dia yang akan mengatakan banyak ungkapan kesal, urung dan mendengarkan kata-kata Biema dengan baik di sela-sela airmatanya.


Pria ini juga tersiksa dan terluka seperti dirinya. Biema menjadi pengecut demi menjaga perasaannya yang masih bimbang. Kedua tangannya pun ikut memeluk tubuh Biema dengan erat. Pria ini juga butuh di tenangkan.


"Aku itu bukan muak, Biem. Aku sedih. Saat kamu bersikap dingin dan menghindariku, aku sedih," ralat Paris.


Biema menjauhkan wajah Paris sambil mengusap air mata di pipi gadisnya. Lalu kedua tangannya menangkup kedua pipi gadis ini. Menatapnya dengan dalam. "Maaf. Kamu bisa memaafkanku?" tanya Biema. Paris yang mendongak pun menganggukkan kepala. Wajahnya yang sembab tidak memudarkan senyumannya. Paris lega, hatinya berbalas dengan baik.


"Maaf. Aku juga minta maaf. Mohon maklumi aku yang terlambat menyadari bahwa aku mencintaimu," ujar Paris. Biema mengangguk mengerti.


"Aku selalu memaklumi istriku yang masih bocah," ujar Biema dengan jenaka. Paris mendelik dan memukul lengan Biema. Laki-laki itu tersenyum. Dia bahagia. Kata istri yang di ucapkan Biema kini tidak lagi membuat Paris kesal. Kata itu justru membuatnya senang.


Keduanya saling terbuka. Meminta maaf dan memaafkan. Tidak ada yang lebih indah dari kedamaian hati.


"Tapi maaf, aku harus segera pergi sekarang. Aku harus menyusul Mela."


"Menyusul Mela katamu?" tanya Paris seraya bersidekap. Raut wajahnya mengerut ingin meledak.


"Ini soal pekerjaan, Paris. Jangan berwajah menakutkan seperti ini, hmm?" Biema menyentil ujung hidung Paris pelan. Gadis itu meringis. "Kamu cemburu?" tanya Biema ingin menggoda seraya mendekatkan wajahnya pada gadis ini.


"Wow, gadisku menjadi begitu posesif." Biema tersenyum meledek.


"Bukan posesif. Hanya sikap wajar seorang perempuan saat lelaki-nya bertemu mantan wanita yang di cintainya," jabar Paris logis. Biema memeluk Paris dari samping.


"Soal itu masih kamu ingat?" tanya Biema seperti merajuk.


"Apa? Soal Mela? Tentu saja. Aku harus selalu ingat. Bahwa dia adalah mantan wanita yang kamu cintai."


"Aku tidak mungkin kembali mencintainya Paris. Itu tidak masuk akal."


"Ya. Jangan sampai kamu mencintai wanita lain," desis Paris. Matanya berkilat tajam seakan memberi ancaman.


"Aku tahu. Aku harus segera menyelesaikan pekerjaan. Kamu bisa tetap di sini. Aku akan mengantarmu pulang nanti." Biema melepas pelukannya. Mendengar hak-nya untuk di antar jemput oleh pria ini kembali, Paris tersenyum bahagia.


"Oke. Karena pekerjaan, aku merelakanmu." Biema melangkah pergi keluar ruangan. Namun saat sudah di ambang pintu, laki-laki itu kembali. "Ada yang tertinggal?" tanya Paris. Dia yang belum duduk karena sengaja ingin melihat pria itu pergi, heran.


"Ya." Tiba-tiba Biema mengecup kening Paris. "Kecupan di kening. Aku lupa itu. Aku pergi. Jangan menghilang," ingat Biema. Paris hanya mengangguk-anggukkan kepala dengan kaku. Lalu Biema pergi. Benar-benar pergi. Gadis ini terkejut. Itu sebuah kejutan. Paris tersipu sendiri saat merasa wajahnya merah.


"Busyet. Aku merona. Apalagi ciuman tadi. Gila. Aku tidak menghindar. Aku tidak marah. Gila. Aku bahagia," racau Paris histeris. Dia langsung duduk di atas sofa dengan perasaan begitu gembira. "Tahu gini aku jatuh cinta sejak awal ke Biema." Lalu Paris terkekeh sendiri.


Biema yang berjalan di lorong perusahaan juga tersenyum berulang kali. Hatinya senang. Hatinya gembira. Resah gelisah-nya pupus. Rasa itu berganti dengan lega yang luar biasa.


"Aku sudah berhasil menciumnya." Biema sendiri tidak percaya akan apa yang di lakukannya tadi. Karena selama ini mereka berdua lebih sering berantem daripada romantis. Apalagi, gadis itu dengan tegas menjelaskan bahwa dirinya tidak menginginkan dirinya. "Paris ... Sepertinya caraku mendekatimu berhasil. Aku memang perlu bersabar denganmu." Sepanjang lorong menuju tempat Fikar dan Mela, Biema tidak berhenti berdecak bahagia.


Biema sudah memberitahu Fikar terlebih dahulu bahwa ia akan datang ke tempat mereka.


"Bisa kita selesaikan pekerjaan dengan segera? Aku ingin cepat pulang lebih awal," ujar Biema yang baru datang langsung memberi perintah. Setelah tadi terus saja tersenyum sendiri bagai orang gila, Biema kembali memasang wajah CEO-nya. Mela dan Fikar memandang Biema dengan pandangan takjub. Takjub mengarah ke jengkel tingkat dewa akan sikap Biema yang semena-mena.


"Jadi begitu caramu saat kamu sudah bisa menyelesaikan masalahmu. Kamu datang dan tanpa peduli bertanya, bisa kita selesaikan pekerjaan dengan segera? Setelah tadi menghilang demi gadis itu?" sindir Fikar.


"Istriku. Dia istriku. Lebih baik kamu diam." Biema mengatakannya seraya menunjuk Fikar dengan jarinya. Fikar menipiskan bibir mencemooh.


Mela menghela napas melihatnya. "Selamat. Meskipun aku tidak tahu cerita sebenarnya, tapi ... Selamat atas keberhasilanmu menyelesaikan masalah."


"Terima kasih," sahut Biema datar.


"Berarti kita bisa bekerja dengan cepat?" tanya Mela mulai serius.


"Ya. Bisa," jawab Biema yakin. Dia sedang terburu-buru ingin segera pulang mengantar istri kecilnya. Tunggu aku, Paris.