Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Biema muncul


"Jangan berbelit-belit. Sudah jelas ada bukti bahwa kamulah yang menindas mereka. Yaitu luka mereka. Sekarang kamu tidak apa-apa. Sementara mereka saat ini terluka," ujar Guru BP.


Memang benar. Namun jelas-jelas itu kesalahan mereka sendiri.


"Saya punya saksi, Pak. Saya punya saksi yang bisa membuktikan bahwa saya tidak melukai mereka." Paris pun membela diri. Dia harus bisa membela dirinya.


"Kamu sengaja ingin mempersulit ya?" tanya guru BP lagi. Kali ini mimik wajahnya sangat tidak sabar


"Tidak. Saya berkata jujur." Paris pun meminta Bella dan Sandra untuk di panggil ke ruang BP juga. Saat ini mereka adalah saksi. Ya. Hanya mereka.


"Sandra itu sahabatnya dia, Pak. Mereka dulu juga satu sekolah sebelum pindah ke sini. Jadi tidak akurat jika saksinya adalah sahabat sendiri," ujar Priski ingin menggugurkan Sandra sebagai saksi. Kedua kawannya pun mengangguk mengiyakan. Paris melihat ke arah guru BP dengan berharap tidak terpengaruh.


"Ya. Sandra tidak bisa di jadikan saksi kalau begitu."


Sial! Guru ini sudah di suap oleh Priski. Bodoh! Siapa gadis ini?


Gadis bernama Bella juga tidak muncul di ruang BP. Menurut teman-temannya gadis itu ijin pulang karena sakit. Karena sejak tadi tidur di UKS.


Paris melihat ke arah Priski yang masih berpura-pura mengiba. Namun sorot matanya saat melihat Paris adalah sorot mata permusuhan. Priski tersenyum menang. Kemungkinan Bella tidak muncul juga ulah gadis ini.


Rupanya tuduhan kali ini bukan main-main. Priski sepertinya sengaja membuat skenario yang jauh dari kenyataan demi membuat Paris tersudut.


"Kamu akan di skors satu minggu karena sudah melukai mereka."


"Ini tidak benar, Pak!"


"Kamu ini. Sudah salah, malah berteriak pada guru. Kamu itu mau jadi apa nantinya? Mau jadi preman?" tanya guru BP merendahkan. Priski dan kedua temannya tersenyum samar. Mereka kesenangan melihat Paris di marahi dan di hina.


Aaarrgghh!! Paris tidak tahan.


"Seorang guru itu seharusnya berbicara tentang masa depan muridnya dengan harapan baik. Bukan dengan berkeinginan buruk seperti Bapak. Apakah ini yang namanya seorang pendidik?" Paris mengatakan itu dengan datar dan penuh emosi yang tertahan.


Semua mata di sana mendelik terkejut dengan kalimat Paris. Bahkan Priski sempat menghilangkan wajah memelasnya seketika mendengar Paris berbicara. Namun saat dia sadar, dia langsung mengubah lagi raut wajahnya menjadi sangat menyedihkan.


"Kamu ... Panggil orangtuamu ke sini sekarang juga! Saya pastikan kamu akan di hukum oleh komite kedisiplinan sekolah. Bukan hanya skors yang akan kamu dapatkan." Guru BP itu marah dengan wajah merah.


Orangtua? Yang benar saja. Aku tidak harus memanggil bunda untuk hal yang tidak penting ini, ucap Paris dalam hati. Biema! Ya. Dia juga bisa jadi wali ku untuk datang ke sekolah.



Mereka berdua tiba di ruang guru. Biema berdiri di ambang pintu dan mencari-cari dimana gadis rusuh itu. Semua guru di sana menoleh dan berbisik mengenai kedatangan Biema.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang guru berwajah manis yang kebetulan berdiri paling dekat dengan pintu.


"Ya. Kami adalah wali dari murid bernama Paris Hendarto." Fikar maju sebagai juru bicara.


"Paris ... Ada apa dengan dia? Saya wali kelasnya," ujar perempuan itu dengan mimik wajah heran.


"Wali kelas? Apa Anda memanggil wali dari Paris untuk segera datang ke sekolah?" tanya Fikar merasa aneh. Karena wali kelas Paris tidak segera menyambut mereka.


"Maaf, saya tidak ada kepentingan dengan memanggil wali murid Paris untuk datang ke sekolah. Mungkin ada kesalahan." Perempuan ini tersenyum canggung.


"Mungkin soal perundungan yang di tangani guru BP, Bu Aya," ujar seorang ibu guru yang sudah senior. Beberapa guru yang ada mengangguk.


"Perundungan?" tanya perempuan dengan nama Aya ini heran. Sepertinya dia memang tidak mendengar sama sekali perkara yang di maksud guru senior tadi.


"Ya. Mungkin saat Bu Aya masih mengajar. Itu ... Priski." Bu guru senior itu memainkan matanya membentuk semacam kode. Bu Aya terkejut sembari membeliakkan bola matanya.


"Maaf. Saya baru tahu. Maafkan saya." Bu Aya menunduk berulangkali untuk meminta maaf. Fikar menoleh pada Biema. Dia kebingungan dengan permintaan maaf yang di lakukan wali kelas Paris. Biema hanya diam memperhatikan.


"Bisa Anda antar dimana saya harus bertemu dengan Paris?" tanya Biema lembut. Dia tahu perempuan yang mungkin berumur sama dengannya itu tengah kebingungan juga. Ada yang janggal.


"Ba-baik. Saya akan antar."


"Bu Aya, disana ada wakil kepala sekolah," ujar Guru senior itu seperti memberi peringatan.


"Jadi harus bagaimana, Bu? Paris adalah murid saya. Dan tamu kita juga harus bertemu dengannya." Bu Aya tampak cemas.


"Ya sudah, Anda antar dan kembali ke sini. Anda tidak perlu berada di sana." Guru-guru di sana berbisik-bisik. Samar dan tidak jelas. Namun Biema menangkap satu kalimat yang begitu mengherankan.


"Si anak manja itu berbuat ulah lagi. Kali ini akan jatuh korban lagi," ucap seorang guru yang langsung di sambut anggukan guru yang lain. Juga terdengar kalimat setuju yang terasa menyedihkan.


Biema mengetikkan pesan pada Paris.


"Kamu tidak apa-apa?"


Tidak ada balasan dari gadis itu. "Bisa segera antarkan kami?" tanya Biema tidak sabar.


"I-iya. Akan saya antarkan."


Kedatangan Biema sempat membuat suasana di kelas yang di lewatinya heboh. Om tampan ini membuat dunia pengajaran para pendidik juga teralihkan. Para siswa khususnya perempuan, tidak melewatkan detik-detik si pria berjas ini berjalan melewati lorong sekolah.


Fikar yang ikut menemani, kecipratan senyuman dan pujian dari para siswa. Bibir Fikar tersenyum senang saat mendengar pujian untuknya. Dia yang berkomitmen tidak mau berpacaran dengan anak SMA, nyatanya gembira saat mendengar gadis-gadis itu mendengungkan bahwa dia adalah pria keren.


Kaki mereka melangkah bersama dengan wali kelas hingga tiba di ruang BP yang tidak terlalu sulit di cari.


"Sepertinya Paris ada disini," ujar Bu Aya mempersilakan Biema dan Fikar masuk ke dalam ruangan yang tidak begitu besar, tapi sedikit lebih bagus dari ruang guru tadi. Biema masuk lebih dulu. Di susul Fikar dan yang terakhir adalah Bu Aya.


"Selamat siang," sapa Biema dengan suara rendahnya yang berwibawa. Membuat orang-orang yang ada di sana spontan menoleh. Paris yang masih berdiri terbelalak lega melihat kemunculan pria ini.


Biema langsung melihat ke arah gadis itu seolah sejak tadi mencarinya. Setelah berhasil menemukan dimana gadis itu berada, Biema memandang orang-orang di sana satu persatu.


"Siang," jawab guru BP terlambat. Karena orang ini juga terkejut dengan kedatangan Biema. "Anda siapa?" tanya guru itu sambil memperhatikan Biema dan Fikar secara seksama.


"Saya wali dari Paris Hendarto," jawab Biema. Guru BP terdiam. Setelan jas yang rapi dan elegan membuat guru BP itu sempat ciut. "Anda memanggil wali murid dari Paris, bukan?" tanya Biema lagi dengan suara sedikit memberi tekanan.


"Y-ya. Saya memang memanggil Anda."