Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Saudara



"Kalian?" tanya Paris sambil menggigit donat dengan topping matcha. ( Rasa matcha lebih kental atau creamy dibandingkan green tea. Jadi rasa itu enggak sama dengan teh hijau )


"Ya. Kamu dan Biema. Bukannya sekarang masalah kamu adalah dia dan pernikahanmu?" tanya Arga. Paris mengunyah donat yang lembut di mulut itu lalu melihat kakaknya.


"Kak Arga tahu dari kak Asha, ya?"


"Yah ... tahu darimana lagi. Apa yang dia tahu, aku harus tahu juga dong. Namanya juga suami istri."


"Padahal aku sudah bilang jangan kasih tahu kak Arga."


"Suami istri itu memang harusnya saling terbuka dan bercerita. Meskipun ada juga hal yang tidak perlu di ceritakan. Kudu pilah-pilah juga. Kalau apa-apa di ceritakan jadinya enggak asyik juga. Kalau soal kamu kan termasuk golongan cerita penting karena kamu adikku. Jadi dia wajib cerita," jelas Arga panjang. "Muka kusut kamu karena dia? Si Biema?" tebak Arga lagi.


"Kurang lebih sih iya." Paris mengaku sambil mencomot donat lagi.


"Kenapa dia? Atau kamunya kenapa?"


"Enggak apa-apa."


"Enggak apa-apa kok sampai bikin wajah kamu kusut?"


"Pokoknya begitu deh ..." Paris enggan bercerita. Tidak mungkin dia curhat soal Biema yang menikahinya karena kecewa di tolak seorang wanita. Menurut Paris itu bisa jadi konflik yang melebar kemana-mana. Dia memang butuh curhat, tapi kalau harus cerita ke Arga itu sedikit berbahaya.


"Kamu masih belum menerima dia jadi suami kamu?" Arga seperti paham kalau adiknya tidak nyaman bercerita soal itu.


"Hhh ..." Paris menghela napas.


"Aku tahu rasanya di jodohkan, tapi aku enggak paham rasanya menikah tanpa rasa cinta. Yang jelas itu enggak enak." Arga berkomentar.


"Sudah tahu enggak enak kenapa enggak bela aku pas bunda jodohin aku, Kak?!" Paris memprotes.


"Keputusan ada pada bunda dan Ayah. Lalu apa yang bisa kakak lakukan? Lagipula jika kakak terlalu ikut campur soal hobi bunda ini, kakak enggak mau nanti ada apa-apa sama Asha," kilah Arga.


"Kenapa jadi kak Asha?" Kening Paris berkerut mendapat jawaban aneh dari kakaknya.


"Pokoknya gitu," ujar Arga tidak mau meneruskan. Karena sebenarnya dia juga tidak punya jawaban untuk menjawab pertanyaan Paris. Dia hanya asal bicara. "Jadi kalau menurutku, kamu pasti akan selalu merasa terus menerus sakit hati pada Biema karena perjodohan ini. Kalau boleh saran, mending kamu berdamai saja deh sama perasaan enggak suka kamu ke Bima."


"Ih, Kak Arga kok jadi pendukungnya Biema sih."


"Karena dia oke juga jadi suami kamu. Mapan, ngomongnya sopan enggak ngawur, sayang sama keluarga dan terakhir yang tidak kalah okenya ... Dia itu tampan mirip denganku." Muka Paris langsung masam. Bibirnya mencebik mendengar Biema di sama-samakan dengan kakaknya.


"Idih ... Mirip darimananya? Biema itu jauh lebih cakep dan keren dari kak Arga. Tinggi badan aja, lebih menjulang dia," bela Paris. Arga tersenyum. Lagi-lagi Paris tidak terima Biema di kalahkan olehnya. Arga tahu itu. Dia hanya sekedar godain adiknya saja.


"Begitu, ya ... Jadi Biema itu lebih unggul dari kakak dong."


"Ya, iya. Pake nanya."


Rupanya Paris sudah terjebak sama pertanyaan Arga. Ini membuat Arga sedikit lega. Dia memang tidak harus tahu secara detail apa yang terjadi pada mereka berdua. Walau masih muda, Paris ini sudah berstatus menikah. Jika sedikit ada masalah dengan Biema di bawa cemberut, itu tidak akan terselesaikan dengan baik.


Arga hanya menggiring Paris untuk lebih santai. Apapun masalahnya, mereka harus bisa menyelesaikan berdua. Karena masalah itu timbul juga karena mereka.


Menurut Arga sendiri, keputusan Biema mau menikahi Paris adalah berat. Pasti ada hal yang perlu di korbankan demi membuat dua keluarga bahagia. Jadi dia mengabaikan kebahagiaan dia sendiri dengan patuh kepada orangtuanya. Itu nilai plus dari pria bernama Biema.


"Ya. Dia sedang bersamaku. Di Mall." Arga membalas pesan dari Asha. Kemungkinan istrinya dapat telepon dari Biema.


"Biema nelfon, lagi nyari-nyari Paris." Ternyata benar. Biema pasti mencari gadis ini ke rumah orangtuanya.


"Ya. Beri tahu dia untuk segera datang ke mall. Aku masih bersamanya," balas Arga.


"Ya. Terima kasih, sayang ... mmuach."


Ada emoticon cium di sana. Membuat Arga tersenyum senang. Paris yang lihat jadi menggeleng-gelengkan kepala.


"Awas saja kalau itu bukan kak Asha. Senyum-senyumnya mencurigakan," ancam Paris yang lihat senyuman di bibir kakaknya.


"Hei, mana mungkin. Asha itu sudah yang terbaik. Enggak perlu nyari lain lagi. Lagian perjuangan dapetin dia susah. Kenapa perlu di sia-siakan. Rugi besar kakak ini." Arga mengambil gelas berisi minuman dingin dan meneguknya.


"Baguslah. Laki sejati memang begitu. Harus setia. Minimal harus tanggung jawab sama komitmen awal. Tadinya berjuang susah-susah, ya kudu di jalani dengan sepenuh hati." Paris malah menasehati.


"Iyaa ...Nona," sahut Arga bercanda. Lagi-lagi dia mengusap kepala adiknya. "Kamu sudah semakin besar, tapi semakin manja."


"Manja apaan. Enggak sama sekali," protes Paris.


"Kalaupun manja kalau sudah ada suami sih, enggak apa-apa. Jadinya si suaminya yang tanggung jawab buat manjain," ujar Arga sambil meneguk minuman lagi.


......................



......................


Fikar berpapasan dengan Mela saat hendak menuju ruangan Biema. Senyum sapaan Mela tidak seperti biasa. Kemungkinan memang telah terjadi sesuatu di dalam tadi. Fikar mengalihkan fokusnya ke Biema. Dia bergegas menuju ruangan itu.


Belum berhasil masuk ke dalam ruangan, Biema sudah muncul di depan pintu. Dia juga hendak keluar.


"Maaf, Biem. Aku tidak bisa menemukan Paris." Fikar langsung memberitahu. "Dia menghilang."


"Menghilang? Menghilang bagaimana maksud kamu?" tanya Biema seraya mengerutkan dahi kesal.


"Aku sudah langsung mengejarnya saat kamu menyuruhku. Sepertinya dia melesat dengan tergesa-gesa dan cepat. Aku tidak bisa menemukannya. Kemungkinan dia turun dan segera keluar dari gedung ini. Karena saat aku tanya ke security di bawah. Mereka memang sempat melihatnya."


Dia menceritakan soal Paris yang tidak bisa di temukan pada Biema. Seperti yang sudah di rancangnya tadi. Karena jika tidak di rancang, Fikar akan kerepotan. Kenyataannya gadis itu bukan tidak ketemu, melainkan kabur dari pengawasannya. Dia tidak mungkin mengatakan itu jika ingin aman dari amukan Biema.


Biema terdiam seraya menghela napas. Sejak tadi panggilannya tidak di respon Paris. Gadis itu di pastikan marah karena perkataan Mela.


Paris pasti tidak ingin di temukan. Dia sudah berulang kali menelepon ponsel gadis itu. Seperti biasa tidak pernah di respon oleh Paris. Biema memejamkan matanya dengan kesal.