Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Permintaan Bu de



"Oh, ya San. Aku ketemu kak Lei!" seru Paris senang.


"Kak Lei, mantan kamu?" Paris mengangguk.


"Dia sudah menjadi seorang pria. Makin cakep. Busyet dah. Aku sempat deg-degan lihat dia."


Lei?


Biema yang berada di balik pintu mendengar perbincangan dua gadis itu. Dia menghela napas sejenak sebelum membuka pintu.


"Paris ...," panggil Biema. Paris segera bangkit dari rebahannya. Dua gadis itu menoleh ke arah pintu. "Kamu masih butuh istirahat?" tanya Biema sambil memegangi handle pintu.


"Tidak. Ada apa?"


"Kita akan pulang."


"Baiklah." Paris bangkit dan merapikan gaunnya. Berkaca sebentar kemudian menoleh pada Sandra. "Aku pulang ya, San."


"Oke. Ketemu besok di sekolah." Paris melangkah menuju pintu. Biema melebarkan pintu untuk membiarkan istrinya keluar.


"Kita pulang dulu ya, San," pamit Biema.


"Iya, Kak. Hati-hati." Biema menutup pintu dan mensejajari langkah Paris.


"Lho, mau kemana ini?" tanya bu de Biema melihat mereka berdua hendak pergi.


"Kita mau pulang Bu De," sahut Paris tidak lupa menambahi senyum di atas bibirnya.


"Pulang? Malam ini?" tanya Bu De sambil melihat ke Paris dan Biema bergantian.


"Iya. Besok dia harus sekolah, dan aku harus ke kantor." Biema memberi alasan masuk akal.


"Aduh, Biema ... kamu kan kerja di perusahaan sendiri. Besok libur saja dulu. Kan ada keluarga di sini. Kalian harus menginap di sini. Papamu pasti setuju," usul Bu de membuat Paris tersentak dan melebarkan mata tanpa sadar. Biema tahu itu


"Enggak enak Bu De." Biema memberi pengertian. "Lagian Paris harus ijin ke sekolah jika tidak masuk."


"Enggak apa-apa. Nanti Bu de yang telponin."


"Tapi ..." Paris berniat membantah.


"Kita kan enggak setiap hari ke sini karena rumah yang jauh. Masak kalian enggak mau nemenin Bu de, sih!" rayu Bu de. Paris menoleh pada Biema. Memohon pada pria ini untuk menolak.


"Biar kita yang ke rumah Bu de kapan-kapan. Sekarang kita mau pulang." Biema menyentuh lengan Bu de setengah meminta.


"Kapan-kapan itu enggak jelas Biema. Kalau sudah begitu kalian pasti lupa untuk ke rumah Bu De." Bu de memasang wajah cemberut.


Alamat! Alamat buruk ini! racau Paris di dalam hati.


Biema menoleh pada Paris. Dia ingin memberitahu bahwa Bu de tidak bisa di nego.


"Paris yang perempuan pasti lebih mengerti soal laki-laki yang janji kapan-kapan. Akhirnya enggak datang juga, kan?" Bu de mulai merengek pada Paris. Beliau keliru. Yang tidak setuju menginap adalah gadis ini, bukan Biema. Bola mata Bu de memasang ekspresi sedih.


Busyet! Merajuk nih. Aku enggak bisa nolak niiihhh ....


"Emmm ... tapi mungkin tidak ada lagi kamar buat kita menginap jadi ..."


"Kamar? Ada satu. Kalian bisa tidur di sana kalau mau menginap," ujar mama langsung ikut nimbrung. Memotong kalimat menantunya yang ingin menolak.


"Nah itu ada. Sudah. Kalian berdua harus menginap di sini. Kamarnya sudah bisa di tempati langsung, kan?" tanya Bu de sama mama mertua.


"Bisa. Itu kamar Biema. Setiap hari selalu di bersihkan. Karena kalau mereka datang dan butuh menginap, enggak perlu bersihin dulu," jelas mama.


Tidaaakkk!!! Walau bibir Paris tersenyum, hatinya berteriak. Sandra yang ternyata keluar dari kamarnya karena mendengar perdebatan itu tersenyum geli.


...----------------...



...----------------...


Dengan bibir manyun, Paris mengikuti Biema menuju kamarnya. Akhirnya mereka sampai di kamar lama Biema. Pria itu membuka pintu dan menyuruh Paris masuk.


Bibir Paris diam. Kakinya masuk perlahan dengan bola mata beredar ke seluruh ruangan. Terdengar suara pintu di tutup membuat Paris menoleh ke belakang dengan cepat karena terkejut.


"Duduklah." Paris tidak menjawab. Dia hanya memandang kamar Biema dengan ragu. "Kenapa berdiri saja?"


"Ini pertama kalinya aku masuk ke kamar seorang pria, kecuali kamar kak Arga." Paris melipat bibirnya sambil melihat ke barang-barang milik Biema.


"Jadi kamu canggung?"


"Pastinya. Memangnya kamu enggak canggung saat pertama kali masuk kamarku?" tanya Paris. Kali ini dia menoleh pada Biema.


"Enggak."


"Ho ... kamu lebih pro soal memasuki kamar wanita rupanya," ejek Paris.


"Bukan. Aku tidak perlu merasa canggung. Itu kamar istriku. Jadi aku yakin akan merasa nyaman saat masuk ke dalam kamarmu. Meskipun itu asing bagiku." Biema menatap Paris dengan hangat. Tatapan itu lagi. Paris akhirnya duduk demi menghindarinya.


"Lalu, dimana aku akan tidur?" tanya Paris celingukan.


"Bukannya kamu sedang duduk di atas ranjang?" tanya Biema yang mulai melepas jasnya.


"Iya tahu. Ini kan cuma satu ranjang, lalu kamu ... Sebentar." Tiba-tiba Paris teringat sesuatu. "Berarti kita harus tidur satu ranjang?!" tebak Paris sambil berdiri dengan heboh. Biema hanya diam melihat gadis ini heboh sendiri. "Kamu sadar kalau kita harus tidur satu ranjang, Biem?" tanya Paris menggebu.


"Ya."


"Ya? Jadi kamu sudah tahu kalau kita menginap akan tidur dalam satu ranjang?" Bola mata Paris membeliak terkejut.


"Ya ... mau bagaimana lagi." Biema mengangkat bahu. Lalu dia duduk di atas ranjang.


"Kenapa mamamu memberi kita hanya satu ranjang, Biem?"


"Karena kita suami istri, Paris ... Dan suami istri tidur dalam satu ranjang itu adalah wajar." Biema terpaksa harus menjelaskan lagi hal yang sudah sewajarnya.


Cih! Paris baru sadar dan ingat. Di mata semua orang, dia dan Biema memang sepasang suami istri.


"Tidak mau tidur?" tanya Biema yang sudah bersiap rebahan di atas ranjang.


"Tidak." Kepala Paris menggeleng.


"Ini sudah malam. Badan kamu pasti capek. Apalagi tadi harus meladeni semua keluargaku," pinta Biema lembut.


Memang tubuhnya lelah, tapi jika harus tidur satu ranjang .... Paris melirik ke arah ranjang, di mana Biema sudah duduk di atasnya. Tidak! Aku tidak harus tidur di sana.


"Baiklah. Aku tidur di luar kamar saja. Di sana juga mungkin banyak saudara mama yang tidur bersama." Biema turun dari ranjang dan mengambil bantal hendak keluar.


"Jangan," cegah Paris seraya menarik lengan Biema. Langkah pria ini terhenti. Lalu menatap wajah Paris setelah tadi melirik sebentar ke arah lengannya yang di pegang gadis ini. "Jangan tidur di luar. Aku tidak mau keluargamu berpikir yang enggak-enggak. Mereka akan mengira aku egois jika membiarkanmu tidur di luar."


"Lalu?"


"Tidurlah di sini," pinta Paris pelan. Raut wajah Biema menyiratkan kemenangan.


"Baiklah." Paris mendekat ke arah ranjang dan mengambil bantal dan guling. "Mau kemana?" tanya Biema heran.


"Aku akan tidur di lantai."


"Lantai?"


"Ya. Tidak masalah. Lagipula lantainya tertutupi karpet. Jadi tidak terlalu dingin. Aku bisa bertahan sampai besok." Biema terpaku. Dia pikir dia menang, tapi ternyata Paris punya rencana sendiri yang tidak terduga.


Paris melempar bantal dan guling ke atas karpet. Lalu bersiap untuk merebah.


"Tunggu."


"Apa? Aku tidak mau di paksa tidur di ranjang ya ... " Biema mendekat ke arah lemari pakaian. Mengambil kaos dan celana training miliknya.


"Ganti bajumu dulu. Itu pasti tidak nyaman." Biema menyodorkan pakaian yang dia ambil barusan. Memang sangat susah dan tidak nyaman tidur memakai gaun seperti ini.


"Tidak. Itu baju kamu kan?" tunjuk Paris.


"Jika meminta Sandra untuk meminjamkan bajunya, kita akan mengganggu tidur anak itu. Jadi ... lebih baik memakai ini." Biema memaksa. Paris diam sejenak. Kemudian perlahan tangannya berangsur menerima sodoran Biema. Paris pun mengganti gaunnya di kamar mandi yang untungnya berada di dalam kamar.