Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Paris dan Sandra


...Di sekolah. Beberapa saat sebelum Paris terlihat di depan cafe....


.......


.......


.......


Paris celingukan ke kanan dan kiri. Bola matanya beredar ke segala penjuru gerbang sekolah. Dia berharap tidak ada Biema disana. Meskipun Biema sudah berjanji untuk membiarkan Paris pulang sendiri, gadis ini tidak percaya begitu saja. Dia harus memastikan lagi bahwa pria itu memang tidak menjemputnya sekarang.


"Ah, ternyata memang tidak ada," ucap Paris menghela napas lega. "Bagus." Paris tersenyum puas.


"Hei," tegur Sandra mengejutkan. Membuat Paris berjingkat kaget lalu mendelik.


"Apa-apaan, sih?!" geruru Paris sambil mengelus dadanya. Karena sedang mengintai, gadis ini jadi sangat terkejut saat seseorang menegurnya. Padahal suara Sandra juga pelan.


"Aku lihat gerak-gerikmu mencurigakan." Sandra menowel lengan temannya. Sengaja menggoda.


"Aku sedang melihat, apa kakakmu ada di sekitar sini atau tidak."


"Oh, kak Biema. Aku yakin tidak ada. Tadi dia mengirim pesan padaku, sebelum pulang ke rumah untuk mengantarmu terlebih dulu lalu aku bisa pulang setelahnya."


"Benarkah?" Sandra mengangguk. Biema serius menyuruhku pulang di antar sopir rumahnya ternyata. "Padahal aku masih ingin bermain-main. Aku tidak mau pulang dulu. Di apartemen sepi enggak ada orang. Bosan. Jadi aku ingin bermain di luar. Lagipula itu tempat asing buatku." Kalimat terakhir terdengar sendu.


Sandra segera memperbaiki suasana. "Aku tahu soal itu, tapi aku hanya di beri pesan untuk mengantarmu pulang." Sandra berusaha mengerti perasaan temannya.


"Sori, San. Aku enggak mau pulang bareng kamu. Aku mau pulang sendiri saja." Paris masih bertekad membangkang.


"Lalu bagaimana denganku, Paris? Kakak pasti kesal jika tahu kamu enggak mau pulang denganku."


"Itu urusanmu. Atau bilang saja jika aku menolak. Biar aku yang bertanggung jawab."


"Hhh ... ya sudah. Terserah kamu. Nanti aku bilang saja enggak lihat kamu pulang."


"Eh, gimana kalau kita nongkrong bareng saja. Kamu akan menemaniku. Jika kamu bersamaku, pasti enggak apa-apa." Paris menemukan ide yang bagus.


"Emm, tapi ..."


"Masa nongkrong aja enggak boleh ...." Paris memprovokasi Sandra.


"Iya deh."


"Bagus Sandra. Itulah temanku." Paris menjentikkan jarinya senang.


"Benar. Aku adalah temanmu, juga iparmu yang baik." Sandra begitu bangga saat mengatakannya. Namun berbeda dengan Paris yang langsung hilang rona kebahagiaannya saat mendengar Sandra berkata seperti itu.


"Ehh ... enggak usah ngomongin soal itu," protes Paris. Sandra lupa.


"Soriii ... Iya. Aku hanya teman kamu yang pintar mendapat ide," ralat Sandra. Mereka pun berpetualang bersama menyusuri jalanan. Sandra sudah memberitahu sopir rumah untuk tidak menjemput dengan berbagai macam alasan yang tepat.



Tubuh Biema perlahan beranjak berdiri dari kursinya. Bola mata Mela bergerak mengikuti pria di depannya yang langsung melesat keluar cafe. Untung saja makanan di atas piring sudah habis saat di tinggal. Mela sampai harus ikut memutar tubuhnya demi mengikuti Biema yang beranjak pergi.


Apalagi saat melihat Fikar di depannya juga segera meneguk minuman dan ikut berdiri.


"Sebentar, Fik." Tangan Fikar berhasil di tahan oleh Mela. Fikar menoleh pada perempuan ini. "Biema kenapa, Fik?" tanya Mela penasaran.


Setengah berlari, Fikar segera menyusul Biema keluar.


"Parisss ...," desis Biema. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri. Memastikan tidak ada kendaraan yang lewat saat dirinya menyeberangi jalan. Kemudian melangkah menuju keramaian di seberang.


Fikar juga mengikuti atasannya. Berbeda dengan Biema yang tetap tenang meski pikirannya geram melihat istrinya tengah terlibat dalam perkelahian. Saat Fikar menyeberang, dia sedikit ceroboh hingga klakson kendaraan berkali-kali berbunyi meneriaki dirinya.


"Hei! Nyeberang jalan lihat-lihat, dong!" teriak seorang pengemudi marah.


"Maaf, maaf," ujar Fikar seraya membungkuk dengan cepat. Kemudian berlari mendekati Biema yang sudah berhenti.


Jalanan yang sudah lumayan rame, di tambahi ada perkelahian anak sekolah, semakin menambah ramainya jalanan. Banyak juga orang yang kebingungan ada apa dengan mereka. Ada pula yang hanya menonton. Menganggap tawuran anak sekolah sudah biasa.


Mata Biema tetap nyalang memandang ke arah Paris.


Suara pukulan beradu terdengar. Paris sepertinya unggul dari cowok yang menjadi lawannya. Hingga akhirnya cowok itu roboh ke tanah.


"Dasar kalian. Cari lawan yang sepadan, dong!" maki Paris dengan sikap pongahnya. Seorang kawannya sepertinya juga berhasil melawan musuh. Satu persatu dari mereka berlarian setelah berhasil di kalahkan.


"Mereka sih begitu saja sudah keok. Dasar preman cemen." Kali ini makian dari seorang cowok yang bertubuh tinggi. Setelah melihat cowok-cowok tadi kabur, cowok ini mulai mendekati Paris.


"Tidak segera mendekat ke sana, Biem?" tanya Fikar. Biema hanya diam tidak jadi menghampiri Paris. Namun manik mata Biema masih memperhatikan.


"Paris, Paris!" Dari arah kiri berlarian seorang gadis. Gadis ini menghentikan larinya tepat di sebelah paris. Nafasnya tersengal-sengal sambil memegangi pundak temannya.


Sandra! Dia juga ada disini? Kedua alis Biema bertaut membentuk kerutan samar. Jadi aku tidak mendapat balasan pesan, karena dia sedang bersama Paris?


"Adikmu juga ada disini," tukas Fikar.


"Aku ... tidak bisa ... mengimbangi ... larimu yang cepat," ujarnya terpotong-potong.


Paris menipiskan bibir mencela Sandra. "Jangan ngomong kalau buat nafas saja sudah susah, San," nasehat Paris yang merasa kasihan dengan adik iparnya itu. Kepala Sandra mengangguk-angguk setuju dengan nasehat Paris. Lalu dia mencoba mengatur nafasnya.


"Hei, aku sepertinya kenal denganmu," celetuk cowok yang tadi ikut menghajar. Paris menoleh padanya. Rupanya yang dia maksud adalah Sandra. Kepala Sandra yang tadinya menunduk, sekarang mendongak.


"Oh? Siapa ya?" tanya Sandra setelah berhasil mengatur nafasnya. Cowok itu diam sambil berpikir.


"Memangnya kenal? Siapa Er?" tanya teman cowok itu.


"Sebentar, aku perlu berpikir dulu." Cowok jangkung ini mengerutkan kening pertanda dia berpikir.


"Sandra!" panggil Biema. Semua yang ada di situ menoleh ke arah Biema. Bola mata Sandra dan Paris membeliak bersamaan.


Biema! Kenapa dia muncul, sih! gerutu Paris dalam hati.


"Kakak?" Sandra terkejut menemukan kakaknya berada di sini. Sontak tubuh Sandra yang tadinya masih membungkuk, kini langsung menegak melihat kakaknya. Biema mendekati Sandra di ikuti oleh Fikar di sebelahnya.


Dia mendekat! jerit Paris dalam hati. Kepalanya sedikit menunduk dan menghindari pandangannya berserobok dengan Biema. Tangannya sibuk menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Biema datar dan penuh tekanan setelah berdiri tepat di depan mereka. Bukan kepada Paris. Biema mengajukan pertanyaan pada Sandra. Karena bola matanya hanya melihat adiknya itu.


"Aku ...." Sandra kelimpungan mencari alasan. Bola matanya beredar ke seluruh arah. Gugup. Sesekali melirik ke arah Paris dan menowel lengannya. Paris melirik ke Sandra juga. Dia melihat Sandra tidak bisa menjawab.