Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Pesan dari Paris



"Aku mau ke kantormu."


Sungguh suatu kejutan tidak terduga ada pesan dari gadis itu di dalam ponselnya. Apalagi dia mau datang ke kantornya tanpa di minta. Walapun sempat ke kantor mendadak tempo hari. Dimana saat itu ia membawa bekal makan siang dari mertuanya. Namun Ini merupakan pertama kalinya gadis itu sengaja memberitahu soal kedatangannya lewat ponsel.


"Bukan. Aku bukan mau ke kantormu. Aku butuh dirimu." Ada pesan kedua masuk. Biema semakin sumringah. Senyumannya semakin lebar melihat pesan kedua.


Butuh? Paris sedang membutuhkanku. Apa dia merindukanku?


Kalimat sederhana yang mampu mengobrak-abrik ketenangan Biema. Fikar yang melihat tingkah Biema meringis di buatnya. Pria ini tersenyum, tergelak, kemudian menggelengkan kepala dengan wajah bahagia. Fikar mengira ponsel itu sudah terhubung oleh pujaan hatinya. Sekarang dia tidak perlu cemas. Atau malah Fikar perlu cemas karena Biema seperti orang tidak waras?


"Cepat *tolong aku. Datanglah segera ke sekolahku*." Pesan ketiga masuk di saat Biema masih terbuai. Mendadak senyumnya hilang setelah membaca pesan itu. Kedua alisnya menyatu merasa ada yang salah. Ada yang janggal.


Ke sekolah? Aku harus ke sekolah, sekarang? Apa maksudnya? Biema mengerutkan kening. Fikar yang melihatnya jadi ikut mengernyitkan alis. Namun dia tidak bertanya. Fikar membiarkan Biema berkutat dengan ponselnya dan berdiskusi dengan dirinya sendiri.


"Cepat datang, Biem. Ini gawat darurat. Genting!" Pesan ke empat muncul dengan jeda tipis dari pesan ketiga. Dari pesan ke empat ini, Biema yakin bahwa apa yang terjadi sekarang bukanlah soal gadis itu sedang memikirkannya atau merindukannya. Pasti gadis itu sedang terlibat masalah.


Hhh ... Biema menghela napas. Dia sedikit kecewa dengan kenyataan yang tidak sesuai dengan bayangannya.


"Ada ... apa?" tanya Fikar lambat-lambat. Dia harus bertanya karena begitu penasaran.


"Aku harus datang ke sekolah Paris."


"Ke sekolah Paris? Pertemuan wali murid?" tanya Fikar bukan bermaksud melucu. Namun biasanya seperti itu jika ada panggilan ke sekolah. Aduh sepertinya salah, gumam Fikar setelah melihat tatapan Biema sangat tajam padanya. "Oh, pasti itu adalah hal penting." Fikar segera berusaha mengucapkan kalimat netral yang menyelamatkan dirinya. Meredam amarah Biema agar tidak meledak.


"Pasti anak itu bikin masalah di sekolah," ujar Biema dengan wajah geram seraya bangkit dari duduknya. Berdiri lalu merapikan jas kerjanya. Fikar mengangkat alisnya mulai paham.



...Beberapa jam sebelum Paris mengirim pesan darurat pada Biema....


Jam istirahat telah berdentang. Paris yang sedang badmood berjalan dengan malas menuju kantin. Tentu saja dia tidak sendiri. Di sampingnya ada Sandra yang tetap setia menemaninya.


Saat dalam perjalanan menuju ke kantin itu, tak sengaja dia menoleh pada lorong dimana di ujung jalan hanya ada jalan buntu. Biasanya tukang kebun sekolah meletakkan bangku dan meja yang tidak di pakai di sana.


Sesaat dia merasa ada seseorang yang melintas. Agak aneh, karena beberapa cewek itu harus menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum masuk ke dalam lorong.


"Hei, mau kemana Paris?" tanya Sandra yang melihat Paris membelokkan langkahnya menuju arah lain. Padahal tujuan mereka adalah kantin.


"Sebentar." Paris melangkah menuju lorong itu.


"Ada apa sih?" tanya Sandra penasaran. Sandra mengikuti dari belakang. Langkah Paris segera di percepat saat cewek itu akan menghilang. Ini membuat Sandra yang tidak paham, jadi sedikit kebingungan walaupun dia juga terpaksa mempercepat langkahnya.


Akhirnya Paris bisa menemukan cewek itu. Di ujung lorong. Di dekat bangku-bangku yang terbengkalai itu ada seorang gadis yang berdiri bersandar pada dinding. Tiga gadis di depannya sedang mengelilinginya.


"Ada apa itu?" bisik Sandra.


"Bully?" Sandra membeliakkan matanya terkejut. Tanpa mendekat dan mendengar percakapan mereka pun Paris tahu kalau di sini sedang ada perundungan. Sandra meringis ngeri mendengar kata 'bully'.


Paris belum bergerak, dia masih mengamati. Karena mereka bertiga pun belum melakukan apapun pada gadis yang di kerumuni. Kemungkinan mereka masih berbincang, yang tidak terlalu terdengar dari tempat Paris dan Sandra berdiri.


"Eh, sepertinya gadis berambut panjang itu tidaklah asing," kata Sandra pelan. Dari jarak mereka memang bisa melihat raut wajah dari samping.


"Kamu tahu anak itu?" tanya Paris.


"Emmm ... itu Priski." Sandra ingat nama itu.


"Aakhh!" tiba-tiba teriakan terdengar dari sana. Membuat Paris yang sedang mendengarkan Sandra menoleh cepat ke depan. Gadis yang bersandar di dinding itu meringis kesakitan. Salah satu dari mereka menarik rambut gadis itu. Paris maju.


"Kamu mau membantu anak itu?" bisik Sandra lagi.


"Kalau menurutmu?" tanya Paris pelan tanpa menoleh pada Sandra di sampingnya.


"Ya ... itu memang tidak benar sih, tapi ..."


"Tidak ada kata tapi, aku harus segera menolong gadis itu." Paris bergerak maju. Sandra kebingungan dan membiarkan Paris meninggalkannya. Langkah Paris tiba tepat di belakang gadis yang mencekal dagu si korban bully.


"Permisi," kata Paris seraya menepuk pundak gadis berambut panjang ini. Karena terfokus sedang mengancam, gadis ini tidak segera paham ada yang menepuk pundaknya. Baru setelah Paris menepuk pundak dengan agak keras, gadis itu menoleh. Raut wajahnya geram saat melihat ke arah Paris.


"Siapa kamu?" tanya Priski sengit.


"Bukan siapa-siapa. Aku hanya enggak suka lihat ada yang enggak benar di sini."


"Dia Paris. Ceweknya Lei." Sebut salah satu dari mereka. Paris terkejut dia ternyata di kenal orang karena pacaran sama Lei. Sekilas Paris jadi ingat cowok yang sudah berubah menjadi pria tampan.


"Oh ... kamu mantannya Lei." Priski melihat Paris dengan menyeluruh. Pun dengan tatapan meremehkan. "Mau apa kamu?"


"Bisa tolong hentikan apa yang kamu perbuat? Sepertinya anak itu kesakitan." Paris menunjuk cewek yang masih jadi bulan-bulanan mereka.


Priski melihat gadis dengan wajah takut itu lalu melihat ke arah Paris lagi. "Kamu enggak perlu ikut campur. Kita di sini enggak ganggu kamu, jadi sebaiknya kamu juga enggak ganggu kita."


"Itu benar. Aku juga suka tentang itu. Jangan saling mengganggu, tapi ... jika ada seseorang yang kesakitan seperti itu, jelas aku juga tertarik untuk ingin tahu. Ada apa ini?"


"Hei, anak baru." Masih saja label anak baru melekat pada diri Paris. Padahal dia masuk sekolah ini saat kelas 2. Sekarang dia sudah kelas 3. Bukankah itu waktu yang lama untuk tetap di sebut anak baru?  Itu sudah bukan baru lagi namanya. "Jangan sok jadi pahlawan deh." Tangan seorang gadis mendorong bahu Paris keras. Hingga tubuh Paris mundur ke belakang selangkah.


"Kamu enggak tahu, siapa Priski?" tanya seorang cewek dengan wajah di buat angkuh. Tangannya masih menarik rambut cewek yang jadi target mereka. Paris melihat ke arah cewek yang di sebut Sandra tadi, Priski.


"Tentu saja dia enggak tahu. Kalau tahu, dia enggak akan mengganggu Priski," kata cewek lainnya.


"Benar. Tentu saja aku tidak tahu. Aku tidak perlu mengenal orang yang suka bully kan?" kata Paris yang membuat mereka terkejut. Spontan mereka melirik ke arah Priski yang merengut. Mengerutkan keningnya tidak suka.