
"Berbagilah pada suami." Begitu kata Biema saat berhasil menjarah jus alpukat yang di but oleh Paris. Gadis ini menipiskan bibir mendengar itu. Namun dia bukan marah pada Biema karena meminum jus alpukatnya. Paris tahu, bahwa mereka berdua memang sama-sama penggemar jus alpukat.
Paris mulai menyukai sebutan suami dan istri. Itu terasa menyenangkan di telinga. Dia menatap Biema yang masih menyesap jus alpukat miliknya. Memandangi pria ini dengan berkata,
Jodoh memang tidak ada yang tahu. Rupanya dia yang jadi suamiku. Biema. Pria yang awalnya hanya aku tahu sebagai kakak dari sahabatku.
Makan malam yang di minta Paris adalah mie instan, tapi Biema justru memasak nasi goreng dengan udang gemuk di atasnya. Tentu saja membuat Paris gembira ria. Mereka berdua makan dengan hati riang. Suasana makan malam juga lebih menyenangkan.
"Besok kamu nganterin aku berangkat sekolah kan?" tanya Paris memastikan. Dia seperti trauma tidak di antar jemput oleh Biema. Makanannya sudah tandas. Jadi dia bebas berbicara.
"Ya. Pasti."
"Bagus."
"Kenapa?"
"Aku tidak mau lagi di antar Fikar. Aku hanya mau di antar olehmu."
"Iya. Tenang saja," ujar Biema.
"Baiklah, setelah minum, Aku mau tidur. Aku sudah mengantuk." Paris beranjak berdiri menuju kulkas di belakang Biema.
"Ya. Ini memang sudah waktunya tidur." Pria ini juga beranjak berdiri. Setelah selesai meneguk air es, Paris bermaksud menuju ke kamarnya untuk tidur.
"Mau kemana?" tanya Biema.
"Tentu saja ke kamar. Aku mau tidur," sahut Paris.
"Masuk."
"Masuk? Ya. Aku memang mau masuk ke kamar."
"Bukan itu maksudku."
"Apa maksudmu?" tanya Paris heran. Maksudnya masuk kemana dan masuk itu apa? Paris kebingungan dengan kata ambigu milik pria ini.
"Masuklah." Lagi. Biema mengatakan kata yang sama, tapi di tambah dengan imbuhan di belakangnya.
"Apa?" Paris melebarkan kedua telapak tangannya. Di ikuti mimik wajah kesal karena Biema bicara tidak jelas.
"Masuklah ke kamarku."
"Bilang gitu aja, perlu beberapa menit untuk jelas." Paris akhirnya mendapatkan jawaban. "Tunggu." Paris merasa janggal. Dia kemudian mencerna kembali perintah Biema barusan. "Kamu bilang ... masuk ke kamarmu?" tanya Paris syok setengah mati.
"Ya." Namun tanggapan Biema sungguh datar dan menjengkelkan.
"Apa maksudnya itu, Biem?"
"Artinya kita akan tidur di sana. Di dalam kamarku." Paris menggeleng kuat-kuat. Dia menolak untuk tidur satu kamar dengan Biema.
"Lebih baik kita tidur berpisah untuk sementara waktu."
"Kamu menolak?"
"Ini bukan soal menolak atau tidak, Biem."
"Lalu soal apa?"
"Eemmm ..."
"Aku akan menerkammu?" Biema tahu apa yang di pikirkan Paris. Tangan gadis ini menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Biema sadar itu salah satu yang menjadi pertimbangan Paris untuk tidak setuju mereka satu kamar.
"Itu ..." Paris ragu untuk bilang iya. Jika boleh jujur, Paris ingin tidur dalam satu kamar dengan Biema. Sesekali. Namun itu tidak mungkin.
"Atau kamu justru takut akulah yang akan kamu serang?" tebak Biema dengan wajah tenang menjengkelkan. Karena Biema tahu Paris pernah memeluknya dalam tidur. Saat mereka menginap di rumah mama Biema.
"Oke. Setuju. Jadi tidak ada yang di takutkan."
"Apa maksudmu dengan setuju Biem? Aku bilang tidak. Bukan mau," sergah Paris. "Lagipula tidak ada yang bisa menjamin kamu tidak menyerangku."
"Apa ada masalah jika aku memang akan menyerangmu?"
Paris mendelik. "Kamu ini ..." Gadis ini jadi sebal.
"Malam ini. Cukup malam ini saja. Tidur di kamarku," pinta Biema dengan wajah penuh harap. Paris mengerjap dan menunduk. Menghindari serbuan sorot mata Biema yang begitu ingin mengajak dirinya tidur di kamarnya. "Aku mohon," pinta Biema membuat Paris menggeram.
Sialan!
"Oke. Aku akan tidur di sana, tapi awas kalau kamu macam-macam ke aku."
"Janji. Aku tahu kamu masih sekolah. Jadi ..."
"Jangan banyak bicara. Aku akan ambil bantalku dulu dan ... Akkh!" jerit Paris tiba-tiba.
"Tidak perlu," ujar Biema sambil menarik tangan Paris yang memutar tubuhnya untuk menuju ke kamar mengambil bantal. "Langsung saja ke kamar ku. Aku punya banyak bantal di dalam," ujar Biema terburu-buru. Paris meringis was-was dan terpaksa mengikuti langkah Biema.
Dada Paris berdebar saat tangan Biema memegang pegangan pintu. Lalu jantungnya berdetak kencang saat isi dalam kamar Biema mulai terlihat. Pun saat Biema menutup pintu kamar dengan rapat. Paris berjingkat. Jedug-jedug suara debarannya makin jelas.
Dia di dalam kamar pria ini. Pertama kali. Ini membuatnya waspada.
"Jangan berdiam diri saja di sini, ayo ...," ajak Biema dengan menarik tangan Paris. Bibir Paris kering. Lidahnya menjulur keluar dengan tujuan membasahi bibirnya. Dia gugup. Pasti. Biema membimbing Paris menuju ranjangnya. Sampai sini Paris masih bungkam. Bagai robot, dia hanya mengikuti arahan Biema. "Duduklah." Paris duduk.
Biema menjauh dari Paris dan mendekati gantungan baju. Pria itu dengan tanpa peduli membuka kaosnya.
"A-apa yang kamu lakukan?" tanya Paris waspada.
"Melepas kaos."
"Aku tahu kamu melepas kaos. Karena aku bisa melihatnya, tapi kenapa kamu membuka kaos."
"Aku mau tidur."
"Kenapa kamu mau tidur, tapi membuka kaos dulu."
"Ini kebiasaanku, Paris. Aku terbiasa tidur tanpa kaos dan tanpa ..."
"Stop! Berhenti!" teriak Paris panik dan membuang wajah ke arah lain. Biema mengatakannya dengan memegang celana pendeknya. Seakan celana itu akan di turunkan dari pantatnya. "Aku tidak ingin tahu kamu juga tidur tanpa celana, Biem," ujar Paris gusar dan panik.
"Celana?" tanya Biema tercengang-cengang.
"Ya. Hentikan tanganmu menurunkan celana itu!" tahan Paris sambil menoleh ke arah lain. Dia tidak ingin melihat adegan Biema membuka celana pendeknya dan memperlihatkan keperkasaannya.
"Aku tidak akan menurunkan celanaku, Paris. Aku tidur dengan tetap memakai celana, tapi tidak dengan kaosku. Atau ... kamu sebenarnya ingin aku tidur telanjang? Tanpa kaos dan tanpa celana. Boleh."
"Apa yang kamu bilang, hah?" tanya Paris gusar sambil mengajak bola matanya untuk melihat Biema. Pria ini terkekeh pelan. Rupanya dia sengaja menggoda gadis ini. "Kamu mengerjaiku," desis Paris kesal. Senyum Biema semakin lebar. Setelah meletakkan kaos di gantungan baju, Biema mendekati Paris. Memeluk tubuh gadis itu tiba-tiba. Paris tersentak kaget.
"Ya, tapi kamu justru melihat ke arahku setelah mendengar aku telanjang. Tubuhmu tidak berpura-pura rupanya." Paris memerah di wajah dan lehernya. Memejamkan mata sebentar. Malu, karena tubuh dan bibirnya tidak membuat janji dulu. Hingga Biema menemukan sisi Paris yang liar.
"Diamlah."
"Jangan marah. Aku hanya bercanda."
"Bercandamu tidak lucu," kata Paris kesal.
"Memang tidak lucu, karena sebenarnya aku memang ingin telanjang di depanmu." suara hati Biema memekik.
Alis Paris mengerut. "Kamu mengatakan sesuatu?" tanya Paris aneh. Dia tahu Biema diam, tapi telinganya mendengar pria ini berbicara. Paris mengernyitkan dahi. Dia yakin ada suara orang berbicara barusan.