
Cewek-cewek tadi memperhatikan Paris yang hendak menangis. Menurut mereka itu wajar. Karena ini adalah aib. Siapa saja pasti syok berat saat aibnya terbuka.
"Makanya jangan berulah macam-macam jadi cewek. Kalau begini kan kamu malu sendiri," cibir mereka. Kepala yang lain pun mengangguk-angguk setuju dengan penuturan temannya.
Tidak. Aku tidak boleh menangis di sini, batin Paris. Sial! Ternyata usahanya untuk tidak menangis gagal. Gadis ini merasa susah sekali menahan diri. Tanpa mempedulikan cewek-cewek yang mencibir di depannya, kakinya melangkah kembali masuk ke dalam toilet. Brak! Menutup pintu dengan keras hingga membuat ketiga cewek tadi berjingkat kaget.
"Ih, tu anak. Menangis dia. Ini kan salah dia sendiri. Kalau akhirnya aibnya terbongkar, bukannya itu karena perbuatannya sendiri."
"Benar. Enggak nyangka, ya ... Katanya dia kaya, tapi kok gitu."
"Mungkin dia kaya itu dari begituan kali."
"Meskipun Priski itu nyebelin, tapi kali ini gosip yang dia unggah terbukti benar."
"Eh, sepertinya bel sudah berbunyi dari tadi deh." Mendengar ini kedua temannya heboh. Setengah berlari mereka segera kembali ke kelas. Mata pelajaran siang ini adalah si guru killer. Mereka pasti tidak akan selamat.
Paris yang kembali masuk ke dalam toilet masih sibuk menenangkan dirinya. Airmatanya tumpah perlahan. Bukan soal dirinya yang di katakan sebagai cewek panggilan, yang membuatnya bersedih. Namun karena foto itu. Saat mereka menunjukkan foto dirinya dan Biema, mendadak dia ingin bertemu.
"Aku kenapa sih? Tadi kan hanya foto Biema. Hanya foto! Kenapa aku jadi sentimentil begini. Payah." Paris menggerutu sambil mengusap airmata yang jatuh membasahi pipinya. "Hh ... benar. Ini masih baru. Baru satu hari. Jika sudah beberapa hari, aku pasti sudah terbiasa tidak di antar Biema. Bahkan terbiasa tidak bertemu dengannya. Ya begitu," ujar Paris memantapkan diri untuk merasa biasa. Mencoba menenangkan hatinya.
Kakinya keluar dan mencuci muka di wastafel. Bel sudah berdentang lama. Dia sudah terlanjur berlama-lama di toilet. Jadi sekalian saja dia tidak masuk ke kelas. Otaknya berputar memikirkan tentang hal tadi.
"Kenapa bisa fotoku ada di grup chat sekolah? Bersama Biema pula. Foto itu oke sih, tapi kenapa bisa?" Paris mengomel sambil menghadap ke cermin. "Tunggu, tadi mereka sempat menyebut nama Priski. Apakah ini akal-akalan dia lagi? Apa cewek itu mulai menjadikanku targetnya lagi? Sialan!" Paris mengepalkan tangannya geram.
Paris muncul di kelas saat jam pulang berdentang. Sejak tadi dia sudah di temani oleh mata dari setiap anak-anak di lorong. Berbeda dari tadi pagi. Dimana tatapan itu lebih mengarah ke kagum karena Paris lolos dari serangan Priski. Kini tatapan itu berubah jadi tatapan heran, jijik dan muak.
Langkah Paris tidak selunglai tadi pagi, dimana dia merasa sangat sedih dengan ketidakmunculan Biema. Berkat tingkah Priski yang mengundang amarahnya, Paris mulai sedikit menyisihkan rasa sedihnya karena Biema. Dia fokus pada gadis menyebalkan itu.
Kemunculan Paris di ambang pintu kelas, membuat heboh anak-anak. Mungkin ketidakmunculan Paris di jam pelajaran tadi, di anggap sebagai sikap malu karena soal dirinya sebagai cewek panggilan.
"Paris." Sandra langsung berdiri melihat temannya muncul. Banu yang akan bertanya soal ketidakhadiran gadis ini saat pelajaran tadi, urung. Dia memilih membiarkan Paris melewatinya.
"Aku tahu," potong Paris segera. Dia tahu maksud Sandra adalah memberitahu soal gosip itu. "Kita pulang. Aku lapar."
"Tapi kamu ..." Sandra cemas.
"Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja," ujar Paris sambil meraih tas yang di berikan oleh Sandra.
"Paris," tegur Banu. Paris yang sudah siap pulang menghentikan langkahnya. "Usahakan besok jangan menghilang," nasehat Banu.
"Oke," jawab Paris lalu melewatinya lagi. Sandra mempercepat langkah untuk mensejajari Paris. Dari jarak sedekat ini, Sandra bisa melihat jejak tangisan di wajah Paris.
"Kamu sedih karena gosip ini?" tanya Sandra.
"Tidak. Gosip ini tidak berpengaruh padaku."
"Lalu, kenapa aku melihat sisa airmata?" tanya Sandra sambil menyelisik ke arah wajah Paris.
"Hhh ...." Paris menghela napas dan menghentikan langkahnya. Lalu menoleh pada Sandra di sampingnya. "Aku menangis karena Biema." Paris mengaku dengan cepat.
"Jangan bertanya kenapa." Paris langsung memotong. Kemudian berjalan lagi.
"Kak Biema menyakitimu?" tanya Sandra pelan.
"Tidak. Dia membuatku sebal, tapi tidak menyakitiku." Kecuali soal ternyata aku hanya pelarian cintanya mungkin, batin Paris.
"Lalu kenapa?" Sandra masih bertanya meskipun Paris menyuruhnya diam.
"Aku bilang jangan bertanya, San. Ini tidak penting. Yang penting adalah kita pulang. Aku yakin Fikar sudah menunggu." Sandra diam seraya memperhatikan Paris dari samping.
"Oh, ya soal gosip itu. Foto itu kamu sama kak Biema kan?" tanya Sandra mengambil topik yang lain. Topik panas yang sedang berlangsung.
"Ya."
"Kamu tahu siapa pelaku ini?" selidik Sandra. Melihat ketenangan Paris soal ini, kemungkinan gadis ini tahu siapa yang menciptakan gosip.
"Benar."
"Siapa?"
"Priski."
"Dia lagi?" Sandra sampai harus menengok ke arah Paris karena terkejut.
"Begitulah." Paris mengedikkan bahu.
"Mungkin dia jadi dendam karena kamu bisa lolos dari hukuman guru Bp."
"Jika kamu bilang guru Bp. Aku jadi ingat guru menyebalkan itu. Dia pasti penjilat yang ingin terlihat setia di depan wakil kepala sekolah." Paris mengatakan kalimat ini dengan wajah sangat kesal.
"Oh, ya soal itu. Sepertinya Priski bisa mengatur guru Bp karena dia anak wakil kepala sekolah." Sandra tahu soal ini dari Banu. Juga dari anak-anak. Semua sudah tahu kelakuan cewek itu. Hanya saja diam karena ada nama wakil kepala sekolah di belakangnya.
"Mmm ... tapi soal laporannya pada guru Bp yang mengatakan aku melukainya, sepertinya enggak lanjut. Bukannya dia punya backing yang cukup kuat." Mereka sudah sampai pintu gerbang sekolah.
"Bukannya lebih kuat kak Biema ...," kata Sandra.
"Oh, ya? Karena dia orang penting?" tanya Paris menoleh ke samping.
"Bukan. Karena kak Biema yakin seratus persen sama kamu. Dia yakin kamu enggak bersalah. Makanya dia berani mengancam siapa saja yang akan melukai orang yang di sayanginya." Sandra dengar soal kejadian di dalam ruang Bp dari Fikar. "Untuk Priski kan jelas dia hanya bohong. Jadi pasti kalah."
Mendengar itu, Paris menerawang jauh ke jalanan yang ramai. Orang yang di sayanginya. Benarkah? Benarkah aku orang yang di sayanginya? Melihat dia memperlakukan aku memang penuh perhatian dan lembut, tapi ...
Dia memang bertanya apa aku mencintainya, tapi apa dia akan menjawab dengan pasti saat aku juga bertanya soal itu? Karena selama ini dia enggak pernah mengatakan aku mencintaimu.
Rupanya Paris ragu karena tidak ada kata sederhana tapi penuh makna itu. Aku mencintaimu. Dia juga seorang gadis biasa yang akan merasa yakin saat orang yang menyayanginya mengucapkan kalimat itu.