
Biema menarik tubuh Paris hingga terpelanting ke arahnya. Mengganti posisi gadis ini menjadi di atas tubuhnya. Tangan Biema membelenggu tubuh gadis itu.
"Biema!" pekik Paris terkejut.
"Apa?" tanya Biema pelan tanpa mengalihkan pandangan dari Paris. Dia tidak begitu terpengaruh dengan pekikan gadis ini.
"Lepasin. Aku mau berdiri," ujar Paris seraya bergerak mencoba lepas.
"Diam sebentar."
"Bukannya kamu bilang aku harus belajar."
"Ya."
"Terus ini apa?" tanya Paris ketus.
"Upahku menemanimu." Paris melihat ke atas dengan malas. Pria ini selalu saja bisa menemukan alasan di balik tindakannya.
"Aku tidak meminta. Jadi jangan minta upah," tegas Paris sambil melebarkan mata. Biema mengangkat kepalanya. Memaksa mencium bibir Paris. Karena tubuhnya di belenggu lengan Biema, gadis ini tidak bisa bergerak. Ciuman itu mendarat dengan sempurna.
"Biem ...," rengek Paris. Kali ini suara Paris tidak meninggi seperti tadi. Nada bicaranya terdengar lebih lembut. Ciuman tadi bekerja.
"Apa?"
"Berhenti begini. Lepasin aku. Besok aku ujian. Kamu bilang aku di suruh cepat menyelesaikan ujian."
"Iya, aku memang menginginkan itu. Sangat."
"Maka dari itu lepasin aku."
"Aku lepasin juga, kamu enggak mungkin belajar." Bola mata Paris melirik ke samping. Tuduhan itu benar adanya.
"Iya memang," ujar Paris mengaku.
"Jadi lebih baik begini saja. Semoga keberuntungan yang kamu bilang, terus saja mengikutimu." Paris tergelak.
"Walaupun begitu, setidaknya aku enggak dalam posisi ini. Kan kamu juga capek. Punggungmu lama-lama akan sakit. Terus tadi, kepalamu juga terbentur. Pasti sakit kann ..." Paris menyentuh kepala Biema dan mengelusnya lagi.
"Enggak. Aku enggak apa-apa," ujar Biema hangat. Paris pun akhirnya menyandarkan kepalanya pada dada pria ini. Biema mengelus kepala dan punggung gadis ini. Paris tidak jadi meneruskan belajar. Mereka kembali berpelukan seperti kemarin malam. "Mulai hangat."
"Tentu saja. Bukankah kita menempel sekali kayak lem."
"Kurang. Masih kurang. Hangat ini akan lenyap," ujar Biema tiba-tiba serak. Sepertinya ia benar-benar ingin segera melepas kelajangannya. Meskipun sekarang dia sudah beristri, tapi itu belum sepenuhnya. Paris masih belum boleh di sentuh sembarangan.
Hari yang bagus untuk memulai hari. Dimana Biema sangat bersemangat karena ini waktu untuk gadis-nya menempuh ujian nasional. Itu artinya waktunya semakin dekat dengan kebebasan. Kebebasan menjamah istri kecilnya, Paris.
Paris yang keluar dari kamar mandi terkejut dengan meja makan yang begitu ramai dan penuh. Biema yang pandai memasak, memilih membuatkan Paris berbagai menu.
"Wow ... ada perayaan apa ini?" tanya Paris dengan mata berbinar melihat ke arah meja makan. Kepala Paris menengok ke Biema.
"Tidak ada. Hanya ingin membuat sarapan yang menyenangkan. support dari aku untuk istriku yang akan ikut ujian nasional." Biema berusaha tidak berlebihan saat mengatakannya. Namun justru itu membuatnya terlihat begitu antusias dengan keberangkatan Paris ke sekolah pagi ini.
"Ya, Fikar." Biema tersenyum pada Paris sambil menunjuk ponselnya. Bermaksud meminta ijin untuk menerima telepon. Paris mengangguk. Lalu pria itu melangkah menjauh dari meja makan. Dia tersenyum senang melihat sarapan pagi ini nampak istimewa. Layaknya sebuah jamuan makan yang besar. Langkah Biema memasuki kamar dan menutup pintu. "Kamu mendapatkan sesuatu?"
"Ya." Kemudian Fikar menjelaskan secara ringkas informasi yang ia dapatkan. Biema mengangguk-anggukkan kepala tanda dia puas.
"Bagus. Aku bisa menjadikan itu sebagai pegangan. Sepertinya aku bisa lega sekarang."
"Lalu, apa kamu juga mendapatkan apa yang kamu cari?" tanya Fikar balik di seberang.
"Tentu saja." Biema tersenyum. "Oke Fikar. Kita bicarakan lagi di kantor nanti. Aku harus menemani istriku makan dan mengantarnya ke sekolah." Biema menutup pembicaraan dengan senyum puas di bibirnya. Sepertinya dia mendapatkan banyak hal bagus pagi ini. Biema kembali ke maja makan.
"Bicara apa? Sepertinya penting." Paris yang menyendok nasi menoleh pada Biema yang baru saja muncul.
"Tentang pekerjaan." Biema menarik kursi makan di depan Paris.
"Bukan Mela?" tanya Paris terang-terangan. Sorot mata Paris tegas. Biema tergelak.
"Bukan. Dia tidak mungkin mengusikku."
"Bagus." Paris mengangguk puas.
"Tidak ada lagi hal-hal seperti itu lagi, Paris. Aku jamin."
"Benar. Harusnya memang tidak ada." Biema tersenyum sambil mencubit pipi Paris.
"Sebentar. Aku mau melihat bekas merah di lehermu." Biema menyentuh dagu Paris dan memaksa gadis itu menoleh ke arah lain, demi bisa memperlihatkan bekas merah di lehernya. "Warnanya sudah memudar. Kita akan beli plester baru di jalan saja."
"Ya. Aku tidak mau kesal hanya gara-gara sebuah plester."
Paris mengikuti ujian sebagaimana sesuai dengan aturan di sekolah. Duduk di bangku sendirian. Tidak lagi berdua dengan Sandra. Dengan satu guru pengawas yang berkeliling mengawasi mereka semua. Sementara Sandra duduk di bangku paling belakang. Sesuai dengan urutan no absen. Dia terlihat sedang serius mengerjakan soal saat ini.
Meski beberapa temannya sibuk berusaha lihat kanan kiri mencari jawaba, Paris terlihat tenang di mejanya. Dia bukan gadis pintar atau bodoh, tapi dia selalu mengerjakan soal ujian tanpa perlu menengok ke kanan ke kiri. Meskipun tidak tahu jawaban dari soal yang di tanyakan, dia tetap duduk di tempatnya tanpa banyak kegiatan lain yang di lakukannya kecuali mengerjakan soal ujian.
Paris sudah selesai mengerjakan soal pilihan ganda. Untuk orang dengan sedikit kemampuan dalam belajar seperti Paris, pilihan ganda suatu soal yang begitu membahagiakan. Karena jawaban tinggal di silang mana yang di anggap benar. Jadi hanya dengan mengira-ngira, yang tidak belajar pun akan tetap bisa menjawab.
Kesunyian di ruang kelas saat ujian, berbanding terbalik dengan kehebohan di luar. Istirahat mereka di gemparkan dengan foto Paris yang berada di depan hotel. Berlanjut dengan foto makan siang di restoran hotel itu. Semua kembali terkejut dan semakin melihat ke arah Paris dengan tatapan jijik. Paris memilih tidak mempedulikan semua cacian di balik senyuman mereka. Sandra yang tadinya tidak tenang, kini memilih tidak peduli juga.
Mereka berdua berjalan menuju kantin.
"Kamu habis dari hotel dengan kak Biema?" tanya Sandra setelah melihat foto itu.
"Ya," sahut Paris datar. Namun reaksi Sandra berbeda. Gadis ini melihat Paris dari atas ke bawah. Lalu tersenyum dengan penuh arti. Paris tahu apa itu. "Hei, aku enggak ngapa-ngapaiiiinn ... Aku hanya makan. Makaaannn ..." Paris mengatakannya dengan kesal. Dia ingin menjelaskan dengan rinci tapi kalah dengan senyum curiga milik Sandra.
Senyum Sandra kian merekah. "Tenang. Aku mengerti. Itu enggak apa-apa, kok. Hanya saja, hati-hati. Bilang sama kak Biema suruh hati-hati. Istrinya masih sekolah," bisik Sandra dengan maksud menggoda iparnya.
"Ihh." Paris mendecih kesal.