Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Usul Asha


Setelah Arash tidak lagi menggeliat, Asha menoleh pada adik iparnya.


"Jika ada masalah cerita saja. Kamu tentu sudah biasa bukan, cerita cerita ke aku seperti biasanya." Karena sudah terlalu lama bersama, dia paham saat gadis ini sedang gundah gulana.


"Ya. Aku memang lebih sering cerita ke Kak Asha daripada bunda atau kak Arga." Paris mengangguk kecil. Dia membenarkan pernyataan kakak iparnya soal itu. Karena Asha lebih mengerti keadaan dirinya, dia memang dengan gampang cerita soal apapun padanya. Apalagi Asha sangat mudah di jangkau karena dia tidak terlalu sibuk dengan banyak pekerjaan. Dan yang paling penting, Asha tidak akan mengeluarkan perintah atau keputusan yang membuatnya kesulitan. Karena itu tidak mungkin.


"Cerita saja." Asha memang sedikit memaksa. Raut wajah gundah adik iparnya terlalu kentara baginya. Jika gadis ini berusaha menyembunyikan, itu berarti memang ada sesuatu yang tidak mudah di diungkapkannya.


Paris menghela napas. Sesak di dadanya makin terasa. Kepalanya menoleh pada Asha. Lalu dia diam sejenak. Gadis ini sedang berpikir. Mau mengatakan apa yang sedang berkecamuk di hatinya atau tidak. Asha dengan sabar menunggu.


Setelah beberapa detik diam, Paris menarik napas. Kemudian menghempaskannya dengan kasar.


"Aku di D.O dari sekolah," ungkapnya. Alis Asha naik ke atas. Terperangah dengan apa yang di katakan gadis yang duduk di depannya.


"D.O?" tanya Asha seraya menatap Paris tidak percaya.


Paris mengangguk dengan pelan. "Ya." Raut wajahnya seakan berat mengatakannya.


"Bukannya kamu sedang ujian?" tanya Asha dengan alis menyatu.


"Itu benar. Aku di DO saat sedang ujian. Di tengah-tengah ujian berlangsung," jelas Paris lebih panjang. Dada Asha bergemuruh. Mendengar Paris di DO tentu sangat mengejutkannya. Tubuhnya bergerak mendekat. Lalu duduk di samping Paris.


"Kenapa tiba-tiba kamu di DO? Ada masalah apa, sampai kamu harus di keluarkan dari sekolah?" tanya Asha menggebu. Ini berita penting.


Paris menghela napas panjang lagi. "Soal statusku yang sudah menikah." Asha ikut menghela napas berat. Status menikah memang bisa jadi ganjalan bagi seorang yang masih sekolah.


"Jadi ada yang menemukan status kamu sekarang?"


"Ya." Asha melebarkan bola matanya. Berusaha menenangkan diri setelah mendapat berita ini. Meskipun itu bukan permasalahannya, dia ikut merasakan sedih. Apalagi ini sudah ujian negara. Tinggal sejengkal lagi, gadis ini akan menyelesaikan sekolahnya. Sangat di sayangkan jika berakhir di keluarkan saat sudah mengikuti ujian setengah jalan. "Kenapa tiba-tiba ada yang mengetahui soal pernikahanmu?”


"Itu ulah seseorang yang merasa membenciku."


"Kamu punya musuh?" tanya Asha ingin tahu.


"Entahlah. Aku tidak pernah menganggapnya musuh, tapi sepertinya dia menganggapku begitu." Paris mengatakannya dengan mata melebar gemas. Teringat lagi akan sosok Priski yang menyebalkan.


"Kamu terlihat sangat geram. Seperti ingin menghajarnya."


"Memang," kata Paris mengerucutkan bibirnya.


"Jika kamu di keluarkan dari sekolah, itu berarti kamu tidak akan dapat ijazah lulus sekolah?" tebak Asha. Paris mengangguk. "Ini tidak tepat, Paris. Kamu harus beritahu bunda untuk menyelesaikan ini."


"Bunda? Itu malah tidak tepat. Saat ini ayah sakit. Aku tidak bisa mengatakan dengan mudah. Aku rasa juga bunda akan makin tertekan jika aku juga mengungkapkan soal ini." Paris mengatakannya dengan wajah sedih.


"Ah, iya. Maaf soal itu. Kalau begitu suamimu. Biema."


"Ya. Satu-satunya penolongku adalah Biema. Namun saat ini pria itu juga tidak bisa mendengar keluh kesah ku, Kak."


"Kenapa? Dia tidak mau? Atau dia membiarkan kamu berstatus enggak lulus karena sekarang kamu sudah jadi istrinya?” tebak Asha.


"Alasan pertama tentu tidak mungkin. Alasan yang kedua, itu bisa saja. Karena dia akan tetap menerimaku jadi istrinya meskipun tidak punya ijazah kelulusan. Namun keduanya juga bukan jawaban kenapa pria itu tidak bisa mendengarkan aku saat ini.”


"Lalu apa?"


"Jadi dia sekarang tidak bisa di hubungi?"


"Bukan tidak bisa. Aku yang menahan diri untuk tidak menghubunginya. Karena dia juga mendapat masalah, aku akan menunggu sampai dia bisa menyelesaikan masalah itu dulu. Setelah pulang dari tempat itu, baru aku cerita."


"Jadi dia berada di daerah lain?”


"Ya," jawab Paris.


Asha berdiri sambil mengayun-ayunkan tubuh Arash yang menggeliat lagi di gendongannya dengan lembut.


"Segera cerita, jika dia pulang nanti. Dia harus segera menyelesaikan masalah ini dengan cepat. Meskipun keluarga bisa menerima kamu meski kamu enggak bisa lulus sekolah. Aku rasa lulus dengan memegang ijazah akan terdengar lebih baik."


"Biema juga berkata demikian," kata Paris dengan senyum tipis. Dia teringat lagi kalimat pria itu. Dan ini membuatnya jadi ingin sekali segera bertemu dengannya.


Biem, aku jadi ingin ketemu.



Waktu merambah petang. Paris masih berada di rumah sakit. Masih duduk bersama kakak ipar di luar. Sementara bunda menunggui ayah di dalam. Saat itu Arga datang dari kantor.


"Kamu ada di sini Paris?" tanya Arga sedikit terkejut dengan kemunculan adiknya.


"Ya." Arga menoleh pada istrinya. Bertanya darimana gadis ini mendapatkan info soal masuknya ayah ke rumah sakit. Padahal Arga berusaha menyembunyikan soal ayah sakit ini dari adiknya.


"Bik Sumi yang kasih tahu saat dia menelepon rumah." Asha langsung paham. Jadi dia segera memberitahu Arga. Pria ini melongok pada putranya yang sudah terlelap lagi saat sudah di mandikan. Asha memang sempat pulang sebentar di antar Angga. Lalu kembali ke sini. Arga mengecup pipi gembul milik Arash putranya.


"Dia rewel?" tanya Arga sambil mengelus kepala Arash.


"Sedikit. Hanya saat mau tidur aja. Seperti biasa." Arga mengecup kening Arash.


"Bagaimana keadaanmu, sayang?" Kini tangan Arga ganti mengelus kepala istrinya.


"Aku tidak apa-apa. Baik-baik saja," ujar Asha sambil tersenyum. Arga menoleh pada adiknya lagi.


"Sudah makan?”


"Sudah," sahut Paris.


"Hanya sedikit," imbuh Asha. Arga menoleh pada istrinya. Bola mata Asha bergerak memberi kode pada Arga. Bola mata Arga mengerjap. Lalu menoleh pada Paris.


"Kita makan lagi,” kata Arga memberi perintah. "Sekalian menemani aku yang belum makan."


"Aku sudah kenyang," tolak Paris.


"Tidak ada penolakan Paris. Aku akan kembali setelah menemui bunda di dalam." Arga masuk kedalam kamar perawatan. Sementara Paris menghela napas berat mendengar titah kakaknya.


"Ikut saja. Kamu bisa sekalian cerita soal sekolahmu pada Arga. Aku yakin dia bisa mengatasinya," usul Asha. Paris menoleh ke arah Asha. Mengerjapkan bola mata sambil berpikir. "Meski dia juga terguncang dengan kondisi ayah, tapi aku yakin dia lebih kuat di banding dengan bunda. Dia pasti mencarikan solusi untuk kamu." Asha memaksa. "Di keluarkan dari sekolah itu adalah hal yang sangat penting. Harus segera di tangani. Tidak bisa di biarkan begitu saja. Arga juga berhak tahu. Anggap saja pengganti Biema."