Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Telepon Biema


"Halo, Biem ..."


"Halo sayang ... Bagaimana kabarmu?" tanya Biema tanpa basa-basi. Terkesan terburu-buru malah.


"Ba-ik," sahut Paris lambat seraya mengerutkan kening. Lalu tergelak pelan. "Kenapa? Kenapa tanya kabar? Bukannya kita baru saja bertemu?" Mendengar gelak tawa ringan dari istrinya, Biema menghela napas lega.


"Benar. Kita baru saja bertemu," ujar Biema yang kini bisa menyandarkan punggungnya pada kursi setelah tadi merasa tegang.


"Jadi ... kamu rindu padaku?" goda Paris. Mendengar ini Sandra menyenggol lengan iparnya. Paris melebarkan senyuman tahu sedang di ledek Sandra. Karena Paris mengaku bahwa sangat menyukai pria yang berjarak sekitar 7 tahunan itu darinya.


"Ya. Aku rindu kamu. Oh, ya bagaimana kabar bayiku?" tanya Biema serius. "Apakah baik-baik saja?"


"Ya. Dia baik-baik saja di dalam perutku," bisik Paris. "Bayi ini tenang di dalam sana. Jadi kamu tenang saja."


"Tapi Paris yang tidak baik-baik saja, Kak," seru Sandra yang tahu pertanyaan kakaknya dari jawaban Paris barusan.


"Hei ...," desis Paris tidak setuju. Dia tidak mau Biema mendengar soal kejadian tadi. Namun terlanjur, Biema sudah bisa mendengar informasi yang Sandra katakan tadi.


"Tidak? Kamu tidak baik-baik saja?" Biema makin serius saat mendengar seruan adiknya. "Ada apa dengan kamu? Kamu mual lagi? Pusing? Pasti karena parfum Sandra. Aku akan suruh anak itu ganti parfum agar kamu enggak tersiksa," kata Biema bertekad.


"Hei ... Masa karena itu Sandra harus mengalah untuk ganti parfum sih," ujar Paris sambil menoleh ke arah Sandra yang terkejut.


"Kak Biema menyuruh ku ganti parfum?" tanya Sandra ingin kejelasan. Paris tergelak mendengar raut wajah Sandra yang sangat syok. Lalu ia mengibaskan tangan di depan adik iparnya ini, supaya diam dan tidak panik.


"Adik kamu syok saat dengar aku bilang kalau kamu menyuruhnya ganti aroma parfum," kata Paris melaporkan keadaan adik iparnya.


"Tidak usah peduli. Itu benar. Ia wajib ganti aroma parfumnya," tegas Biema."Jika itu demi kenyamanan kamu, itu harus," kata Biema.


"Enggak ... Aku enggak apa-apa. Aku memang sempat mual dan muntah, tapi itu enggak ngefek banyak ke aku. Aku enggak apa-apa, Biem ..." Paris berusaha meyakinkan suaminya bahwa dia sebenarnya baik-baik saja. Kasihan juga karena sepertinya Biema sungguh-sungguh akan menyuruh Sandra ganti parfum. Paris tahu, kalau parfum yang dipakainya adalah parfum favorit.


"Aku harus segera kesana menjemputmu sekarang," ujar Biema mengambil keputusan dengan cepat.


"Apa?" seru Paris terkejut.


"Jika kamu mual dan muntah, itu berarti kamu tidak sehat. Jadi aku harus pulang dan menjemputmu," desak Biema.


"Jangan. Tidak perlu!" cegah Paris. Dia tidak ingin kemunculan pria ini akan membuat heboh warga sekolah. Dia hanya ingin ke sekolah dengan tenang. Sandra terkejut karena Paris berseru dan berdiri. Dia heran melihat Paris kebingungan.


"Benarkah?"


"Baiklah, tapi ... tetap saja aku cemas."


"Aku tidak apa-apa, sayang ..." bisik Paris berjalan sedikit menjauh dari Sandra. "Kamu bisa jemput aku sekitar jam 12 kurang lah ... Aku bisa temani kamu di kantor."


"Kamu ... akan ikut aku ke kantor?"


"Ya. Kalau kamu tidak ada janji dengan orang bisnis."


"Tidak. Aku tidak ada janji. Hmmm ... atau sebaiknya aku pulang saja denganmu ke apartemen? Jadi kita bisa berantai berdua. Juga ... mengelus perutmu nanti," bisik Biema dengan senyuman di bibirnya. Dia juga menjauh dari Fikar yang duduk di sofa.


"Tidak. Kamu harus bekerja. Jangan ambil setengah hari. Aku sudah bersedia menemanimu di kantor, jadi jangan mengambil kerja setengah hari," tolak Paris. Biema menghela napas. Bayangan manis di pikirannya saat berdua dengan istrinya di apartemen terhapus.


"Oke. Aku akan menjemputmu jam 12 kurang sayang. Hati-hati di sekolah ya ... mmuah."


"Mmuah juga," sahut Paris canggung. Sandra yang menguping tersenyum geli juga.


"Dih, sekarang main muah muah segala. Padahal dulunya enggak mau ..." ledek Sandra.


"Nih anak kenapa makin hari makin ngelunjak aja ya ... Padahal dulunya kamu itu terus saja berdiri di sampingku, enggak berani bertingkah apalagi meledekku seperti ini," ujar Paris gemas dan pura-pura memiting barang leher Sandra. Gadis itu tertawa terbahak-bahak.


Suara tawa Sandra membuat seorang gadis menoleh. Itu Priski.


"Cewek pengganggu," bisik Sandra lirih yang langsung menghentikan tawanya saat melihat gadis itu. Paris melepaskan lengannya dari batang leher Sandra. Menoleh sekilas pada Priski lalu melihat ke arah Sandra lagi.


"Sebaiknya kita ke ruang guru saja. Di sana kita bisa temukan informasi soal hari kelulusan," ajak Paris. Sandra mengangguk. Jalan menuju ruang guru adalah melewati Priski. Mau tidak mau mereka harus melakukannya.


"Malas sekali harus melewatinya," kata Sandra lagi. Ia masih geram dengan gadis pengacau itu.


"Sudaaahh ... Enggak usah peduliin dia," sergah Paris. "Aku yakin dia tidak bisa berkutik karena terbongkar keburukannya sendiri," bisik Paris pelan. Benar saja. Priski hanya berlalu lebih dulu sebelum Paris dan Sandra melewatinya. "Tuh kan," tunjuk Paris.


"Memang seharusnya begitu," ujar Sandra mencibir. Paris tersenyum dan mendorong punggung Sandra untuk berjalan menuju ruang guru.


.......


.......


...IG# LADY_VE...