
Biema benar-benar mengganti baju seperti yang di katakannya tadi. Laki-laki itu tetap melakukannya padahal ada Paris di sana. Meskipun hanya mengganti kaos, itu tetap membuat Paris harus memalingkan wajah agar tidak melihat Biema setengah telanjang.
Paris memang masih belum tahu bentukan otot dan dada bidang milik pria ini. Dia mencoba memegang tali kekang otaknya, untuk tidak melanglang buana mencari visual tubuh proporsional milik Biema. Dia hanya berdiam diri membelakangi pria itu sambil bersenandung sangat lirih. Demi menghapus apapun yang masuk ke dalam pikirannya soal tubuh Biema sekarang.
Biema sempat melirik ke belakang. Dia mendengar. Dia tahu gadis itu sedang bersenandung karena apa. Bibir Biema tersenyum. Geli. Merasa lucu. Imut. Menurutnya saat ini gadis itu sangat imut.
"Aku sudah selesai," ujar Biema memberitahu.
"Ah, iya ..." sahut Paris masih belum mau menoleh. Dia takut pria ini iseng. Hingga dia perlu memerah karena malu. Dia tidak mau itu terjadi.
"Kamu tahu, kalau Mela akan datang kerumah ini?" tanya Biema selanjutnya. Mendengar pertanyaan ini Paris yakin bahwa pria ini sudah berpakaian. Maka dari itu dia mau menolehkan kepala. Memutar badan untuk menghadap Biema.
"Dari mana aku tahu ... Itu tidak mungkin bukan?"
"Melihatmu yang bersikap biasa saja, aku merasa kamu sudah tahu bahwa dia mau bertemu denganku. Ponselku ada di nakas."
"Maksudmu aku membuka dan melihat-lihat isi ponselmu tanpa ijin?" tanya Paris tidak suka. Dia merasa di tuduh membuka ponsel tanpa ijin. Kedua alis Biema terangkat. Dia melihat Paris agak lama. Lalu menghela napas. Ada yang salah.
"Maaf. Kalimatku bukan menuduhmu membuka ponsel tanpa ijin. Itu ponselku Paris. Ponsel suamimu. Kamu berhak mengetahui isinya." Di luar dugaan, jawaban Biema membuatnya jadi canggung.
"A-aku tidak mungkin melakukan itu. Lagi pula ... aku tidak tahu password ponselmu," ujar Paris terbata seraya menyingkap anak rambut yang terjatuh di wajahnya.
"Password ponselku adalah tanggal lahirmu," jawab Biema membuat atmosfer di dalam kamar menjadi hangat. Namun bukan membuat Paris tenang. Tujuan Paris mengatakan kalimat tadi bukan untuk meminta di beritahu soal kata kunci ponsel pria ini. Dia hanya mencari alasan untuk menghindarkan diri dari rasa canggung juga gugup. Itu hanya sebuah alasan logis yang muncul dalam benaknya. Namun kata-kata Biema di luar dugaan.
Saat ini dia merasa tidak bisa bernapas dengan leluasa. Apalagi dengan tambahan kalimat Biema selanjutnya, "Aku hanya merasa tidak perlu menjelaskan lagi soal kedatangan Mela ke rumah ini jika kamu sudah tahu bahwa Mela ke sini bukan aku yang mengundangnya. Aku takut kamu marah." Paris langsung kebingungan mencari arah fokus bola matanya.
Bahkan saat Biema mendekat ke sisi ranjang yang sama, Paris panik. Tubuhnya langsung berdiri dengan cepat.
"Sudah! Kamu sudah mengganti kaos," kata Paris dengan senyum gugupnya. Biema tahu itu. Gadis ini terpengaruh dengan kalimat-kalimatnya. "Lebih baik kita segera keluar kamar. Mela dan mama pasti menunggu kita." Telunjuk Paris menunjuk ke arah pintu keluar.
"Baiklah jika kamu tidak marah aku akan menemui Mela."
"Ya. Silakan. Jika itu menyangkut pekerjaan aku tidak apa-apa," kata Paris tanpa sadar. Biema tersenyum. "A-apa?" Paris gugup melihat senyuman pria ini yang tidak biasa.
"Jadi ... jika aku menemui Mela bukan urusan pekerjaan, kamu akan melarangku?" Biema menemukan pertanyaan bagus untuk gadis ini.
"A-aku tidak tahu. Jangan mengajukan pertanyaan menjebak dong," sungut Paris merasa terpojok. Entahlah ... Kenapa dia merasa terpojok. Padahal tinggal jawab iya atau tidak bukan?
Biema mengulurkan tangan mengusap pucuk kepala Paris. Kepala Paris tertunduk dan diam. "Sebaiknya aku juga harus hati-hati jika bersama Mela. Aku harus meminta ijin darimu."
Terserah, batin Paris.
"Jadi ... Gadis itu adalah istri Biema, Tante?" tanya Mela saat membantu mama Biema mengupas buah alpukat.
"Ya. Dia Paris. Kenapa kamu bisa kenal sama dia? Memangnya pernah bertemu?" tanya mama Biema.
"Pernah. Beberapa kali. Hanya saja aku belum tahu kalau dia itu istri Biema, Tante." Mela menjelaskan. Mama Biema mengangguk. "Bukannya dia masih sekolah? Karena aku dengar dia adalah teman sekolah Sandra."
"Ya. Paris memang masih sekolah."
"Kenapa mau menikah dengan umur masih sangat muda, Tante? Bukannya ini saatnya dia masih bisa mengukir banyak momen indah karena sekolah?" Ada rasa penasaran yang begitu besar dari pertanyaan Mela.
Di saat dia masih muda dan ingin menjelajah begitu banyak perjalanan hidup, Biema melamarnya. Itu tentu tidak mungkin baginya yang menyukai petualangan dan hal baru. Meskipun saat Biema melamarnya umurnya sudah di atas pria itu, tapi rasa ingin menikah belum ada. Dia masih ingin punya jenjang karir yang lebih tinggi. Dia ingin menikmati menjadi wanita yang mengejar impian untuk sukses.
"Setiap orang punya pandangan berbeda, Mela. Si Paris ini. Menantu Tante ... Dia lebih suka nikah muda dan merasakan masa pacaran saat sudah menikah. Bukankah itu indah? Kita sudah menikah, tapi rasanya masih pacaran. Bunga-bunga cinta itu tetap hangat." Mama Biema mengatakan itu dengan lugas dan wajah penuh dengan kegembiraan.
Walaupun sebenarnya mama Biema sendiri tidak paham, bagaimana perasaan menantunya saat ini. Beliau cukup ahli dalam membuat kesimpulan yang bagus. Hingga membuat Mela percaya bahwa pikiran gadis itu adalah apa yang di jabarkan mama Biema barusan.
Paris muncul di dapur bersama Biema di sampingnya.
"Kamu sudah selesai ganti baju Biema?" tanya mama Biema. Mela ikut menoleh dan melihat mereka berdua.
"Ya," sahut Biema.
"Celana pendekmu tidak ganti? Sepertinya itu yang tadi," tanya mama Biema yang melihat Biema masih memakai celana yang sama. Paris melirik.
Apa-apaan itu? Memangnya harus ganti celana juga? Paris melebarkan mata gemas mendengar mertuanya seperti kesenangan mendengar Biema akan mengganti baju tadi.
"Paris bilang tidak perlu. Cukup pakai ini saja," sahut Biema seperti sengaja. Padahal dia tahu tidak ada pembicaraan soal itu. Mela yang mendengar itu terus saja diam dan melihat ke arah Paris dan Biema dengan tatapan lain. Mungkin iri. Mungkin tidak percaya bahwa pria ini telah menikah. Istrinya pun masih sekolah. Dan pikiran lain yang tidak akan di mengerti oranglain.
"Aku akan ke ruang tengah untuk membicarakan soal pekerjaan dengan Mela." Bola mata Biema menatap Paris dalam. Laki-laki ini mungkin sedang meminta ijin. Karena saat Paris hanya mengangguk, Biema tidak segera melangkah. Dia masih berdiri di sana. Hingga Mela perlu membuang muka melihat Biema terus saja menatap Paris.
Paris heran Biema tidak segera pergi padahal sudah bilang akan membicarakan pekerjaan dengan Mela. Bola matanya mengerjap. Mama Biema melirik ke arah Biema dan Paris.
Kenapa?
"Baiklah. Kamu bisa melakukan pekerjaanmu," ucap Paris mencoba mengucapkan kata-kata demi membuat pria ini melangkah pergi. Karena dia merasa kasihan pada Mela yang sudah berpikir akan segera pergi untuk membicarakan pekerjaan, tapi ternyata Biema masih menatap dirinya lama. Dia menunggu.
"Kamu bisa beristirahat saja jika lelah. Aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku." Sekali lagi Biema meletakkan tangannya di atas pucuk kepala Paris. Hanya sekali tepuk lalu dia pergi. "Ayo, Mela. Kita selesaikan urusan ini." Mela hanya melihat tanpa menyahuti perkataan Biema.
Mama Biema tersenyum. Menggelengkan kepala pelan melihat tingkah Biema dan Paris.