Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Ngambek


Saat itu sebuah mobil tidak asing muncul tidak jauh dari tempat Sandra berdiri. Sebenarnya Sandra tahu itu mobil siapa, tapi yang menjadi pertanyaan adalah ... kenapa sekarang Paris bersama kakaknya pagi ini? Bukankah Paris memberitahunya soal kebijakan baru antar jemput itu.


"Sepertinya itu Sandra." Biema menunjuk dengan dagunya saat melihat keberadaan adiknya. Paris hanya diam sambil menekuk bibir. "Paris ... kamu masih marah?" tanya Biema seraya mendekat ke arah Paris. Menyelisik wajah istrinya dengan hati-hati.


"Tidak." Bola mata Paris melihat Biema dengan tajam. "Aku tidak marah. Aku hanya kesal. Aku sebal," ujar Paris penuh dengan tekanan. Raut wajahnya penuh dengan kekesalan yang mendalam.


"Maaf, ya ...," ujar Biema sambil menggenggam jari-jari Paris. Sebenarnya Paris senang Biema menggenggam tangannya. Namun jika teringat kejadian tadi pagi, dia urung untuk senang. Bibir gadis ini menggeram kesal.


"Sudah. Aku mau sekolah." Paris menghempaskan tangan Biema. Lalu membuka pintu mobil.


"Oke. Nanti aku jemput, ya." Paris keluar dari mobil dengan tatapan para penghuni sekolah yang tertuju ke arahnya. Namun karena Paris sedang ngambek ke Biema, dia tidak sadar. Fokusnya hanya pada Sandra. Tangan Sandra melambai ke arah kakaknya yang melintas. Paris membuang muka.


"Hei ... Kenapa pagi-pagi mukanya sudah kusut?" tanya Sandra.


"Enggak apa-apa," jawab Paris singkat.


"Kenapa Kak Biema sekarang nganterin kamu lagi?" Paris mengedikkan bahu. "Bukannya dia menghilang seperti di telan bumi?"


"Entahlah." Paris masih enggan menjawab pertanyaan Sandra soal kakaknya. Mereka melangkah masuk ke gerbang sekolah.


"Tunggu. Leher kamu kenapa? Kok di pasangi plester gitu." Sandra mengamati leher kakak iparnya.


"Ini? Enggak. Enggak kenapa-kenapa. Jerawat." Paris langsung memegangi lehernya yang di beri plester dengan cepat. Sedikit melunak dari kekesalan tadi. Sekarang malah terlihat gugup.


"Oh ... Cewek ya. Jerawat kecil aja heboh. Bingung yang mau nutupin, tapi tumben kamu peduli sama jerawat dan pake tutup-tutup begitu." Bukan kebiasaan Paris terlalu peduli sama pencitraan. Biarpun jerawatnya besar, dia membiarkan jerawat itu memamerkan kekuatannya menguasai kulit. Namun beruntung, gadis ini tidak terlalu sering berjerawat. Hanya sesekali saja.


"Iya." Paris sudah gelisah di tanya-tanya terus.


"Eh, beneran itu jerawat? Kayaknya bukan. Itu mirip luka. Merah-merah gitu." Sandra masih bahas. Lagipula kenapa Sandra tahu itu sebuah luka. "Plesternya terbuka sedikit."


"Hah?" Paris terkejut. Tangannya hendak menutupi lehernya, tapi Sandra sudah menahannya duluan.


"Lebih baik ganti aja plesternya. Aku punya."


"Jangan!" teriak Paris histeris.


"Ini apa, Paris? Mirip sesuatu ..." Sandra justru meneliti. "Tunggu, ini ..." Bola mata Sandra melirik ke arah Paris. Bibir Paris menggeram dengan ekspresi kesal lagi. "Kalian berciuman?" tanya Sandra lambat dan pelan. Kali ini Paris berdecih. "Wow ..." ucap Sandra tersenyum.



Paris terbangun mendengar jam beker digital di atas nakas. Meski sudah ada fitur alarm di ponsel, pria ini menyukai jam beker rupanya. Paris hendak menghentikan suara berisik itu tapi tidak bisa. Tubuhnya masih di peluk Biema. Dengan memaksa diri, Paris mendorong tubuh Biema. Setelah susah payah, pelukan Biema terlepas juga.


Tek!


Suara berisik dari jam bekker berhenti. Paris melakukan peregangan sambil duduk dengan kaki menjuntai ke bawah. Badannya sedikit pegal. Padahal mereka tidak melakukan apa-apa. Hanya berciuman. Setelah itu Paris berdiri dan beranjak keluar dari kamar. Melangkah pelan menuju ke kamar mandi.


"Hah? Bieeemmmaaaa!!" teriak Paris histeris. Lalu beranjak kembali ke kamar. "Biema, bangun!" teriak Paris kesal. Namun pria ini tidak juga bangun. Paris mengguncang-guncangkan tubuh Biema. Rupanya tindakan ini lebih ampuh. Pria itu menggeliat. Melihat Paris yang berdiri di sebelah ranjang dengan mata menyipit.


Bukannya bangun, Biema justru menarik tangan Paris. Bola mata Paris membeliak. Apalagi saat tubuhnya jatuh ke dalam pelukan pria ini. Biema kembali memeluk tubuh Paris dengan erat.


Walaupun Paris senang Biema memeluknya, tapi ini bukan saatnya untuk di peluk. Ada yang harus di tanyakan ke Biema. "Aku bukan minta di peluk. Aku minta kamu bangun, Biem."


"Mmm ... Memelukmu saat tidur, sangat menenangkan." Biema berkata dengan matanya masih terpejam. "Aku ingin memeluk lagi."


Mendengar ancaman ini, Biema membuka mata perlahan. Kemudian mengerjap berulang-ulang untuk menjernihkan matanya. Barulah saat ini dia bisa melihat Paris menatapnya lurus.


"Ada apa?" Masih memeluk Biema bertanya.


"Kenapa kamu lakukan ini?" tanya Paris.


"Lakukan apa?" tanya Biema bingung.


"Lepaskan dulu aku," ujar Paris susah bergerak. Biema menuruti. "Ini." Paris menunjuk lehernya. Biema menyipitkan alis. Kepala Paris menoleh ke samping guna Biema bisa melihatnya dengan jelas. Mencoba meneliti leher Paris. Dia menemukan jejak kemerahan di sana. Bekas gigitan.


"Aku melakukannya?"


"Siapa lagi?" tanya Paris kesal. "Seharusnya kamu enggak lakukan itu. Lihatlah ... itu membekas di sana. Jika aku ke sekolah dengan bekas gigitan itu disana, seluruh sekolah akan tahu aku di cium, Biem. Itu sangat-sangat memalukan."


"Walupun itu ciuman dari aku, suamimu?"


"Biema ..." desis Paris marah.


"Iya. Maaf." Biema memilih mengakui kesalahannya akhirnya. Lalu memeluk gadisnya lagi. "Aku terlalu bersemangat. Maaf, ya ..."


"Lalu aku bagaimana ke sekolahnya ini?" Paris merengek dalam pelukan Biema.


Biema melepas pelukannya dan melihat luka itu lagi. "Bekas seperti ini mungkin 3 hari sudah hilang," ujar Biema sambil menyentuh jejak kemerahan itu.


"Aku tidak butuh diagnosa mu. Aku butuh solusi. Solusi, Biem." Paris geregetan. Biema tersenyum.


"Iya. Enggak usah masuk sekolah saja sampai bekas ini hilang. Aku kan menelepon ke sekolah."


"Jadi itu solusimu? Aku juga bisa mikir begitu." Paris kesal sambil memukul dada Biema yang telanjang kesal.


"Itu cara tebaik bukan?


"Aku bukan ingin bolos, Biem. Sebentar lagi ujian. Aku harus masuk sekolah."


"Ujian?" tanya Biema yang sepertinya begitu tertarik dengan kata itu.


"Ya." Otak Biema langsung berpikir cepat.


"Kalau begitu memang tidak boleh bolos. Harus berangkat sekolah. Segera ujian." Biema bersemangat. Namun dengan alasan lain. Jika Paris selesai ujian, bukankah itu berarti semakin dekat dengan kelulusan dan 'waktu' yang di nanti-nantinya. "Mandi saja dulu, sarapan. Aku akan berpikir. Ingat, biarkan aku yang berpikir." Paris turun dari ranjang dan menuju ke kamar mandi. Dia bukan sudah berhenti kesal. Paris masih kesal, tapi dia memang harus mandi dan sarapan. Sebentar lagi akan berangkat sekolah.


Ternyata solusi Biema hanyalah menutupi luka itu dengan plester.


"Nahh ... ini sudah enggak kelihatan." Biema melihat hasil kreasinya dengan senang. Paris melihat di cermin. Memang tidak kelihatan, tapi plester berwarna cokelat itu begitu menonjol di lehernya.


"Aku tidak suka." Paris membuat wajah masam.


"Aku tahu."